Dilema Sosial Ekologis Dunia Modern

iran-military-4.jpg

Kabar Banten, 23 November 2012

Cara pandang atau wawasan manusia dalam memandang dan memahami dirinya di dalam dan terhadap alam, ternyata akan berdampak pada bagaimana manusia itu sendiri bersikap atau memperlakukan alam dan lingkungannya dalam hidup keseharian. Soal ini juga sangat terkait erat dan berdampak langsung dalam soal-soal ekologis dan persoalan-persoalan penanganan sampah di sekitar lingkungan kita, utamanya di tempat-tempat dan kawasan perkotaan yang paling banyak memproduksi sampah setiap harinya. Inilah yang menjadi keprihatinan para pemikir dan aktivis lingkungan, semisal Fritjof Capra, terkait tidak berimbangnya antara produksi sampah dan penanganannya secara memadai.

Sebenarnya, jauh sebelum Fritjof Capra menuliskan pandangan-pandangan yang ditimbanya dari Taoisme dan sejumlah khasanah filsafat Timur lainnya itu, masyarakat-masyarakat di negeri kita sudah sejak lama memiliki dan memelihara kearifan-kearifan mereka, yang ternyata berkaitan dengan lingkungan, baik dalam bentuk mitos atau pun kepercayaan-kepercayaan sacral mereka menyangkut alam dan benda-benda yang mereka anggap sebagai sesuatu yang sakral dan keramat, semisal kearifan lokal masyarakat Baduy tentang hunian yang selaras dengan lingkungan mereka, selain mereka juga memiliki kearifan pangan. Kearifan seperti itu juga dimiliki masyarakat-masyarakat di Banten Selatan lainnya, semisal masyarakat Cisungsang, Citorek, dan Ciptagelar.

Mengkritik Antroposentrisme

Belakangan, semakin disadari, seperti yang pernah dikemukakan Capra atau para pengusung kearifan Timur lainnya, itu bahwa “egoisme” manusia yang terlampau menuruti hasratnya demi memuaskan dirinya sendiri itu sebenarnya sudah tercermin lewat cara berpikir antroposentrisme manusia itu sendiri. Sebagaimana kita tahu, antroposentrisme merupakan suatu sikap ilmiah dan wawasan yang terlampau menganggap manusia sebagai ukuran cara pandang atau terlampau mendudukkan manusia sebagai pusat semesta. Antroposentrisme ini lahir dan berkembang terutama di Barat, semisal dicontohkan dengan filsafat Cartesianisme dan sains Newtonian.

Sementara itu, manusia Timur sebenarnya tidak mengenal wawasan-sikap antroposentris seperti itu, sebab mereka, terutama bila kita membaca dengan seksama mitos-mitos masyarakat adat dan masyarakat tradisional yang berkaitan dengan alam, lebih seringkali memandang alam sebagai sesuatu yang mistis, magis, dan akan marah bila kita mencederainya. Wawasan itu misalnya tercermin dalam kepercayaan masyarakat tradisional, semisal masyarakat Baduy, sebagaimana dapat dibaca dalam khasanah sastra lisan, berupa pantun dan mantra, yang mereka bacakan dan mereka pergelarkan setiap kali mengadakan upacara keagamaan atau pun ruwatan.

Menyelaraskan Ekonomi dan Ekologi

Wawasan-sikap antroposentris itu pula lah yang saat ini tercermin dalam hasrat ekonomis dunia kapitalis dan konsumeris untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya dan memandang persoalan ekologis hanya akan menghambat upaya ekonomis tersebut. Di saat yang sama, upaya “manusia eknomis” modern untuk menciptakan efisiensi dan kecepatan, sebagai contohnya, telah menghasilkan produk-produk yang bertentangan dan melawan alam, semisal sampah-sampah plastik yang yang sulit didaur-ulang.

Kenyataan yang demikian akan berbeda dengan sikap dan wawasan masyarakat tradisional. Sebagai ilustrasi kita dapat mencontohkan bagaimana masyarakat tradisional di pedesaaan di waktu dulu menggunakan daun jati atau daun pisang untuk membungkus bekal dan makanan mereka, yang ketika sisa bungkus itu dibuang di kebun atau ladang akan menjelma pupuk atau humus seiring dengan proses alam dalam peleburannya. Hal itu tentu saja berbeda dengan produk-produk instan masyarakat modern, seperti plastik, yang tidak mudah hancur, dan tak ragu lagi akan menjelma sampah, terutama sekali di wilayah-wilayah perkotaan. Meski belakangan, dilema sampah modern, seperti plastik itu, juga sampai ke sudut-sudut pedesaan.

Dengan ilustrasi itu, kita dapat mengetahui bahwa sampah jenis pertama adalah sampah yang harmonis dari segi biologis dan ekologis, karena tidak bertentangan dengan proses alam alias sejalan dengan hukum ekosistem alam, sementara tidak demikian dengan “sampah modern” yang memang telah mewujud sebagai entitas yang secara nyata melawan alam. Dan ternyata, soal antroposentrisme itu tak hanya tercermin dari sikap dan wawasan “manusia ekonomis” yang melawan ekologi demi mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tersebut, tapi juga tercermin dalam sikap manusia modern dalam upaya mereka untuk menangani sampah yang menganggap sampah sebagai objek dan realitas di luar diri mereka, bukan “dampak” dari sikap dan gaya hidup mereka itu sendiri sebagai manusia konsumtif.

Sampah dan Gaya-Hidup

Jika demikian, persoalan sampah sebenarnya adalah persoalan gaya hidup “manusia modern” itu sendiri yang memang senantiasa menghasilkan sampah secara terus-menerus tanpa dibarengi oleh suatu kesadaran bahwa perilaku mereka itu sendirilah yang menjadi rahim bagi sampah itu sendiri. Berbeda dengan manusia modern, yang gaya hidupnya merupakan pabrik sampah itu, manusia atau masyarakat tradisional, sebutlah masyarakat ada terpencil, justru hidup harmonis dengan alam dan lingkungan mereka. Singkatnya, persoalan sampah dapat dikatakan merupakan persoalan modern yang muncul bersamaan dengan maraknya industri dan gaya hidup konsumtif. Sebab masyarakat tradisional yang hidupnya selaras dengan ritme dan ekosistem alam, tidak mengenal sampah sebagaimana sampahnya orang modern tersebut.

Secara ilmiah dan analogis dapat dikatakan bahwa residu atau sampah adalah fenomena modern, terutama dalam masyarakat konsumeristis. Sampah, selain karena dampak dari upaya industri dalam memproduksi ragam barang dan kemasan demi efektivitas dan efisiensi, seperti plastik, juga merupakan dampak langsung dari gaya hidup masyarakat konsumeristis, yang tak hanya datang dari kerja dan limbah industri tapi juga dari dapur-dapur rumah tangga. Sementara itu, alam sebagai contohnya, tidak menghasilkan residu karena alam memiliki mekanisme tersendiri dalam “mendaur-ulang” dirinya sendiri, seperti ketika daun-daun yang jatuh ke tanah menjadi humus.

Pentingnya Eco-literacy

Persoalan tersebut, seperti telah kita ketahui dan kita rasakan belakangan ini, semakin mendesak dan menjadi keharusan untuk menanganinya dengan serius dan seimbang. Fritjof Capra, contohnya, memandang penting menyebarkan wawasan eco-literacy atau sadar lingkungan dalam kehidupan masyarakat modern. Tak hanya itu saja, Capra juga menawarkan eco-design, yaitu bagaimana pembangunan dan penciptaan masyarakat perkotaan dapat semaksimal mungkin menjaga keharmonisan ekologis itu sendiri, demi menciptakan masyarakat yang sehat dan selaras.

Secara singkat, eco-literacy adalah sebuah wawasan yang akan memungkinkan kita semakin sadar akan dampak sosial jika alam dan sebuah lingkungan menjadi rusak, semisal maraknya kekeringan dan krisis air bersih karena banyaknya penggundulan hutan atau penebangan pohon secara liar. Hal itu dikarenakan, lagi-lagi meminjam wawasannya Capra, alam dan lingkungan kita ini tak ubahnya jarring-jaring kehidupan atau Web of Life, yang saling terhubung atau terkoneksi satu sama lainnya, sehingga bila yang satu rusak maka akan berakibat pada yang lainnya.

Jika demikian, maka tak diragukan lagi, sadar lingkungan atau gerakan-gerakan lingkungan dan pentingnya penerapan eco-design dan green economy seperti yang dipaparkan Prof. Dr. Surna Tjahja Djajadiningrat merupakan sebuah keniscayaan modern pula bila kita ingin membangun dan mengembangkan kawasan perkotaan dan ekonomi kita, di satu sisi, tetapi dengan tetap menjaga dan merawat alam dan lingkungan itu sendiri secara bersamaan di sisi lainnya. Sejumlah negara dan kota bahkan telah menerapkan pembangunan dan pengembangan kawasan perkotaan dan industi yang sesuai dengan wawasan eco-literacy dan eco-design seperti ini. Atau yang juga kita kenal dengan istilah green economy.

Sulaiman Djaya

Iklan

Sampah, Kota, Reklame

Banten Raya, 23 September 2014

Menarik apa yang disampaikan Capra dalam bukunya yang berjudul The Hidden Connection –bahwa ada dua perkembangan dalam dunia modern yang memiliki dampak tak terabaikan bagi masyarakat. Pertama, kebangkitan kapitalisme global –dan yang Kedua adalah lahirnya kesadaran ekologis, di mana yang pertama dan yang kedua tersebut saling bertentangan dan bertolak-belakang satu sama lain. Meski demikian, berkat gerakan ekologis tersebut, upaya untuk menciptakan industri yang ramah lingkungan pun akhirnya terus diupayakan dan masih diupayakan hingga saat ini. Dalam hal ini, contoh soal yang menyita pikiran manusia modern itu adalah sampah, terutama sekali bagi masyarakat perkotaan yang merupakan masyarakat yang paling banyak memproduksi sampah –yang bahkan seakan-akan antara kota dan sampah telah menjadi realitas yang menyatu sedemikian rupa.

Seperti telah sama-sama kita tahu, secara sosiologis dan antropologis, kota bukan hanya tempat hunian –tapi juga gugusan penanda dan arena di mana segala hal seakan tidak ada yang tidak mungkin. Di kota, sebagai lokus interaksi ekonomi, sosial, budaya, dan politik, misalnya, ada hiruk-pikuk yang membuat kota seakan tak pernah lelah atau berhenti bergerak barang sejenak. Di kota pula kita bisa melihat bentangan-bentangan reklame dan baligo-baligo politik yang mengumbar janji politik masa depan dan menebar keramahan hingga hilir-mudik orang-orang yang berbelanja di pusat-pusat perbelanjaan. Begitu pula, di kota, yang bila kita melihatnya dari kacamata konsumeristik, misalnya, belanja seakan merupakan sebuah ritual wajib masyarakat mutakhir.

Di kota pula terjadi perputaran (distribusi) uang paling dominan dan tersedianya ragam pekerjaan yang menjanjikan kesejahteraan sekaligus sampah (residu) dihasilkan dalam skala besar setiap harinya. Di kota ada keindahan dan kemewahan di sentra-sentra tertentu –namun ada juga kekumuhan di sudut-sudut lainnya. Dalam hal ini, sebagai sekedar contoh, bila kita melihatnya dari sudut pandang atau analisis marxisme, kota merupakan tempat di mana potret perbedaan kelas sosial ditampilkan dengan nyata dan jelas. Di lokasi tertentu, contohnya, hadir dengan anggunnya kompleks hunian mewah, sementara di ujung lokasi lainnya ada para gelandangan alias masyarakat marjinal dan kawasan yang aromanya tak sedap bagi indra penciuman kita dan membuat tak nyaman pandangan mata kita.

Sementara itu, secara sosiologis dan antropologis, misalnya, kota merupakan contoh yang paling riil bila kita ingin melihat perubahan lingkungan sekaligus kebiasaan manusia yang paling nyata dalam skalanya yang massif dan cepat.

Kota dan Pasar

Tak diragukan lagi, kota dan pasar (kapitalisme) merupakan kesatuan wujud yang terbukti tak dapat dipisahkan. Para penulis –yang juga disebut sebagai para filsuf dan pemerhati masyarakat modern dan postmodern, misalnya, menyatakan bahwa hal yang paling tak teringkari dalam mendesakkan perubahan yang cepat dan massif situasi kemanusiaan masyarakat perkotaan kita saat ini adalah kapitalisme dan pasar-pasar yang diciptakannya secara terus-menerus.

Bagaimana tidak, di jaman ini, iklan dan pasar lah yang paling cepat menggerakkan tindakan dan tingkah laku manusia –semisal dalam hal ritual untuk mendatangi pusat-pusat perbelanjaan, yang bahkan mengalahkan seruan-seruan yang dikumandangkan narasi-narasi agung keagamaan. Seakan-akan pasar lah agama baru kita saat ini dan pusat-pusat perbelanjaan adalah kuil-kuil atau mesjid-mesjid di mana kita melaksanakan ritual belanja tanpa rasa bosan. Iklan, misalnya, seakan-akan merupakan imperatif alias perintah bujuk-rayu yang terlampau menggoda untuk diabaikan begitu saja. Namun, bersamaan dengan itu pula, produksi sampah yang semakin banyak pun menjadi kenyataan pula, sebagai residu modern yang tak teringkari.

Meningginya sampah di perkotaan memang sudah merupakan resiko tak terhindarkan bagi masyarakat perkotaan –atau lebih tepatnya dalam masyarakat pasar global saat ini. Dengan nada berseloroh, namun serius, para filsuf dan pemerhati kebudayaan, misalnya, menyatakan bahwa bunyi adagium alias pameo masyarakat konsumeris mutakhir perkotaan adalah: “Aku membeli, maka aku ada”. Jean Baudrillard, contohnya, menyebut masyarakat konsumeris perkotaan adalah masyarakat yang senantiasa digerakkan oleh perintah-perintah reklame dan iklan yang menyerbu kehidupan mereka yang hadir di tiap sudut agar senantiasa membeli komoditas yang diproduksi kapitalisme. Menyerbu dari segala sisi dalam keseharian, mulai dari bentangan-bentangan reklame di setiap sudut kota dan jalan, hingga tayangan-tayangan media elektronik dan publikasi media cetak harian atau pun berkala.

Lihat saja hampir di tiap sudut dan perempatan, di trotoar atau sepanjang jalan, tak ada yang sepi atau lengang dari kehadiran baligo dan papan-papan iklan yang menyapa atau menyeru kita untuk membeli komoditas terbaru. Papan-papan iklan dan baligo-baligo reklame itu pun senantiasa berganti dan berubah sesuai dengan pergantian dan kehadiran mode atau trend baru komoditas yang diproduksi dan lalu di-iklan-kan sebelum dijual di pasar-pasar yang diciptakan kapitalisme.

Kota dan Residu

Hasrat untuk membeli dan mengkonsumsi komoditas memang merupakan sesuatu yang sifatnya manusiawi, terlebih dalam dunia kapitalisme mutakhir saat ini. Namun jangan lupa, ada banyak komoditas yang menyisakan dan meninggalkan residu alias sampah yang secara sosial dan ekologis mengancam kehidupan dan keseharian masyarakat itu sendiri. Terlebih hampir semua komoditas kapitalisme masyarakat perkotaan menyisakan atau meninggalkan residu (sampah) yang tidak mudah hancur dan berkonfrontasi dengan hukum ekologi dan ekosistem alam.

Sebagai contoh, berbeda dengan residu alam yang dapat menjelma ke unsur alam kembali semisal daun yang dapat menjelma pupuk atau tanah subur, komoditas kapitalisme semisal kemasan-kemasan yang terbuat dari plastik, tidak bisa lebur dan tetap berupa plastik. Hingga tak salah jika para filsuf postmodern menyebut masyarakat kapitalis adalah masyarakat yang senantiasa memproduksi residu (sampah) ketika mereka terus-menerus memproduksi komoditas dan membeli serta mengkonsumsi komoditas.

Jika demikian, maraknya kehadiran mall-mall dan pusat-pusat perbelanjaan lainnya yang serupa harus diimbangi dengan penanganan residu (sampah) yang serius pula, baik oleh pemilik pasar-pasar dan pusat-pusat perbelanjaan tersebut atau oleh pemerintah yang bekerjasama dan mendapatkan keuntungan dari hadir dan maraknya pasar-pasar kapitalisme dan pusat-pusat perbelanjaan –semisal mall dan Carrefour itu. Karena tentu saja kita tak ingin mewariskan sampah dan kerusakan ekologis bagi anak cucu kita di masa depan.

Sementara itu, dari sisi industrial, seperti diungkapkan banyak pemerhati dan praktisi perencana kota dan perencana kawasan ekonomi, terutama para pakar eco-design, pada tingkat lanjut keberhasilan pembangunan sebuah kota atau pun sebuah kawasan tak semata diukur dengan maraknya kehadiran gedung-gedung atau industri yang mendongkrak pendapatan ekonomi sebuah kawasan atau kota, tetapi sejauh mana pembangunan ekonomi dan perkotaan dilakukan dengan mencipta keharmonisan dengan lingkungan kawasan tersebut secara ekonomis dan ekologis pada saat bersamaan.

Sulaiman Djaya

Black Sketch of Sulaiman Djaya

Air dan Ayat-ayat Ekologi

Zaman Khan Bridge Shahr e Kord Esfahan In Iran

Radar Banten, 14 Agustus 2014

Jamak diketahui oleh kita, utamanya ummat Islam, air menempati posisi yang teramat penting dalam keseharian, bahkan dapat dikatakan sebagai yang utama. Air bahkan merupakan sesuatu yang dengannya kita bersuci sebelum sholat atau melakukan ibadah-ibadah lainnya yang dianjurkan berwudhu dan bersuci. Kalau pun dibolehkan bersuci dengan yang lainnya, semisal tayamum dengan debu, hanya dalam kondisi darurat atau dalam situasi tidak normal saja. Hingga di kalangan ummat Islam, populer pula hadits yang berbunyi “Kebersihan (kesucian) adalah sebagian dari iman”.

Nah, air sebagai salah-satu unsur hidup dan bahkan pembentuk ekosistem kehidupan dan ekologi ini, memiliki tempat yang sangat istimewa dalam Islam. Dalam al Qur’an surah al Anbiya ayat 30, contohnya, ditegaskan: “Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup”. Bila kita perhatikan bunyi “Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup” itu, tak ragu lagi bahwa air itu sendiri merupakan sesuatu di mana “hidup” dan “sesuatu yang hidup” dijadikan dari dan dengannya.

Dalam konteks itu Jerrmein Abu Shahba (Lihat Jerrmein Abu Shahba, Pohon Kenabian, Penerbit Citra Jakarta Mei 2013, hal. 169-170), misalnya, menerangkan bahwa air merupakan unsur kelahiran penciptaan utama makhluk hidup. Kita tahu, dalam kerajaan atau dunia hewan dan manusia, yaitu kita sendiri, contohnya, kita mengenal sperma yang adalah substansi yang terdiri dan terbentuk dari air, yang seperti kita tahu, merupakan sebab penciptaan manusia, setelah penciptaan pertama (Nabi Adam As). Begitu pula para ilmuwan menegaskan bahwa kehidupan dan kelangsungan hidup tumbuhan dan hewan berada dalam dan di atas air, yang sumber utama air tersebut turun dalam bentuk hujan, selain dari ekologi dan ekosistem air (semisal sungai dan resapan air), sebagaimana ditegaskan al Qur’an surah an Nahl ayat 65: “Dan Allah telah menurunkan air dari langit dan dengannya Dia menghidupkan bumi setelah kematiannya”.

Visi Ekologi Mulla Sadra

Selain telah ditegaskan al Qur’an dan al Hadits, masalah ekologis ini juga ternyata mendapatkan perhatian seorang filsuf muslim, yaitu Mulla Sadra. Kita tahu dalam filsafatnya Mulla Sadra secara umum memandang realitas ini sebagai kesatuan (holistic) dari manifestasi ciptaan Yang Maha Kuasa. Visi filsafat Mulla Sadra sendiri memang tidak bisa dilepaskan dari visi tauhid-nya sebagai seorang muslim. Dan pandangan ekologis Mulla Sadra ini tentu saja mendahului visi ekologisnya Fritjof Capra yang juga sama-sama memandang hidup dan realitas dengan paradigma holistik, terutama dalam bukunya yang berjudul Web of Life itu.

Sebagai contoh, dan tentu saja perspektif ini relevan dalam ranah ekologis, Mulla Sadra memandang bahwa semua yang ada seumpama rantai yang terkait satu sama lain, dan pandangan ini akan mengingatkan kita kepada pandangannya Fritjof Capra dalam bukunya berjudul Web of Life tersebut bahwa suatu ekosistem dan realitas kehidupan merupakan suatu jaringan dan keterkaitan satu sama lain, yang tak ubahnya jaring-jaring yang terhubung satu sama lain. Namun pandangan Mulla Sadra tak hanya pada konteks yang profan semata, tapi juga menyangkut visi kosmologi yang besar dan umum. Menurutnya, “Yang Ada” sebagai yang padu dan holistik tersebut mencakup Tuhan, malaikat, manusia, langit, bumi, galaksi, air, tumbuhan, dan yang lainnya yang ada dalam semesta ini. Tepat di sini lah, apa yang dipahami Mulla Sadra tersebut koheren dengan visi ekologis dan kosmologis Islam sebagaimana ditegaskan al Qur’an.

Kita simak saja contoh ayat al Qur’an (Surah al Mu’minun ayat 18) yang berkaitan dengan visi ekologis dan kebetulan masih dalam konteks tentang air: “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya”. Ayat al Qur’an ini tak luput dari perhatian Mulla Sadra, dan tentu juga kata “menetap” dapat kita pahami sebagai air yang meresap di dalam tanah, yang mengalir di sungai-sungai, yang tertampung di danau dan laut, dan lain sebagainya. Barangkali di sini kita juga perlu menyimak sepotong untaian puisi seorang penyair Persia (Iran), Baba Taher, tentang nilai penting dan makna air ini, “Aku melihat laut, dan aku melihat Engkau”, di mana dalam sepotong larik tersebut, air dan laut memiliki makna yang sakral dan transenden, sebagaimana Mulla Sadra juga melihat air dan alam sebagai sesuatu yang sakral dan transenden, bukti Kemahabesaran Tuhan.

Nabi Muhammad Saw dan Kesadaran Ekologis

Sekarang kita kembali lagi kepada Islam dan wawasan ekologis, di mana nilai-nilai dan spirit Islam juga tidak mengabaikan aspek ini. Ada sebuah pepatah Arab yang cukup relevan di sini, yaitu al Insan ibnu bi’atihi, manusia itu anak lingkungannya. Kesadaran ekologis ini pun, berdasarkan riwayat Abu Dawud, Rasulullah pernah melarang menebang pohon di gurun yang menjadi tempat berteduh bagi manusia dan hewan. Bahkan, terkait dengan gerakan menanam pohon yang telah lama kita kenal, ribuan tahun silam telah sangat dianjurkan oleh Rasulullah, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di mana Rasulullah bersabda: “Tiada seorang Muslim yang menanam tanaman kemudian dimakan oleh burung, manusia, atau binatang, melainkan tercatat untuknya sebagai sedekah”.

Bayangkan, seperti terbaca jelas dalam hadits itu, menanam pohon yang karenanya atau yang dengan pohon yang kita tanam tersebut bermanfaat bagi mahkluk Tuhan, maka manfaat tersebut dinilai dan dihitung sebagai sedekah, sebagai amal jariyah. Barangkali juga manfaatnya dalam merawat dan menjaga ketersediaan oksigen bagi kebutuhan hidup manusia dan makhluk Tuhan lainnya.

Sikap dan Aksi Kita

Persoalannya adalah, meski Islam telah mengajarkan wawasan ekologis, hal itu tidak akan berarti apa-apa jika ummat Islam sendiri tidak mengembangkannya lebih lanjut, semisal menumbuhkembangkan aksi-aksi dan inovasi-inovasi yang dapat merawat dan menjaga lingkungan dari kerusakan serta dari kehancuran. Seperti telah disebutkan, sebagai salah-satu contoh, nilai air sebagai sesuatu yang sangat penting bahkan utama dalam lingkungan dan alam, tak pelak lagi harus menjadi perhatian utama kita. Sebagai contoh lagi, bila air rusak, tak terawat, kotor semisal tercampur limbah beracun, maka dampak buruknya akan merambah dan berakibat ke segala hal. Entah kepada tanaman, kepada tanah, dan lain sebagainya, yang pada akhirnya akan berdampak buruk kepada manusia juga, kita sendiri, seperti gangguan kesehatan dan kelangkaan air bersih itu sendiri untuk kebutuhan sehari-hari.

Tentu saja, praksis yang paling nyata dan riil yang dapat dilakukan adalah memulai dari diri kita masing-masing, ibda’ binafsik, semisal mulai hidup ramah lingkungan, mulai dari hal-hal yang remeh seperti tidak membuang sampah sembarangan, bila kita sendiri ingin mengamalkan seruan “Kebersihan (kesucian) itu sebagian dari iman”. Contoh kecil lainnya adalah membiasakan diri tidak menghambur-hamburkan komoditas keseharian kita, semisal menghindari untuk senantiasa membeli hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan. Dan tentu juga, yang tak kalah penting, adalah kebijakan dan inisiatif pemerintah dalam tingkatan dan jangkauan yang lebih makro dan lebih besar, terutama pemerintah pusat, semisal bahwa pemerintah tidak lagi mengalah kepada kebijakan dan negosiasi yang hanya menguntungkan Negara-negara maju yang acapkali berlepas-tangan dari tanggungjawab terhadap kerusakan lingkungan, semisal tunduk begitu saja atas tekanan Negara-negara maju, yang bahkan dengan menggadaikan visi ekologis kita demi “kucuran uang” dari Negara-negara maju, yang ironisnya uang tersebut tak imun dari korupsi. Kalau tidak sekarang, lalu kapan lagi?

Sulaiman Djaya

Fritjof Capra dan Eco-Literacy

indonesia-by-teuku-dzhodi-zulkarnaen.jpg

Radar Banten, 21 Mei 2014

Secara singkat, eco-literacy adalah kesadaran ekologis atau melek ekologi, baik secara kognitif maupun praksis. Istilah ini pertamakali dikenalkan oleh Fritjof Capra dalam bukunya yang berjudul The Web of Life yang di-Indonesiakan menjadi Jaring-jaring Kehidupan: Visi Baru Epistemologi dan Kehidupan, dan juga bukunya yang berjudul The Hidden Connection itu. Ada sebuah nubuat menarik yang disampaikan Capra dalam bukunya yang berjudul The Hidden Connection, itu bahwa ada dua perkembangan dalam dunia modern yang memiliki dampak tak terabaikan bagi masyarakat. Pertama adalah kebangkitan kapitalisme global, yang kedua adalah lahirnya kesadaran ekologis, di mana yang pertama dan yang kedua tersebut saling bertentangan dan bertolak-belakang satu sama lain. Meski demikian, berkat gerakan ekologis bernama eco-literacy, yang kemudian dalam praksisnya dikenal dengan mewujudkan eco-design tersebut, upaya untuk menciptakan industri yang ramah lingkungan pun akhirnya terus diupayakan dan masih terus selalu diupayakan hingga saat ini.

Capra sendiri sebelumnya dikenal sebagai seorang fisikawan energi tinggi sebelum terjun ke dalam minat dan praksis ekologis setelah perjumpaan dan pergulatannya dengan kearifan dan mistisisme Timur, termasuk dari filsafatnya Mulla Sadra. Tak hanya dari kearifan Timur, sebagai seorang pemikir dan ilmuwan, Capra juga terinspirasi ceramah dan bukunya fisikawan Austria, Erwin Schrodinger, yang berjudul What is Life?, yang kelak menjadi gagasan dasar Capra sendiri ketika bersentuhan dan bergulat dengan soal-soal eksistensi dunia dan hidup, termasuk yang kelak berkaitan dengan wacana ekologis yang ditulisnya.

Relevansi eco-literacy seperti yang digagas Capra tersebut tentu saja pas dan terasa dalam konteks masyarakat dan dunia global saat ini yang acapkali ditimpa masalah-masalah ekologis, kerusakan lingkungan, dan maraknya bencana alam akibat kerusakan lingkungan dan terkikisnya keseimbangan ekosistem atau keselarasan ekologis. Persis, di sinilah, menurut Capra dengan wawasan fisika dan ekologisnya itu, unsur-unsur yang ada dan membentuk hidup kita, atau segala realitas yang tampak dan tidak tampak dalam semesta dan di bumi kita ini, memiliki hubungan dan keterkaitan satu sama lain, tak ubahnya jaring-jaring kehidupan dan hidup itu sendiri. Sebagai contoh, jika hutan dan gunung mengalami pegundulan, penebangan serta perusakan, maka rusak pula sistem dan tempat penyimpanan (serta penyaringan dan penahan) air, yang akibatnya adalah terjadinya longsor dan erosi tanah, yang akhirnya merubah lempengan dan komposisi bumi itu sendiri.

Bagaimana Dengan Sampah Komoditas?

Yang juga menjadi perhatian atau konsen eco-literacy dan eco-design adalah masalah sampah dan dampaknya yang tidak kecil. Dalam konteks ini, kepedulian ekologis tak cukup hanya di tingkatan wacana saja, tapi dibutuhkan solusi praktis. Misalnya, mengembangkan dan berusaha melakukan inovasi dalam bidang industri yang selaras dengan perawatan alam dan lingkungan dan sanggup meminimalisir residu (sampah). Contohnya, memaksimalkan re-cycling atau upaya daur ulang sampah menjadi produk dan komoditas yang bermanfaat. Jepang dan Korea Selatan dengan Landfill Recovery Project-nya terbilang sebagai dua Negara yang sukses melakukan hal tersebut.

Dengan kata lain, dan ini sebagaimana ditegaskan oleh Capra sendiri, untuk mewujudkan visi eco-literacy dan eco-design dibutuhkan dukungan di tingkat political policy atau di tingkat kebijakan pemerintah sendiri, utamanya pemerintah pusat. Sebab, seperti jamak kita ketahui, sumber daya alam tertentu memiliki potensi akan habis bila dieksploitasi dengan tanpa perhitungan dan secara berhamburan. Di sini kita ingat pepatah bangsa kita sendiri yang berbunyi, “alam bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan dari anak cucu kita”.

Pada tingkatan policy atau kebijakan ini, sebagaimana dinyatakan Jessica Tuchman Mathews, meski menyuarakannya di tahun 90-an, akan turut pula menentukan survival sebuah Negara atau kawasan. Bahkan, sebagaimana ia tegaskan, akan menentukan kekuatan keamanan nasional atau national security sebuah Negara, juga kawasan. Mengapa demikian? Tak lain karena dampak global itu sendiri. Bukankah kepulan dan gulungan asap dari Riau juga terbukti mengganggu Malaysia dan Singapura? Di sini, lagi-lagi menurut Jessica Tuchman Mathews, yang tentu saja sebagai penguat visi ekologis Capra, penanganan, perawatan, dan perbaikan ekologis semestinya tak hanya menyangkut konsen satu Negara tertentu saja, tapi diperlukan kerjasama yang sinergis antara beberapa Negara yang terkait dengan kawasan itu sendiri. Misalnya, ancaman banjir dan masa depan ekologis di Bangladesh terkait dengan lingkungan di India dan Pakistan, atau banjir di Jakarta tidak dapat dilepaskan dari situasi dan dampak ekologis di Bogor (Jawa Barat) dan Tangerang (Banten).

Sebuah Keniscayaan

Maka, tidak berlebihan jika kita katakan bahwa ecoliteracy merupakan keharusan atau keniscayaan jaman kita ini. Terlebih sudah lama produk-produk atau komoditas yang diproduksi industri manusia, semisal plastik, bertentangan dan melawan alam, tidak hancur seperti hancurnya daun dan menjelma pupuk atau tanah ketika jatuh. Alam tidak menghasilkan residu (sampah), tetapi industri serta produk-produk modern lah yang menghasilkan dan menjelma sampah. Sebagai perbandingan, bila dulu orang tua-orang tua kita menggunakan kemasan pembungkus dan wadah dari daun yang akan hancur dan kembali ke alam bila terbuang, manusia saat ini senantiasa menghasilkan sampah (residu), yah seperti plastik yang telah disebutkan itu.

Di sisi lain, kita juga tak ingin hanya bisa mengkritik atau melakukan kritik semata tanpa dibarengi dengan aksi konkret dalam rangka merawat bumi dan ekologi ini. Persis dalam hal inilah, sebagaimana ditawarkan Capra seperti yang sudah dikemukakan, ecoliteracy saja tidak cukup tanpa dibarengi dengan ecodesign, yaitu dengan langkah nyata melalui usaha inovatif untuk mengembangkan tekhnologi dan industri yang ramah lingkungan. Juga, tentu saja, sikap dan gaya hidup yang selaras dengan lingkungan.

Di luar negeri, upaya dan aksi nyata apa yang disebut Capra sebagai ecodesign itu, sebagai contohnya, sudah dilakukan oleh wiraswastawan Gunter Pauli di awal tahun 90-an, yang akhir-akhir ini banyak langkah serupa dilakukan oleh ilmuwan juga orang-orang mandiri di Eropa, semisal di Jerman. Dalam kasus Gunter Pauli sendiri, ia telah membuat pengelompokan industri secara ekologis bersama organisasi yang didirikannya: ZERI, Zero Emission Research and Initiatives. Sebuah organisasi yang cukup gigih untuk memperjuangan kesehatan ekologis dan memperjuangkan industri yang ramah lingkungan, yang juga bergerak dalam kerja-kerja industri daur ulang sampah menjadi produk-produk yang bermanfaat, dan akhirnya tidak melakukan pemborosan atau penghamburan bahan mentah alam.

Apakah contoh yang dilakukan Gunter Pauli tersebut relevan untuk konteks Indonesia? Tentu saja dan tidak mungkin disangsikan lagi. Sekaya-kayanya sumber daya alam Indonesia, pastilah akan berkurang dan tidak akan memberikan keuntungan serta manfaat besar jika tidak dikelola dengan baik dan cerdas. Terlebih lagi, faktanya, banyak hutan-hutan dan gunung-gunung kita yang sudah rusak dan gundul. Juga, yang tidak dapat dilupakan, betapa setiap tahun banjir semakin membesar di Jakarta, yang seperti kita tahu, salah-satunya akibat kerusakan di hulu (Bogor), hingga sampah-sampah dari Bogor terbawa ke Jakarta bila datang banjir dan hujan. Dan bila dalam tulisan ini telah disitir pepatah bangsa kita yang berbunyi, “alam bukan warisan nenek moyang, tetapi titipan dari anak cucu kita”, maka hal yang sama juga berlaku untuk kota-kota dan lingkungan kita berada.

Sulaiman Djaya

Islam dan Kesadaran Ekologis

Wild Africa

Radar Banten, 7 November 2014

Isu tata-kota dan lingkungan telah menyedot perhatian dan energi kita belakangan ini terkait hubungannya dengan masalah industri, kapitalisme dan dampak residunya serta kelangkaan tanah bagi hunian dan kebutuhan yang terkait dengan lainnya. Meski demikian, tulisan ini hanya sekedar mencoba berbagi sedikit wawasan Islam tentang isu tata-lingkungan atau konservasi tersebut. Dalam hal ini, seperti kita tahu bersama, dalam Islam dikenal istilah “haram” (lingkungan khusus yang bahkan disucikan) dan ditata sedemikian rupa agar tetap terawat dan tidak terancam destruksi atau pengrusakan yang disengaja atau tidak disengaja. Pioneer-nya tak lain adalah Nabi Islam itu sendiri, yaitu Muhammad Rasulullah, semisal ketika menjadikan Makkah dan Madinah sebagai “kota” khusus alias kota suci bagi ummat Islam.

Sementara itu, terkait masalah ekologis sekaligus ekonomi, Syari’ah Islam juga mengenal perlindungan alam, seperti kehidupan liar yang termasuk dalam kategori “hima” (perlindungan hak-hak sumberdaya alam asli atau wildlife). Madinah adalah contoh “hima” semasa kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Secara syari’at, misalnya, Islam melarang ummat-nya untuk mengkonsumsi (memakan) binatang-binatang yang diharamkan, yang ternyata mengandung hikmah ekologis bagi kelangsungan fauna yang dapat menjaga kelangsungan dan keseimbangan ekosistem alam dan lingkungan.

Contoh lain adalah di Iran, di mana di negeri itu ada sejumlah kota-kota yang dijadikan “haram”, semisal Mashhad dan Qum, karena kebetulan di kota-kota yang dijadikan “haram” itu juga merupakan makam-makam figur-figur suci Islam, yaitu beberapa Imam Ahlubait Muhammad Rasullullah (seperti Imam Ali Ibn Musa ar Ridho) dan keluarga Muhammad Rasulullah lainnya (seperti Sayyidah Fatimah Ma’shumah) yang pada saat bersamaan kota-kota yang dijadikan “haram” tersebut menjadi tempat ziarah orang-orang dari berbagai Negara, yang dengan sendirinya mendatangkan manfaat ekonomi, selain tempat-tempat tersebut juga menjadi cagar-cagar kota.

Isu tata-lingkungan dan ekologi ini juga menjadi konsen beberapa kaum arif dan filsuf muslim, semisal Mulla Sadra. Dalam tulisannya yang bertajuk “Prinsip-prinsip Ekologis Mulla Sadra” contohnya, Seyyed Mohsen Miri (dengan meminjam langsung ungkapannya) menegaskan bahwa kita saat ini sedang berjuang keras menghadapi berbagai krisis ekologis dan lingkungan yang semakin meluas dan menyebar. Dalam tulisannya itu, Seyyed Mohsen Miri menyatakan:

“Salah satu prinsip filsafat lingkungan hidup Islam adalah bahwa alam semesta diciptakan berdasarkan keseimbangan dan harmoni antar anggota alam tersebut. Selain itu, manusia harus berusaha maksimal untuk menjaga keseimbangan dan berinteraksi secara benar dengan maujud-maujud lain di alam. Tentang keseimbangan dan harmoni alam semesta, Allah swt berfirman: “Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih sesuatu yang tidak seimbang” (Al-Mulk: 13). Segala sesuatu tercipta berdasarkan perhitungan dan ukuran dan ditempatkan di posisi yang tepat: “Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapih-rapihnya” (Al-Furqan: 2). “Segala sesuatu pada sisiNya ada ukurannya”(Ar-Ra’d: 8). “Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan, bintang dan pohon tunduk kepadaNya, Allah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca” (Ar-Rahman: 5-8). “Ciptaan Tuhan Yang telah mengokohkan segala sesuatu” (An-Naml: 88). Tidak satupun benda tercipta sia-sia: “dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Ya Tuhan Kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau” (Ali Imraan: 191)”

Paradigma holistik ekologis ini, sebagaimana kita tahu bersama, dalam bahasanya Fritjof Capra diistilahkan dengan jaring-jaring kehidupan atau webs of life, di mana eksistensi makhluk saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain, sebagaimana dinyatakan dan ditegaskan Mulla Sadra ratusan tahun sebelum Capra menuliskannya kembali dan memadukannya dengan perspektif filsafat dan sains Barat. Dalam hal ini Seyyed Mohsen Miri melanjutkan:

Jika manusia menjaga keseimbangan alam ini dan tidak merusaknya ia telah memaksimalkan keuntungannya dari alam, karena sejak semula alam diciptakan untuk digunakan manusia. “Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kalian” (Al-Baqarah: 29). “Tidakkah kalian perhatikan sesungguhnya Allah menundukkan untuk kalian apa yang di langit dan apa yang di bumi dan telah menyempurnakan untuk kalian nikmat-Nya lahir dan batin” (Luqmaan: 20). “Dan Dialah Allah yang menundukkan lautan untuk kalian, agar kalian dapat memakan darinya daging yang segar, dan kalian mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai dan engkau melihat bahtera berlayar padanya dan agar kalian mencari dari karuniaNya dan agar kalian bersyukur” (An-Nahl: 14). “Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air dari langit lalu Dia keluarkan darinya dari buah-buahan rizki bagi kalian dan Dia tundukkan bahtera untuk berlayar di laut dengan perintahNya dan menjadikan bagi kalian sungai-sungai. Dan menjadikan bagi kalian matahari dan bulan silih berganti dan menjadikan bagi kalian malam dan siang. Ia telah berikan bagi kalian dari segala yang kalian minta dan jika kalian menghitung nikmat Allah maka tidak akan dapat kalian hitung” (Ibrahim: 32-34).

Soalnya adalah seringkali manusia itu tidak bersyukur, zhalim, dan rakus, hingga mengeksploitasi alam dan kekayaan lingkungan sekitarnya yang acapkali “hanya” mengejar keuntungan sesaat semata dan tidak diimbangi dengan memikirkan dampak kerusakannya bagi masa depan akibat pencemaran dan residu (limbah). Untungnya, belakangan ini, berkat tekanan sejumlah organisasi dan aktivis lingkungan dan konservasi –juga kesadaran sejumlah ilmuwan dan lembaga-lembaga dunia lainnya, berbagai upaya penemuan dan tekhnologi (mesin dan alat produksi) yang ramah lingkungan mulai diupayakan dan mulai pula mencapai keberhasilan.

Sebenarnya, secara tradisi, kita memiliki sejumlah kearifan lokal bangsa kita, yang ternyata mengajarkan kita untuk menjaga dan merawat ekologi dan lingkungan bagi keberlangsungannya di masa depan bagi generasi mendatang. Sebagai contohnya adalah “tabu” bagi masyarakat Irian Jaya (sebelum banyak pendatang yang tinggal di negeri itu) untuk membuang air (kencing) dan membuang sampah di sungai, karena menurut mereka sungai adalah tempat mandi Dewi Sereregade, sebuah kearifan lokal-ekologis yang tak jauh berbeda dengan masyarakat Baduy Banten. Alam dan bumi ini, seperti ditegaskan Mahatma Gandhi, dapat mencukupi kebutuhan ummat manusia, namun tidak mencukupi untuk memenuhi kerakusan manusia.

Sebagai penutup, dan sebelum mengakhiri tulisan ini, ada suatu ilustrasi menarik tentang akhlaq Nabi Muhammad saw sebagaimana dicatat para sejarawan dan para pencatat hadits, bahwa: Diriwayatkan suatu ketika Nabi Muhammad Saw bepergian bersama para sahabat, termasuk Ibnu Mas’ud (yang juga meriwayatkan riwayat teladan ini). Dalam perjalanan itu sahabat-sahabat Nabi melihat seekor burung yang memiliki dua anak, lalu sahabat tersebut mengambil kedua anaknya, kemudian datanglah induknya terbang di atas mereka. Ketika menyaksikan hal itu Nabi saw bersabda, “Siapakah yang menyusahkan burung ini dengan mengambil anaknya? Kembalikan kepadanya anaknya”.

Sulaiman Djaya