Islam, Sains, Al-Kindi, dan Albert Einstein

Radar Banten, 26 Desember 2014

Dalam sejarah Islam, Islam Syi’ah maju pesat dan pernah mengukir kegemilangan peradaban dan sains karena doktrinnya relevan dengan kemajuan ilmu dan pengetahuan. Dalam hal ini, sains, kekuasaan dan moralitas dalam ajaran Syi’ah merupakan satu kesatuan. Dalam sejarah peradaban Islam, banyak ilmuwan, astronom, fisikawan, ahli kedokteran, ternyata penganut Syi’ah Islam, semisal al Biruni, Ibnu Sina, dan lain sebagainya. Bahkan, filsafat Islam berkembang dan bertahan berkat muslim Syi’ah. Sementara itu, di abad modern kita ini, Einstein dalam makalah terakhirnya bertajuk Die Erklärung (Deklarasi) yang ditulis pada tahun 1954 di Amerika Serikat dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas lewat ayat-ayat Alquran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib (as) dalam kitab Nahjul Balaghah. Ia mengatakan, hadis-hadis dalam Nahjul Balaghah tersebut memiliki muatan yang tidak ada di mazhab Islam yang lain. Hanya mazhab Syi’ah yang memiliki hadis dari para Imam mereka yang memuat teori kompleks seperti Relativitas. Belakangan memang dikabarkan bahwa Albert Einstein adalah seorang penganut Islam Syi’ah. Sejumlah pihak pun mengutip sebuah surat rahasia Albert Einstein, ilmuan Jerman penemu teori relativitas itu, yang menunjukkan bahwa dirinya adalah penganut mazhab Islam tersebut.

Dalam reportase tersebut dinyatakan bahwa Einstein pada tahun 1954 dalam suratnya kepada Ayatullah Al-Uzma Sayid Hossein Boroujerdi, marji besar Syi’ah kala itu, menyatakan, “Setelah 40 kali menjalin kontak surat-menyurat dengan Anda (Ayatullah Boroujerdi), kini saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam”. Einstein dalam suratnya itu menjelaskan bahwa Islam lebih utama ketimbang seluruh agama-agama lain dan menyebutnya sebagai agama yang paling sempurna dan rasional. Ditegaskannya, “Jika seluruh dunia berusaha membuat saya kecewa terhadap keyakinan suci ini, niscaya mereka tidak akan mampu melakukannya walau hanya dengan membersitkan setitik keraguan kepada saya”.

Salah satu hadis yang menjadi sandaran Albert Einstein itu adalah hadis yang diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang mikraj jasmani Rasulullah saw. Disebutkan, “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah bejana berisi air yang menyebabkan air tumpah. Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang mahal harganya, karena menjelaskan kemampuan keilmuan para Imam Syi’ah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani berbanding terbalik dengan formula terkenal “relativitas materi dan energi”: E = M.C² >> M = E : C² yang artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi, ia dapat kembali berujud semula, hidup kembali.

Dalam suratnya kepada Ayatullah al Uzhma Boroujerdi, sebagai penghormatan ia selalu menggunakan kata panggilan “Boroujerdi Senior”, dan untuk menggembirakan ruh Prof. Hesabi (fisikawan dan murid satu-satunya Einstein asal Iran), ia menggunakan kata “Hesabi yang mulia”. Naskah asli risalah ini masih tersimpan dalam safety box rahasia London (di bagian tempat penyimpanan Professor Ibrahim Mahdavi), dengan alasan keamanan. Risalah ini dibeli oleh Professor Ibrahim Mahdavi (tinggal di London) dengan bantuan salah satu anggota perusahaan pembuat mobil Benz seharga 3 juta dolar dari seorang penjual barang antik Yahudi. Tulisan tangan Einstein di semua halaman buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan oleh para pakar manuskrip.

Sebagaimana kita tahu bersama, dunia sains modern di awal abad ke-20 M pernah dibuat takjub oleh penemuan seorang ilmuwan Jerman bernama Albert Einstein. Fisikawan ini pada 1905 memublikasikan teori relativitas khusus (special relativity theory). Satu dasawarsa kemudian, Einstein yang didaulat majalah Time sebagai tokoh abad XX itu mencetuskan teori relativitas umum (general relativity theory). Teori relativitas itu dirumuskannya sebagai E=MC2. Rumus teori relativitas yang begitu populer menyatakan bahwa kecepatan cahaya adalah konstan. Selain itu, teori relativitas khusus yang dilontarkan Einstein berkaitan dengan materi dan cahaya yang bergerak dengan kecepatan sangat tinggi.

Sedangkan, teori relativitas umum menyatakan, setiap benda bermassa menyebabkan ruang-waktu di sekitarnya melengkung (efek geodetic wrap). Melalui kedua teori relativitas itu, Einstein menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetis tidak sesuai dengan teori gerakan Newton. Gelombang elektromagnetis dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat. Singkatnya, inti pemikiran kedua teori tersebut menyatakan, dua pengamat yang bergerak relatif akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama. Meski begitu, isi hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya. Dengan ditemukannya teori relativitas, manusia bisa menjelaskan sifat-sifat materi dan struktur alam semesta.

“Pertama kali saya mendapatkan ide untuk membangun teori relativitas, yaitu sekitar tahun 1905. Saya tidak dapat mengatakan secara eksak dari mana ide semacam ini muncul. Namun, saya yakin, ide ini berasal dari masalah optik pada benda-benda yang bergerak,” ungkap Einstein saat menyampaikan kuliah umum di depan mahasiswa Kyoto Imperial University pada 4 Desember 1922. Pertanyaannya adalah: Benarkah Einstein pencetus teori relativitas pertama? Di Barat sendiri, ada yang meragukan teori relativitas itu pertama kali ditemukan Einstein. Sebab, ada yang berpendapat bahwa teori relativitas pertama kali diungkapkan oleh Galileo Galilei dalam karyanya bertajuk Dialogue Concerning the World’s Two Chief Systems pada 1632.

Dalam hal ini perlu diketahui bahwa Teori relativitas merupakan revolusi dari ilmu matematika dan fisika. Sejatinya, 1.100 tahun sebelum Einstein mencetuskan teori relativitas, ilmuwan Muslim di abad ke-9 M telah meletakkan dasar-dasar teori relativitas, yaitu saintis dan filosof legendaris bernama Al Kindi yang mencetuskan teori itu. Dan tentu saja, tak mengejutkan jika ilmuwan besar sekaliber Al Kindi telah mencetuskan teori itu pada abad ke-9 M. Apalagi, ilmuwan kelahiran Kufah tahun 801 M itu pasti sangat menguasai kitab suci Al Quran. Sebab, tak diragukan lagi bahwa ayat-ayat Al Quran mengandung pengetahuan yang absolut dan selalu menjadi kunci tabir misteri yang meliputi alam semesta raya ini.

Ayat-ayat Al Quran yang begitu menakjubkan inilah yang mendorong para saintis Muslim di era keemasan mampu meletakkan dasar-dasar sains modern. Sayangnya, karya-karya serta pemikiran para saintis Muslim dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah ditutup-tutupi. Dalam Al Falsafa al Ula, misalnya, ilmuwan bernama lengkap Yusuf Ibnu Ishaq Al Kindi itu telah mengungkapkan dasar-dasar teori relativitas. Sayangnya, sangat sedikit umat Islam yang mengetahuinya. Sehingga, hasil pemikiran yang brilian dari era Islam itu seperti tenggelam ditelan zaman.

Menurut Al-Kindi, fisik bumi dan seluruh fenomena fisik adalah relatif. Relativitas, kata dia, adalah esensi dari hukum eksistensi. “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut,” cetus Al Kindi. Namun, ilmuwan Barat, seperti Galileo, Descartes, dan Newton, menganggap semua fenomena itu sebagai sesuatu yang absolut. Hanya Einstein yang sepaham dengan Al Kindi. “Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda,” papar Al Kindi. Selanjutnya, Al-Kindi berkata, “… jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan.” Pernyataan Al Kindi itu menegaskan bahwa seluruh fenomena fisik adalah relatif satu sama lain. Mereka tak independen dan tak juga absolut.

Gagasan yang dilontarkan Al Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein dalam teori relativitas umum. “Sebelum teori relativitas dicetuskan, fisika klasik selalu menganggap bahwa waktu adalah absolut,” papar Einstein dalam La Relativite. Menurut Einstein, pendapat yang dilontarkan oleh Galileo, Descartes, dan Newton itu tak sesuai dengan definisi waktu yang sebenarnya. Dan menurut Al-Kindi, benda, waktu, gerakan, dan ruang tak hanya relatif terhadap satu sama lain, namun juga ke objek lainnya dan pengamat yang memantau mereka. Pendapat Al-Kindi itu sama dengan apa yang diungkapkan Einstein. Dalam Al Falsafa al Ula, Al Kindi mencontohkan, seseorang melihat sebuah objek yang ukurannya lebih kecil atau lebih besar menurut pergerakan vertikal antara bumi dan langit. Jika orang itu naik ke atas langit, dia melihat pohon-pohon lebih kecil. Jika dia bergerak ke bumi, dia melihat pohon-pohon itu jadi lebih besar. “Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi, kita dapat mengatakan bahwa itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain,” tutur Al Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat.

Menurut Einstein, tak ada hukum yang absolut dalam pengertian hukum tak terikat pada pengamat. Sebuah hukum, papar dia, harus dibuktikan melalui pengukuran. Al Kindi menyatakan, seluruh fenomena fisik, seperti manusia menjadi dirinya, adalah relatif dan terbatas. Meski setiap manusia tak terbatas dalam jumlah dan keberlangsungan, mereka terbatas; waktu, gerakan, benda, dan ruang yang juga terbatas. Einstein lagi-lagi mengamini pernyataan Al-Kindi yang dilontarkannya pada abad ke-9 M. “Eksistensi dunia ini terbatas meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein.

Dengan teori itu, Al Kindi tak hanya mencoba menjelaskan seluruh fenomena fisik. Namun, juga dia membuktikan eksistensi Tuhan. Karena, itu adalah konsekuensi logis dari teorinya. Di akhir hayatnya, Einsten pun mengakui eksistensi Tuhan. Teori relativitas yang diungkapkan kedua ilmuwan berbeda zaman itu pada dasarnya sama. Namun, penjelasan Einstein telah dibuktikan dengan sangat teliti. Bahkan, teori relativitasnya telah digunakan untuk pengembangan energi, bom atom, dan senjata nuklir pemusnah massal. Sedangkan, Al Kindi mengungkapkan teorinya untuk membuktikan eksistensi Tuhan dan keesaan-Nya. Sayangnya, pemikiran cemerlang sang saintis Muslim tentang teori relativitas itu itu tak banyak diketahui. Sungguh sangat ironis, memang

Alam semesta raya ini selalu diselimuti misteri. Kitab suci Al Qur’an yang diturunkan kepada umat manusia merupakan kuncinya. Allah SWT telah menjanjikan bahwa Al Quran merupakan petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Untuk membuka selimut misteri alam semesta itu, Sang Khalik memerintahkan manusia agar berpikir. Bukankah banyak seruan dalam al Qur’an agar yang membacanya berpikir, mengambil ibrah dan hikmah, menjadi seorang peneliti dan pembelajar?

Dan berikut ini adalah beberapa ayat Al Quran yang membuktikan teori relativitas itu: “Sesungguhnya, sehari di sisi Tuhanmu seperti seribu tahun dari tahun-tahun yang kamu hitung.” (QS Alhajj: 47). “Dia mengatur urusan langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS Assajdah: 5). “Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS 70: 3-4). “Dan, kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal, ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Annaml: 88). “Allah bertanya, ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Maka, tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman, ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (QS 23: 122-114).

Karena kebenaran Al Quran itu, konon di akhir hayatnya, Albert Einsten secara diam-diam juga telah memeluk agama Islam dan menjatuhkan pilihan intelektual dan khazanahnya pada Syi’ah Islam (Syi’ah Imamiah Itsna Asyariyah). Dalam sebuah tulisan, Albert Einstein mengakui kebenaran Al Quran. “Alquran bukanlah buku seperti aljabar atau geometri. Namun, Al Quran adalah kumpulan aturan yang menuntun umat manusia ke jalan yang benar. Jalan yang tak dapat ditolak para filosof besar”.

Sementara itu, jauh sebelum Albert Einstein, Al Kindi atau Al-Kindus adalah ilmuwan jenius yang hidup di era kejayaan Islam Baghdad, merupakan pioneer dalam bidang teori dan filsafat relativitas waktu ini. Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah Al Ma’mun tutup usia dan digantikan putranya, Al-Mu’tasim, posisi Al Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi putranya. Al Kindi mampu menghidupkan paham Mu’tazilah yang rasional. Berkat peran Al Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan.

Menurut Al Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitul Hikmah, Al Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya itu telah dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik, dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul. Dikabarkan pula bahwa Albert Einstein pun membaca karya-karya Geometri Al Kindi, sang fisluf dan ilmuwan mu’tazili awal tersebut.

Sulaiman Djaya

Sulaiman Djaya

Iklan

Green Theory dalam Hubungan Internasional

Mall of Serang Banten

Oleh “Zetira Kenang Kania

Selama ini Hubungan Internasional hanya membahas tentang isu-isu stabilitas keamanan dan perdamaian dari segi perang antar negara atau militer. Namun, sebenarnya Hubungan Internasional tidak hanya dlihat dari konflik antar negara, keamanan, dan perdamian saja. Satu aspek yang sangat berpengaruh di kehidupan kita namun seringkali kita lupakan, yaitu : lingkungan.

Tanpa kita sadari, isu lingkungan di dunia ini memiliki pengaruh yang besar terhadap konsep-konsep dan diskursus utama dalam Hubungan Internasional dan politik global, serta merombak pemahaman tradisional mengenai keamanan, perkembangan, dan keadilan internasional dengan diskursus-diskursus keamanan ekologi, perkembangan dunia berkelanjutan, dan keadilan bagi lingkungan (Eckersley 2007, p.2). Manusia yang menjadi aktor utama dalam degradasi lingkungan yang selama ini terjadi tidak dapat lagi disanggah. Aktivitas-aktivitas manusia terbukti telah menyebabkan krisis ekologi yang ditandai dengan peningkatan ruang lingkup, skala, dan tingkat keseriusan masalah-masalah lingkungan di dunia dan mulai menjadi isu yang santer dibicarakan pada pertengahan abad ke-20.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat dengan sangat cepat, perkembangan teknologi-teknologi yang lebih mutakhir, serta populasi yang meningkat di periode ini menyebabkan meningkatnya konsumsi energi dan sumber daya alam, meningkatnya polusi dan limbah, serta pengikisian biodiversitas yang ada di bumi. Masalah-masalah lingkungan yang terjadi ini jauh lebih kompleks daripada masalah-masalah militer karena mencakup skala waktu yang lebih lama, jangkauan aktor-aktor yang lebih luas, serta memerlukan proses negosiasi dan kerjasama di antara jangkauan para pengambil keputusan yang lebih luas (Eckersley 2007, p.3).

Para teoris green politic mengkritik abad pencerahan Barat serta era industrialisasi sebagai permulaan dari ketidakpedulian manusia terhadap lingkungan serta titik pncak dari keegoisan manusia tanpa mempedulikan nilai-nilai ekologi, sosial, serta psikologi. Selain itu mereka juga berasumsi bahwa manusia memang merupakan akor utama evolusi, pusat dari nilai dan makna yang terkandung di dunia, dan satu-satunya yang memiliki moral. Sehingga nasib lingkungan ini bergantung pada kesadaran manusia untuk beraksi menyelamatkan lingkungan dunia ini.

Perspektif ekosentris juga berpendapat bahwa pemerintahan yang mengatur lingkungan harus melindungi semua aspek yang ada di lingkungan dunia, tidak hanya melindungi kesehatan dan kebaikan eksistensi komunitas manusia dan generasi muda semata, tapi juga mengatur jaringan-jaringan lebih luas yang ada dalam kehidupan serta mendirikan komunitas ekologi pada setiap level. Mungkin bagi kita para manusia, lingkungan hanyalah masalah sederhana atau pelengkap dalam kehidupan kita. Namun, sebenarnya masalah lingkungan ini lebih kompleks dari yang kita tahu. Bahkan lebih kompleks daripada yang seharusnya kita tahu (Eckersley 2007, p.4).

Kemunculan green politic terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama menyoroti irasionalitas ekologi terhadap institusi-institusi sosial, seperti : pasar dan negara. Dalam gelombang pertama ini, para teoris green politic telah memberikan penjelasan dan bayangan-bayangan tentang demokrasi yang mengakar serta komunitas berkelanjutan secara ekologi sebagai jalan alternatif. Kemudian, dalam gelombang green politic yang kedua, para teoris mulai merombak kembali beberapa pemikiran bahkan mulai mentransnasionaliskan ruang lingkup beberapa konsep politik dan institusi-institusi dengan isu lingkungan sebagai inti utama.

Hasil-hasil dari gelombang green politic kedua ini antara lain: Environmental justice, environmental rights, environmental democracy, environmental activism, environmental citizenship, dan green states. Nilai-nilai gelombang kedua green politic ini juga meningkatkan pendekatan nilai-nilai antara green politic dengan studi Hubungan Internasional. Terutama pada bagian hak asasi manusia, demokrasi kosmopolitan, masyarakat sipil transnasional, dan public transnasional.

Pada akhirnya, nilai-nilai tersebut memberikan sumbangsih dalam membantu pembentukan cabang normatif Hubungan Internasional mengenai green politic yang berkonsentrasi pada keadilan lingkungan global. Keadilan lingkungan global ini makin disorot setelah banyaknya ketidakadilan yang timbul yang melanda negara-negara dunia ketiga ketika lingkungan mereka rusak dan mereka harus berusaha untuk memulihkan lingkungan mereka, padahal posisi mereka bukanlah sebagai aktor utama dibalik kerusakan lingkungan tersebut, namun negara-negara maju lah yang berperan besar dalam kerusakan tersebut tetapi mereka cenderung tidak mau tahu dan tidak betanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi pada negara-negara berkembang tersebut (Eckersley, 2007).

Tujuan dari adanya isu keadilan lingkungan global ini antara lain : untuk mengurangi resiko ekologi dan untuk mencegah eksternalisasi dan penempatan yang tidak adil, melalui ruang dan waktu, terhadap negara-negara yang sedang berkembang. Negara-negara berkembang yang seringkali dirugikan akibat ulah-ulah negara maju yang mengeksploitasi sumber daya alam mereka sudah saatnya diberi perlindungan dan perlakuan yang adil. Hal ini juga sangat memerlukan kesadaran dari negara-negara maju bahwa lingkungan dunia ini merupakan lingkungan kita bersama dimana tiap negara memiliki tanggung jawab yang sama dan sesuai proporsinya dalam menangani masalah lingkungan ini (Eckersley, 2007).

Selama ini, neorealist dan neoliberalist serta perspektif-perspektif mainstream lainnya dalam Hubungan Internasional hanya menonjolkan satu sisi dalam Hubungan Internasional saja, namun disini teori hijau menawarkan berbagai solusi. Para ahli politik hijau ini berkonsentrasi pada bagaimana seharusnya struktur sosial berperan dalam mengembangkan inisiatif-inisiatif terhadap lingkungan dengan lebih efektif.

Selain itu, green politic mengkritik pendekatan rasionalis yang dipelopori oleh para toris kritis dan konstruktivis yang mengekspos pembatasan dalam kerangka analisis dan penjelasan mengenai kekuatan kaum positivis di Hubungan Internasional. Green theory ini juga selalu menonjolkan peran dari aktor-aktor non-state yang telah berperan banyak dalam hal membangun sebuah pemerintahan deteritorialisasi sehingga membantu menyadarkan dunia tentang pentingnya lingkungan (Eckersley, 2007). Namun, layaknya teori-teori lain yang eksis dalam Hubungan Internasional, selalu ada kritik-kritik yang meliputi perjalanan teori tersebut. Salah satunya adalah kritik dari kaum skeptic green theory. Yaitu jika isu lingkungan dijadikan sebagai isu utama dalam hubungan internasional, maka kemungkinan besar kasus-kasus “High Politic” akan terabaikan. Menurut mereka, isu-isu keamanan dan militer meiliki dimensi berbeda yang tidak bisa disatukan dengan isu-su lingkungan (Eckersley, 2007).

Sumber: Eckersley, Robyn, 2007. Green Theory, in; Tim Dunne, Milja Kurki & Steve Smith (eds.) International Relations Theories, Oxford University Press, pp. 247-265.

Sungai Sebagai Aset Masyarakat Banten

Kragilan, Serang, Banten 2

Banten Raya, 12 Desember 2014

Jika ada orang-orang yang sangat terikat dan mencintai kampung halaman atau tanah kelahirannya, salah-satu orang itu pastilah termasuk saya. Kampung halaman bagi saya tak sekedar ruang meja baca di mana saya menyendiri, menulis, dan membaca, atau sebuah “rumah” tempat saya tidur dan makan. Lebih dari itu, kampung halaman atau tanah kelahiran bagi saya adalah ingatan dan kenangan. Kampung halaman atau tanah kelahiran saya menyatu dengan bathin saya, karena saya mengalami “kepedihan” dalam kesahajaan dan keterbatasan kami sebagai orang-orang desa yang terbatas. Sebagai manusia-manusia yang akrab dengan apa yang hanya diberikan oleh alam yang belum disentuh oleh kecanggihan tekhnologi dan perangkat-perangkat informasi mutakhir ketika itu.

Di belakang rumah, setidak-tidaknya saat saya masih kanak-kanak, dalam jarak beberapa meter melewati pematang-pematang sawah, mengalir sungai Ciujung yang di tepiannya berbaris pepohonan dan tanaman-tanaman lainnya. Sementara di depan rumah, mengalir sungai irigasi, sungai yang dibuat demi mengalirkan limpahan air sungai Ciujung untuk mengairi sawah-sawah di jaman kolonial Hindia Belanda, dan kemudian diteruskan perawatan dan perbaikannya di jaman Orde Baru. Dua sungai tersebut merupakan “kehidupan” kami yang bekerja dan menggantungkan kebutuhan kesehariannya dari bertani. Dari dua sungai itulah kami mengairi sawah-sawah kami, selain tentu saja dari anugerah hujan di musim hujan. Bersama dua sungai dan sawah-sawah di sekitarnya itulah saya akrab dan hidup bersama mereka.

Namun tentu saja, keadaannya tidak sama dengan sekarang. Ketika itu, bila malam tiba, atau saat adzan berkumandang yang dikumandangkan dengan menggunakan speaker bertenaga accu, kami akan mulai menyalakan lampu-lampu damar kami yang menggunakan bahan bakar minyak tanah atau minyak kelapa. Sebelum kehadiran tiang-tiang beton dan baja seperti saat ini untuk menyalurkan kabel-kabel listrik di setiap kampung, jalan di depan rumah begitu sepi bila magrib tiba, lebih mirip terowongan gelap karena barisan pohon-pohon lebat yang tumbuh kokoh dan rimbun di tepi sungai dan sepanjang jalannya.

Di masa-masa silam, Sungai Ciujung tentulah sebuah anugerah dan keajaiban bagi Banten. Selain merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Banten, Ciujung tak ubahnya nyawa bagi masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, yang memang melintas sedari Gunung Kendeng di Lebak hingga ujung utara Serang. Airnya yang mengalir jernih ketika itu memberikan kesuburan dan produktivitas bagi pertanian –sekaligus memenuhi kebutuhan rumah tangga bagi hidup keseharian para penduduk dan masyarakat yang dilalui aliran airnya. Tentu saja, ia juga memberikan keindahan bagi yang ingin mendekati dan memandanginya. Saat itu, ada banyak unggas atau pun burung-burung yang bercengkerama dan singgah di aliran airnya atau berkerumun di pohon-pohon yang tumbuh di sepanjang tepinya.

Masyarakat tradisional Baduy –alias Urang Kanekes, yang hidup di kawasan Leuwidamar dan Gunung Kendeng, Lebak, bahkan menganggapnya sebagai salah satu sungai sakral di Banten, dan menyebutnya sebagai “Sasaka Buana”. Masyarakat Baduy, yang memang memegang kearifan tradisional mereka, juga percaya bahwa pengrusakan lingkungan akan menyebabkan petaka atau dampak buruk bagi manusia. Dan apa yang mereka percaya itu, kini menjadi kenyataan, ketika air Sungai Ciujung telah menghitam kental dan menyebarkan aroma tak sedap, alias tidak sejernih dan sewangi dulu lagi.

Namun bukan hanya kehadiran industri, yang salah-satunya adalah kehadiran pabrik kertas di Kecamatan Kragilan, Serang, yang menyebabkan airnya menghitam dan acapkali menyebarkan aroma tak sedap, ketika angin yang datang dari arahnya berhembus ke arah hidung kita, karena limbah yang dibuang ke Sungai Ciujung oleh pabrik tersebut. Pencemaran Sungai Ciujung juga disebabkan oleh sampah-sampah rumah tangga yang dibuang oleh para penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang bantaran Sungai Ciujung, yang tak kalah mengkhawatirkannya dengan yang disebabkan oleh limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur tersebut.

Keadaan itu tentu saja sangat berdampak buruk bagi lingkungan (tanah, lahan, dan pohon), serta masyarakat yang dilintasi oleh aliran airnya, terutama bagi penduduk dan masyarakat yang tinggal di sepanjang Serang Timur hingga Serang Utara, alias mereka yang tinggal di hilirnya. Pendeknya, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah dan keajaiban bagi Banten, kini telah menjelma kutuk dan sumber penyakit bagi masyarakat dan penduduk yang disinggahi aliran airnya, serta mengirimkan racun bagi lahan dan tumbuhan yang ada di sekitarnya, atau yang dilintasi oleh aliran airnya yang tak lagi jernih, alami, dan sehat seperti dulu itu.

Keadaan tersebut, tentu saja sangat berbeda dengan kondisi Sungai Ciujung sekira 15 atau 20-an tahun silam. Sekarang, Sungai Ciujung yang dulu merupakan berkah alamiah dan keajaiban bagi para petani dan nelayan, itu telah menjelma sungai yang tidak sehat yang akan menimbulkan penyakit bagi penduduk dan membunuh produktivitas lahan-lahan pertanian. Masyarakat tak lagi dapat menggunakan airnya untuk kebutuhan mengairi sawah dan tanaman-tanaman ladang mereka. Apalagi untuk keperluan mandi dan kebutuhan air rumah tangga lainnya, terutama sekali bagi mereka yang tinggal di hilir sungai terpanjang dan terbesar di Banten ini.

Selain telah tercemar karena limbah rumah tangga para penduduk yang tinggal di hulu sungai dan limbah industri yang ada di kawasan Serang Timur, debit air Sungai Ciujung juga mengalami penurunan yang signifikan dan mendekati taraf mengkhawatirkan. Salah-satu penyebabnya adalah mulai berubahnya sejumlah hutan di hulu sungai menjadi lahan pertanian dan perkebunan, dan juga beberapa kegiatan pertambangan pasir dan batu-bara. Fakta tersebut, tak pelak lagi, mesti menjadi perhatian yang serius bagi pemerintah, baik pemerintah provinsi atau pun pemerintah kabupaten/kota, jika kita tidak ingin tanah Banten menjelma neraka di bumi dan sumber petaka bagi kita.

Sulaiman Djaya

KTT Bumi dan Lingkungan dari Masa ke Masa

Bali Climate Change Conference 2007

Jargon “Think Globally, Act Locally”, yang menjadi tema KTT Bumi di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992 silam, segera menjadi jargon populer untuk mengekspresikan kehendak berlaku ramah terhadap lingkungan. Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah permasalahan polusi, perubahan iklim, penipisan ozon, penggunaan dan pengelolaan sumber daya laut dan air, meluasnya penggundulan hutan, penggurunan dan degradasi tanah, limbah-limbah berbahaya serta penipisan keanekaragaman hayati.

Kita tahu bersama, isu lingkungan hidup semakin hari semakin menjadi isu yang sangat penting untuk ditangani bersama, baik oleh Negara-negara maju maupun Negara-negara berkembang atau Negara-negara Dunia Ketiga. Singkatnya merupakan keniscayaan bagi Utara dan Selatan. Kita tahu juga, persoalan lingkungan, meski telah ditempuh beragam upaya perawatan dan pencegahan dari kerusakan dan pencemaran, tidak semakin membaik. Penanganan dan perbaikan pun belum sebanding dengan peningkatan persoalan lingkungan itu sendiri. Kondisi lingkungan dan bumi, sebagaimana sama-sama kita tahu dan kita rasakan, diperparah dengan terjadinya fenomena perubahan iklim (climate change).

Kondisi persoalan lingkungan yang tidak semakin membaik itulah, sebagai contohnya, yang juga mendasari diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan, yang telah berlangsung pada tanggal 13-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brasil yang lebih dikenal dengan KTT Rio+20. Bagi Indonesia, menyepakati dokumen The Future We Want, sebagaimana tercermin dalam KTT Bumi tersebut, menjadi arahan bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di tingkat global, regional, dan nasional. Dokumen itu memuat kesepahaman pandangan terhadap masa depan yang diharapkan oleh dunia.

Isi Dokumen yang disepakati itu mengenalkan konsep Sustainable Development Goals atau tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan yang harus dipenuhi, baik oleh negara maju maupun negara berkembang, untuk tetap menjaga prinsip-prinsip perlindungan lingkungan saat meraih kesejahteraan ekonomi atau ‘ekonomi hijau’ (green economy). KTT Bumi ini, yang juga disebut Rio+20, tersebut menjadi kelanjutan dari KTT Bumi yang dilakukan di Rio de Janeiro pada 1992 silam. Pada saat itu, negara-negara yang hadir juga mengeluarkan komitmen perlindungan lingkungan. Namun, yang disayangkan dari Rio+20 adalah tidak adanya mekanisme evaluasi akan apa saja hal-hal yang sudah dicapai negara maju dalam pemenuhan janji-janji tersebut dari 1992 sampai sekarang.

Berikut KTT Bumi dan Lingkungan yang Pernah Diselenggarakan:

Stockholm, Swedia (Juni 1972)

Konferensi internasional lingkungan hidup atau United Nations Conference on Human Environment (UNCHE), di Stockholm, Swedia adalah konferensi yang sangat bersejarah, karena merupakan konferensi pertama tentang lingkungan hidup yang diprakarsai oleh PBB yang diikuti oleh wakil dari 114 negara. Konferensi ini juga merupakan penentu langkah awal upaya penyelamatan lingkungan hidup secara global.

Dalam konferensi Stockholm inilah untuk pertama kalinya motto: “Hanya Ada Satu Bumi“ (Only One Earth) untuk semua manusia, diperkenalkan. Motto itu sekaligus menjadi motto konferensi. Selain itu, konferensi Stockholm menetapkan tanggal 5 Juni yang juga hari pembukaan konferensi tersebut sebagai hari lingkungan hidup se-dunia (World Environment Day).

Salah-satu hasil dari KTT tersebut adalah kesepakatan mengenai keterkaitan antara konsep pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup. Persoalan lingkungan hidup diidentikkan dengan kemiskinan, keterbelakangan, tingkat pembangunan yang masih rendah dan pendidikan rendah, intinya faktor kemiskinan yang menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan hidup di dunia. Sehingga dalam forum tersebut disepakati suatu persepsi bahwa kebijakan lingkungan hidup harus terkait dengan kebijakan pembangunan nasional.

KTT itu menghasilkan resolusi monumental, yaitu pembentukan badan khusus PBB untuk masalah lingkungan United Nations Environmental Programme (UNEP), yang markas besarnya ditetapkan di Nairobi, Kenya. UNEP merupakan motor pelaksana komitmen mengenai lingkungan hidup dan telah melahirkan gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Gagasan pembangunan berkelanjutan diawali dengan terbitnya Laporan Brundtland (1987), “Our Common Future”, yang memformulasikan prinsip dasar pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi Konferensi Stockholm Nomor 99.3. ditindaklanjuti dengan melaksanakan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) atau Konvensi PBB mengenai Perdagangan Internasional Jenis-Jenis Flora dan Fauna Terancam Punah. Misi dan tujuan CITES adalah untuk menghindarkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa dari kepunahan di alam melalui sistem pengendalian jenis-jenis tumbuhan dan satwa, serta produk-produknya secara internasional.

Dalam dokumen Konfrensi Stockholm “The Control of Industrial Pollution and International Trade” secara langsung mendorong GATT untuk meninjau kembali kebijakannya agar tidak menimbulkan diskriminasi terhadap Negara berkembang.

Rio de Janeiro, Brazil ( Juni 1992)

Sejak Konferensi Stockholm, polarisasi di antara kaum developmentalist dan environmentalist semakin menajam. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazil, pada 1992, merupakan upaya global untuk mengkompromikan kepentingan pembangunan dan lingkungan. Jargon “Think globally, act locally”, yang menjadi tema KTT Bumi menjadi populer untuk mengekspresikan kehendak berlaku ramah terhadap lingkungan.

Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah permasalahan polusi, perubahan iklim, penipisan ozon, penggunaan dan pengelolaan sumber daya laut dan air, meluasnya penggundulan hutan, penggurunan dan degradasi tanah, limbah-limbah berbahaya serta penipisan keanekaragaman hayati.

Berikut sejumlah hasil dan rekomendasi dalam KTT tersebut:

Deklarasi Rio: Satu rangkaian dari 27 prinsip universal yang bisa membantu mengarahkan tanggung jawab dasar gerakan internasional terhadap lingkungan dan ekonomi.

Konvensi Perubahan Iklim (FCCC): Kesepakatan Hukum yang telah mengikat telah ditandatangani oleh 152 pemerintah pada saat komperensi berlangsung. Tujuan pokok Konvensi ini adalah “Stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir pada tingkat yang telah mencegah terjadinya intervensi yang membahayakan oleh manusia terhadap sistem Iklim”.

Konvensi Keanekaragaman Hayati: Kesepakatan hukum yang mengikat telah ditandatangani sejauh ini oleh 168 negara. Menguraikan langkah – langkah ke depan dalam pelestarian keragaman hayati dan pemanfaatan berkelanjutan komponen – komponennya, serta pembagian keuntungan yang adil dan pantas dari penggunaan sumber daya genetik.

Pernyataan Prinsip – Prinsip Kehutanan: Prinsip – prinsip yang telah mengatur kebijakan nasional dan internasional dalam bidang kehutanan. Dirancang untuk menjaga dan melakukan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hutan global secara berkelanjutan. Prinsip – prinsip ini seharusnya mewakili konsesi pertama secara internasional mengenai pemanfaatan secara lestari berbagai jenis hutan.

Komisi Pembangunan Berkelanjutan Commission on Sustainable Development (CSD): Komisi ini di bentuk pada bulan desember 1992. Tujuan CSD adalah untuk memastikan keefektifan tindak-lanjut KTT bumi. Mengawasi serta melaporkan pelaksanaan kesepakatan Konferensi Bumi baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. CSD adalah komisi Fungsional Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) yang beranggotakan 53 negara.

Agenda 21: Merupakan sebuah program luas mengenai gerakan yang mengupayakan cara – cara baru dalam berinvestasi di masa depan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan Global di abad 21. Rekomendasi – rekomendasi Agenda 21 ini meliputi cara – cara baru dalam mendidik, memelihara sumber daya alam, dan berpartisipasi untuk merancang sebuah ekonomi yangberkelanjutan. Tujuan keseluruhan Agenda 21 ini adalah untuk menciptakan keselamatan, keamanan, dan hidup yang bermartabat.

Genewa, Swiss (Juli 1996)

Amerika menerima temuan-temuan ilmiah mengenai perubahan iklim dari IPCC dalam penilaian kedua dan menolak penyeragaman penyelarasan kebijakan dan menyerukan pengikatan secara hukum target jangka menengah. Menghasilkan Deklarasi Genewa. Berisi 10 butir deklarasi antara lain berisi ajakan kepada semua pihak untuk mendukung pengembangan protokol dan instrumen legal lainnya yang didasarkan atas temuan ilmiah. Deklarasi ini juga menginstruksikan kepada semua perwakilan para pihak untuk mempercepat negosiasi terhadap teks protokol.

Johannesburg, Afrika Selatan (2002)

Penyelenggaraan KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) pada 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan, ditekankan pada plan of implementation yang mengintegrasikan elemen ekonomi, ekologi, dan sosial yang didasarkan pada tata penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).

KTT tersebut telah milahirkan kesepakatan komprehensif bidang kehutanan, yaitu dokumen Forest Principles (Non-Legally Binding Authoritative Statement of Principles for a Global Consensus on Management, Conservation and Sustainable Development of all Types of Forests). Kendatipun bukan merupakan komitmen yang mengikat, dalam proses-proses internasional bidang kehutanan, dokumen Forest Principles merupakan referensi utama serta jiwa bagi kerjasama antar bangsa.

Isu sentral yang dibahas adalah antara lain: menghidupkan kembali komitmen politik pada tingkat paling tinggi mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, peningkatan kontribusi sektor kehutanan dalam upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pembangunan pedesaan serta peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Pada akhirnya KTT Pembangunan berkelanjutan mengadopsi tiga dokumen utama, yaitu:

[1] Deklarasi Johannesburg yang menyatakan bahwa setiap negara memikul tanggung jawab dalam pembangunan berkelanjutan dan kemiskinan.

[2] Rencana Aksi Johannesburg mengenai pembangunan berkelanjutan (Johannesburg Plan of Implementation/JPOI).

[3] Program kemitraan (partnership) antar pemangku kepentingan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Bali, Indonesia (Desember 2007)

Penyelenggaraan KTT Pemanasan Global di Nusa Dua, Bali pada tanggal 13 – 15 Desember 2007 merupakan momentum dalam upaya untuk membangun kesadaran semua warga bumi untuk berbuat sekecil apapun demi menyelamatkan bumi, tempat yang menjadi sumber hidup dan hidup kita bersama. Dalam konferensi tentang lingkungan hidup ini semua negara ambil bagian dalam menentukan nasib bumi kita di waktu mendatang.

Dalam pertemuan ini disepakati Bali Road Map, sebuah peta yang akan menjadi jalan untuk mencapai consensus baru pada 2009 sebagai pengganti Protokol Kyoto fase pertama yang akan berakhir pada tahun 2012. Inti dari Bali Road Map adalah:

[1] Respons atas temuan keempat Panel Antar Pemerintah (IPCC) bahwa keterlambatan pengurangan emisi akan menghambat peluang mencapai tingkat stabilitas emisi yang rendah, serta meningkatkan risiko lebih sering terjadinya dampak buruk perubahan iklim.

[2] Pengakuan bahwa pengurangan emisi yang lebih besar secara global diharuskan untuk mencapai tujuan utama.

[3] Keputusan untuk meluncurkan proses yang menyeluruh, yang memungkinkan dilaksanakannya keputusan UNFCCC secara efektif dan berkelanjutan.

[4] Penegasan kewajiban Negara-negara maju melaksanakan komitmen dalam hal mitigasi secara terukur, dilaporkan dan dapat diverifikasi, termasuk pengurangan emisi yang terkuantifikasi.

[5] Penegasan kesediaan sukarela Negara berkembang mengurangi emisi secara terukur, dilaporkan dan dapat diverifikasi, dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, didukung teknologi, dana, dan peningkatan kapasitas.

[6] Penguatan kerjasama di bidang adaptasi atas perubahan iklim, pengembangan dan alih-teknologi untuk mendukung mitigasi dan adaptasi.

[7] Memperkuat sumber-sumber dana dan investasi untuk mendukung tindakan mitigasi, adaptasi dan alih teknologi terkait perubahan iklim.

Salam,
Sulaiman Djaya

Saat Debat Instrumen Berbasis Pasar Terus Berlangsung, Hutan Juga Terus Habis

Kragilan, Serang, Banten

Oleh Romain Pirard

Beberapa tahun lalu, “koboy karbon” tiba di hutan Papua Nugini dan mengumumkan pada masyarakat Papua yang kebingungan bahwa negara kaya segera akan membayar simpanan karbon di hutan mereka dalam rangka memerangi perubahan iklim. Sekarang contoh ini tampak seperti datang dari masa lain, bersama dengan pasar karbon hutan melalui mekanisme Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan (REDD+) tampak sekarat.

Jutaan hektar hutan tropis alami terus menghilang tiap tahun, dan instrumen berbasis pasar terus muncul. Bagaimana kita menganalisis instrumen seperti itu? Apakah kita sudah mengambil pelajaran pentingnya?

Pasar karbon adalah puncak kesadaran kontemporer atas jasa lingkungan (atau ekosistem). Jasa ini meliputi beragam manfaat yang didapat manusia dari lingkungan – pengontrol erosi tanah, regulasi air, mempertahankan kesuburan tanah atau kesenangan dari keindahan lanskap

Pasar tidak beradaptasi baik dengan pertanyaan bagaimana menjaga hutan tropis, dan perlakuan agresif yang kita saksikan menjadi sia sia, atau paling buruk menjadi kontraproduktif.

Jasa lingkungan memungkinkan identifikasi beragam manfaat yang disediakan alam dan mengarah pada penilaian finansial dalam rangka memandu keputusan tata kelola. Pendekatan utilitarian ini – istilah yang tidak saya maksudkan peyoratif tetapi karena alasan ekonomi – merefleksikan instrumen berbasis pasar yang diharapkan menuju tata kelola hutan berkelanjutan. Memang, nilai finansial berarti peluang menagih kepada penerima manfaat dan mendorong produksi barang – dalam hal ini, jasa lingkungan.

Pengamatan sederhana ini menjelaskan gairah di dekade terakhir menyambut instrumen berbasis pasar untuk melindungi hutan tropis. Instrumen ini mengongkosi pembayaran jasa lingkungan (PES) berdasar negosiasi kontrak bersyarat antara penerima manfaaat dan penyedia jasa, beragam hibah atau program pajak, sertifikasi hutan melalui entitas seperti Dewan Pendamping Hutan, promosi pasar produk bukan kayu untuk kepentingan konservasi, dan sebagainya.

Bagaimanapun, istilah “pasar” harus ditafsirkan secara luas, dan beberapa istilah digunakan secara membingungkan. Konsep ini mencakup pembayaran tetap yang ditentukan pemerintah untuk mengganjar praktik bagus, selain membangun pasar dimana komoditas diperdagangkan dengan bebas dan intervensi minimal. Penting untuk membuat pembeda, karena ini menginformasikan keterbatasan implementasi praktisnya. Juga penting untuk memahami banyak instrumen berbasis pasar ditampilkan “inovatif” padahal faktanya hanya daur ulang instrumen kebijakan publik konvensional yang tidak berhubungan dengan apa yang disebut visi pasar modern, yang digambarkan sebagai obat baru untuk berhasil di saat yang lain gagal.

Saya menentang bahwa risikonya terbatas karena lingkup kecil mereka. Selain itu, siapa yang menolak produksi pertanian dijual di pasar, walaupun ini adalah sebuah jasa lingkungan (jasa provisi, menurut evaluasi Penilaian Ekosistem Milenium)?

Pendapat saya: debat dan pidato di bidang ini seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan. Eksperimen seringkali goyah (pasar karbon untuk menghindari deforestasi); menghasilkan beberapa nama program hibah tradisional (program simbolik PES di Kosta Rika); mewakili determinasi lembaga pembangunan dan LSM konservasi untuk menerapkan proyek PES dengan unit rasio berbiaya/jangka waktu tinggi; atau merefleksikan harapan sektor swasta (bank konservasi untuk melindungi keragaman hayati di AS).

Kehilangan Waktu

Masalah dalam debat dan eksperimen instrumen berbasis pasar ini terletak tidak hanya mengenai apa yang ingin diyakinkan Cassandras – sebut saja komodifikasi alam yang tengah berlangsung dan orang akan cepat melupakan motivasi intrinsik dalam mengelola sumber daya secara berkelanjutan ketika berhadapan dengan insentif konservasi dalam bentuk uang tunai.

Sebaliknya, debat ini problematis sejauh membuat kita kehilangan waktu yang berharga di tengah adu cepat dengan deforestasi tropis. Mereka mengalihkan perhatian kita dari solusi nyata yang harus kita atasi secepat mungkin dan hal tersebut mencakup perubahan alami pertumbuhan ekoomi kita. Pasar tidak dengan baik teradaptasi untuk pertanyaan bagaimana konservasi hutan tropis dan perlakuan agresif yang kita saksikan menjadi sia-sia, atau kontraproduktif.

Mungkin ada pasar lain yang mengarah pada proteksi lebih baik hutan tropis – pasar yang secara eksplisit mempertukarkan barang produksi dari konversi hutan dan ini mendorong kita untuk mengubah diet kita, mengurangi konsumsi kertas, atau mengadopsi praktik pertanian intensif untuk membatasi ekspansi wilayah budi daya. Atau kita perlu kembali ke konsep lebih tradisional instrumen berbasis pasar untuk mengubah perilaku, misalnya menggunakan sistem pajak lebih cerdas yang mengubah harga berdasar dampak lingkungan. Dalam kasus khusus mitigasi perubahan iklim, hal ini berarti bergeser dari pasar karbon menjadi semacam pajak karbon; yang pertama merujuk pada yang kedua untuk alasan politis, bukan berlandaskan ekonomi.

Setiap orang yang berminat mengerem deforestasi tropis seharusnya juga menghadapi “gajah dalam ruangan”; bentuk subsidi berbahaya bagi lingkungan, khususnya subsidi yang mendukung konsumsi energi bahan bakar minyak. Subdisi ini mendorong kita untuk menghancurkan lingkungan kita dengan meningkatkan keuntungan penebangan dan konversi hutan dengan cara yang tidak seharusnya, walaupun sebaliknya juga dapat menjadi sumber signifikan untuk mendanai perjuangan melawan deforestasi jika dibelokkan dari penggunaan saat ini. Dalam kondisi ini kita berhadapan dengan instrumen berbasis pasar skala besar yang menghancurkan lingkungan.

Apa Arti ‘Hijau’ dalam Green Economy?

Bojonegara, Serang, Banten, Indonesia

(Foto: Bojonegara, Serang, Banten, Indonesia)

Mengapa Ilmuwan Perlu Membaca Sejarah Pembangunan

Oleh Kiran Asher

Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa dan Pawai Iklim Masyarakat di New York adalah pendahuluan UNFCCC COP di Lima (2014 dan Paris (2015) – salah satu dari banyak acara yang menyoroti pembatasan perubahan iklim dan pencapaian pembangunan berkelanjutan. Walaupun semua ini bukan tantangan baru, tekanan untuk mengatasinya menjadi penting menghadapi pemanasan global dan krisis ekonomi. Dalam konteks ini, gagasan ekonomi hijau, dengan janji mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengganggu integritas ekologi Bumi, sangat menggoda. Tetapi dapatkan ekonomi hijau memenuhi janjinya? Sebuah kajian ringkas hubungan ekonomi-lingkungan sebelumnya telah terangkai sebelum ilmuwan dan masyarakat dapat menilai pertanyaan tersebut.

Apakah model ‘ekonomi hijau’ dan ‘pertumbuhan hijau’ berbeda dari model pembangunan sebelumnya?

Masalah ekonomi dan lingkungan terkait pertama kali dengan agenda pembangunan internasional pada Konferensi Lingkungan Hidup Manusia PBB di Stockholm 1972. Kaitan awal ini terfokus pada “isu abu-abu,” seperti limbah industri, polusi udara dan air, serta dampak ekologis pertumbuhan ekonomi. Perhatian mengenai kelangkaan sumber daya dan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi masa datang juga mulai muncul saat itu. Dalam dunia yang membangun serta tropis, kaitan antara aktivitas ekonomi dan lingkungan tampak pada kekhawatiran terhadap deforestasi dan degradasi lahan.

Bagaimanapun, pada akhir 1980, ilmuwan dan pembuat kebijakan mulai berbicara ekonomi dan masalah lingkungan sebagai dua sisi mata uang. Salah satu formulasi terkenal kaitan ini tampil pada laporan 1987, Masa Depan Bersama. Dipublikasikan Komisi Lingkungan dan Pembangunan Dunia (WCED) di bawah kepemimpinan direktur Gro Harlem Brundtland (kemudian menjadi Perdana Menteri Norwegia), laporan WCED ini mengadvokasi perlunya “pembangunan berkelanjutan,” yang didefinisikan sebagai:

. . . pembangunan yang memenuhi kebutuhan hari ini tanpa menggangu kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini mencakup dua konsep kunci: konsep ‘kebutuhan’, khususnya kebutuhan mendasar dunia miskin, di mana prioritas utama seharusnya diberikan; dan ide keterbatasan dalam tekanan teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan.

Konferensi PBB 1992 mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, yang dikenal sebagai KTT Bumi, mengkonsolidasikan kaitan ini dan memaparkan rencana aksi abad 21 (Agenda 21). Komisi Pembangunan Berkelanjutan didirikan di Rio dan ditugasi menindaklanjuti Agenda 21 dan beragam kesepakatan yang ditandatangi pada KTT Bumi. Dua puluh tahun kemudian, seruan pembangunan berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan diperbarui pada Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB 2012. Ide ekonomi hijau muncul sebagai rintisan Konferensi 2012 dan didefinisikan sebagai

. . . sesuatu yang menghasilkan peningkatan kualitas kehidupan manusia dan kesetaraan sosial, seraya secara signifikan mengurangi risikio lingkungan dan kelangkaan ekologis. Dalam ungkapan paling sederhana, ekonomi hijau dapat dipandang sebagai rendah karbon, efisiensi sumber daya dan inklusivitas sosial.

Hal ini jelas menjejakkan warisan pada definisi pembangunan berkelanjutan WCED.

Tetapi apakah model “ekonomi hijau” dan “pertumbuhan hijau benar-benar berbeda dari model pembangunan sebelumnya, yaitu yang dalam tingkat makro bertanggungjawab terhadap kebuntuan saat ini? Apakah ekonomi hijau – yang seolah-olah tidak bisa mengkompromikan ekologi atau ekonomi – juga kondusif bagi pembangunan berkeadilan dan damai? Para pendukungnya menyuarakan jawaban ya; para kritikus menjawab dengan sebuah kategorisasi tidak .

Menghadapi seriusnya perubahan iklim, ilmuwan (dan masyarakat) harus terlihat menjawab keduanya secara analitis dan kritis untuk menilai. Hal ini membutuhkan kesabaran dan kepenasaran intelektual untuk memahami sejarah pembangunan internasional, dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan (bagi yang berminat, tulisan Maggie Black berjudul “Panduan Bukan Omong Kosong mengenai Pembangunan Internasional” adalah titik berangkat yang sangat bagus). Menjauhkan upaya tersebut dengan respon menerapkan kemanfaatan kebijakan pragmatis sama saja dengan menjauhkan masa depan kita.

Pendekatan Bentang Alam

Cigading International Bulk Terminal, Banten, Indonesia

(Foto: Cigading International Bulk Terminal, Banten, Indonesia)

Pengalih Perhatian Atau Anugerah Bagi Ketahanan Pangan?

Oleh Robert Nasi dan Anja Gassner

Globalisasi, pertumbuhan penduduk, dan persaingan untuk mendapatkan tanah menjadi alasan untuk menelaah ekosistem dan manusia sebagai entitas yang terjalin secara terpadu. Bukan hanya aktivitas manusia yang mengubah fungsi lahan, penghidupan pun berubah karena transformasi lahan.

Dengan membuka mata lebih lebar, kita melihat bahwa bentang alam ditentukan oleh adaptasi manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan oleh reaksi lingkungan terhadap pengaruh manusia. Bentang alam menyediakan observatorium untuk memahami dan memantau paduan sistem sosio-ekologi.

Bentang alam menawarkan jasa ekosistem seperti pangan dan air, iklim dan regulasi penyakit, siklus nutrisi dan penyerbukan tanaman sekaligus memberikan manfaat rekreasi. Memajukan mitigasi untuk mengurangi tekanan terhadap ekosistem dengan mengubah dasar penggerak sosio-ekonomi, oleh para ilmuwan, dianggap sebagai pilihan paling efektif untuk mengurangi laju hilangnya jasa ekosistem.

Dengan demikian, “pendekatan bentang alam” telah memperoleh pengakuan dari dan daya tarik bagi semua organisasi dan badan besar yang memiliki kekhususan dalam produksi pangan dan pengentasan kemiskinan.

Namun, tidak seperti istilah ekosistem, yang didasarkan pada parameter tertentu, istilah bentang alam ambigu dan pada dasarnya merupakan konstruksi sosial. Setiap bentang alam berbeda, sehingga menjadikannya objek yang sulit untuk dipelajari dan dipahami.

Kesulitan lain adalah ketika suatu bentang alam ternyata atraktif bagi ahli ekologi dan geografi, ia hanya hal kecil dalam ranah politik: pembuat kebijakan terus memikirkan batas administratif yang tidak tumpang tindih dengan batas bentang alam.

Editorial terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal “Biologi Konservasi” meneliti mengenai tren — pendekatan pengelolaan lahan yang diperoleh dengan antusias kemudian diabaikan.

Editorial tersebut menyerukan kepada para ahli ekologi agar tidak melompat ke gerbong yang tersusun dari janji-janji memikat, melainkan menggunakan pikiran kritis untuk mengekspos kelemahan perilaku seperti itu.

Sebagai ahli ekologi dan manajer dalam Program Riset Kelompok Konsultasi Riset Pertanian Internasional (CGIAR) mengenai “Hutan, Pohon, dan Agroforestri : Penghidupan, Bentang Alam, dan Tata Kelola”, kami menerima tantangan itu.

Mengingat peran kami sebagai bagian dari konsorsium global yang terlibat dalam penelitian untuk masa depan berketahanan pangan, kami bertanya kepada diri sendiri apakah pendekatan bentang alam benar-benar merupakan cara baru dalam memandang dunia, atau itu mencerminkan pepatah “kaisar yang tidak mengenakan pakaian”, dongeng Hans Christian Andersen.

Apakah “pendekatan bentang alam” dibangun di atas pengalaman masa lalu? Apakah itu kunci dalam memadukan konservasi dan kompromi pembangunan? Atau, itu hanya label modis, pengemasan ulang atas ide-ide lama, pengalih perhatian komunitas ilmiah atas kurangnya pencapaian kita dalam menghadapi begitu banyak masalah global — pada dasarnya, sekadar tren lainnya?

Perkembangan Istilah

Pendekatan bentang alam bukanlah hal baru, tetapi di masa lalu telah berlabuh dalam teori konservasi dan teori manajemen berbasis ekologis. Sekitar 20 tahun yang lalu, pendekatan ekosistem (EsA) diperkenalkan sebagai strategi terpadu untuk mengelola tanah, air, dan sumber daya hidup yang mempromosikan konservasi dan keberlanjutan dengan cara yang adil.

Istilah “bentang alam” sebagai konsep teoretis pertama kali diperkenalkan pada Conferences of the Parties (COP), kemudian pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) pada 1995 sebagai kerangka utama aksi untuk menyebarkan tiga tujuan CBD : konservasi, pemanfaatan berkelanjutan, dan pembagian keuntungan.

EsA menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan sumber daya di mana alam tidak lagi dilihat sebagai kumpulan sumber daya untuk dimanipulasi dan dipanen semaunya oleh manusia, tetapi sebagai sistem yang kompleks yang memerlukan tanggung jawab keanekaragaman hayati untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi mendatang.

Ini adalah untuk pertama kalinya pandangan holistik terhadap kehidupan di planet ini menjadi populer – mengarah kepada gerakan menjauh dari perlindungan lahan area-tunggal terhadap perencanaan tata guna lahan terpadu.

Pada 2003, sebuah tinjauan kritis ESA (Hartje et al.) menunjukkan bahwa keberhasilannya akan tergantung terutama pada penerimaan internasional dan kapasitas untuk mengintegrasikan mandat institusional.

Menarik bahwa laporan hanya menyebut pemain internasional memiliki kaitan dengan pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai kontributor penting untuk proses ini, bukan mereka yang memiliki mandat dalam produksi pangan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan.

Memperluas pendekatan ekosistem dari organisasi yang bermandatkan-konservasi ke organisasi yang bermandatkan-pembangunan bagi kami merupakan kontribusi nyata pendekatan bentang alam.

Istilah “bentang alam” menyiratkan hubungan manusia dengan alam merupakan bagian integral dan tak terpisahkan, sedangkan istilah “ekosistem” masih sering dikaitkan dengan alam murni.

“Pendekatan bentang alam” menyoroti kompleksitas sistem pengelolaan lahan dan kebutuhan akan indikator praktis (mata pencaharian, pendapatan , produktivitas, keberlanjutan) untuk mengukur interaksi lingkungan manusia di seluruh sektor dan skala.

Kebutuhan akan integrasi eksplisit atas agenda konservasi dan pembangunan merupakan respons langsung terhadap temuan laporan MDG terbaru yang saat ini mekanisme dan kerangka kerjanya tidak memadai untuk menjamin kelestarian lingkungan. Kami percaya bahwa pendekatan bentang alam lebih jauh dari sekadar tren manajemen baru. Jika diterapkan dengan baik, ia menawarkan solusi untuk masalah membandel.