Dari Yunani, Al-Kindi Hingga Einstein

Kita Seperti Kata

oleh Sulaiman Djaya (2015)

“Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan” (Al-Kindi –The First Philosophy)

Upaya untuk menyingkap misteri semesta atau jagat raya telah dilakukan oleh peradaban-peradaban Mesir, Babilonia, Persia, Yunani hingga sekarang ini –di mana dulu peradaban-peradaban Mesir, Babilonia, Persia, dan Yunani tersebut sangat menaruh perhatian pada ilmu perbintangan (astronomi) dan upaya untuk memecahkan misteri kosmik itu sendiri secara keseluruhan.

Kita tahu, jika kita pernah membaca filsafat Yunani, contohnya, salah-satu konsen (minat dan perhatian) para filsuf Yunani (di masa lampau) adalah pada persoalan “mencari tahu” “Ada yang primordial”, yang kemudian kita kategorikan sebagai filsafat alam Yunani.

Mazhab Milesia, contohnya, disibukkan dengan usaha mereka untuk menjelaskan (melakukan eksplanasi) tentang keteraturan dan ragam “Ada” atau struktur “Ada” –bukan “Ada” itu sendiri. Mereka berusaha menemukan ‘apakah substansi primer yang mendasari segala proses dan perbedaan perubahan bentuk di alam atau di semesta’.

Ada ragam atau variasi dalam mazhab tersebut. Thales, misalnya, mengatakan bahwa substansi primer alam atau “Ada” adalah air. Anaximenes berpendapat bahwa substansi primer itu adalah udara. Sedangkan Anaximandros berpendapat bahwa substansi primer itu adalah Apeiron atau “yang tak terbatas”.

Sementara itu, Pythagoras yang konsen dengan studi matematika dan astronomi, melakukan analisa ragam eksistensi dalam sistem prinsip-prinsip forma. Menurutnya prinsip forma inilah yang mendasari hakikat segala sesuatu dan segala proses di dunia. Pythagoras juga berpendirian bahwa realitas bisa dijelaskan dengan angka-angka dan bisa diukur secara matematik –yah dengan angka-angka tersebut.

Ia berpandangan alam dibangun berdasarkan harmoni serta mengatakan bahwa musik dan nada-nada adalah cerminan alam.

Murid dan penerusnya, yaitu Philolaus, bahkan mengatakan bahwa bumi berotasi pada porosnya –yang menyebabkan pergantian waktu siang dan malam. Dalam hal ini, Philolaus mempercayai bahwa semesta adalah sistem ruang-ruang. Mazhab Milesia memang disibukkan dengan usaha untuk menemukan “Ada yang primordial” yang mendasari gerak dan perubahan semesta, namun mereka mengabaikan masalah utama perubahan itu sendiri.

Di sini, Heraklitus kemudian menyatakan bahwa “alam adalah perubahan tanpa akhir”, di mana segala sesuatu datang dan pergi. Heraklitus masyhur dengan doktrin Panta Rhei-nya: “Segalanya berkembang, engkau tak mungkin berdiri dua kali di sungai yang sama dalam waktu yang sama”.

Heraklitus memang filsuf yang mengajarkan tentang perubahan yang terus menerus dalam alam, yang bisa ditangkap oleh akal dan pemahaman orang bijak, semacam filsuf atau ilmuwan. Hanya saja, pandangan Heraklitus kemudian mendapatkan penolakan di kalangan Mazhab Elea, di mana dua tokoh utamanya adalah Zeno dan Parmenides.

Parmenides sendiri hidup dalam dua pandangan antara doktrin Heraklitus mengenai perubahan yang terus-menerus dan doktrin Xenophanes tentang ide Satu Tuhan yang tidak berubah, dan kemudian Parmenides menyatakan bahwa yang mendasari alam adalah “Ada” yang abadi dan tidak berubah.

Ketegangan antara pandangan Heraklitus dan Mazhab Elea tersebut kemudian disintesiskan oleh Anaxagoras dengan ajaran pluralisme-nya. Ia menolak ajaran esensi kesatuan dari semua “Ada”, di mana menurutnya segala sesuatu adalah keragaman yang tak terbatas dalam jumlah dan jenisnya, yang kemudian kita kenal sebagai pluralisme kualitatif. Sebagai contoh: kayu, besi, rambut, darah, dan lain sebagainya tak mungkin direduksikan satu sama lainnya. Inilah yang disebut oleh Anaxagoras sebagai benih-benih eksistensi (seeds of existence), di mana segala sesuatu memiliki benih-benih eksistensinya sendiri –yang tak bisa direduksikan ke dalam jumlah. Dan ini pula-lah yang diklaim sebagai keadaan primordial “Ada” oleh Anaxagoras, yang di sisi lain ia sebut sebagai Nous (gerak atau pikiran) yang mengoperasikan aktivitas kosmik.

Hasrat untuk mengetahui misteri alam semesta itu pun terus berlanjut. Ratusan tahun sebelum Sir Isaac Newton mengemukakan hukum gerak dan sang jenius Albert Einstein mengemukakan Teori Relativitas, misalnya, Al-Kindi menyatakan: “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan” (Al-Falsafa Al-Ula).

Sementara itu, Nichomachus of Gerasa dalam Arithmetic-nya menyatakan: “Alam seakan diatur sesuai dengan angka oleh Sang Maha Pencipta –karena pola-polanya telah ditentukan. Seperti goresan-goresan awal sebuah lukisan –oleh dominasi angka yang telah ada sebelumnya di dalam ‘pikiran’ Tuhan Sang Pencipta alam” (Arithmetic I, 6).

Di abad ke-16 –yang lazim kita kenal sebagai Abad Inkuisisi di Eropa itu, Nicolaus Copernicus dengan berani mengemukakan teori dan pandangannya bahwa matahari tidak mengelilingi bumi sebagaimana yang dinyatakan Ptolomeus dan dipercayai Gereja, tapi bumi-lah yang justru mengelilingi matahari.

Kesimpulan Heliosentrisnya itu ia dapatkan berdasarkan observasi dan perhitungan matematis, hanya saja ia tidak menerbitkan karyanya kala itu karena khawatir inkuisisi Gereja akan menimpa dirinya.

Seabad kemudian setelah temuan Nicolaus Copernicus itu –tepatnya di abad 17, Galileo Galilei dengan teleskop ciptaannya mampu membuktikan teori dan pandangan Nicolaus Copernicus tersebut dengan lebih meyakinkan, bahwa bumi mengelilingi matahari, yang juga menyebabkan terjadinya siang-malam secara bergiliran selama 24 jam.

Karena kegigihan dan pembelaannya tersebut, Galileo Galilei dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Gereja. Sementara itu, seorang pendeta Dominikan yang juga membenarkan teori-nya Nicolaus Copernicus tersebut, yaitu Giordano Bruno (1548-1600) dibakar hidup-hidup di tiang pancang oleh Gereja di tahun 1600.

Di abad modern, apa yang pernah dilakukan Copernicus dan Galileo itu kemudian dilakukan juga oleh Edwin Hubble, di mana pada tahun 1929, Edwin Hubble menciptakan teleskop di abservatoriumnya di Mountwilson, California. Dan setelah selama berbulan-bulan melakukan pengamatan alias observasi, ia menemukan bahwa bintang-bintang dari hari ke hari semakin menunjukkan spektrum merah.

Dalam hal ini, menurut Hukum Fisika, jika benda semakin menjauhi titik pengamatan, maka akan menunjukkan spektrum merah, sedangkan benda yang mendekati titik pengamatan menunjukkan spektrum biru.

Penemuan ini sangat penting, karena hal itu menunjukkan alias membuktikan bahwa benda-benda luar angkasa kian hari semakin saling menjauhi satu sama lainnya. Singkatnya, alam semesta semakin meluas dan mengembang, dan hal ini menggugurkan pandangan yang menyatakan bahwa alam semesta atau jagat raya statis atau tetap sebagaimana yang dikemukakan Immanuel Kant.

Terkait hal ini, Stephen Hawking pernah menyatakan: “Pada awal-mula jagat-raya, segala sesuatu saling berdekatan –sehingga pada saat itu sangat banyak ketidakpastian, serta ada sejumlah keadaan yang mungkin ditempuh jagat-raya. Setiap keadaan awal yang berbeda-beda ini pastilah telah berkembang menjadi sejumlah sejarah yang berbeda-beda untuk jagat-raya. Kebanyakan dari sejarah tadi, sejarah garis besar mempunyai kemiripan. Masing-masing terkait dengan sebuah jagat yang seragam dan mulus –dan terus memuai.

Persis dengan temuannya itulah, Edwin Hubble menyatakan: “Jagat-raya memuai!” Dan kala itulah Edwin Hubble kemudian melakukan perhitungan mundur (yang kemudian kesimpulannya persis dengan apa yang dikatakan Hawking di kemudian hari itu), yaitu jika dari hari ke hari benda-benda angkasa semakin menjauh berarti dahulunya benda-benda angkasa bermula dari sesuatu yang padu (satu) dan kemudian meledak dengan kecepatan yang luar biasa. Ledakan inilah yang kemudian kita kenal dengan nama “Big Bang” (Dentuman Akbar).

Tentu saja temuan ini sangat mengejutkan, karena menurut perhitungan yang cermat, para ilmuan umumnya dan fisikawan khususnya, menyimpulkan bahwa sesuatu yang padu (satu) itu haruslah bervolume nol –yang artinya jika suatu benda bervolume nol maka ia berawal dari ketiadaan.

Tapi Edwin Hubble bukanlah orang pertama yang menemukan hal tersebut, melainkan si jenius Albert Einstein, di mana melalui perhitungannya yang cermat, Albert Einstein telah memperhitungkan bahwa ruang angkasa tidak statis –melainkan terus meluas alias berkembang, di saat para ilmuwan umumnya dan fisikawan khususnya masih berpegang pada kepercayaan bahwa alam semesta bersifat statis (tidak berawal dan kekal).

Dan pendapat tentang alam semesta yang statis ini dikemukakan oleh para pendukung evolusionis-materialis (atheis). Singkatnya, Albert Einstein mematahkan pandangan kaum evolusionis materialis ketika teori dan pendapatnya dibenarkan oleh eksperimentasi Edwin Hubble.

Namun, apakah hal itu cukup bagi kemenangan Einstein? Jawabannya tentu saja belum –sebab jika jagat-raya atau alam semesta bermula dari ledakan, tentu ada sisa-sisa ledakannya, sebagaimana dinyatakan seorang fisikawan Amerika yang bernama George Gamov itu?

Nah, di tahun 1965, dua orang ilmuwan alias dua fisikawan, yaitu Arnold Pengias dan Robert Wilson, dalam observasi mereka menemukan sisa-sisa radiasi yang tersebar di ruang angkasa. Dan berkat penemuan mereka itu, mereka berdua pun memperoleh anugerah Nobel.

Dan tak hanya itu saja, karena di tahun 1989, NASA meluncurkan satelit ke luar angkasa untuk meneliti tentang gejala radiasi alam semesta. Saat itu, melalui sensor-sensor yang dipasang di satelit yang disebut sensorkobe, mereka menangkap adanya radiasi sisa-sisa ledakan besar yang menyebar di seluruh ruang angkasa.

Tak ayal, penemuan hasil observasi langsung ini menghebohkan dunia dan media massa. Atas temuan ini, Stephen Hawking menyebutnya sebagai penemuan terbesar dalam bidang astronomi di abad ini, bahkan mungkin sepanjang masa. Barangkali kita belum lupa dengan apa yang pernah dikatakan Karl Raimund Popper itu, bahwa salah-satu metode kerja sains adalah falsifikasi, di mana sebuah teori (atau temuan) akan gugur jika ada teori atau temuan lainnya yang menggugurkan atau membuktikan kekeliruannya.

Avicenna: Pujangga, Filsuf & Ilmuwan

Avicenna

Terlahir di keluarga Muslim Syi’ah di masa era Keemasan Islam Persia, Ibn Sina tumbuh menjadi anak yang cerdas dan suka membaca ragam buku tentang ragam disiplin ilmu dan segala macam pengetahuan. Minatnya pada pengetahuan tumbuh alami dan membentuknya sebagai ilmuwan dan filsuf multi-disipliner.

Ibn Sina (980-1037) dikenal sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia. Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, ia adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.

Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun Fi Al-Thib atau Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Nama lengkapnya adalah Abū ‘Alī Al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan Arab: أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir tahun 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (yang kala itu masuk kawasan administrative Persia), dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Ia pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.

Pada jaman ia hidup, ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari jaman Plato, sesudahnya hingga jaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, aljabar, trigonometri, dan ilmu pengobatan.

Pada jaman Dinasti Samayid di bagian timur Persia wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid di bagian barat Iran memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di jaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan dunia Islam.

Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Qur’an dan Hadist berkembang dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan.

Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal, Abu Al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainnya.

Dalam hal ini, Syeikh Ar-Rais Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina (Avicenna), yang berasal dari keluarga bermadzhab Syi’ah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara, yaitu Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 Hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat hal itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan:

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin dan memanfaatkannya. Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu”

Ibnu Sina memang menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq (logika), dan matematika dengan berbagai cabangnya. Sementara itu, kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, Raja Dinasti Samanid, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dunia dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Mulk, penguasa Hamedan, tak menghalanginya untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian, ia menulis buku-buku kecil yang disebut dengan Risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Diantara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, yaitu kitab Al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran kemudian dikenal sepanjang masa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq (logika), matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq Al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq Islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab Al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 Masehi.

Ibn Sîna tumbuh di dalam keluarga kaya dan terpandang karena ayahnya menjadi wali di Afsyanat sebelum kemudian hijrah ke Bukhara. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga penganut Islam Syi’ah yang intelektual. Ayah dan saudara-saudaranya dikenal sebagai Muslim Syi’ah. Ia juga hidup di dalam sebuah lingkungan bilingual (dua bahasa). Bahasa ibu-nya adalah bahasa Persia sedang bahasa pendidikannya adalah bahasa Arab.

Di Bukhara, Ibn Sîna mulai menerima pendidikan. Oleh ayahnya, ia diberi pelajaran privat dengan memanggil seorang tutor (pengajar khusus yang dibayar oleh keluarga-keluarga bangsawan) ke rumahnya. Tampaknya pendidikan yang disediakan untuk Ibn Sîna oleh ayahnya berskala sangat luas, mencakup kajian keagamaan Islam dan mata kajian sekuler dari Arab, Yunani, dan tradisi India. Ia memulai pendidikannya dengan belajar menghafal Al-Qur’an dan sastra dan bahasa Arab, termasuk dasar-dasar keagamaan lainnya seperti fiqih. Ia mempelajari fiqh kepada Abu Muhammad Isma’îl ibn Al-Husainî Al-Zâhid. Diperkirakan, Ibn Sîna telah merampungkan pelajaran bahasa, sastra dan dasar-dasar keagamaan sebelum usia sepuluh tahun.

Selanjutnya, ia mempelajari ilmu-ilmu ‘aqliyat kepada teman ayahnya yang Ahli filsafat yaitu ‘Ali Abu Abd-Allâh Al-Natilî. Melalui Al-Natilî, awalnya Ibn Sîna berkenalan dengan logika, geometri, dan astronomi, serta filsafat Yunani. Dalam beberapa tahun berikutnya ia telah mempelajari logika Aristoteles melalui Organon, geometri-nya Euclid dengan mengkaji Elements, dan juga astronominya dan kosmologi Ptolomy dari Almagest, dan segera bisa melampaui pengetahuan gurunya di dalam ilmu-ilmu tersebut.

Sejak usia 14 atau 15 tahun Ibn Sîna meneruskan pendidikannya secara otodidak. Ia membaca teks dan uraian di dalam ilmu-ilmu alam, metafisika, dan ilmu kedokteran. Ia mempelajari kedokteran sampai mahir sehingga suatu ketika pada usia enambelas tahun ia telah mampu mengajar dan mempraktikkannya.

Dalam satu setengah tahun kemudian, sampai usia enam belas tahun, ia melengkapi pengetahuannya dengan mereview dan menguasai seluruh cabang filsafat: logika, matematika, ilmu-ilmu alam (fisika), dan metafisika. Pada usia enam belas tahun ini, Ibn Sîna telah secara aktif terlibat di dalam seminar-seminar resmi dan seminar-seminar kedokteran, di mana para dokter (tabib) pada masanya datang kepadanya dan memintanya memberi penjelasan.

Di dalam memahami metafisika Aristoteles ia banyak terbantu oleh uraian Al-Farabî (wafat 950 Hijriah) “Maqâlat Fi Aghrâd Mâ Ba’da Al-Thabî’at” yang menjelaskan tentang hal tersebut. Tampaknya ia sangat mengalami kesulitan untuk memahami metafisika Aristoteles sebelum membaca uraian Al-Farabî tersebut. Dikisahkan ia telah membaca metafisika Aristoteles empat puluh kali tanpa mengerti, sampai akhirnya memahami maksudnya dari tulisan Al-Farabî. Setelah membaca dan memahami buku tersebut, Ibn Sîna kemudian tidak sekedar memiliki kesiapan untuk memahami metafisika Aristoteles, tetapi bahkan kemudian dia memberikan kontribusinya yang mendalam dan distingtif di dalam keberanian mendefinisikannya.

Ketika usia Ibn Sîna mencapai 21 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya dan di tengah kondisi kehancuran Daulah Samaniyah, Ibn Sîna meninggalkan Bukhara menuju kota Kurkanj di Khawarizm. Di sana, ia disambut oleh wazir Abu Al-Husein Al-Sahlî di istananya yang menyenangi filsafat serta orang yang mencurahkan pemikirannya untuk filsafat. Ibn Sîna kemudian diperkenalkan kepada Amir ‘Ali bin Ma´mûn, penguasa Kurkanj di bawah khalifah Ma´mûn bin Ma´mûn, yang memperkenankannya tinggal di istananya.

Di istana Amir Ali inilah, Ibn Sîna tinggal selama sepuluh tahun sampai 1012 M/402 H. Di Kurkanj ini pula, Ibn Sîna menunjukkan keterlibatannya pada kelompok ilmiah bersama dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Birûnî (362-448 Hijriah), Abû Sahl Al-Masîhî (wafat 401 Hijriah), Ahli fisika Abî Al-Khair Ibn Al-Hasan Ibn Al-Khammâr, dan ahli matematika Abi Nasr Ibn Al-’Arrâq. yang juga sama-sama berada di istana.

Pada masa tersebut, bintang Sultan Mahmûd Ghaznâwî di Ghazna sedang bersinar cemerlang. Sultan Mahmûd menginginkan sinar kemenangannya semakin meluas. Ia ingin agar istananya menjadi yang paling agung. Karenanya ia kemudian menarik para ulama, filsuf, penyair, dan ahli hikmah ke istananya dengan segala cara. Ketika ia mendengar kelompok Kurkanj, Sultan Mahmûd berkirim surat pada sultan Ma´mûn, yang dibawa utusannya dan berisi permintaan agar mengirimkan seluruh tokoh tersebut ke istananya.

Sesampainya utusan Sultan Mahmûd sampai di Khawarizm, Amir menunjukkan surat kepada para ulama yang namanya tercantum di dalam surat tersebut. Sementara tiga orang –Al-Birûni, Al-’Arrâq, dan Khammâr– menyatakan ketertarikannya dan akhirnya berangkat ke Ghazna, Ibn Sîna dan Al-Masîhî dengan bantuan Ma´mûn memilih melarikan diri ke selatan. Al-Masîhî tewas di dalam perjalanan di dalam sebuah badai di gurun pasir. Sementara Ibn Sîna dengan susah payah bisa tiba di Baward, lalu menuju Thus dan Naishapur. Akhirnya, ia sampai ke Jurjan yang ketika itu dikuasai oleh Syams Al-Ma’âli Qabûs bin Wasymâkir yang menyambutnya dengan baik. Kejadian ini berlangsung masih di tahun 402 Hijriah (1012 Masehi).

Sejak itu Ibn Sîna tinggal di Jurjan dan di sana –dalam usia tiga puluh dua tahun– ia bertemu dengan Abd Al-Wâhid Abu ‘Ubaid Al-Juzjâni yang kemudian menjadi murid, mendampingi perjalanan selanjutnya dan sekaligus menuliskan napak tilas kehidupannya. Di sana ia juga bertemu dengan Abû Muhammad Al-Syirâzi yang menyediakan satu rumah bagi Ibn Sîna, di samping rumahnya sendiri, yang digunakan sebagai pusat pengajaran. Di mana kemudian ia menulis karangan untuk Al-Syirâzi berjudul Kitâb Al-Irsyâd Al-Kulliyat dan Al-Mabda’ wa Al-Ma’âd. Di Jurjan juga, pada tahun 402 Hijriah (1012 Masehi), Ibn Sîna memulai penulisan naskah besar kedokteran karangannya, Al-Qânûn fi Al-Thibb (Canon of Medicine).

Ketika Sultan Qabus terbunuh dan keadaan politik di Jurjan bergolak, Ibn Sîna –dengan diiringi oleh Al-Juzjâni– berturut-turut pindah ke Ray, Quzwain, kemudian ke Hamadan (semua kota tersebut masuk kawasan Iran).

Di Rayy, kota terkaya di Persia (kini Iran) utara masa itu, Ibn Sîna mengobati pangeran yang terserang melankolia dan depresi, Majd Al-Dawlat (387-420 Hijriah) di istana kerajaan. Majd Al-Dawlat adalah penguasa Buwaihi yang sangat lemah di dalam memerintah. Di dalam menjalankan roda pemerintahan ia “diatur” oleh ibunya, Ratu Dawâjir.

Ketika Sultan Mahmûd Ghaznâwi mengirimkan surat tantangan, Ratu Dawâjir masih dapat membalasnya melalui sebuah surat balasan. Tetapi ketika ibunya meninggal di tahun 1028 Masehi, Majd Al-Dawlat tidak lagi mampu mengontrol tentaranya dan bahkan mengundang Mahmûd Ghaznâwi, yang kemudian justru menjadikannya tawanan. Dalam kondisi demikian, Ibn Sîna tidak menunggu lama lebih lagi, kemudian ia melarikan diri ke Quzwain.

Dari Quzwain inilah kemudian Ibnu Sina pindah ke Hamadan. Di Hamadan, ia dipanggil untuk mengobati penyakit kolik yang diderita Amir Syams Al-Dawlat (387-412 Hijriah), kepala pemerintahan dari dinasti Buwaihi saudaranya Majd Al-Dawlat. Di sana ia tinggal empat puluh hari untuk mengobati Amir sampai sang Amir sembuh dari sakitnya. Ia tiba di sana di akhir tahun 405 Hijriah (1015 Masehi). Karena kesembuhannya, Ibn Sîna sangat dihormati sang Amir. Sampai-sampai Ibn Sîna diberi kehormatan menjadi “menteri pertama“ dan salah satu sahabatnya. Jabatan menteri tersebut dipegang oleh Ibn Sîna tidak kurang dari lima tahun.

Tampaknya Ibn Sîna bersikap sangat tegas di dalam menyikapi tentara dan pegawai yang korup. Angkatan bersenjata kemudian melakukan demonstrasi ke rumahnya, memfitnah lalu menahan dan menangkapnya. Ia ditangkap dan diminta kepada Amir agar dijatuhi hukuman mati. Amir menolak tuntutan mereka, tetapi untuk memuaskan tuntutan mereka, Amir akhirnya memperlakukan hukuman buang. Ibn Sîna terpaksa bersembunyi di rumah Abî Sa’îd bin Dakhduk selama empat puluh hari. Tak lama setelah itu, Amir Syams Al-Dawlat sakit kembali, dan Ibn Sîna kembali diminta mengobati. Amir kemudian mengembalikan Ibn Sîna menjadi menterinya lagi.

Di saat Syam Al-Dawlah meningal dunia dan Samâ’ Al-Dawlat (memerintah 412-414 Hijriah) menggantikan ayahnya serta memilih Tâj Al-Mulk menjadi Wazir, Ibn Sîna menulis surat permintaan suaka politik kepada Alâ’ Al-Dawlat, Amir kota Isfahan yang terkenal indah. Kejadian tersebut diketahui oleh Tâj Al-Mulk, yang menyebabkannya ditangkap dan ditahan di benteng Fardajan di wilayah Jarrah sekitar 55 mil di luar kota Hamadan. Ketika itu, harapan untuk keluar dari penjara tampaknya dipandangnya sangat tipis, sampai ia menulis syair:

“Aku masuk dengan pasti sebagaimana telah engkau saksikan,
sementara ketidak-pastian menyertai dalam hal kapan keluar”

Namun, di benteng tersebut, ia justru berhasil menyelesaikan penulisan kitab Al-Hidâyat, dan kisah allegoriknya Hayy Ibn Yaqzân.

Ketika kemudian terjadi peperangan antara Samâ’ Al-Dawlat –Amir Hamadan– dengan Alâ’ Al-Dawlat– sang Amir Isfahan, Ibn Sîna kemudian dilepas oleh Alâ’ Al-Dawlat setelah ia terpenjara selama empat bulan lamanya. Sekeluarnya Ibn Sîna dari penjara. Ia kemudian minta perlindungan ke Isfahan. Di sana, ia disambut dengan hangat. Ibn Sîna tinggal di Isfahan selama tiga belas tahun. Di Isfahan, Ibn Sîna hidup terhormat. Ia hadir di majlis Amir pada setiap malam Jum’at, bertukar pikiran dengan para ulama di hadapan Amir, bahkan menemani Amir ke medan-medan peperangan.

Dalam suatu peperangan menemani Alâ’ al-Dawlat ini, Ibn Sîna terserang penyakit kolik sampai ususnya luka. Penyakit yang menyerangnya tersebut tampaknya parah. Dalam satu hari, Ibn Sîna mengalami nyeri perut sampai delapan kali, sehingga ketika penyakitnya bertambah parah, ia terpaksa kembali ke Isfahan untuk menyembuhkan dirinya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali lagi menemani Alâ’ al-Dawlat. Hanya saja ia tidak memelihara diri dan bahkan banyak membahayakan dirinyasampai penyakitnya kambuh kembali dan ia jatuh tersungkur, walaupun akhirnya berhasil sembuh.

Di dalam perjalanannya menemani Amir ke Hamadan, penyakitnya kambuh di jalan. Ia akhirnya menganggap pengobatan tak akan mampu lagi menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian menghentikan pengobatan dan berpasrah pada takdir. Ia berkata:

“Sesuatu yang mengatur badanku kini
tidak lagi dapat mengaturku.
Sekarang tak ada gunanya lagi pengobatan”

Ibn Sîna kemudian mandi, bertaubat, menyedekahkan miliknya, dan memerdekakan budak-budaknya. Ia kemudian meninggal tahun 428 Hijriah (1037 Masehi) dan dimakamkan di Hamadan.

Apabila kita cermati, maka perjalanan hidup Ibn Sîna dari segi produktivitas keilmuannya, dapat dibagi menjadi dua fase: Fase pembentukan (Al-Tahsîl) dan fase produktif (Al-Intâj Al-’Ilmî). Fase pertama, yaitu fase belajarnya dimulai usia lima tahun sampai sepuluh tahun belajar dasar-dasar Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, serta ilmu perbintangan, serta masa-masa belajar sesudahnya. Pada masa ini, Ibn Sîna mengalami masa yang lebih didominasi oleh masa belajarnya yang lebih banyak melakukan penyerapan, di mana aktivitas Ibn Sîna lebih banyak reseptif dan retentif.

Sedangkan fase kedua, yaitu fase produktif yang dimulai pada usia dua puluh satu tahun, Ibn Sîna mulai melakukan aktivitas produktif. Setelah masa tersebut, ia secara aktif menghasilkan karya-karya secara produktif dan sintetis. Menyumbangkan teori dan khazanah yang gemilang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

(Dirangkum dari ragam sumber dari pihak Iran dan Barat)

Al-Hazen: Pujangga, Filsuf & Teknokrat

Ibn Haitham

Lahir di keluarga Muslim Syi’ah Irak, Ibn Haitham dikenal sebagai seorang yang gemar membaca, meneliti dan melakukan eksperimentasi. Ia juga masyhur sebagai penemu bendungan atau waduk untuk menata dan mengatur distribusi air bagi kebutuhan pertanian dan untuk konsumsi. Namun, tentu saja, penemuannya yang terbesar, yang kemudian diakui para ilmuwan Barat, adalah dasar-dasar bagi kerja dan fungsi kamera dan keberhasilannya membuktikan kekeliruan teori optiknya Ptolomeus dan Euclid.

Demikianlah, jauh sebelum masyarakat Barat menemukan kamera, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu Al-Haitham, yang di Barat masyhur dengan nama Al-Hazen.

Kala itu, tepatnya pada akhir abad ke-10 M, Ibn Al-Haitham atau Al-Hazen berhasil menemukan sebuah kamera obscura. Itulah salah satu karya Ibn Al-Haitham yang paling monumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan Ibn Al-Haitham bersama Kamaluddin Al-Farisi dari Persia (Iran). Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, di mana saat itu Ibn Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Ibn Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu Al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” demikian ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Tentu saja, yang tak boleh dilupakan, dunia mengenal Ibn Al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk Kitab Al-Manazir (Buku Optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau kamar gelap. Bradley Steffens dalam karyanya berjudul Ibn Al-Haytham: First Scientist mengungkapkan bahwa Kitab Al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan Ibn Al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran Ibn Al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera). Setelah itu, penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan Ibn Al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada 1665 M. Setelah 900 tahun dari penemuan Ibn Al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura.

Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada tahun 1827. Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan Ibn Al-Haitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio.

Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai Ibn Al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia. Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak ini. Ibn Al-Haitham juga selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah yang semua itu ia dedikasikan untuk kemajuan peradaban manusia. Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.

Dalam hal ini, penting juga untuk diketahui, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni qamara. Istilah itu muncul berkat kerja keras Ibn Al-Haitham. Bapak fisika modern itu terlahir dengan nama Abu Ali Al-Hasan Ibnu Al-Hasan Ibnu Al-Haitham (Bahasa Arab:ابو علی، حسن بن حسن بن الهيثم) di Kota Basrah (Basra, 965 – Kairo 1039), Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.

Ibn Al-Haitham yang dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat dengan nama Al-Hazen ini adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Roger Bacon dan Johann Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.

Sejak kecil Ibn Al-Haitham dikenal berotak encer alias jenius dan cerdas. Ia menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Kala beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Ibn Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu daripada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad.

Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir. Ibn Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar yang didirikan oleh Panglima Perang Syi’ah bernama Jauhar Al-Siqily dari Kekhalifahan Fatimiyah itu. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari ragam ilmu hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.

Secara serius dan tekun dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku. Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Al-Hazen – begitu dunia Barat menyebutnya – juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika ‘Bapak Optik’ dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat. Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, yaitu Ptolomeus dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibn Al-Haitham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Secara detail, Ibn Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia.

Hasil penelitian Ibn Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata. Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul Light On Twilight Phenomena, Ibn Al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Ibn Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya. Ibn Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Ia melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ terhasillah teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia.

Yang lebih menakjubkan adalah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip volume udara sebelum seorang ilmuwan yang bernama Tricella mengetahui hal itu 500 tahun kemudian. Ibn Al-Haitham juga menemukan keberadaan gaya gravitasi sebelum Isaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Al-Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada ilmuwan Barat untuk menghasilkan film. Teorinya telah membawa kepada penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton saat ini.

FILSAFAT
Selain sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai filsafat, logika, metafisika, dan persoalan yang berhubungan dengan keagamaan. Ia juga menulis review dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu. Penulisan filsafatnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi sengketa. Padanya pertikaian dan perselisihan tentang sesuatu hal akibat pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.

Ia juga berpendapat bahwa kebenaran hanyalah satu. Karena itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada. Jadi, pandangannya mengenai filsafat amat menarik untuk disoroti. Bagi Ibnu Al-Haitham, filsafat tidak bisa dipisahkan dari matematika, sains, dan ketuhanan. Ketiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Bila umur semakin meningkat, kekuatan fisik dan mental akan turut mengalami kemerosotan.

KARYA
Ibnu Al-Haitham membuktikan pandangannya bila ia begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Di masa-masa ini beliau berhasil menghasilkan banyak buku dan makalah. Antara lain adalah: Al’Jami ‘fi Usul Al-Hisab yang berisi teori-teori ilmu matematik dan metamatematik penganalisaannya, Kitab Al-Tahlil Wa Al-Tarkib mengenai ilmu geometri, Kitab Tahlil Al-Masail Al ‘Adadiyah tentang Aljabar, Maqalah Fi Istikhraj Simat Al-Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap kawasan, Maqalah Fima Tad’u llaih tentang penggunaan geometri dalam urusan hukum syariah, dan Risalah Fi Sina’at Al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

Sains Imam Ali bin Abi Thalib as

Sains Imam Ali bin Abi Thalib as

Suatu hari, di masjid Kufah, seseorang bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib as, “Berapa jarak antara aku dengan (sambil menunjuk matahari) matahari?”

Di sini perlu diuraikan kerumitan dari pertanyaan tersebut.

Orang tersebut orang Arab. Dan, dalam bahasa Arab angka dan hitungan terbatas sampai 1000. Hitungan tidak melebihi 1000. Jawaban atas pertanyaan orang tersebut adalah jutaan (jarak).

Hal ini bagaikan tantangan untuk Imam Ali bin Abi Thalib as untuk menjawabnya secara meyakinkan tanpa membingungkan si penanya.

Imam Ali bin Abi Thalib as menjawab, “Jika kuda Arab mulai berlari dari sini dan terus berlari selama 500 tahun, maka ia (kuda) akan mencapai matahari.”

Pria tersebut yakin dan berjalan pergi. Tetapi bagi kita sekarang untuk merenungkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib as katakan. Hal ini menunjukkan dan membuktikan kejeniusan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata “Jika kuda Arab …”, diketahui kecepatan rata-rata kuda Arab adalah 22 mph (mil per-jam).

Jika kuda berlari sehari penuh (24 jam) dia akan mencapai jarak sekitar 520 mil. Inilah jarak tempuh yang dicapai kuda tersebut dalam 24 jam (satu hari).

Untuk menghitung jarak yang ditempuh oleh kuda dalam satu bulan kita kalikan 520 dengan 29,5 (mengambil rata-rata jumlah bulan di kallender Arab. Dengan asumsi bahwa 6 bulan adalah 29 hari dan 6 bulan yang lainnya 30 hari). Ini memberi kita di sekitar 15.500. Kuda akan mencapai 15.500 mil dalam satu bulan (30 hari).

Untuk mendapatkan jarak yang ia tempuh dalam satu tahun kita kalikan dengan 12. Karena ada 12 bulan dalam setahun. Hasilnya 186000. Kemudian kalikan 186000 dengan 500 oleh karena kuda harus berlari selama 500 tahun. Hasilnya 93.400.000 mil.

Sekarang jika anda bertanya pada seorang astronom tentang jarak matahari dari bumi dia akan memberitahu bahwa jaraknya tidak pernah konstan. Orbit bumi oval. Kadang-kadang lebih dekat ke matahari dan pada kesempatan lain menjauh dari matahari. Ketika bumi terdekat dengan matahari jaraknya adalah 91.000.000 mil dan jarak ketika terjauh dari matahari adalah 94.800.000 mil. Jika kita ambil nilai rata-rata dari dua jarak itu maka hasilnya 93.000.000 mil.

Diterjemahkan dari teks Bahasa Ingris ke Bahasa Indonesia oleh A.B. Wibowo (https://www.facebook.com/bowiepresto?fref=ufi&pnref=story)

Mulla Sadra di Antara Sains & Agama

cincin-debu-di-sekitar-bintang

Berbeda dengan mainstream paradigma filsafat Barat, Mulla Sadra menempatkan sains dan agama tidak dalam posisi “konflik”. Memang, keduanya mempunyai tolak ukur kebenaran sendiri, namun kebenaran yang diperoleh tidaklah saling bertentangan. Inilah basis ikhtiar intelektual dan spiritual filsafat Mulla Sadra dalam upayanya untuk menemukan kebenaran sains dan agama yang bersifat kooperatif alias saling mendukung. Ini terlihat dari pandangannya yang tidak menolak rasionalisme dan empirisisme sebagai sarana untuk memperoleh kebenaran, selain ia juga menambahkan metode sufistik (‘irfan) untuk mencapai kebenaran hakiki.

Dalam hal ini, dapatlah dikatakan bahwa Mulla Shadra melakukan sintesis terhadap sumber pengetahuan yang meliputi iluminasi intelektual (kasyf, zauq atau isyraq), penalaran atau pembuktian rasional (‘aql, burhan, atau istidlal) dan agama atau wahyu (syar’ atau wahy). Sejalan dengan pilihan metodis dan peradigmanya tersebut, kebenaran sains dan agama dianalogikan sebagaimana sinar yang ‘satu’ yang menyinari suatu ruangan yang memiliki jendela dengan beragam warna. Setiap jendela akan memancarkan warna yang bermacam-macam sesuai dengan warna kacanya.

Demikianlah ia menggambarkan bahwa kebenaran berasal dari Yang Satu, dan tampak muncul beragam kebenaran tergantung sejauh mana manusia mampu menangkap kebenaran itu. Kebenaran yang ditangkap ilmuwan hanyalah sebagian yang mampu ditangkap dari kebenaran Tuhan. Begitu pula kebenaran yang ditangkap oleh agamawan. Dengan demikian, kebenaran yang ditangkap ilmuwan dan agamawan bersifat komplementer, saling melengkapi.

Secara historis dan biografis, Mulla Sadra adalah tokoh yang hidup sezaman dengan Galileo Galilei. Artinya, ketika di Barat sedang terjadi kebuntuan pemahaman tentang sains dan agama, Mulla Sadra telah mempunyai konsep yang cemerlang untuk menjawab kebuntuan tersebut. Satu kondisi atmosfir keilmuan yang sangat kontras karena di Barat sedang terjadi konfrontasi antara sains dan agama, sementara di dunia Islam sendiri, yang dalam hal ini filsafat Mulla Sadra, hubungan sains dan agama justru mengalami penguatan, saling melengkapi dan menguatkan satu sama lain.

Sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, filsafat Mulla Sadra secara cerdas dan jernih menempatkan kedudukan sains dan agama pada posisi yang harmonis. Tidak salah tentunya apabila ada ungkapan bahwa kemajuan pemikiran Islam terjadi manakala agama secara mutualis menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan sains. Agama bukan penghambat perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam. Bukankah banyak ayat-ayat al Qur’an sendiri yang menyerukan agar manusia berpikir dan membaca dirinya, lingkungannya, dan semesta di mana ia hidup?

Sayangnya, di dunia Islam (di luar kawasan Persia), masyarakat muslim malah memilih suatu mazhab yang menentang dan memusuhi fislafat, sehingga fakta yang terjadi di dunia Islam justru kebalikan dari yang terjadi di Barat, di mana Barat yang dulu terbelakang kini malah menguasai jagat sains dan cakrawala pengetahuan. Suatu kenyataan yang pastilah akan membuat Mulla Sadra bersedih-hati.

semesta2

space-shuttle-atlantis-launch

Kritik Atas Kaum Evolusionis Materialis

Mohammad_Baqir_al_Sadr_by_70hassan07

Oleh Ayatullah Sayyid Muhammad Baqir as Shadr (Marji’ dan Filsuf Syi’ah)

Dalam pemaparan kami mengenai posisi teologi, kami berangkat dari materi, dengan arti ilmiahnya, yang kualitas-kualitas umum dan aksidentalnya dalam kaitannya dengannya telah dibuktikan ilmu pengetahuan. Sekarang, kami ingin menelaah posisi teologi berdasarkan konsep filsafat tentang materi. Untuk itu, kita wajib mengetahui apakah materi itu, dan bagaimanakah konsep ilmiah dan filosofisnya?

Yang dimaksudkan dengan “materi sesuatu” adalah prinsip pembentuk sesuatu itu. Materi dipan (tempat tidur) adalah kayu, dan materi baju adalah bulu domba (wol) dan materi kain adalah katun, dengan artian bahwa kayu wol dan katun adalah hal-hal-pembentuk dipan baju dan kain itu. Kita sering merinci materi sesuatu, kemudian kita kembali ke materi tersebut, untuk berusaha mengetahui materinya, yaitu prinsip pembentuknya. Lantas kita ambil prinsip tersebut, dan juga membicarakan materi dan prinsipnya. Nah, kalau kita ditanya dari apa desa terdiri, kita jawab bahwa ia terdiri dari sejumlah bangunan, kebun, jalan dan tempat lainnya. Jadi, bangunan, kebun, jalan dan tempat lainnya itu adalah materi suatu desa. Dan pertanyaan tentang apa materi bangunan berulang. Jawabannya adalah bahwa ia tersusun dari kayu, bata dan besi. Dengan demikian kita menempatkan materi pada setiap sesuatu, lantas kita membuat suatu prinsip bagi materi, yang dari prinsip itu terbentuklah materi. Dalam deretan (tasalsul) ini, kita musti berhenti pada suatu materi primer. Yaitu materi yang tidak mungkin dikatakan bahwa ia tersusun dan materi lain.

Dari hal tersebut timbullah dalam lingkaran filsafat dan ilmu pengetahuan pertanyaan tentang materi asasi dan primer alam, yang padanya analisis atas prinsip-prinsip dan materi-materi segala sesuatu berhenti. Pertanyaan tersebut dianggap sebagai salah satu pertanyaan terpenting dalam pemikiran manusia, baik ilmiah maupun filosofis. Yang dimaksudkan dengan “materi ilmiah” adalah materi paling primer yang diungkapkan eksperimen. Ia adalah prinsip paling primer (yang dicapai) dalam analisis-analisis ilmiah. Dan yang dimaksudkan dengan “materi filosofis” adalah materi paling primer alam, baik ia bisa nampak dalam lapangan eksperimen maupun tidak.

Dalam pembahasan tentang materi ilmiah, kita telah mengetahui bahwa materi paling primer yang dicapai ilmu pengetahuan adalah atom dengan nucleus dan elektron-elektronnya yang merupakan suatu kepadatan tertentu energi. Dalam arti ilmiah, materi kursi adalah kayu dan materi kayu adalah elemen-elemen sederhana yang membentuk kayu itu. Yaitu oksigen, karbon dan hidrogen. Materi elemen-elemen itu adalah atom-atom, dan materi atom adalah bagian-bagian tertentunya, seperti proton, elektron dan (partikel-partikel subatomik)[240] lain. Himpunan atom, atau muatan-muatan listrik yang padat, adalah materi ilmiah yang paling primer yang ditunjukkan ilmu pengetahuan dengan metode-metode eksperimental.

Mengenai materi filosofis, mari kita lihat apakah pada hakikatnya atom adalah materi alam paling primer dan tersederhana, atau ia, pada gilirannya, juga tersusun dan materi dan bentuk? Kursi, seperti telah kita ketahui, tersusun dan materi, yaitu kayu, dan bentuk, yaitu rupa tertentunya. Air tersusun dan materi, yaitu atom oksigen dan hidrogen, dan bentuk, yaitu kualitas fluiditas yang terjadi pada komposisi kimiawi antara dua gas. Nah, apakah atom-atom yang sangat kecil tersebut adalah juga materi filosofis alam? [241]

Pendapat filosofis yang berlaku adalah bahwa materi filosofis itu lebih primer daripada materi ilmiah dalam arti bahwa materi yang pertama dalam eksperimen-eksperimen ilmiah bukanlah materi yang paling asasi dalam pandangan filsafat. Tetapi, ia tersusun dan suatu materi yang lebih sederhana daripadanya, dan bentuk. Materi lebih sederhana tersebut tidak mungkin ditunjukkan dengan eksperimen. Tetapi, keberadaannya itu dapat dibuktikan secara filosofis.

KOREKSI ATAS BEBERAPA KESALAHAN
Berdasarkan uraian di atas, dapatlah kita mengetahui bahwa teori atom Demokritus yang menyatakan bahwa prinsip primer alam tak lain adalah atom-atom fundamental yang tidak terbagi-bagi, itu memiliki dua sisi: sisi ilmiah dan sisi filosofis. Sisi ilmiahnya adalah bahwa struktur benda-benda itu tersusun dari atom-atom kecil yang terdapat ruang kosong di antaranya. Benda bukanlah massa yang rapat-padat, meski nampak demikian bagi indera-indera kita. Satuan-satuan kecil tersebut adalah materi semua benda. Sisi filosofisnya adalah bahwa Demokritus mengklaim bahwa satuan-satuan atau atom-atom tersebut tidak tersusun dari materi dan bentuk, karena mereka tidak memiliki materi yang lebih primer dan lebih sederhana daripada mereka. Karena itu, satuan-satuan atau atom-atom itu adalah materi filosofis, yakni materi alam yang paling primer dan sederhana.

Dua sisi dari teori itu telah terkacaukan oleh banyak pemikir. Nampak bagi mereka bahwa alam atom, yang ditemukan ilmu pengetahuan modern dengan metode-metode eksperimental, membuktikan kebenaran teori atomistik itu. Maka, tidak mungkin menyalahkan Demokritus dalam penafsirannya tentang benda-benda, sebagaimana diyakini filosof-filosof terdahulu, setelah alam atom baru tampak jelas bagi ilmu pengetahuan, meskipun pemikiran ilmiah modern berbeda dengan pemikiran Demokritus dalam hal mengestimasi besarnya atom dan dalam hal menggambarkan strukturnya.

Tetapi, faktanya adalah bahwa eksperimen-eksperimen ilmiah modern tentang atom hanya menunjukkan kebenaran sisi ilmiah teori Demokritus. Mereka menunjukkan bahwa benda tersusun dari satuan-satuan atomik yang mengandung kekosongan di antara satuan-satuan atom-atom tersebut, dan karena itu tidak rapat-padat seperti digambarkan indera kita. Ini adalah aspek ilmiah dari teori tersebut. Eksperimen dapat mengungkapkan aspek ini. Filsafat tidak berkata apa-apa dalam masalah itu. Karena, benda, dalam pandangan filsafat, bisa rapat-padat, dan bisa pula mengandung kekosongan yang diisi bagian-bagian yang amat kecil.

Adapun sisi filosofis dalam teori Demokritus tidak dijamah penemuan-penemuan ilmiah itu sama sekali, juga tidak dibuktikan kebenarannya oleh penemuan-penemuan ilmiah itu. Tetapi, tetaplah permasalahan keberadaan materi yang lebih sederhana daripada materi ilmiah menjadi tanggung-jawab filsafat, dalam arti bahwa filsafat bisa mengambil materi yang paling primer yang dicapai ilmu pengetahuan di dalam lapangan eksperimen (yaitu atom dan aggregate tertentunya), dan membuktikan bahwa itu tersusun dari materi yang lebih sederhana dan dari bentuk. Dan hal ini tidak kontradiksi dengan fakta-fakta ilmiah, karena analisis dan sintesis filosofis tersebut tidak dapat ditunjukkan dalam lapangan eksperimen.

Mereka salah dalam mengklaim bahwa eksperimen-eksperimen ilmiah menunjukkan kebenaran keseluruhan teori tadi, padahal eksperimen-eksperimen itu hanya berkenaan dengan sisi ilmiahnya saja. Demikian pula beberapa filosof terdahulu, yang menolak sisi filosofis dari teori tersebut, yang dengan demikian menolak pula sisi ilmiah. Mereka mengklaim, tanpa bukti ilmiah maupun filosofis bahwa benda-benda itu rapat-padat, dan mereka menolak atom dan kekosongan di bagian dalam benda-benda.

Posisi yang harus diambil dalam persoalan di atas adalah menerima sisi ilmiah teori tersebut, yang menegaskan bahwa benda-benda tidaklah rapat-padat dan tersusun dari atom-atom yang amat kecil. Sisi ini telah diungkapkan fisika atom dengan pasti. Sedangkan sisi filosofis teori tersebut, yang menyatakan kesederhanaan satuan-satuan yang diungkapkan fisika atom itu, kita tolak. Karena filsafat membuktikan bahwa satuan yang diungkapkan fisika itu betapapun amat kecilnya, tersusun dari bentuk dan materi. Materi ini kita namakan “materi filosofis”. Karena, ia adalah materi yang paling sederhana yang keberadaannya dibuktikan dengan metode filsafat, bukan ilmiah. Dan kini, kita akan menelaah metode filsafat tersebut.

KONSEP FILOSOFIS TENTANG MATERI
Karena persoalan yang kita bahas adalah persoalan filosofis dan cukup sensitif, kami harus berjalan dengan hati-hati dan tenang, agar pembaca dapat mengikuti perjalanan kami ini dengan baik. Karena itu, kami mulai, pertama-tama, dengan air, kursi dan sebagainya, supaya kita tahu bagaimana filsafat itu benar (ketika mengatakan) bahwa benda-benda itu tersusun dari materi dan bentuk.

Air itu terjelma dalam materi cair. Ia sekaligus bisa menjadi gas. Kebisaan menjadi gas ini bukan lantaran fluiditasnya, karena kualitas fluiditas tidak mungkin menjadi gas. Tetapi, sebabnya adalah materi yang dikandung di dalam air yang cair itu. Jadi, air tersusun dan keadaan gas dan suatu materi yang disifati keadaan ini. Materi ini juga bisa menjadi gas. Kursi terjelma dalam kayu tertentu yang dibuat dengan bentuk tertentu. Ia bisa juga menjadi meja. Bukan bentuk kursi itu yang bisa menjadi meja, tetapi materi kursi itu dari itu kita tahu bahwa kursi tersusun dan suatu bentuk tertentu dan materi kayu yang bisa menjadi meja, sebagaimana ia bisa menjadi kursi. Demikian seterusnya dalam setiap hal. Jika diperhatikan bahwa entitas tertentu dapat menerima lawan sifatnya sendiri, filsafat membuktikan melalui hat ini bahwa entitas itu memiliki materi, yang adalah sesuatu yang menerima sifat yang berlawanan dengan sifatnya sendiri.

Mari kita telaah permasalahan kita ini berdasarkan hal ini. Kita telah tahu bahwa ilmu pengetahuan menerangkan bahwa benda bukan satu sesuatu, tetapi ia tersusun dan satuan-satuan primer yang “berenang” di dalam kekosongan. Karena satuan-satuan tersebut, pada akhir analisis ilmiah itu, tetap ada, maka mereka tidak tersusun dari atom-atom yang lebih kecil daripada mereka. Kalau tidak maka satuan-satuan itu , tidak akan merupakan satuan-satuan puncak materi. Ini benar. Filsafat memberikan kemerdekaan yang penuh kepada ilmu pengetahuan dalam menentukan satuan-satuan akhir yang tidak disela kekosongan dan tidak mengandung bagian-bagian. Ketika ilmu pengetahuan menentukan satuan-satuan tersebut, datanglah giliran filsafat. Filsafat membuktikan bahwa satuan-satuan tersebut tersusun dari bentuk dan materi yang lebih sederhana (daripada satuan itu). Kita mengkonsepsikan satuan materi yang rapat-padat, karena, jika ia tidak benar-benar rapat-padat, tentu ia seperti suatu benda yang mengandung kekosongan yang diisi bagian-bagian. Jadi, arti suatu satuan adalah bahwa ia rapat-padat. Maka itu ia tak mungkin suatu satuan hakiki tanpa rapat-padat. Tetapi, pada waktu yang sama, ia dapat dibagi dan dipisah-pisah juga. Adalah jelas bahwa apa-apa yang dapat dibagi dan dipisah-pisah bukanlah rapat-padat yang esensial bagi satuan materi itu sendiri. Karena, rapat-padat tidak mungkin bersifat terpisah, sebagaimana tidak mungkin fluiditas bersifat gas. Maka, satuan itu harus memiliki materi sederhana yang dapat dibagi- bagi dan dipisah-pisah. Dan hal itu mendatangkan anggapan bahwa satuan tersusun dari materi dan bentuk. Jadi, materi adalah sesuatu yang dapat dibagi-bagi dan dipisah-pisah yang menghancurkan satuan tersebut. Materi dapat dirapat-padatkan juga, yang membentuk satuan itu. Sedangkan bentuk adalah rapat-padat itu sendiri, yang tanpanya tidak mungkin kita mengkonsepsikan satuan materi.

Persoalan yang kita hadapi dalam hal ini adalah: “Bagaimana filsafat dapat mengetahui bahwa satuan-satuan primer materi dapat dibagi-bagi dan dipisah-pisah?” “Apakah ada jalan ke arah itu selain eksperimen ilmiah?” Eksperimen ilmiah tidak membuktikan dapatnya satuan-satuan primer materi untuk dibagi-bagi dan dipecah-pecah. Sekali lagi kami tegaskan keniscayaan untuk tidak mengacaukan materi ilmiah dengan materi filsafat. Hal itu karena filsafat tidak mengklaim bahwa pembagian satuan adalah sesuatu yang dapat dijangkau sarana-sarana dan metode-metode ilmiah yang dimiliki manusia. Klaim ini adalah hak istimewa ilmu pengetahuan sendiri. Filsafat hanya membuktikan bahwa setiap satuan dapat dibagi dan dibelah, meskipun tidak mungkin dapat dilakukan secara eksternal dengan metode-metode ilmiah, dan tidak mungkin mengkonsepsikan satuan tanpa dapat dibaginya satuan itu; yakni tidak mungkin mengkonsepsikan suatu bagian yang tidak dapat dibagi.

BAGIAN MENURUT FISIKA dan KIMIA
Persoalan bagian yang tak terbagi bukanlah persoalan ilmiah, tetapi adalah semata-mata persoalan filsafat. Dengan itu, kita tahu bahwa metode-metode dan fakta-fakta ilmiah yang digunakan untuk menjawab persoalan tersebut dan menunjukkan ada atau tidak adanya bagian yang tak terbagi sama sekali tidak benar. Kami kini akan memaparkan sebagian dari metode-metode dan fakta-fakta yang tidak benar itu.

(1) Hukum proporsi yang dibuat Dalton [242] di dalam kimia untuk menjelaskan bahwa kesatuan kimiawi elemen-elemen terjadi sesuai dengan proporsi-proporsi tertentu. Dalton[243] mendasarkan hukum ini pada gagasan bahwa materi terdiri dari partikel-partikel kecil yang tak terbagi. Adalah jelas bahwa hukum tersebut hanya berlaku pada lapangan tertentunya, seperti hukum kimiawi, dan tidak mungkin problem filosofis dipecahkan dengan hukum tersebut. Karena, yang dapat dijelaskannya adalah bahwa reaksi-reaksi dan kombinasi-kombinasi kimiawi tidak mungkin berlangsung kecuali di antara kuantitas-kuantitas tertentu elemen-elemen dan dalam situasi-situasi dan kondisi-kondisi tertentu. Nah, jika tidak ada kuantitas-kuantitas dan proporsi-proporsi tertentu, maka tidak terdapat reaksi dan kombinasi. Tetapi, hukum ini tidak menjelaskan apakah kuantitas-kuantitas itu dapat dibagi atau tidak. Jadi, kita harus membedakan antara segi kimiawi hukum tersebut dan segi filosofisnya. Dari segi kimiawi, ia menetapkan bahwa karakteristik reaksi kimiawi terdapat pada kuantitas-kuantitas tertentu, dan tidak mungkin terjadi pada kuantitas-kuantitas yang lebih kecil. Sedangkan dari segi filosofis, hukum tersebut tidak menetapkan apakah kuantitas-kuantitas tersebut adalah bagian-bagian yang tidak terbagi atau tidak. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan segi kimiawi hukum itu.

(2) Tahap pertama fisika atom, yang di dalamnya terjadi penemuan atom. Menurut sementara pakar fisika, fisika pada tahap ini telah mengakhiri pertentangan mengenai persoalan bagian yang tak terbagi, karena ia mengungkapkan bagian tersebut dengan metode-metode ilmiah. Tetapi, adalah jelas, berdasarkan uraian di atas, pengungkapan itu tidak menetapkan bagian yang tak terbagi, dalam arti filosofis. Fakta bahwa analisis ilmiah sampai pada atom yang tidak dapat dibagikan tidak berarti bahwa atom itu tidak dapat dibagi.

(3) Tahap kedua fisika atom yang, tidak seperti tahap pertama, dianggap sebagai bukti pasti tentang tidak adanya bagian yang tak terbagi. Karena, ilmu pengetahuan, pada tahap kedua ini dapat membagi dan memecah atom. Dengan demikian, tumbanglah gagasan tentang bagian tak terbagi. Tahap ini sama dengan tahap sebelumnya, karena tahap ini tidak berkaitan dengan persoalan tentang bagian yang tak terbagi dari segi filsafat. Hal itu karena keterbagian atom atau pemecahan intinya hanya mengubah gagasan kita tentang bagian, dan sama sekali tidak menumbangkan teori bagian yang tak terbagi. Atom, yang tidak terbagi, dalam arti yang tidak dapat dikonsepsikan Demokritus, atau dalam arti yang atas dasarnya Dalton [244] membuat hukum proporsi-proporsi dalam kimia, telah lenyap akibat pecahnya atom. Hal ini tidak berarti bahwa problem itu telah berakhir. Satuan-satuan primer dalam alam materi (yaitu muatan-muatan listrik, baik dalam bentuk atom, benda-benda material, maupun dalam bentuk gelombang) dapat dipertanyakan secara filosofis: “Apakah ia dapat dibagi atau tidak?”

BAGIAN MENURUT FILSAFAT
Demikianlah, studi kita telah memperjelas bahwa problem bagian harus dipecahkan dengan metode filsafat. Filsafat memiliki banyak metode untuk membuktikan secara filosofis bahwa setiap satuan dapat dibagi dan bahwa tidak ada bagian yang tidak terbagi. Salah satu metode yang paling jelas tersebut adalah menggambar dua lingkaran seperti penggilingan (stonemill), yang satu di antaranya berada di dalam yang lain, dengan titik sentral dalam penggilingan tersebut adalah sentra kedua di lingkaran tadi. Lalu kita buat suatu titik di posisi tertentu pada keliling lingkaran yang besar itu, dan titik yang paralel dengannya pada keliling lingkaran yang kecil. Adalah jelas bahwa jika kita menggerakkan penggilingan tersebut, maka bergeraklah kedua lingkaran tadi.

Nah, kita gerakkan penggilingan itu maka titik yang kita letakkan pada lingkaran besar itu bergerak sesuai dengan bergeraknya penggilingan, tetapi jangan biarkan titik ini bergerak kecuali kalau salah satu satuan materi itu bergerak. Kemudian kita perhatikan titik paralel dalam lingkaran kecil, dan kita pertanyakan: “Apakah ia menempuh jarak yang sama dengan yang ditempuh oleh titik paralel pada lingkaran besar, yakni satu satuan menyeluruh, atau apakah ia telah menempuh sebagian dari jarak itu?” Kalau ia telah menempuh jarak yang sama, maka berarti bahwa kedua titik itu menempuh jarak yang sama, dan ini adalah mustahil. Karena kita tahu bahwa semakin jauh titik itu dari pusat utama lingkaran, geraknya semakin cepat. Karenanya, pada setiap putaran, ia menempuh jarak yang lebih panjang daripada yang ditempuh titik yang lebih dekat dengan lingkaran tersebut pada putaran yang sama. Karena itu tidak mungkin kedua titik itu menempuh jarak yang sama. Jika, sebaliknya, titik yang lebih dekat menempuh satu bagian dari jarak yang ditempuh titik yang jauh, maka ini berarti bahwa satuan yang dilalui titik jauh itu dapat dibagi dan dipecah, dan bukanlah satuan yang tidak dapat dibagi. Demikian menjadi jelas bahwa para pendukung satuan yang tak terbagi berada dalam posisi yang sulit. Karena, mereka tidak bisa menganggap titik jauh dan dekat itu sama atau berbeda dalam kuantitas gerak. Tidak ada yang tertinggal bagi mereka selain mengklaim bahwa titik paralel dalam lingkaran kecil itu diam dan tidak bergerak. Dan kita semua tahu bahwa seandainya lingkaran yang dekat dengan pusat diam pada saat lingkaran besar itu bergerak, tentu akibatnya adalah lepasnya bagian-bagian penggilingan tersebut.

Argumen ini menjelaskan kepada kita bahwa satuan material apa pun yang kita asumsikan itu dapat dibagi. Karena, ketika titik yang jauh dari sentra melintasi unit ini dalam geraknya, titik yang dekat itu melintasi satu bagian darinya. Nah, jika satuan material dapat dibagi dan dipisah, maka ia tersusun dari suatu materi sederhana yang adalah pusat dapat dibaginya dan kerapat-padatannya yang membentuk unitasnya. Demikianlah, menjadi jelas bahwa satuan-satuan alam materi itu tersusun dari materi dan bentuk.

KESIMPULAN FILSAFAT
Ketika paham filosofis tentang materi, yang menuntut sesuatu itu tersusun dari materi dan bentuk terkristalkan, tahulah kita bahwa materi filosofis itu sendiri [245] tidak mungkin menjadi penyebab pertama alam; karena, ia tersusun dari materi dan bentuk. Dan keberadaan masing-masing materi dan bentuk itu tidak mungkin saling terlepas satu dari yang lain. Maka, harus ada satu lantaran yang mendahului proses penyusunan tersebut, yaitu yang merealisasikan keberadaan unit-unit material tersebut.

Dengan kata lain, penyebab pertama adalah hal pertama dalam rantai keberadaan. Rantai keberadaan mesti bermula dengan yang pada esensinya niscaya, sebagaimana telah kita ketahui dalam bab terdahulu. Jadi, sebab pertama adalah yang pada esensinya niscaya. Dengan demikian sebab pertama harus tidak membutuhkan sesuatu lain dalam keberadaannya. Adapun unit-unit primer materi, mereka bukan tidak membutuhkan sebab eksternal dalam keberadaannya, karena maujud mereka terdiri atas materi dan bentuk. Mereka membutuhkan keduanya sekaligus. Masing-masing materi dan bentuk itu membutuhkan satu sama lain untuk maujud. Dari seluruh uraian di atas tahulah kita bahwa sebab pertama berada di luar batas-batas materi, dan bahwa materi filsafat alam – yang dapat rapat dan dipisah – itu membutuhkan suatu sebab luar yang menentukan keberadaannya yang terus menerus atau terputus.

MATERI dan GERAK
Materi itu berada dalam gerak dan perkembangan terus-menerus. Ini adalah fakta yang sama-sama kita sepakati. Dan materi membutuhkan sebab yang menggerakkannya. Ini adalah fakta lain yang diterima tanpa perdebatan. Permasalahan paling mendasar di dalam filsafat gerak adalah: Apakah materi yang bergerak itu dapat menjadi sebab geraknya? Dengan kata lain, yang bergerak adalah subjek gerak, dan penggerak adalah sebab gerak. Nah, apakah mungkin hal yang sama dalam masalah yang sama menjadi subjek gerak dan sekaligus sebab gerak?

Filsafat metafisika menjawab persoalan tersebut dengan menegaskan bahwa adalah niscaya berbilangnya yang bergerak dan penggerak. Karena, gerak adalah perkembangan dan penyempumaan berangsur-angsur sesuatu yang kurang, dan tidak mungkin sesuatu yang kurang itu sendiri berkembang dan menyempurnakan dirinya secara berangsur-angsur, karena sesuatu yang kurang tidak mungkin menjadi sebab kesempurnaan. Atas dasar ini, di dalam paham filosofis tentang gerak dibuat kaidah penggerak dan yang bergerak. Berdasarkan kaidah tersebut, kita dapat mengetahui bahwa sebab gerak berkembang materi pada substansinya bukanlah materi itu sendiri. Tetapi, ia adalah suatu sebab di luar materi yang memberi materi perkembangan kontinyu, dan yang memberi materi gerak linier dan kesempurnaan berangsur-angsur. Materialisme dialektik tidak seperti ini. Ia tidak mengakui dualitas antara materi bergerak dan sebab gerak, tetapi, ia menganggap materi itu sendiri sebagai sebab gerak dan perkembangannya sendiri. Jadi, ada dua penafsiran tentang gerak.

(1) Dalam penafsiran dialektik, yang menganggap materi itu sendiri sebagai sebab gerak, materi adalah sumber paling primer perkembangan menyempurna. Ini mengharuskan dialektika mengatakan bahwa materi pada esensinya melibatkan tahap-tahap dan penyempurnaan-penyempurnaan yang dicapai gerak dalam perjalanannya yang dapat diperbarui. Misteri di balik fakta bahwa dialektika dituntut untuk mengatakan itu adalah (kebutuhannya) untuk membenarkan penafsiran material terhadap gerak. Karena, sebab atau sumber gerak pada esensinya melibatkan perkembangan dan penyempurnaan yang diberikannya kepada gerak. Lagi pula, karena, menurut dialektika, materi adalah sebab geraknya sendiri dan mendorongnya berkembang, tentu dialektika harus mengakui bahwa materi memiliki karakteristik-karakteristik sebab-sebab, dan menganggapnya sebagai pada esensinya melibatkan semua kontradiksi yang berangsur-angsur dicapai gerak; sehingga ia dapat menjadi sumber penyempurnaan dan menjadi pemberi primer gerak. Itulah sebabnya dialektika mengakui kontradiksi sebagai hasil musti dari progresi filosofisnya. Ia menolak prinsip non-kontradiksi dan mengklaim bahwa kontradiksi-kontradiksi selamanya berada dalam kandungan internal, dan karena sumber internal ini materi menjadi sebab gerak dan menyempurna.

(2) Penafsiran teologik tentang gerak. Ia memulai dengan mempertanyakan kontradiksi-kontradiksi ini yang diduga dialektika sebagai terkandung dalam materi. Apakah kontradiksi-kotradiksi itu maujud di dalam materi secara aktual, atau maujud di dalamnya secara potensial? Yang pertama (ada secara aktual) sama sekali ditolak, karena kontradiksi-kontradiksi tidak mungkin, berdasarkan prinsip non-kontradiksi, bersama-sama secara aktual. Kalau mereka bersama-sama secara aktual, tentu diamlah materi itu. Adapun yang kedua, yakni bahwa kontradiksi-kontradiksi tersebut maujud (dalam materi) secara potensial. Arti “keberadaan potensial mereka” adalah bahwa materi memiliki kapasitas untuk menerima perkembangan berangsur-angsur, dan kemungkinan untuk penyempurnaan linier melalui gerak. Ini berarti bahwa kandungan internal materi itu kosong dari segala sesuatu selain kapasitas. Gerak, berdasarkan hal ini, adalah suatu keberangkatan berangsur-angsur dari potensialitas ke aktualitas dalam perkembangan yang terus menerus. Materi bukanlah sebab gerak, karena materi kosong dari tingkat-tingkat penyempurnaan yang dicapai melalui tahap-tahap perkembangan dan gerak, dan tidak mengandung apa-apa selain kemungkinan dan kapasitas untuk tingkat-tingkat penyempurnaan ini. Jadi, tidak bisa tidak harus mencari sebab gerak substansial materi dan sumber primer gerak ini di luar batas-batas materi. Dan tidak bisa tidak bahwa sebab itu adalah Allah SWT, Yang secara esensial memiliki segala derajat kesempurnaan.

MATERI dan PERASAAN (AL-WIJDAN)
Posisi kita terhadap alam, yang penuh dengan bukti-bukti maksud, tujuan dan pengaturan, adalah seperti posisi seorang pekerja yang dalam penggalian-penggaliannya menemukan sistem-sistem sensitif yang tersimpan di dalam bumi. Pekerja itu tidak akan pernah meragukan bahwa di sana ada “tangan pengrajin” yang menyusun sistem-sistem tersebut dengan sangat teliti dan tekun untuk merealisasikan tujuan-tujuan tertentu melalui sistem-sistem itu. Semakin sang pekerja tersebut mengetahui fakta-fakta baru tentang ketelitian pembuatan sistem-sistem tersebut, dan tanda-tanda artistik dan kreasi-kreasi di dalamnya, semakin ia meninggikan seniman yang menciptakan sistem-sistem tersebut, dan semakin ia menghargai kecemerlangan dan intelek sang seniman. Demikian pula, kita berada pada posisi seperti itu yang diilhamkan watak manusia dan sentimennya berkenaan dengan alam secara umum, yang mencari dan rahasia-rahasia dan tanda-tanda alam ilham tentang keagungan Pencipta yang Arif Yang telah menciptakannya, dan tentang sublimitas intelek yang memunculkan alam.

Jadi, alam adalah suatu potret artistik yang luar biasa, sementara ilmu-ilmu alam adalah sarana-sarana manusia yang mengungkapkan corak-corak kreativitas dalam potret tersebut, yang menyingkapkan rahasia-rahasia artistiknya, dan yang membekali hati manusia secara umum dengan bukti demi bukti tentang adanya Pencipta yang Maha Pengatur dan Mahabijaksana serta tentang keagungan dan kesempurnaanNya. Setiap kali ilmu-ilmu tersebut mendapatkan kemenangan dan berbagai lapangan, atau mengungkapkan suatu rahasia, maka mereka memberi metafisika kekuatan baru dan memberi manusia bukti baru tentang keagungan Yang Maha Pencipta yang telah menciptakan dan mengorganisasikan potret abadi tersebut dengan sesuatu yang membuat rasa kagum, takjub dan mengkuduskan. Demikianlah, fakta-fakta yang diumumkan ilmu modern tidak meninggalkan ruang untuk meragukan permasalahan Ilahi Yang Mahakuasa dan Mahabijaksana. Jadi, jika bukti-bukti filsafat memenuhi pikiran dengan keyakinan dan penerimaan, maka penemuan-penemuan ilmiah modern memenuhi jiwa dengan kepercayaan dan keimanan terhadap Allah SWT, dan penafsiran metafisika tentang prinsip-prinsip pertama keberadaan.

MATERI dan FISIOLOGI
Ambillah (sebuah contoh) fisiologi manusia dengan fakta-faktanya yang dahsyat, dan bacalah keagungan dan ketelitian-Nya dalam rincian-rincian yang diuraikan fisiologi dan misteri-misteri yang dijelaskannya. Sistem pencernaan, misalnya, adalah pabrik kimiawi terbesar di alam dengan berbagai caranya menganalisis secara kimiawi berbagai makanan yang dahsyat, dan mendistribusikan elemen-elemen nutritif yang tepat-guna secara adil kepada bermilyar-milyar sel hidup yang darinya tubuh manusia tersusun. Setiap sel menerima nutritien menurut kadar kebutuhannya. Nutritien-nutritien ini lalu berubah menjadi tulang, rambut, gigi, kuku, safar, (dan seterusnya) sesuai dengan rencana tertentu bagi fungsi-fungsi yang dibebankan pada sel-sel ini di dalam suatu sistem yang tiada yang lebih teliti dan hebat lagi selain ini.

Begitu memandang sel-sel hidup tersebut, yang mengandung rahasia kehidupan, jiwa menjadi penuh dengan kekaguman atas adaptasi sel terhadap tuntutan-tuntutan situasi dan kondisinya. Seolah-olah setiap sel mengetahui struktur anggota tubuh yang untuk melestarikannya sel tersebut bekerja sama dengan seluruh sel yang membentuk anggota tubuh tersebut. Sel itu seolah-olah tahu fungsi anggota tubuh dan tahu harus bagaimana anggota tubuh itu.

Sistem indera penglihatan, yang kecil ukurannya, tidak kurang indah dan cermat dibandingkan sistem pencernaan, dan tidak kurang dari bukti kehendak yang sadar dan akal pencipta. Ia tersusun dengan sedemikian teliti dan sempurna. Penglihatan tak mungkin berlangsung tanpa satu bagian pun dari sistem ini. Retina, misalnya, yang atasnya lensa merefleksikan cahaya tersusun dari sembilan lapisan yang terpisah, meski tebalnya tidak melebihi kertas yang tipis. Dan lapisan terakhir tersusun dari 30 juta rod [246] dan 3 juta cone. [247] Rod dan cone itu terorganisasikan secara rapi dan luar biasa. Tetapi cahaya terepresentasikan pada retina secara terbalik: Ituah sebabnya Tuhan berkehendak agar sistem penglihatan di balik retina diberi berjuta-juta sac urat saraf yang bertanggung jawab atas perubahan-perubahan kimiawi tertentu yang akhirnya membawa ke penggapaian imaji dalam posisinya yang benar.

Nah, apakah mungkin perencanaan kolosal ini, yang menjamin proses penglihatan termasuk aksi-aksi terbaik materi, tanpa kesengajaan, padahal menemukannya saja membutuhkan usaha-usaha pemikiran yang kuat?

MATERI dan BIOLOGI
Selanjutnya, ambillah biologi atau ilmu hayat. Anda akan menemukan rahasia lain dari rahasia-rahasia ilahiah yang besar, yaitu rahasia kehidupan, yang memenuhi hati manusia dengan kepercayaan terhadap paham teologis dan dengan keyakinan kuat tentangnya. Berdasarkan biologi, tumbanglah teori reproduksi diri yang telah mendominasi benak materialis, dan yang telah diterima orang-orang yang latah dan awam secara umum. Mereka mengemukakan beberapa contoh, untuk membuktikannya, seperti cacing yang terbentuk dalam isi perut (intestines) atau dalam sekerat daging yang diudarai, maupun contoh lain yang diilhami oleh kenaifan pemikiran materialistik. Hal-hal seperti itu, menurut mereka, tampak tereproduksi sendiri dalam keadaan-keadaan alam spesifik, dan tanpa memaujud dari makhluk-makhluk hidup lain. Namun eksperimen-eksperimen ilmiah yang pasti membuktikan batalnya teori ini, dan bahwa cacing tidaklah lahir dari germ kehidupan yang dikandung sepotong daging tersebut.

Kemudian materialisme memulai usahanya lagi untuk menegakkan teori reproduksi-diri ketika Anton van Leeuwenhoek [248] menciptakan mikroskop komposit pertama. Dengan alat itu, ia menemukan alam baru organisme-organisme kecil. Dan mikroskop itu dapat membuktikan bahwa setetes air hujan tidak mengandung germ. Tetapi, germ tersebut terproduksi setelah tetes air hujan itu menyentuh bumi. Lantas kaum materialis meneriakkan suara mereka dan bergembira atas kemenangan baru di lapangan mikrobiologi, setelah tak mampu mengesampingkan sperma, dan menegakkan teori reproduksi-diri dalam hewan-hewan yang terlihat dengan mata telanjang. Demikianlah, mereka kembali ke lapangan tersebut, tetapi (saat ini, perselisihan mereka adalah) pada tingkat yang lebih rendah. Dan perbedaan sekitar formasi kehidupan antara kaum materialis dan lainnya berlangsung sampai pada abad ke-19, ketika Louis Pasteur mengakhiri konflik tersebut. Ia, dengan eksperimen-eksperimennya, membuktikan bahwa germ dan mikroba-mikroba yang hidup di air adalah entitas-entitas organik yang berdiri sendiri, yang datang ke air dari luar, dan kemudian beranak pinak di dalamnya.

Sekali lagi, kaum materialis berupaya bergantung pada angan-angan ilusif. Lantas mereka meninggalkan lapangan-lapangan yang di tempat itu mereka menemui kegagalan, dan bergerak ke lapangan baru: yaitu lapangan fermentasi. Dalam lapangan ini, sebagian dari mereka berupaya menerapkan teori reproduksi-diri pada entitas-entitas organik mikroskopik yang merupakan sebab fermentasi. Tetapi, upaya ini segera kembali gagal, seperti usaha-usaha sebelumnya. Hal itu diungkapkan Pasteur, ketika ia menunjukkan bahwa fermentasi tidak terjadi pada materi jika terisolasi dari (dunia) luar. Tetapi, fermentasi terjadi karena perpindahan entitas-entitas organik tertentu kepadanya dan reproduksi mereka di dalamnya. Demikianlah, pada akhir analisis, tampak berlaku pada berbagai hewan, bahkan hewan-hewan terkecil yang tidak mungkin dilihat dengan mikroskop biasa, bahwa kehidupan tidak lahir kecuali dari kehidupan, dan bahwa sperma, bukan reproduksi-diri, adalah hukum umum yang berlaku di dunia makhluk hidup.

Kaum materialis berada pada posisi yang sulit berkenaan dengan kesimpulan yang pasti ini. Karena, jika teori reproduksi-diri tumbang, berdasarkan riset ilmiah, maka bagaimana mereka dapat menerangkan adanya kehidupan di atas bumi? Apakah masih ada jalan bagi hati manusia, setelah itu, untuk menutup mata terhadap realitas ilahiah yang jelas ini yang mempercayakan rahasia kehidupan kepada sel-sel atau sel primer? Kalau tak demikian, mengapa alam berpaling untuk selama-lamanya dari proses reproduksi-diri? Hal ini berarti bahwa jika penafsiran materialistik terhadap sel primer kehidupan melalui reproduksi-diri itu benar, maka bagaimana materialisme dapat menerangkan tidak berulangnya reproduksi-diri di dalam alam dengan perjalanan panjang zaman? Sungguh, itu adalah pertanyaan yang membingungkan bagi kaum materialis. Dan adalah aneh bahwa seorang ilmuwan Soviet, Obern, [249] menjawabnya dengan kata-kata: “Kalau adanya kehidupan itu melalui interaksi material yang panjang masih mungkin terjadi di dalam planet-planet lain selain planet kita, planet bumi, maka di planet ini tidak ada tempat baginya, karena reproduksi di sini terjadi pada tingkat yang lebih cepat dan lebih pendek (daripada tingkat produksi kehidupan melalui interaksi material), yaitu reproduksi manusia melalui perkawinan. Hal itu karena interaksi yang baru menggantikan interaksi primitif biologis dan kimiawi, yang membuatnya tidak niscaya.” [250]

Inilah jawaban lengkap Obern terhadap masalah tersebut. Sungguh suatu jawaban yang aneh. Cobalah Anda lihat, bagaimana ia menjadikan alam tidak membutuhkan operasi reproduksi-diri, karena operasi ini menjadi tidak niscaya setelah alam menemukan cara yang lebih cepat dan pendek untuk mereproduksi kehidupan. Ia seolah-olah berbicara tentang suatu kekuatan berakal yang sadar yang meninggalkan operasi yang sulit setelah ia dapat mencapai tujuan melalui cara yang lebih mudah. Tetapi, kapan alam meninggalkan hukum-hukumnya untuk maksud itu? Dan apabila reproduksi-diri terjadi terlebih dahulu, sesuai dengan hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan tertentu, sebagaimana air terlahir dari susunan kimiawi tertentu antara oksigen dan hidrogen, maka adalah niscaya bahwa reproduksi tersebut berulang-ulang sesuai dengan hukum dan ketentuan tersebut, sebagaimana adanya air berulang-ulang selama ada faktor-faktor kimiawi tertentu, baik air itu niscaya atau tidak. Karena, keniscayaan dalam arti alam tidak lain adalah keniscayaan yang dimunculkan oleh hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan alam. Nah, dengan sebab apakah hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan tersebut berbeda?

MATERI dan GENETIKA
Mari kita beralih ke genetika, yang memukau pikiran manusia, dan yang kepadanya manusia menunduk dengan hormat. Betapa mencengangkan ketika kita mengetahui bahwa segenap warisan organik individu terkandung dalam materi inti-atom hidup (protoplasma) [251] sel-sel reproduktif, dan bahwa segala sifat turunan itu dihasilkan oleh segmen-segmen mikroskopik yang sangat kecil (dari materi ini), yaitu gen-gen yang dikandung materi hidup tersebut dengan tepat dan teratur. Ilmu pengetahuan telah menjelaskan bahwa materi tersebut tidak dihasilkan dari sel-sel jasmani, tetapi dari protoplasma kedua orangtua, kakek-nenek dan seterusnya. Berdasarkan itu, tumbanglah ilusi Darwinisme. Berdasarkan ilusi ini Darwin mendirikan teori evolusi dan progresi. Teori ini menyatakan bahwa perubahan-perubahan dan sifat-sifat yang terjadi pada hewan di tengah kehidupannya – apakah sebagai hasil pengalaman dan latihan atau hasil interaksi dengan lingkungan atau jenis tertentu makanan – kiranya berpindah melalui pewarisan kepada anak turunannya. Karena sudah terbukti, berdasarkan pembedaan antara sel-sel jasmani dan sel-sel reproduktif, bahwa sifat-sifat itu tidak dapat diwariskan. Itulah sebabnya para pendukung teori evolusi dan progresi harus meninggalkan hampir semua asas dan rincian Darwinisme, dan menyodorkan hipotesis baru di dalam lapangan perkembangan organik. Yaitu hipotesis berkembangnya spesies-spesies melalui mutasi-mutasi. Para ilmuwan dewasa ini tidak memiliki dukungan ilmiah bagi teori tersebut, selain observasi terhadap beberapa wujud perubahan mendadak dalam sejumlah kasus. Hal ini menuntut asumsi bahwa spesies hewan itu berkembang dari mutasi-mutasi ini, meskipun fakta bahwa mutasi-mutasi yang terdeteksi dalam bahwa tidak sampai membentuk berbagai perubahan mendasar, dan bahwa sebagian dari perubahan-perubahan mendadak itu tidak diwariskan.

Kami tidak hendak membahas teori tersebut. Tetapi, kami bermaksud memaparkan proses turun-temurun itu dan kekuatan yang menakjubkan dalam gen-gen yang kecil itu, yang mengarahkan semua sel tubuh dan memberi hewan sebentuk personalitas dan sifat-sifat hewan. Nah, apakah mungkin, menurut perasaan manusia, bahwa semua itu terjadi secara kebetulan?

MATERI dan PSIKOLOGI
Akhirnya, mari kita telaah sebentar psikologi, untuk melihat lapangan baru kreativitas ilahi. Terutama mari kita perhatikan salah satu permasalahan jiwa, yakni permasalahan instink yang menerangi jalan hewan dan yang memandu langkah-langkahnya. Instink ini adalah tanda yang jelas di hati bahwa membekali hewan dengan instink-instink tersebut adalah tindakan satu pengatur yang bijaksana, dan bukan suatu kebetulan yang begitu saja. Kalau tidak, siapa yang mengajarkan kepada lebah cara membangun sarangnya yang berbentuk segi enam, dan mengajar ikan-ikan membangun tanggul sungai, dan mengajar semut melakukan hal-hal yang dahsyat di dalam membangun rumah-rumahnya? Ya, siapa yang mengajar belut untuk tidak bertelur kecuali di tempat tertentu di dasar laut, di mana kandungan kadar garam di dalamnya hampir 35 persen, dan jarak dari permukaan laut tidak kutang dari 1.200 kaki? Belut menyimpan telur-telurnya di tempat seperti itu, karena telurnya tidak akan menetas kecuali dengan terpenuhinya kedua syarat tersebut.

Ada sebuah kisah menarik tentang seorang ilmuwan yang membuat suatu sistem tertentu yang dilengkapi dengan panas, uap air, dan dengan segala syarat lain yang diperlukan dalam proses alami untuk melahirkan anak ayam dari telur. Di dalam sistem itu, ia letakkan telur agar menghasilkan ayam. Tetapi, ia tidak memperoleh hasil yang dikehendaki. Lantas tahulah dari situ bahwa studinya terhadap kondisi-kondisi reproduksi alam itu tidak memadai. Ia kemudian melakukan eksperimen-eksperimen lain terhadap ayam ketika ayam itu mengerami telurnya. Setelah observasi-observasi dan tes-tes yang sangat cermat, ia menemukan bahwa ayam tersebut dalam saat-saat tertentu mengubah posisi telur dan membolak-balikkannya dari satu sisi ke sisi lain. Lantas, sekali lagi, ia melakukan eksperimen dalam sistem khususnya dengan memberlakukan proses yang dilakukan sang ayam tadi. Maka, eksperimen itu mendapatkan keberhasilan yang sedemikian.

Nah, katakanlah dengan hati nurani Anda, siapakah yang mengajarkan kepada ayam itu rahasia ini yang tersembunyi dari ilmuwan besar tersebut? Atau siapakah yang mengilhami ayam itu dengan aksi yang bijak tersebut, yang proses reproduksi tidak akan dapat berlangsung tanpa aksi itu? Kalau kita hendak mempelajari instink-instink secara lebih mendalam, kita harus membentangkan teori-teori terpenting, kemudian menganalisis dan menerangkannya. Dan teori-teori semacam itu banyak.

Teori pertama: hewan mendapatkan petunjuk untuk melakukan perbuatan-perbuatan instinktif sesudah melakukan banyak usaha dan pengalaman. Maka ia pun terbiasa dengan perbuatan-perbuatan tersebut; dan karena itu, perbuatan tersebut menjadi tradisi warisan yang diwariskan dari orangtua kepada anak tanpa ada tempat untuk kekuatan adi-alami dalam mengajari mereka perbuatan-perbuatan tersebut. Teori ini terdiri atas dua bagian. Yang pertama adalah bahwa hewan, pertama-tama, mencapai aksi instinktif melalui coba-coba dan pengalaman; yang kedua adalah bahwa perbuatan itu dialihkan ke generasi-generasi berikutnya, sesuai dengan hukum hereditas. Dan tidaklah mungkin menerima kedua bagian tersebut.

Bagian pertama dari teori itu tidaklah benar. Karena, arti hewan mengesampingkan coba-coba yang salah dan ia mengambil dan mempertahankan coba-coba yang berhasil berarti bahwa hewan itu mengetahui keberhasilan coba-coba yang kedua dan kesalahan coba-coba yang pertama. Tetapi ini tidak mungkin dinisbahkan kepada hewan tersebut, terutama jika keberhasilan usaha itu tidak tampak kecuali setelah matinya hewan tersebut, seperti pada kupu-kupu ketika sampai pada periode ketiga dari kehidupan. (Sebelum tahap ini) ia bertelur di atas daun-daun hijau dalam lingkaran-lingkaran. Telurnya hanya menetas pada msim ketiga. Ia muncul dalam bentuk belatung kecil, di saat sang induk telah mati. Nah, bagaimana kupu-kupu dapat mengetahui keberhasilan pekerjaan yang dilakukannya dan mengetahui bahwa dengan perbuatan itu ia telah menyiapkan sumber besar makanan bagi anaknya, padahal ia tidak menyaksikan hal itu? Jika benar bahwa instink adalah produk pengalaman, tentu hal itu meniscayakan perkembangan, penyempurnaan dan penguatan instink-instink hewan-hewan berdasarkan coba-coba dan pengalaman lain di sepanjang sejarah. Tetapi tidak satu pun dari hal itu terjadi.

Sedangkan bagian kedua dari teori tersebut didasarkan pada pemikiran yang menyatakan pindahnya sifat-sifat yang didapatkan melalui hereditas. Tetapi gagasan ini telah tumbang di hadapan teori-teori baru di dalam ilmu genetika, seperti telah kami singgung di atas. Misalkan hukum hereditas mencakup tradisi-tradisi yang didapatkan – meskipun sebagian darinya dilakukan hewan hanya sekali atau beberapa kali dalam hidupnya – maka bagaimana mungkin perbuatan instinktif menjadi tradisi yang diwariskan. Teori kedua memulai sebagaimana teori pertama memulai. Ia beranggapan bahwa hewan dipandu ke perbuatan instinktif melalui coba- coba yang berulang-ulang. Tindakan seperti itu pindah ke generasi-generasi berikutnya, bukan melalui hereditas, tetapi melalui instruksi dan pengajaran yang dapat dijangkau hewan.

Keberatan kami terhadap bagian pertama teori terdahulu juga berlaku pada teori yang sedang dibahas ini. Tetapi keberatan berkenaan dengannya secara khusus menyangkut klaimnya mengenai perpindahan aksi instinktif melalui instruksi dan pengajaran. Klaim ini tidak sesuai dengan realitas, meskipun kita menisbahkan kemampuan memahami kepada hewan. Karena, sejumlah instink tampak pada hewan sejak awal adanya, (yaitu) sebelum ada kesempatan apa pun untuk mengajarnya. Bahkan hewan-hewan kecil dilahirkan justru setelah induknya mati, dan mereka memiliki instink-instink yang dimiliki spesies mereka. Sebagai contoh, belut. Ia berpindah dari berbagai empang dan sungai ke kedalaman yang tak terukur untuk bertelur. Dalam migrasinya ia menempuh jarak beribu-ribu mil, hanya untuk memilih tempat yang sesuai. Lantas ia bertelur dan mati. Dan lahirlah si kecil yang setelah itu kembali ke pantai yang dari sana induknya datang. Si kecil seolah-olah benar-benar mcmpelajari dan mengetahui peta alam. Nah, dari tangan siapa belut kecil itu menerima pelajaran geografi?

Teori ketiga diproklamasikan oleh aliran behaviorisme dalam ilmu jiwa, yang mencoba menganalisis tingkah laku hewan secara umum ke dalam unit-unit aksi refleksif. Ia menafsirkan bahwa instink adalah senyawa-senyawa kompleks dari unit-unit tersebut, yaitu rantai perbuatan-perbuatan reneksif yang sederhana. Jadi, (aksi) instink tidak lebih merupakan semacam gerak menarik tangan ketika tertusuk jarum, atau memicingnya mata ketika silau oleh cahaya yang sangat kuat. Hanya saja kedua perbuatan itu refIeksif dan sederhana, sementara instink itu komposit dan refleksif.

Penafsiran mekanik terhadap instink ini tidak mungkin diambil, karena berbagai bukti. Antara lain bahwa gerak yang secara mekanik-refleksif itu hanya disebabkan oleh sebab eksternal, sebagaimana dalam pemicingan mata yang disebabkan oleh cahaya yang menyilaukan. Padahal beberapa perbuatan instinktif tidak memiliki sebab eksternal. Lantas apa yang membuat hewan mencari makanannya sejak ia lahir, dan berusaha keras mendapatkannya? Lagi pula, perbuatan-perbuatan yang refleksif secara mekanik tidak akan melibatkan pencerapan dan kesadaran. Padahal, observasi terhadap perbuatan-perbuatan instinktif membekali kita dengan bukti-bukti pasti tentang pencerapan dan kesadaran yang terlibat di dalam perbuatan itu. Salah satu bukti itu adalah eksperimen yang dilakukan terhadap tingkah laku lalat kuda (hornet) yang membangun sarangnya dari sejumlah tertentu sel sarang lebah. Orang yang melakukan eksperimen itu berharap bahwa lalat itu akan menyempurnakan pekerjaannya di dalam sel sarang lebah tertentu, kemudian orang yang bereksperimen itu merobeknya dengan jarum. Nah, ketika lalat itu mendapatkan bahwa seorang manusia telah merusak karyanya, ia membangun kembali sarang berikutnya. Sang peneliti mengulang-ulang eksperimennya berkali-kali. Setelah itu, ia yakin bahwa suksesi tingkah laku instinktif bukanlah bersifat mekanik. Dan sang peneliti memperhatikan bahwa lalat itu kembali dan melihat bahwa sarang yang sudah selesai itu telah rusak, ia membuat gerakan tertentu dan mengeluarkan suara-suara tertentu yang menunjukkan perasaan marah dan kesalnya.

Sesudah teori meterialisme ini tumbang, tinggallah dua penafsiran tentang instink. Pertama, bahwa perbuatan instinktif itu adalah produk kesengajaan dan kesadaran. Hanya saja tujuan hewan bukanlah kegunaan-kegunaan yang akurat yang dihasilkan dari perbuatan-perbuatan itu, tetapi kenikmatan langsung dalam perbuatan instinktif itu sendiri. Artinya, hewan itu terkomposisi sedemikian sehingga ia merasa nikmat dengan melakukan perbuatan-perbuatan instink tersebut, yang sekaligus memberinya manfaat sebesar-besarnya. Kedua, bahwa instink adalah ilham supernatural, bersifat ilahiah, dan lagi, penuh misteri. Hewan dibekali dengan ilham tersebut sebagai pengganti kecerdasan dan akal yang tidak dimilikinya. Entah penafsiran pertama atau penafsiran kedua yang benar, bukti-bukti kesengajaan dan pengaturan adalah jelas bagi hati manusia. Kalau tidak, bagaimana dapat terjadi kesesuaian yang sempurna antara perbuatan-perbuatan instinktif dan kemaslahatan-kemaslahatan yang sangat akurat yang tersembunyi dari hewan tersebut?

Sampai di sini kita berhenti. Bukan lantaran bukti-bukti ilmu pengetahuan atas posisi teologis telah habis. Bahkan bukti-bukti itu takkan habis walaupun disusun berjilid-jilid besar buku, tetapi lantaran prosedur buku ini menghendaki demikian.

Setelah kami mengemukakan bukti-bukti tentang keberadaan kekuatan pencipta lagi bijak, mari kita menoleh kepada hipotesis materialisme, agar kita mengetahui, berdasarkan bukti itu, sejauh mana kenaifan dan kerancuannya. Ketika hipotesis ini menyatakan bahwa alam semesta, termasuk khazanah tatanan dan keindahan kreasi dan formasinya yang misterius, diwujudkan oleh sebab yang tak memiliki kebijaksanaan dan kesengajaan, kenaifan dan keanehannya melebihi beribu-ribu kali kenaifan seseorang yang menemukan diwan [252] tebal dari puisi pilihan dan terbaik, atau menemukan buku ilmiah yang penuh dengan misteri-misteri dan penemuan-penemuan, lantas mengklaim bahwa seorang bayi telah memainkan pena di atas kertas, maka tersusunlah huruf-huruf secara kebetulan, dan jadilah dari susunan huruf-huruf itu sejumlah puisi atau sebuah buku ilmiah.

Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di ufuk-ufuk dan di dalam diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka bahwa ini adalah kebenaran. Apakah tidak cukup bahwa Tuhanmu saksi bagi segala sesuatu (QS 41:53).

CATATAN:
240. Seperti neutron.
241. Teks: al-madda al-‘ilmiyyah (materi ilmiah).
242. Teks: Waltun, Tentunya ada seorang fisikawan asal Irlandia yang bernama Ernest Walton (1903- ) yang memenangkan Hadiah Nobel dalam fisika pada 1951, dan fisikawan yang dimaksud di sini tak diragukan tentulah Dalton, bukan Walton. Teori proporsi dalam kimia yang dibahas di sini dikemukakan oleh Dalton, bukan oleh Walton.
243. Teks: Waltun.
244. Teks: Waltun.
245. Teks al-‘ilmiyyah (ilmiah).
246. Rod adalah salah satu jasad indera berbentuk tongkat dari retina yang digunakan dalam cahaya redup.
247. Cone adalah jasad indera dari retina yang digunakan dalam melihat warna.
248. Anton Van Leeuwenhoek, biolog sekaligus mikroskopis Belanda (1682-1728). Terkenal sbagai pembuat banyak mikroskop, penemu binatang bersel satu yang disebut “protozoa”, dan yang pertama melihat bakteri.
249. Obern: ilmuwan ini tak dapat kami kenali.
250. Qithsilah Al-Insan, h. 10.
251. Protoplasma adalah sekompleks material organik dan nonorganik, protein, dan air yang membentuk nucleus hidup sebuah sel.
252. Dalam bahasa Arab, diwan adalah sekumpulan syair Arab atau Persia. Kata ini digunakan dalam beberapa arti, seperti “dewan”, tetapi jelas di sini digunakan dalam arti ditunjukkan di atas.

Tuhan dan Religiusitas Einstein yang Sunyat

A sketch of German physicist Albert Einstein by his friend Josef Scharl is to be seen in public for the first time at an art sale in New York in January

(Gambar: Sketsa Albert Einstein karya Josef Scharl)

Di tahun 1927, para ahli fisika berkumpul di sebuah ruangan yang berada dalam sebuah gedung besar. Pagi itu, di luar gedung, salju turun ragu-ragu, awal musim dingin mulai datang, pelan dan lamban. Kebanyakan orang memilih berlindung di balik selimut, cuaca awal musim selalu disambut dengan kemalasan. Tapi tidak dengan para ahli fisika itu, mereka berdebat, berdiskusi, sementara salju turun lamban tapi pasti di luar ruangan (di luar gedung).

Mereka adalah Max Planck, Pauli, dan Heisenberg, yang sedang membahas tentang Albert Einstein, teoritikus fisika terbesar abad ini. Diskusi mereka menitik pada pokok soal, Einstein yang terlalu sering berbicara tentang Tuhan dalam setiap esai dan ceramahnya, seperti ketika Einstein menulis, “aku ingin membaca pikiran Tuhan”, “Tuhan tidak bermain dadu”, dan yang lainnya.

Lalu bagaimana para ilmuwan itu harus menyikapi kelakuan Einstein tersebut? Setelah perdebatan sengit, akhirnya Pauli menyatakan: “Kalau batas antar bidang-bidang pemikiran dan pengalaman kita semakin menajam, pada akhirnya kita akan masuk pada sebuah kesepian yang menakutkan dan kita harus ijinkan air mata menetes”.

Itulah sebabnya, sebagai ilmuwan (fisikawan), Einstein menolak konsepsi Tuhan yang antroposentris (Tuhan yang dibayangkan seumpama manusia). Einstein melihat ide Tuhan personal sebagai bentuk antropomorfisme (seperti contohnya Mujassimah Wahabi yang menganggap Tuhan punya tangan dan bertempat).

Pada intinya, seperti alam, Tuhan adalah misteri tak terlukiskan dengan bahasa manusia. Mengapa demikian? Karena ia pun tidak bisa melukiskan batas sepi kosmos, sehingga ia pun harus terpaksa berhenti pada E=MC2. Itupun tidak juga menuntaskan misteri kosmos. Kosmos dan Tuhan tetap misteri yang tak akan pernah terungkap tuntas.

Dalam hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkhutbah: “Ia yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. Ia mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu”.

"Esai-Esai Sains dan Ekologi Sulaiman Djaya"