Konservasi Tradisional

Amanat Buyut Baduy Banten

Menurut beberapa ahli yang mengamati hubungan antara masyarakat lokal dengan sumber daya alam –khususnya hutan di sekitarnya, bahwa “kearifan lokal” identik dengan pengetahuan tradisional. Kearifan tradisional merupakan pengetahuan kebudayaan yang dimiliki oleh suatu masyarakat tertentu yang mencakup pengetahuan yang berkenaan dengan model-model pengelolaan sumber daya alam secara lestari. Pengetahuan yang dimaksud itu merupakan citra lingkungan tradisional yang didasarkan pada sistem religi (kepercayaan dan keagamaan) dan memandang manusia adalah bagian dari alam lingkungan itu sendiri (kosmik kepercayaan, nilai, dan sistem pengetahuan masyarakat bersangkutan), dimana, sebagai contohnya, terdapat roh-roh yang bertugas menjaga keseimbangannya. Oleh karenanya, untuk menghindari bencana atau malapetaka yang bisa mengancam kehidupannya, manusia (dalam kepercayaan atau kearifan lokal-tradisional) itu, wajib menjaga hubungan dengan alam semesta, termasuk dalam pemanfaatannya yang harus bijaksana dan bertanggung jawab.

Praktek konservasi tradisional tentu saja tidak dapat dilepaskan dari sistem pengetahuan masyarakat lokal, sebagaimana telah disebutkan, karena berdasarkan pengetahuan itulah masyarakat mempraktekkan aspek-aspek konservasi yang khas di daerahnya. Dengan demikian, konservasi tradisional meliputi semua upaya pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat tradisional, baik secara langsung maupun tidak langsung –dalam mempraktekkan kaidah-kaidah konservasi berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam guna kelestarian pemanfaatannya. Praktek-praktek tersebut umumnya merupakan warisan dari nenek moyang (karuhun atau leluhur) mereka, dan bersumber dari pengalaman hidup yang selaras dengan alam, semisal dalam masyarakat Kanekes (Baduy, Banten), di mana praktek-praktek pengelolaan sumber daya alam oleh masyarakat tradisional tersebut memperhatikan prinsip-prinsip kelestarian, yang kemudian oleh dikenal dan dinamakan sebagai kearifan tradisional.

Beberapa contoh dari bentuk-bentuk kearifan lokal yang terkait dengan pemanfaatan sumber daya hutan secara lestari antara lain: [1] Kepercayaan dan/atau pantangan, misalnya (a) manusia berkaitan erat dengan unsur (tumbuhan, binatang dan faktor non-hayati lainnya) dalam proses alam, sehingga harus memelihara keseimbangan lingkungan, (b) pantangan untuk menebang pohon buah atau pohon penghasil madu yang masih produktif, binatang yang sedang bunting (hamil atau mengandung), atau memotong rotan terlalu rendah. [2] Etika dan aturan, yang contohnya (a) menebang pohon hanya sesuai dengan kebutuhan dan wajib melakukan penanaman kembali, (b) tidak boleh menangkap ikan dengan meracuni (tuba) dan/atau menggunakan bom, (c) mengutamakan berburu binatang-binatang yang menjadi hama ladang.

Selanjutnya, teknik dan teknologi, yang contohnya (a) membuat sekat bakar dan memperhatikan arah angin pada saat berladang agar api tidak menjalar dan/atau menghanguskan kebun atau tanaman pertanian lainnya, (b) menentukan kesuburan tanah dengan menancapkan bambu atau parang (untuk melihat kekeringan tanah), warna tanah, diameter pohon dan warna tumbuhannya. (c) membuat berbagai perlengkapan/alat rumah tangga, pertanian, berburu binatang dari bagian-bagian kayu/bambu/rotan/getah/zat warna, dan lain-lain. Praktek dan tradisi pengelolaan hutan atau lahan, yang contohnya (a) menetapkan sebagian areal hutan sebagai hutan lindung untuk kepentingan bersama, (b) melakukan koleksi berbagai jenis tanaman hutan berharga pada lahan-lahan perladangan dan pemukiman, (c) mengembangkan dan/atau membudidayakan jenis tanaman atau hasil hutan yang berharga.

Bagi kita saat ini, mempelajari kearifan lokal, tentu saja, tidak berarti mengajak kita kembali pada periode zaman batu. Akan tetapi hal itu justru penting tidak saja dalam memahami bagaimana masyarakat lokal memperlakukan sumber daya alam di sekitarnya juga memanfaatkan berbagai hal positif yang terkandung di dalamnya bagi kepentingan generasi mendatang. Konservasi tradisional merupakan aturan-aturan yang berjalan dan berlaku di dalam masyarakat pedesaan secara tradisional mengenai pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungannya untuk tetap menjaga keberlanjutan nilai kualitas lingkungan dan sumber daya alam. Pada masyarakat tradisional (pedesaan atau masyarakat adat) biasanya terdapat aturan-aturan tertentu yang dapat mencegah dan melindungi penggunaan sumber daya alam yang tak beraturan.

Iklan

Alam dan Tuhan di Mata Ibnu Sina

Alam Sebagai Terapi Terbaik

Radar Banten, 26 Agustus 2014

“Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya. Barangsiapa mengatakan “dalam apa Ia berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa Ia bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa Ia berada” maka ia beranggapan bahwa Ia tidak berada di atas sesuatu lainnya. Ia Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Ia ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. Ia bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. Ia berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Ia berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. Ia melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. Ia hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya Ia mungkin bersekutu atau yang mungkin Ia akan kehilangan karena ketiadaannya” (Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah. Lihat Khutbah Pertama dalam Nahjul Balaghah)

Tuhan dan Alam

Membahas tentang Tuhan dalam pemikiran filosof muslim berarti membahas tentang metafisika, yang dalam hal ini Ibnu Sina memandang metafisika merupakan pengetahuan tentang segala yang ada sebagai “adanya” dan sejauh yang dapat diketahui manusia. Berkaitan dengan metafisika inilah Ibnu Sina membicarakan sifat wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain. Esensi, dalam paham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah), Ibnu Sina berargumentasi dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, yang mengingatkan kita kepada filsafatnya Al-Farabi, yang bahkan terkesan tidak ada tambahan sama sekali. Berikut penjelasannya.

Wajib al-wujud, yaitu esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya. Lebih jauh Ibnu Sina membagi Wajib al-Wujud ke dalam dua pembagian, yaitu: 1) Wajib al-wujud bi dzatihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan olah zatnya sendiri. Dalam hal ini esensi itu tidak bisa diceraikan dengan wujud, karena keduanya adalah satu dan wujudnya tidak didahului oleh ketiadaan (ma’dum), ia akan tetap ada selamanya. Wajib bi dzatihi ini biasanya disebut oleh Ibnu Sina dengan Al-Wajib saja, yaitu Allah Yang Maha Esa, Yang Hak dan ia adalah Aqlul-Mahdh (akal murni) yang tidak berkaitan denan materi apa pun. 2) Wajib al-wujud bi ghairihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan oleh yang lain. Misalnya: Adanya basah disebabkan oleh adanya air, kebakaran disebabkan oleh api, adanya 7 karena ada 5+2 atau 6+1, atau 2+5, dan sebagainya.

Tentang sifat-sifat Allah, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina pun menyucikan Allah dari segala sifat yang dikaitkan dengan esensinya, karena Allah Maha Esa dan Maha Sempurna. Ia adalah tunggal, tidak terdiri dari bagian-bagian. Jika sifat Allah dipisahkan dari zatnya, tentu akan membawa zat Allah menjadi pluralitas (ta’addud al-qudama’).

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal di alam dan ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimaksudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial di alam ini secara tidak langsung, yakni melalui zatnya sebagai sebab adanya alam. Dengan istilah lain, pengetahuan Allah tentang yang parsial melalui sebab akibatyang terakhir kepada sebab pertama, yakni zat Allah. Dari pendapatnya ini Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah yang maha sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia. Meski, dalam soal ini, pandangan Ibn Sina memancing kritik dan kontroversi dari ummat Islam atau dari para pemikir Islam lainnya yang mempercayai pengetahuan Allah mencakup yang parsial (furu’) juga yang global (ijmal).

Sebagai perbandingan, barangkali kita juga perlu menyimak pandangan filsuf muslim kontemporer, yang dalam hal ini teosofi-nya Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari: “Dalam hubungannya dengan konsepsi Ilahiah tentang dunia, dalam ilmu ketuhanan dibahas beberapa masalah tentang hubungan antara Allah dan dunia, seperti apakah dunia ini, sementara atau abadi, dari manakah asal segala sesuatu yang ada ini. Juga dibahas masalah-masalah lain seperti itu. Namun, kalau melihat keseimbangan segenap eksistensi, maka dapat dikatakan di sini bahwa masalah-masalah kearifan dan keadilan ilahi saling berkaitan erat. Kalau merujuk kepada masalah keadilan Ilahi, maka dapat dikatakan bahwa sistem dunia yang ada ini merupakan sistem yang paling arif dan adil. Dasar sistem ini bukan saja pengetahuan, kesadaran dan kehendak. Sistem ini juga merupakan sistem yang paling baik dan sehat. Tak mungkin ada sistem lain yang lebih baik daripada sistem ini. Dunia yang ada ini merupakan yang paling sempurna” (Lihat Ayatullah Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, Mizan 2009).

Filsafat Ibn Sina Tentang Manusia

Terdapat tiga objek kajian yang dibahas Ibnu Sina menyangkut manusia, yaitu: wujud manusia, jiwa manusia, akal pada manusia dan ruh manusia. Dalam menjelaskan tentang wujud manusia ini Ibnu Sina menggunakan Filsafat Wujudiah-nya untuk menjelaskan dari mana wujud manusia itu ada, yaitu pada teori Mumkin al-Wujud, yang penjelasannya adalah: Mumkin al-Wujud adalah Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan kata lain, jika ia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka ia tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada.

Selanjutnya, dalam menjelaskan tentang awal mula proses muculnya ruh, maka kita akan melihat pada teori emanasi Ibnu Sina, di mana proses munculnya ruh diawali dengan adanya Akal X yang dayanya sudah sangat lemah berpikir tentang Allah sebagai Wajib wujud li dzatihi menghasilkan pemikiran ke 10 yang berpikir tentang Wajib wujud li ghairihi menghasilkan jiwa ke 10 dan berpikirnya tentang dirinya sendiri sebagai Mumkinul wujud li dzatihi menghasilkan berbagi unsur dasar dari bumi dan juga ruh manusia. Dan jiwa ke 10 itulah yang menggerakkan roh. Menurut Ibnu Sina jika manusia telah meninggal maka hanya raganya saja yang tidak aktif, tetapi rohnya akan tetap hidup, dan roh yang abadi itu akan mengalami sikasa dan kesenangan. Pandangannya soal ini juga tak luput dari kritik dan kontroversi secara teologis dan filosofis.

Alam Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina, yang lagi-lagi sebagaimana juga al Farabi, menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana terjadinya yang banyak yang bersifat materi (alam) dari Yang Esa, jauh dari arti banyak, jauh dari materi, Mahasempurna, dan tidak berkehendak apapun (Allah). Untuk memecahkan masalah ini, ia juga mengemukakan penciptaan secara emanasi. Soal kerumitan ini kemudian akan dijelaskan dalam tasawuf filsafatnya Ibn Arabi, tentang tajalliyat. Namun di sini penting dikatakan bahwa filsafat emanasi ini bukan renungan Ibnu Sina atau juga al- Farabi, tetapi berasal dari “ramuan Plotinus” yang menyatakan bahwa alam ini pancaran dari Yang Esa (The One). Kemudian, filsafat Plotinus yang berprinsip bahwa dari hanya yang satu yang melimpah. Filsafat Plotinus ini kemudian diaktualisasikan oleh Ibnu Sina dan juga Al- Farabi, bahwa Allah menciptakan alam secara emanasi. Dengan demikian, walaupun prinsip Ibnu Sina dan Plotinus sama, namun hasil dan tujuannya berbeda. Oleh karena itu, dapat dikatakan Yang Esa-nya Plotinus sebagai penyebab yang pasif bergeser menjadi Allah pencipta yang aktif dalam filsafat Ibn Sina dan al Farabi. Ia menciptakan alam dari materi yang sudah ada secara pancaran.

Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah (bukan dari tiada) sebagai akal langsung memikirkan terhadap zatnya yang menjadi objek pemikirannya, maka memancarlah akal pertama. Dari akal pertama ini memancarlah Akal kedua, Jiwa pertama dan langit pertama. Demikianlah seterusnya sampai akal kesepuluh yang sudah lemah dayanya dan tida dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan Jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar keempat unsur pokok: air, udara, api, dan tanah. Hanya saja, berbeda dengan Al-Farabi, bagi Ibnu Sina Akal pertama mempunyai dua sifat: Sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mumkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya. Dengan demikian, Ibnu Sina membagi objek pemikiran akal-akal menjadi tiga: Allah (Wajib al-wujud li-zatihi), dirinya akal-akal (wajib al-wujud li ghairihi) sebagai pancaran dari Allah, dan dirinya akal-akal (mumkin al-wujud) ditinjau dari hakikatnya.

Selanjutnya adalah akal-akal dan planet-planet dalam emanasi dipancarkan Allah secara hierarkis. Keadaan ini bisa terjadi karena ta’aqul Allah tentang zat-Nya sebagai sumber energi yang maha dahsyat. Ta’aqqul Allah tentang zatnya adalah ilmu Allah tentang dirinya dan ilmu itu adalah daya (al-qudrat) yang mencitakan segalanya. Agar sesuatu itu tercipta, cukup sesuatu itu diketahui Allah. Dari hasil ta’aqqul Allah terhadap zat-nya (energi) itulah diantaranya menjadi akal-akal, jiwa-jiwa, dan yang lainnya memadat menjadi planet-planet. Dan berbeda dengan pendahulunya, yaitu Al-Farabi, bagi Ibnu Sina masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak langsung menggerakkan planet yang bersifat materi. Akal-akal adalah para malaikat, Akal pertama adalah Malaikat Tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi dan isinya.

Namun, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi ini untuk mentauhidkan Allah semutlak-mutlaknya. Oleh karena itu, Allah tidak bisa menciptakan alam yang banyak jumlah unsurnya ini secara langsung. Jika Allah berhubungan langsung dengan alam yang plural ini tentu dalam pemikiran Allah terdapat hal yang plural. Hal ini merusak citra tauhid. Seperti telah disebutkan bahwa perbedaan yang mendasar antara Plotinus dengan Ibnu Sina (juga al-Farabi) ialah: bagi Plotinus alam ini hanya terpancar dari yang satu (Tuhan), yang mengesankan Allah tidak pencipta dan tidak aktif. Hal ini ditangkap dari metafora yang ia gunakan bagaikan mentari memancarkan sinarnya. Sementara itu, dalam Islam, emanasi ini dalam rangka menjelaskan cara Allah menciptakan alam. Karena alam adalah ciptaan Allah, dalam agama Islam termasuk ajaran pokok atau qath’i al-dalalah. Dengan kata lain, kekhalikan Allah ini mesti diimani sepenuhnya. Orang yang mengingkari dapat membawa pada kekafiran. Atas dasar itulah, maka ibarat mentari dengan sinarnya merupakan ibarat yang menyesatkan.

Sejalan dengan filsafat emanasi inilah, alam ini qadim karena diciptakan oleh Allah sejak zaman Azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antaraqadimnya Allah dan alam. Perbedaan tersebut terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadan alam tidak didahului oleh zaman, maka alam qadim dari segi zaman. Adapun dari segi esensi, sebagai hasil ciptaanAllah secara pancaran, alam ini baru. Sementara itu, Allah adalah taqaddum zaty. Ia sebab semua yang ada dan Ia pencipta alam. Akhir kata, meski tak luput dari protes dan kontroversi, filsafat Ibn Sina adalah jejak dan warisan yang sangat berharga bagi kita dari sebuah jaman ketika dunia Islam berusaha melakukan rasionalisasi teologis, sekaligus berikhtiar dalam kecimpung filosofis agar agama “tidak mati” dalam roda sejarah dan laju peradaban ummat manusia.

Sulaiman Djaya

Ibn Haitham Sang Pioneer

Ibn al Haythams Studies of the Eye Gave the First Modern Understanding of Lens Retina and Optic Nerve as Well as The Mechanics of Vision and Perception

Radar Banten, 24 Juli 2014

Saat itu, di sebuah penjara, seorang lelaki paruh baya bertingkahlaku laiknya orang gila, tertawa, berteriak-teriak, atau menangis sendiri. Di hari lain, ia pun akan bertingkahlaku tak keruan, laiknya orang yang teramat begitu girang atau seperti seseorang yang tengah kesurupan. Sejak saat itu pula, sipir penjara percaya lelaki itu memang benar-benar gila seperti yang dikatakan beberapa orang. Lelaki paruh baya itu tak lain adalah Ibnu Haitham, yang biasa disebut atau dipanggil Al Hazen oleh orang-orang Barat, sang pioneer ilmu optik dan teori cahaya.

Revolusi Sains dari Sel Penjara

Dan suatu hari, ia begitu serius dan tekun mengamati seberkas sinar yang menerobos ke ruang selnya lewat sebuah lubang dinding di penjara itu. Cahaya yang tengah diamatinya itu memang membentuk berkas sinar bersama molekul-molekul debu yang mengembang. Cahaya yang tekun dan serius diamatinya itu memang membentuk kerucut yang menempel di tembok yang berhadapan dengan lubang dinding sebagai jalan merembesnya cahaya dari luar. Dan yang membuat cahaya itu menjadi istimewa bagi sang filsuf yang tengah mendekam di penjara itu tak lain karena cahaya itu tampak semakin meluas hingga membentuk lingkaran yang menempel di tembok. Pada moment lainnya, lubang yang memindahkan sinar kerucut itu juga memindahkan semua yang melintas di jalanan menjadi bayangan yang terbalik.

Tak ayal lagi, ia pun berteriak girang: “Aku telah menemukannya! Aku telah menemukannya!” Tetapi tentu saja para sipir dan orang-orang lain di penjara itu hanya menganggap dirinya sebagai orang gila. Meski teriakan lelaki paruh baya yang bernama Ibnu Haitham itu adalah teriakan yang akan dikenal sebagai revolusi sains di dunia: teori optik dan cahaya yang telah mementahkan teori-nya Euclid dan Ptolomeus.

Sejak saat itulah, lelaki yang kelak populer di Barat dengan nama Al Hazen itu secara rutin mengamati dan merenungkan fenomena cahaya yang senantiasa singgah di ruang sel dan dinding penjaranya itu. Seakan-akan keberadaan dirinya sendiri di sel tersebut memang merupakan takdir dan kehendak Tuhan. Dengan disiplin matematika dan fisika yang telah ia kuasai dengan sangat baik sebelum ia dipenjara itu, ia selalu mencatat setiap detil yang nantinya akan menguatkan argumen dan dalil teoritik temuannya tersebut.

Demikianlah, di kemudian hari, dengan temuan dan teorinya yang ia temukan dan ia matangkan di dalam sel tahanan itu, ia mampu menjelaskan secara tepat tentang bagaimana mata dapat melihat, sebuah temuan dan teori optik yang saat ini kita kenal. Teori dan temuan lelaki paruh baya di dalam sel tahanannya yang kemudian di Barat dikenal dengan sebutan Al Hazen itu menyatakan bahwa kita dapat melihat karena pantulan sinar benda, membantah teori Euclid dan Ptolomeus yang menyatakan bahwa suatu objek atau benda dapat dilihat oleh mata karena mata mengirim sinarnya ke sebuah benda atau objek.

Berbeda dengan Euclid dan Ptolomeus, Ibnu Haitham menyatakan bahwa kemampuan mata dapat melihat sesuatu atau objek di luarnya karena cahaya yang dipantulkan objek atau benda tersebut diproyeksikan pada kornea mata dan lalu diteruskan sampai retina dalam keadaan terbalik. Gambar yang terbalik itu kemudian ditangkap oleh sel-sel syaraf retina mata dan dikirim ke otak. Demikianlah, dalam teori optik Al Hazen atau Ibnu Haitham, gambar terbalik tersebut diproses oleh otak hingga tegak kembali seperti adanya. Dan itulah proses penglihatan oleh mata kita. Singkatnya, revolusi sains dan fisika ditemukan oleh seorang lelaki paruh baya di dalam sebuah sel tahanan, saat para sipir dan sesama tahanan lainnya menganggap ia gila.

Arsitek dan Ilmuwan Bersahaja

Meski dikenal hanya dengan sebutan Ibnu Haitham dan Al Hazen, nama lengkap lelaki paruh baya yang tetap menjadi ilmuwan di penjara itu adalah Abu Ali al Hasan Bin al Hasan Bin al Haitham Bin al Bashri al Mishri. Seorang lelaki yang lahir di Bashra, Irak, pada tahun 965 Masehi. Namun tak banyak yang tahu, sejak mudanya hingga masa-masa selanjutnya, ia adalah juga seorang arsitek ulung, hingga membuat kagum sang walikota Bashra ketika itu, yang memang berniat membangun sebuah istana megah. Saat itulah, ia tak hanya ditunjuk oleh sang walikota sebagai arsiteknya, tapi juga sebagai pimpinan proyeknya.

Menanggapi keinginan sang walikota itu, ia berkata terus-terang: “Tuan walikota, saya hanya seorang arsitek yang tugasnya hanya membuat design. Sementara untuk menangani bangunannya secara keseluruhan adalah tugas kontraktor dan pemborong.” Tapi entah kenapa, mendengar jawaban Ibnu Haitham itu, sang walikota Bashra yang dikenal arogan itu tersinggung dan menganggap Ibnu Haitham sang ilmuwan yang jujur dan bersahaja itu sebagai ilmuwan dan arsitek yang angkuh dan sombong. Karena kejadian itu, ia merasa tak nyaman hidup di Bashra, dan lalu ia pun pindah ke Baghdad ditemani dua asistenya: Raihan dan Adnan. Di kota itu ia bekerja sebagai pembuat bibliografi atau mencatat kode-kode buku untuk perpusatakaan. Tak cuma itu saja, di kota Baghdad itu ia pun menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab.

Hanya saja, setelah ia tahu bahwa mata-mata walikota Bashra terus menguntitnya, ia pun hijrah ke Syam (Damaskus). Adalah sebuah kebetulan yang membuatnya gembira bukan kepalang, walikota Syam sangat menggandrungi ilmu pengetahuan, dan segera mengagumi kemahiran Ibnu Haitham, hingga sang walikota itu akan segera membaca setiap buku yang baru selesai ditulis oleh Ibnu Haitham, dan setelah itu menyimpannya di perpustakaan pribadinya. Namun ketika sang walikota itu menggajinya terlalu besar, Ibnu Haitham tak segan-segan mengembalikannya kepada sang walikota. “Biarlah saya mengambil empat dinar saja, tuan walikota.” Demikian suatu ketika Ibnu Haitham mengembalikan uang dari sang walikota yang baginya terlalu besar yang menurutnya dapat mengalihkan kecintaannya pada sains, kali ini dengan ucapan dan cara yang lebih diplomatis, belajar dari kesalahannya di Bashra yang membuat walikota di kota yang ia tinggalkan itu marah kepadanya.

Penemu Bendungan

Sejak tinggal di Syam itulah, namanya sebagai seorang ahli dan seorang ilmuwan mulai menyebar ke negeri-negeri lain, hingga khalifah Mesir ketika itu, al Hakim Bin Amrillah, meminta dan mengundangnya untuk mengatasi bencana yang acapkali menimpa Mesir, terutama bencana akibat musim hujan dan kemarau, di mana saat banjir banyak yang tergusur karena bah, sementara kemarau seringkali membuat Mesir tertimpa kekeringan dan kelaparan.

Menerima undangan dan permintaan pengusa Mesir itu, ia dengan tekun dan serius mempelajari peta geografis dan topografis Mesir selama berhari-hari. Dan setelah itu, sebuah kesimpulan yang tepat dan genuine telah ia dapatkan: Mesir membuang secara sia-sia anugerah air saat musim hujan yang akan berguna sewaktu musim kemarau. “Bendungan! Itulah jalan keluarnya!” Teriaknya girang. Setelah itulah, gagasan dan konstruksi bendungan menjadi dikenal luas dan dipraktekkan di wilayah-wilayah yang ada dalam administrasi dan kekuasaan pemerintahan kekhalifahan Islam, termasuk di Peninsula Iberica atau yang kini kita kenal dengan Spanyol dan sekitarnya itu.

Sulaiman Djaya

Tuhan, Sains, dan al Qur’an

Imam Ali Bin Abi Thalib as

Radar Banten, 22 Agustus 2014

Siapa sangka, banyak ayat-ayat al Qur’an yang ternyata dibenarkan oleh sains, yang tak ragu lagi, telah mengakhiri era “permusuhan” antara Sains dan Agama, atau antara Sains dan Wahyu, contohnya ayat Al Qur’an dalam Surah Al Anbiya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya” (Al Qur’an Surah Al-Anbiya: 30). Kita juga sudah maphum bahwa ada ayat-ayat suci yang diwahyukan, yaitu al Qur’an, dan ada ayat-ayat kauniyah (wujud alam semesta dan hidup kita sendiri) yang menjadi ayat atau tanda alias dalil dan hujjah yang dapat kita pikirkan, kita jadikan tamsil dan ibrah. Sebagaimana dapat kita komparasikan dalam khazanah tafsir dan linguistic, kata “kaafir” dalam ayat al Qur’an itu juga bermakna sebuah penyebutan bagi orang-orang yang “tertutup”.

Berakhirnya Pertentangan

Dan memang, ada suatu zaman ketika sains menjadi musuh keyakinan agama –dan zaman itu sayangnya sudah berlalu! Fisika dan kosmologi modern (sains mengenai awal-mula dan perkembangan alam semesta) kini menyediakan bukti objektif kuat tentang eksistensi Tuhan, mengkonfirmasikan atribut utama Tuhan, dan menunjukkan bagaimana Tuhan menciptakan eksistensi fisik dari ‘kenihilan/ketiadaan’. Pengetahuan ini berasal dari analisis kritis atas teori ‘Big Bang’, Teori Relativitas Khusus Einstein, dan penelitian yang tengah dilakukan dalam Fisika Quantum. Konsep dibalik pengetahuan ilmiah esoterik ini sekarang dapat disampaikan sedemikian rupa, sehingga dipahami setiap orang yang berpendidikan modern.

Berdasarkan itu, pertama, kita sekarang tahu berdasarkan teori-teori kosmologi yang diterima luas bahwa alam semesta fisik yang kita lihat hari ini diciptakan dari ketiadaan (artinya tanpa waktu, tanpa ruang, dan tanpa materi). Kedua, kita juga tahu bahwa permulaan penciptaan alam semesta terjadi melalui cahaya yang menjelma pada singularitas (satu titik tanpa dimensi). Ketiga, kita tahu bahwa materi alam semesta fisik dilahirkan oleh photon-photon (paket-paket kecil energi cahaya) yang ketika bertubrukan satu sama lain membentuk proton, neutron, dan elektron dalam jumlah tak terhingga, yang dalam beragam kombinasi menyusun segala sesuatu di dunia fisik kita. Keempat, pada esensinya kita sekarang bisa mengatakan secara tepat bahwa semua materi alam semesta fisik, termasuk diri kita, sebenarnya adalah cahaya yang melambat.

Kelima, kita jadi tahu bahwa ruang yang memuat alam semesta fisik kita sedang mengembang/meluas. Konsep ini begitu asing bagi pikiran manusia, hingga sebelum Albert Einstein mengembangkan Teori Relativitas Umum-nya di awal abad 20, tak pernah terpikir oleh pemikir-pemikir besar dunia, namun telah dinyatakan dalam Al-Quran lebih dari 1400 tahun lalu saat Allah mengatakan pada kita, “Aku memperluas alam semesta dengan kekuasaan-Ku.” Bahkan Einstein begitu terheran oleh temuannya sendiri sehingga dia memalsukan datanya untuk menunjukkan alam semesta yang tidak mengembang, karena dia cukup paham bahwa alam semesta yang mengembang mengimplikasikan suatu momen penciptaan alam semesta di masa sangat lampau. Belakangan Einstein dikabarkan memeluk Islam Syi’ah sebelum akhir hayatnya setelah berkorespondensi dengan ‘Ulama Syi’ah Islam dan membaca ihwal Isra Mi’raj Nabi Muhammad dan menelaah perkataan-perkataan intelektualnya Imam Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Keenam, Teori Relativitas Khusus Einstein (yang sebenarnya dia sebut sebagai Teorema Absolutisme, sebab dia menyadari dirinya telah menemukan satu hal yang absolut di alam semesta relatif) adalah tentang sifat-sifat istimewa cahaya. Ketujuh, Teori Relativitas Khusus memungkinkan pandangan objektif pertama kita mengenai sesuatu yang eksis di luar dunia materil. Dengan demikian, kita boleh jadi telah menemukan sesuatu saat kita memperoleh pandangan pertama kita di luar dunia materil, tapi yang kita temukan sungguh luar biasa. Kita ketahui Teori Relativitas Khusus Einstein menunjukkan kepada kita bahwa eksistensi non-materil di luar dunia fisik hanya terdiri dari absolut-absolut, dan beberapa dari absolut itu luar biasa mirip dengan pandangan setiap agama sebagai atribut-atribut utama Tuhan.

Untuk dapat menerangkan dan menjelaskannya kepada kita semua, ada baiknya kita paparkan sejumlah contoh berikut. Contoh Satu: Ketika kecepatan cahaya (300.000 km/detik) tercapai, maka waktu melambat, dan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Artinya, bagi photon cahaya yang berjalan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Oleh sebab itu, photon berada di luar waktu, dan “kekal”. Contoh Dua: Karena waktu tidak berlalu bagi photon cahaya, dan bahwa photon bisa diamati di berbagai tempat di ruang, maka photon cahaya berada di tempat berbeda-beda tersebut secara serempak pada saat yang sama, dan oleh sebab itu “ada di mana-mana”. Contoh Tiga: Karena setiap bit materi di alam semesta fisik terlahir oleh energi cahaya, dan bahwa energi cahaya secara konstan menopang dan mengarahkan aktivitas setiap bit materi dalam eksistensi fisik, maka tak ada kekuatan selain kekuatan cahaya, energi cahaya adalah satu-satunya kekuatan yang eksis, dan oleh sebab itu “mahakuasa”. Contoh Empat: Karena semua pengetahuan yang eksis, yang pernah eksis, atau yang akan eksis, disimpan oleh energi cahaya dan ditransmisikan melalui energi cahaya, maka tak ada pengetahuan selain yang terkandung pada cahaya, dan oleh sebab itu “mahatahu”.

Cahaya dan Wujud Fisik

Selain itu, dan ini penting direnungkan dan dipahami oleh kita, cahaya sebetulnya tidak eksis dalam eksistensi fisik walaupun kita dapat melihatnya. Begitu Anda mendekati kecepatan cahaya, salah satu dari tiga dimensi (panjang, tinggi, atau tebal), yang sejajar dengan arah gerakan, secara progresif menjadi berkurang, dan pada kecepatan cahaya, dimensi tersebut menjadi nol. Untuk menentukan volume, kita mengalikan tinggi x lebar x panjang, tapi bila salah satu dari tiga dimensi itu bernilai nol, maka volume pun nol, dan berarti tidak eksis di alam semesta materil. Cahaya tidak menempati volume ruang dan oleh sebab itu tidak eksis di alam semesta fisik. Dan, meski segala sesuatu di alam semesta fisik memiliki massa lebih besar dari nol, yang menjadi ciri khas eksistensi di dunia materil, cahaya tidak punya massa sama sekali. Ketika Anda mendekati kecepatan cahaya, massa bertambah; pada kecepatan cahaya, massa adalah tak terhingga. Tak peduli sekecil apapun jumlah massa saat Anda memulai, massa tersebut bertambah menjadi tak terhingga pada kecepatan cahaya. Karena photon berjalan pada kecepatan cahaya dan tidak mencapai massa tak terhingga, artinya ia punya massa nol saat memulai, dan oleh sebab itu cahaya sebetulnya tidak eksis di dunia materil.

Dalam eksistensi fisik, segala sesuatu adalah relatif; eksistensi absolut atau non-eksistensi dari kualitas tertentu tidak dan tidak bisa diekspresikan, segala sesuatu eksis di antara dua ekstrim continuum tersebut dari ekspresi absolut ke non-ekspresi absolut. Meskipun demikian, kita menemukan bahwa di luar eksistensi materil, semua kualitas eksis dalam status tak terhingga atau tidak eksis sama sekali, tidak ada yang di antaranya. Nilai penting dari temuan ini adalah bahwa semua itu merobohkan pendapat bahwa alam semesta fisik eksis sebagai sejumlah partikel material tetap yang digerak-gerakkan oleh satu set hukum fisik tetap. Pemahaman keliru atas eksistensi fisik inilah yang membentuk dasar filsafat materialisme ilmiah. Filsafat materialisme-lah, terutama materialisme sekuler, yang membolehkan keyakinan kepada Tuhan ditantang kuat oleh kaum atheis (kafir) dalam beberapa ratus tahun belakangan, kurang lebih sejak masa Sir Isaac Newton.

Tidak lagi mungkin secara intelektual ataupun masuk akal secara logika, dipandang dari sudut temuan fisika dan kosmologi modern, untuk mempertahankan pandangan atheis (bahwa Tuhan itu tidak ada). Satu-satunya kesimpulan yang masuk akal secara logika dan jujur secara intelektual yang dapat ditarik dari temuan sains modern adalah bahwa Tuhan memang ada, bahwa atribut-atribut Tuhan adalah absolut, dan bahwa Tuhan memang menciptakan alam semesta fisik (termasuk kehidupan manusia). Kita kini berada di awal titik transisi dari pandangan materialistik sekuler menuju pandangan spiritual berpusatkan Tuhan dan kerendahan hati sebagai manusia, entah sebagai agamawan atau ilmuwan.

Sains dan Mistik

Sebagai tambahan, ada hal menarik yang ternyata memberi kita perspektif baru yang segar yang dipaparkan Peter Russell, sang ilmuwan dan matematikawan, yang dalam pengakuannya itu menyatakan inspirasi sainsnya justru ketika berkenalan dengan tasawuf. Peter Russel menulis bahwa puisi-puisi dan renungan para sufi ternyata mengajak kita untuk merenungi ayat-ayat kauniyah dan diri kita sendiri, seperti ketika Peter Russell menyitir kata-katanya Ibn Arabi, “Jika engkau mengenali diri engkau sendiri, engkau akan mengetahui Tuhan”. Menurutnya, renungan dan refleksi puitik Ibn Arabi itu mengajak kita untuk memikirkan dan merenungi diri kita sendiri sekaligus semesta dan hidup di sekeliling kita.

Dan sebagai penutup, tak ada salahnya kita merenungkan ilustrasi berikut, ‘Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak pernah berdiskusi tentang agama, ahli bedah itu seorang Kristen dan seorang astronot tersebut adalah orang yang tidak beragama. Sang astronot pun berkata: “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu sang ahli bedah otak pun berkata: “Dan aku mengoperasi banyak otak cemerlang, namun aku tidak pernah menemukan satu pikiran pun.” Dari perkataan sang ahli bedah otak itu menunjukkan bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya, meski tak pernah sekali pun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri, pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi, maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita? Tidak ada tentunya. Begitu juga dengan perkataan sang astronot itu tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa, pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan’.

Setidak-tidaknya, ilustrasi di atas sesuai dengan bunyi ayat al Qur’an, “Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, Yaa Tuhanku, tampakkanlah kepadaku agar aku melihat kepada Engkau, Tuhan berfirman, kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNya gunung itu hancur luluh dan Musa-pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (al Qur’an Surah al A’raaf: 143).

Sulaiman Djaya

Studi Ekologi Mesir Kuno

ecology

Temuan gambar hewan pada sebuah artefak Mesir kuno menjelaskan beberapa catatan sistem ekologi mamalia besar yang pernah hidup di Lembah Nil selama kurang lebih 6000 tahun terakhir. Teks ini menunjukkan bahwa kepunahan spesies mungkin disebabkan iklim kering dan perkembangan populasi manusia diwilayah tersebut dan telah membuat ekosistem semakin kurang stabil.

Hasil penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) edisi 8 September 2014. Ilmuwan yang terlibat menemukan adanya kepunahan spesies mamalia lokal yang menyebabkan penurunan populasi dan stabilitas hewan di Lembah Nil. Justin Yeakel, mahasiswa pascasarjana di University of California, Santa Cruz, menjelaskan adanya berbagai spesies yang hidup ditengah-tengah masyarakat, hilangnya salah satu spesies pada waktu itu berdampak kecil terhadap fungsi sistem ekologi, tetapi saat ini dampaknya meningkat dan jauh lebih sensitif.

Perubahan Sistem Ekologi Lembah Nil Mesir Kuno

Analisis ini sudah dimulai sejak tahun 2010, saat itu ketika Yeakel mengunjungi pameran Tutankhamun di San Francisco bersama Nathaniel Dominy, seorang profesor antropologi di UC Santa Cruz dan Dartmouth. Mereka menyadari adanya infromasi penting yan tertulis dalam artefak kuno dan berusaha mengupas isi teks untuk memprediksi perubahan sistem ekologi Mesir kuno, khususnya sekitar lembah sungai Nil. Paul Koch seorang ahli paleontologi yang ikut dalam tim penelitian ini, dia merumuskan pendekatan teori untuk melihat konsekuensi ekologis dari perubahan spesies. Tim ilmuwan juga melakukan analisis komputasi dinamika jaringan predator Mesir kuno.

Sekitar 6000 tahun lalu, 37 spesies mamalia berbadan besar diperkirakan hidup di Mesir tetapi hari ini hanya 8 spesies yang tersisa. Diantara spesies yang tertulis dalam teks kuno Periode Predinastik Akhir (sebelum 3100 SM) saat ini tidak lagi ditemukan di Mesir, termasuk singa, anjing liar, gajah, kijang, dan jerapah.

Menurut Yeakel, komunitas mamalia sebelumnya beragam sangat berbeda sekarang, karena jumlah spesies menurun menjadi salah satu hal utama hilangnya redundansi sistem ekologi. Beberapa spesies rusa dan herbivora kecil lainnya dianggap penting karena begitu banyak predator berbeda memangsa mereka. Bila herbivora kecil lebih sedikit, hilangnya salah satu spesies memiliki efek yang jauh lebih besar pada stabilitas sistem dan dapat menyebabkan kepunahan spesis selanjutnya.

Studi ini berdasarkan catatan yang dikumpulkan para ahli zoologi Dale Osborne, dalam buku yang diterbitkan tahun 1998 berjudul ‘The Mammals of Ancient Egypt’ yang menjelaskan gambaran rinci tentang populasi hewan sejarah di kawasan Mesir kuno berdasarkan bukti arkeologis dan paleontologi serta catatan sejarah. Dale Osborne menyusun database yang luar biasa ketika spesies terwakili dalam bentuk artefak, dan bagaimana perubahan sistem ekologi dari waktu ke waktu. Dengan adanya data ini, para ilmuwan menggunakan teknik pemodelan ekologis untuk melihat konsekuensi dari perubahan tersebut.

Ilmuwan mengidentifikasi lima episode perubahan sistem ekologi selama 6000 tahun terakhir ketika perubahan dramatis terjadi pada populasi mamalia Mesir kuno, tiga di antaranya bertepatan dengan perubahan lingkungan ekstrim seperti iklim bergeser ke kondisi yang lebih kering. Periode pengeringan bertepatan dengan pergolakan dalam masyarakat Mesir, seperti runtuhnya Kerajaan Lama sekitar 4000 tahun yang lalu dan jatuhnya Kerajaan Baru sekitar 3000 tahun yang lalu.

Setidaknya mereka menemukan tiga titik besar perubahan sistem ekologi ketika Mesir kuno mengalami perubahan iklim basah menjadi iklim yang lebih kering. Waktu itu dimulai pada Periode Afrika Akhir memasuki iklim lembab sekitar 5500 tahun yang lalu, ketika musim hujan bergeser ke selatan. Pada saat yang sama, kepadatan populasi manusia meningkat dan persaingan hidup di sepanjang lembah Nil berdampak besar pada populasi hewan.

Pergeseran komunitas mamalia paling penting saat ini sudah terjadi sejak 100 tahun yang lalu. Analisis jaringan predator menunjukkan kepunahan spesies dalam 150 tahun terakhir memiliki dampak sangat besar pada stabilitas sistem ekologi, setidaknya implikasi dalam memahami ekosistem modern. Tim ilmuwan melihat banyaknya ekosistem saat ini mengalami perubahan dalam satu spesies, menghasilkan pergeseran besar dalam fungsi sistem ekologi dan yang mungkin menjadi fenomena modern.

Sumber: Study traces ecological collapse over 6,000 years of Egyptian history, 08 September 2014, by University of California – Santa Cruz. Journal Ref: Collapse of an ecological network in Ancient Egypt. PNAS, September 8, 2014.

Definisi Ekologi

Alam Sebagai Terapi Terbaik

Ekologi berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu oikos yang artinya rumah atau tempat hidup, dan logos yang berarti ilmu. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya. Definisi ekologi seperti di atas, pertama kali disampaikan oleh Ernest Haeckel (Ahli Zoologi Jerman, 1834-1914).

Ekologi adalah cabang ilmu biologi yangbanyak memanfaatkan informasi dari berbagai ilmu pengetahuan lain, seperti : kimia, fisika, geologi, dan klimatologi untuk pembahasannya. Penerapan ekologi di bidang pertanian dan perkebunan di antaranya adalah penggunaan kontrol biologi untuk pengendalian populasi hama guna meningkatkan produktivitas.

Ekologi berkepentingan dalam menyelidiki interaksi organisme dengan lingkungannya. Pengamatan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip yang terkandung dalam hubungan timbal balik tersebut.

Dalam studi ekologi digunakan metode pendekatan secara menyeluruh pada komponen-kornponen yang berkaitan dalam suatu sistem. Ruang lingkup ekologi berkisar pada tingkat populasi, komunitas, dan ekosistem.

Sementara itu, pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.

Selanjutnya, ekologi dalam arti proses alam telah dikenal sejak lama, sesuai dengan sejarah manusia. Misalnya tumbuhan memerlukan sinar matahari, tanah dan air, tumbuhan juga menjadi makanan hewan, hewan menjadi makanan hewan lain. Demikian pula proses kelahiran, kehidupan, dan kematian semuanya menjadi pengetahuan manusia. Dalam hal ini, ekologi biasanya didefinisikan sebagai ilmu tentang interaksi antara organisme-organisme dan lingkungannya. Kehidupan dalam lingkungan terdiri dari berbagai tingkat organisme mulai dari molekul, sel, jaringan, organ, sistem organ dan individu. Ekologi mencakup fenomena jenjang-jenjang tersebut termasuk interaksinya.