KTT Bumi dan Lingkungan dari Masa ke Masa

Bali Climate Change Conference 2007

Jargon “Think Globally, Act Locally”, yang menjadi tema KTT Bumi di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992 silam, segera menjadi jargon populer untuk mengekspresikan kehendak berlaku ramah terhadap lingkungan. Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah permasalahan polusi, perubahan iklim, penipisan ozon, penggunaan dan pengelolaan sumber daya laut dan air, meluasnya penggundulan hutan, penggurunan dan degradasi tanah, limbah-limbah berbahaya serta penipisan keanekaragaman hayati.

Kita tahu bersama, isu lingkungan hidup semakin hari semakin menjadi isu yang sangat penting untuk ditangani bersama, baik oleh Negara-negara maju maupun Negara-negara berkembang atau Negara-negara Dunia Ketiga. Singkatnya merupakan keniscayaan bagi Utara dan Selatan. Kita tahu juga, persoalan lingkungan, meski telah ditempuh beragam upaya perawatan dan pencegahan dari kerusakan dan pencemaran, tidak semakin membaik. Penanganan dan perbaikan pun belum sebanding dengan peningkatan persoalan lingkungan itu sendiri. Kondisi lingkungan dan bumi, sebagaimana sama-sama kita tahu dan kita rasakan, diperparah dengan terjadinya fenomena perubahan iklim (climate change).

Kondisi persoalan lingkungan yang tidak semakin membaik itulah, sebagai contohnya, yang juga mendasari diselenggarakannya Konferensi Tingkat Tinggi tentang Pembangunan Berkelanjutan, yang telah berlangsung pada tanggal 13-22 Juni 2012 di Rio de Janeiro, Brasil yang lebih dikenal dengan KTT Rio+20. Bagi Indonesia, menyepakati dokumen The Future We Want, sebagaimana tercermin dalam KTT Bumi tersebut, menjadi arahan bagi pelaksanaan pembangunan berkelanjutan di tingkat global, regional, dan nasional. Dokumen itu memuat kesepahaman pandangan terhadap masa depan yang diharapkan oleh dunia.

Isi Dokumen yang disepakati itu mengenalkan konsep Sustainable Development Goals atau tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan yang harus dipenuhi, baik oleh negara maju maupun negara berkembang, untuk tetap menjaga prinsip-prinsip perlindungan lingkungan saat meraih kesejahteraan ekonomi atau ‘ekonomi hijau’ (green economy). KTT Bumi ini, yang juga disebut Rio+20, tersebut menjadi kelanjutan dari KTT Bumi yang dilakukan di Rio de Janeiro pada 1992 silam. Pada saat itu, negara-negara yang hadir juga mengeluarkan komitmen perlindungan lingkungan. Namun, yang disayangkan dari Rio+20 adalah tidak adanya mekanisme evaluasi akan apa saja hal-hal yang sudah dicapai negara maju dalam pemenuhan janji-janji tersebut dari 1992 sampai sekarang.

Berikut KTT Bumi dan Lingkungan yang Pernah Diselenggarakan:

Stockholm, Swedia (Juni 1972)

Konferensi internasional lingkungan hidup atau United Nations Conference on Human Environment (UNCHE), di Stockholm, Swedia adalah konferensi yang sangat bersejarah, karena merupakan konferensi pertama tentang lingkungan hidup yang diprakarsai oleh PBB yang diikuti oleh wakil dari 114 negara. Konferensi ini juga merupakan penentu langkah awal upaya penyelamatan lingkungan hidup secara global.

Dalam konferensi Stockholm inilah untuk pertama kalinya motto: “Hanya Ada Satu Bumi“ (Only One Earth) untuk semua manusia, diperkenalkan. Motto itu sekaligus menjadi motto konferensi. Selain itu, konferensi Stockholm menetapkan tanggal 5 Juni yang juga hari pembukaan konferensi tersebut sebagai hari lingkungan hidup se-dunia (World Environment Day).

Salah-satu hasil dari KTT tersebut adalah kesepakatan mengenai keterkaitan antara konsep pembangunan dan pengelolaan lingkungan hidup. Persoalan lingkungan hidup diidentikkan dengan kemiskinan, keterbelakangan, tingkat pembangunan yang masih rendah dan pendidikan rendah, intinya faktor kemiskinan yang menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan hidup di dunia. Sehingga dalam forum tersebut disepakati suatu persepsi bahwa kebijakan lingkungan hidup harus terkait dengan kebijakan pembangunan nasional.

KTT itu menghasilkan resolusi monumental, yaitu pembentukan badan khusus PBB untuk masalah lingkungan United Nations Environmental Programme (UNEP), yang markas besarnya ditetapkan di Nairobi, Kenya. UNEP merupakan motor pelaksana komitmen mengenai lingkungan hidup dan telah melahirkan gagasan besar pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Gagasan pembangunan berkelanjutan diawali dengan terbitnya Laporan Brundtland (1987), “Our Common Future”, yang memformulasikan prinsip dasar pembangunan berkelanjutan.

Rekomendasi Konferensi Stockholm Nomor 99.3. ditindaklanjuti dengan melaksanakan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) atau Konvensi PBB mengenai Perdagangan Internasional Jenis-Jenis Flora dan Fauna Terancam Punah. Misi dan tujuan CITES adalah untuk menghindarkan jenis-jenis tumbuhan dan satwa dari kepunahan di alam melalui sistem pengendalian jenis-jenis tumbuhan dan satwa, serta produk-produknya secara internasional.

Dalam dokumen Konfrensi Stockholm “The Control of Industrial Pollution and International Trade” secara langsung mendorong GATT untuk meninjau kembali kebijakannya agar tidak menimbulkan diskriminasi terhadap Negara berkembang.

Rio de Janeiro, Brazil ( Juni 1992)

Sejak Konferensi Stockholm, polarisasi di antara kaum developmentalist dan environmentalist semakin menajam. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi (Earth Summit) di Rio de Janeiro, Brazil, pada 1992, merupakan upaya global untuk mengkompromikan kepentingan pembangunan dan lingkungan. Jargon “Think globally, act locally”, yang menjadi tema KTT Bumi menjadi populer untuk mengekspresikan kehendak berlaku ramah terhadap lingkungan.

Topik yang diangkat dalam konferensi ini adalah permasalahan polusi, perubahan iklim, penipisan ozon, penggunaan dan pengelolaan sumber daya laut dan air, meluasnya penggundulan hutan, penggurunan dan degradasi tanah, limbah-limbah berbahaya serta penipisan keanekaragaman hayati.

Berikut sejumlah hasil dan rekomendasi dalam KTT tersebut:

Deklarasi Rio: Satu rangkaian dari 27 prinsip universal yang bisa membantu mengarahkan tanggung jawab dasar gerakan internasional terhadap lingkungan dan ekonomi.

Konvensi Perubahan Iklim (FCCC): Kesepakatan Hukum yang telah mengikat telah ditandatangani oleh 152 pemerintah pada saat komperensi berlangsung. Tujuan pokok Konvensi ini adalah “Stabilisasi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir pada tingkat yang telah mencegah terjadinya intervensi yang membahayakan oleh manusia terhadap sistem Iklim”.

Konvensi Keanekaragaman Hayati: Kesepakatan hukum yang mengikat telah ditandatangani sejauh ini oleh 168 negara. Menguraikan langkah – langkah ke depan dalam pelestarian keragaman hayati dan pemanfaatan berkelanjutan komponen – komponennya, serta pembagian keuntungan yang adil dan pantas dari penggunaan sumber daya genetik.

Pernyataan Prinsip – Prinsip Kehutanan: Prinsip – prinsip yang telah mengatur kebijakan nasional dan internasional dalam bidang kehutanan. Dirancang untuk menjaga dan melakukan pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya hutan global secara berkelanjutan. Prinsip – prinsip ini seharusnya mewakili konsesi pertama secara internasional mengenai pemanfaatan secara lestari berbagai jenis hutan.

Komisi Pembangunan Berkelanjutan Commission on Sustainable Development (CSD): Komisi ini di bentuk pada bulan desember 1992. Tujuan CSD adalah untuk memastikan keefektifan tindak-lanjut KTT bumi. Mengawasi serta melaporkan pelaksanaan kesepakatan Konferensi Bumi baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. CSD adalah komisi Fungsional Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC) yang beranggotakan 53 negara.

Agenda 21: Merupakan sebuah program luas mengenai gerakan yang mengupayakan cara – cara baru dalam berinvestasi di masa depan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan Global di abad 21. Rekomendasi – rekomendasi Agenda 21 ini meliputi cara – cara baru dalam mendidik, memelihara sumber daya alam, dan berpartisipasi untuk merancang sebuah ekonomi yangberkelanjutan. Tujuan keseluruhan Agenda 21 ini adalah untuk menciptakan keselamatan, keamanan, dan hidup yang bermartabat.

Genewa, Swiss (Juli 1996)

Amerika menerima temuan-temuan ilmiah mengenai perubahan iklim dari IPCC dalam penilaian kedua dan menolak penyeragaman penyelarasan kebijakan dan menyerukan pengikatan secara hukum target jangka menengah. Menghasilkan Deklarasi Genewa. Berisi 10 butir deklarasi antara lain berisi ajakan kepada semua pihak untuk mendukung pengembangan protokol dan instrumen legal lainnya yang didasarkan atas temuan ilmiah. Deklarasi ini juga menginstruksikan kepada semua perwakilan para pihak untuk mempercepat negosiasi terhadap teks protokol.

Johannesburg, Afrika Selatan (2002)

Penyelenggaraan KTT Pembangunan Berkelanjutan (World Summit on Sustainable Development) pada 2002 di Johannesburg, Afrika Selatan, ditekankan pada plan of implementation yang mengintegrasikan elemen ekonomi, ekologi, dan sosial yang didasarkan pada tata penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).

KTT tersebut telah milahirkan kesepakatan komprehensif bidang kehutanan, yaitu dokumen Forest Principles (Non-Legally Binding Authoritative Statement of Principles for a Global Consensus on Management, Conservation and Sustainable Development of all Types of Forests). Kendatipun bukan merupakan komitmen yang mengikat, dalam proses-proses internasional bidang kehutanan, dokumen Forest Principles merupakan referensi utama serta jiwa bagi kerjasama antar bangsa.

Isu sentral yang dibahas adalah antara lain: menghidupkan kembali komitmen politik pada tingkat paling tinggi mengenai pengelolaan hutan berkelanjutan, peningkatan kontribusi sektor kehutanan dalam upaya pengentasan kemiskinan, peningkatan pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pembangunan pedesaan serta peningkatan kesejahteraan umat manusia.

Pada akhirnya KTT Pembangunan berkelanjutan mengadopsi tiga dokumen utama, yaitu:

[1] Deklarasi Johannesburg yang menyatakan bahwa setiap negara memikul tanggung jawab dalam pembangunan berkelanjutan dan kemiskinan.

[2] Rencana Aksi Johannesburg mengenai pembangunan berkelanjutan (Johannesburg Plan of Implementation/JPOI).

[3] Program kemitraan (partnership) antar pemangku kepentingan dalam melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

Bali, Indonesia (Desember 2007)

Penyelenggaraan KTT Pemanasan Global di Nusa Dua, Bali pada tanggal 13 – 15 Desember 2007 merupakan momentum dalam upaya untuk membangun kesadaran semua warga bumi untuk berbuat sekecil apapun demi menyelamatkan bumi, tempat yang menjadi sumber hidup dan hidup kita bersama. Dalam konferensi tentang lingkungan hidup ini semua negara ambil bagian dalam menentukan nasib bumi kita di waktu mendatang.

Dalam pertemuan ini disepakati Bali Road Map, sebuah peta yang akan menjadi jalan untuk mencapai consensus baru pada 2009 sebagai pengganti Protokol Kyoto fase pertama yang akan berakhir pada tahun 2012. Inti dari Bali Road Map adalah:

[1] Respons atas temuan keempat Panel Antar Pemerintah (IPCC) bahwa keterlambatan pengurangan emisi akan menghambat peluang mencapai tingkat stabilitas emisi yang rendah, serta meningkatkan risiko lebih sering terjadinya dampak buruk perubahan iklim.

[2] Pengakuan bahwa pengurangan emisi yang lebih besar secara global diharuskan untuk mencapai tujuan utama.

[3] Keputusan untuk meluncurkan proses yang menyeluruh, yang memungkinkan dilaksanakannya keputusan UNFCCC secara efektif dan berkelanjutan.

[4] Penegasan kewajiban Negara-negara maju melaksanakan komitmen dalam hal mitigasi secara terukur, dilaporkan dan dapat diverifikasi, termasuk pengurangan emisi yang terkuantifikasi.

[5] Penegasan kesediaan sukarela Negara berkembang mengurangi emisi secara terukur, dilaporkan dan dapat diverifikasi, dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, didukung teknologi, dana, dan peningkatan kapasitas.

[6] Penguatan kerjasama di bidang adaptasi atas perubahan iklim, pengembangan dan alih-teknologi untuk mendukung mitigasi dan adaptasi.

[7] Memperkuat sumber-sumber dana dan investasi untuk mendukung tindakan mitigasi, adaptasi dan alih teknologi terkait perubahan iklim.

Salam,
Sulaiman Djaya

Iklan

Saat Debat Instrumen Berbasis Pasar Terus Berlangsung, Hutan Juga Terus Habis

Kragilan, Serang, Banten

Oleh Romain Pirard

Beberapa tahun lalu, “koboy karbon” tiba di hutan Papua Nugini dan mengumumkan pada masyarakat Papua yang kebingungan bahwa negara kaya segera akan membayar simpanan karbon di hutan mereka dalam rangka memerangi perubahan iklim. Sekarang contoh ini tampak seperti datang dari masa lain, bersama dengan pasar karbon hutan melalui mekanisme Reduksi Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan (REDD+) tampak sekarat.

Jutaan hektar hutan tropis alami terus menghilang tiap tahun, dan instrumen berbasis pasar terus muncul. Bagaimana kita menganalisis instrumen seperti itu? Apakah kita sudah mengambil pelajaran pentingnya?

Pasar karbon adalah puncak kesadaran kontemporer atas jasa lingkungan (atau ekosistem). Jasa ini meliputi beragam manfaat yang didapat manusia dari lingkungan – pengontrol erosi tanah, regulasi air, mempertahankan kesuburan tanah atau kesenangan dari keindahan lanskap

Pasar tidak beradaptasi baik dengan pertanyaan bagaimana menjaga hutan tropis, dan perlakuan agresif yang kita saksikan menjadi sia sia, atau paling buruk menjadi kontraproduktif.

Jasa lingkungan memungkinkan identifikasi beragam manfaat yang disediakan alam dan mengarah pada penilaian finansial dalam rangka memandu keputusan tata kelola. Pendekatan utilitarian ini – istilah yang tidak saya maksudkan peyoratif tetapi karena alasan ekonomi – merefleksikan instrumen berbasis pasar yang diharapkan menuju tata kelola hutan berkelanjutan. Memang, nilai finansial berarti peluang menagih kepada penerima manfaat dan mendorong produksi barang – dalam hal ini, jasa lingkungan.

Pengamatan sederhana ini menjelaskan gairah di dekade terakhir menyambut instrumen berbasis pasar untuk melindungi hutan tropis. Instrumen ini mengongkosi pembayaran jasa lingkungan (PES) berdasar negosiasi kontrak bersyarat antara penerima manfaaat dan penyedia jasa, beragam hibah atau program pajak, sertifikasi hutan melalui entitas seperti Dewan Pendamping Hutan, promosi pasar produk bukan kayu untuk kepentingan konservasi, dan sebagainya.

Bagaimanapun, istilah “pasar” harus ditafsirkan secara luas, dan beberapa istilah digunakan secara membingungkan. Konsep ini mencakup pembayaran tetap yang ditentukan pemerintah untuk mengganjar praktik bagus, selain membangun pasar dimana komoditas diperdagangkan dengan bebas dan intervensi minimal. Penting untuk membuat pembeda, karena ini menginformasikan keterbatasan implementasi praktisnya. Juga penting untuk memahami banyak instrumen berbasis pasar ditampilkan “inovatif” padahal faktanya hanya daur ulang instrumen kebijakan publik konvensional yang tidak berhubungan dengan apa yang disebut visi pasar modern, yang digambarkan sebagai obat baru untuk berhasil di saat yang lain gagal.

Saya menentang bahwa risikonya terbatas karena lingkup kecil mereka. Selain itu, siapa yang menolak produksi pertanian dijual di pasar, walaupun ini adalah sebuah jasa lingkungan (jasa provisi, menurut evaluasi Penilaian Ekosistem Milenium)?

Pendapat saya: debat dan pidato di bidang ini seringkali berbenturan dengan realitas di lapangan. Eksperimen seringkali goyah (pasar karbon untuk menghindari deforestasi); menghasilkan beberapa nama program hibah tradisional (program simbolik PES di Kosta Rika); mewakili determinasi lembaga pembangunan dan LSM konservasi untuk menerapkan proyek PES dengan unit rasio berbiaya/jangka waktu tinggi; atau merefleksikan harapan sektor swasta (bank konservasi untuk melindungi keragaman hayati di AS).

Kehilangan Waktu

Masalah dalam debat dan eksperimen instrumen berbasis pasar ini terletak tidak hanya mengenai apa yang ingin diyakinkan Cassandras – sebut saja komodifikasi alam yang tengah berlangsung dan orang akan cepat melupakan motivasi intrinsik dalam mengelola sumber daya secara berkelanjutan ketika berhadapan dengan insentif konservasi dalam bentuk uang tunai.

Sebaliknya, debat ini problematis sejauh membuat kita kehilangan waktu yang berharga di tengah adu cepat dengan deforestasi tropis. Mereka mengalihkan perhatian kita dari solusi nyata yang harus kita atasi secepat mungkin dan hal tersebut mencakup perubahan alami pertumbuhan ekoomi kita. Pasar tidak dengan baik teradaptasi untuk pertanyaan bagaimana konservasi hutan tropis dan perlakuan agresif yang kita saksikan menjadi sia-sia, atau kontraproduktif.

Mungkin ada pasar lain yang mengarah pada proteksi lebih baik hutan tropis – pasar yang secara eksplisit mempertukarkan barang produksi dari konversi hutan dan ini mendorong kita untuk mengubah diet kita, mengurangi konsumsi kertas, atau mengadopsi praktik pertanian intensif untuk membatasi ekspansi wilayah budi daya. Atau kita perlu kembali ke konsep lebih tradisional instrumen berbasis pasar untuk mengubah perilaku, misalnya menggunakan sistem pajak lebih cerdas yang mengubah harga berdasar dampak lingkungan. Dalam kasus khusus mitigasi perubahan iklim, hal ini berarti bergeser dari pasar karbon menjadi semacam pajak karbon; yang pertama merujuk pada yang kedua untuk alasan politis, bukan berlandaskan ekonomi.

Setiap orang yang berminat mengerem deforestasi tropis seharusnya juga menghadapi “gajah dalam ruangan”; bentuk subsidi berbahaya bagi lingkungan, khususnya subsidi yang mendukung konsumsi energi bahan bakar minyak. Subdisi ini mendorong kita untuk menghancurkan lingkungan kita dengan meningkatkan keuntungan penebangan dan konversi hutan dengan cara yang tidak seharusnya, walaupun sebaliknya juga dapat menjadi sumber signifikan untuk mendanai perjuangan melawan deforestasi jika dibelokkan dari penggunaan saat ini. Dalam kondisi ini kita berhadapan dengan instrumen berbasis pasar skala besar yang menghancurkan lingkungan.

Apa Arti ‘Hijau’ dalam Green Economy?

Bojonegara, Serang, Banten, Indonesia

(Foto: Bojonegara, Serang, Banten, Indonesia)

Mengapa Ilmuwan Perlu Membaca Sejarah Pembangunan

Oleh Kiran Asher

Konferensi Tingkat Tinggi Perserikatan Bangsa Bangsa dan Pawai Iklim Masyarakat di New York adalah pendahuluan UNFCCC COP di Lima (2014 dan Paris (2015) – salah satu dari banyak acara yang menyoroti pembatasan perubahan iklim dan pencapaian pembangunan berkelanjutan. Walaupun semua ini bukan tantangan baru, tekanan untuk mengatasinya menjadi penting menghadapi pemanasan global dan krisis ekonomi. Dalam konteks ini, gagasan ekonomi hijau, dengan janji mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengganggu integritas ekologi Bumi, sangat menggoda. Tetapi dapatkan ekonomi hijau memenuhi janjinya? Sebuah kajian ringkas hubungan ekonomi-lingkungan sebelumnya telah terangkai sebelum ilmuwan dan masyarakat dapat menilai pertanyaan tersebut.

Apakah model ‘ekonomi hijau’ dan ‘pertumbuhan hijau’ berbeda dari model pembangunan sebelumnya?

Masalah ekonomi dan lingkungan terkait pertama kali dengan agenda pembangunan internasional pada Konferensi Lingkungan Hidup Manusia PBB di Stockholm 1972. Kaitan awal ini terfokus pada “isu abu-abu,” seperti limbah industri, polusi udara dan air, serta dampak ekologis pertumbuhan ekonomi. Perhatian mengenai kelangkaan sumber daya dan dampaknya pada pertumbuhan ekonomi masa datang juga mulai muncul saat itu. Dalam dunia yang membangun serta tropis, kaitan antara aktivitas ekonomi dan lingkungan tampak pada kekhawatiran terhadap deforestasi dan degradasi lahan.

Bagaimanapun, pada akhir 1980, ilmuwan dan pembuat kebijakan mulai berbicara ekonomi dan masalah lingkungan sebagai dua sisi mata uang. Salah satu formulasi terkenal kaitan ini tampil pada laporan 1987, Masa Depan Bersama. Dipublikasikan Komisi Lingkungan dan Pembangunan Dunia (WCED) di bawah kepemimpinan direktur Gro Harlem Brundtland (kemudian menjadi Perdana Menteri Norwegia), laporan WCED ini mengadvokasi perlunya “pembangunan berkelanjutan,” yang didefinisikan sebagai:

. . . pembangunan yang memenuhi kebutuhan hari ini tanpa menggangu kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhannya. Hal ini mencakup dua konsep kunci: konsep ‘kebutuhan’, khususnya kebutuhan mendasar dunia miskin, di mana prioritas utama seharusnya diberikan; dan ide keterbatasan dalam tekanan teknologi dan organisasi sosial terhadap kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan masa kini dan masa depan.

Konferensi PBB 1992 mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro, yang dikenal sebagai KTT Bumi, mengkonsolidasikan kaitan ini dan memaparkan rencana aksi abad 21 (Agenda 21). Komisi Pembangunan Berkelanjutan didirikan di Rio dan ditugasi menindaklanjuti Agenda 21 dan beragam kesepakatan yang ditandatangi pada KTT Bumi. Dua puluh tahun kemudian, seruan pembangunan berkelanjutan dan penghapusan kemiskinan diperbarui pada Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB 2012. Ide ekonomi hijau muncul sebagai rintisan Konferensi 2012 dan didefinisikan sebagai

. . . sesuatu yang menghasilkan peningkatan kualitas kehidupan manusia dan kesetaraan sosial, seraya secara signifikan mengurangi risikio lingkungan dan kelangkaan ekologis. Dalam ungkapan paling sederhana, ekonomi hijau dapat dipandang sebagai rendah karbon, efisiensi sumber daya dan inklusivitas sosial.

Hal ini jelas menjejakkan warisan pada definisi pembangunan berkelanjutan WCED.

Tetapi apakah model “ekonomi hijau” dan “pertumbuhan hijau benar-benar berbeda dari model pembangunan sebelumnya, yaitu yang dalam tingkat makro bertanggungjawab terhadap kebuntuan saat ini? Apakah ekonomi hijau – yang seolah-olah tidak bisa mengkompromikan ekologi atau ekonomi – juga kondusif bagi pembangunan berkeadilan dan damai? Para pendukungnya menyuarakan jawaban ya; para kritikus menjawab dengan sebuah kategorisasi tidak .

Menghadapi seriusnya perubahan iklim, ilmuwan (dan masyarakat) harus terlihat menjawab keduanya secara analitis dan kritis untuk menilai. Hal ini membutuhkan kesabaran dan kepenasaran intelektual untuk memahami sejarah pembangunan internasional, dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan (bagi yang berminat, tulisan Maggie Black berjudul “Panduan Bukan Omong Kosong mengenai Pembangunan Internasional” adalah titik berangkat yang sangat bagus). Menjauhkan upaya tersebut dengan respon menerapkan kemanfaatan kebijakan pragmatis sama saja dengan menjauhkan masa depan kita.

Pendekatan Bentang Alam

Cigading International Bulk Terminal, Banten, Indonesia

(Foto: Cigading International Bulk Terminal, Banten, Indonesia)

Pengalih Perhatian Atau Anugerah Bagi Ketahanan Pangan?

Oleh Robert Nasi dan Anja Gassner

Globalisasi, pertumbuhan penduduk, dan persaingan untuk mendapatkan tanah menjadi alasan untuk menelaah ekosistem dan manusia sebagai entitas yang terjalin secara terpadu. Bukan hanya aktivitas manusia yang mengubah fungsi lahan, penghidupan pun berubah karena transformasi lahan.

Dengan membuka mata lebih lebar, kita melihat bahwa bentang alam ditentukan oleh adaptasi manusia terhadap lingkungan sekitarnya dan oleh reaksi lingkungan terhadap pengaruh manusia. Bentang alam menyediakan observatorium untuk memahami dan memantau paduan sistem sosio-ekologi.

Bentang alam menawarkan jasa ekosistem seperti pangan dan air, iklim dan regulasi penyakit, siklus nutrisi dan penyerbukan tanaman sekaligus memberikan manfaat rekreasi. Memajukan mitigasi untuk mengurangi tekanan terhadap ekosistem dengan mengubah dasar penggerak sosio-ekonomi, oleh para ilmuwan, dianggap sebagai pilihan paling efektif untuk mengurangi laju hilangnya jasa ekosistem.

Dengan demikian, “pendekatan bentang alam” telah memperoleh pengakuan dari dan daya tarik bagi semua organisasi dan badan besar yang memiliki kekhususan dalam produksi pangan dan pengentasan kemiskinan.

Namun, tidak seperti istilah ekosistem, yang didasarkan pada parameter tertentu, istilah bentang alam ambigu dan pada dasarnya merupakan konstruksi sosial. Setiap bentang alam berbeda, sehingga menjadikannya objek yang sulit untuk dipelajari dan dipahami.

Kesulitan lain adalah ketika suatu bentang alam ternyata atraktif bagi ahli ekologi dan geografi, ia hanya hal kecil dalam ranah politik: pembuat kebijakan terus memikirkan batas administratif yang tidak tumpang tindih dengan batas bentang alam.

Editorial terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal “Biologi Konservasi” meneliti mengenai tren — pendekatan pengelolaan lahan yang diperoleh dengan antusias kemudian diabaikan.

Editorial tersebut menyerukan kepada para ahli ekologi agar tidak melompat ke gerbong yang tersusun dari janji-janji memikat, melainkan menggunakan pikiran kritis untuk mengekspos kelemahan perilaku seperti itu.

Sebagai ahli ekologi dan manajer dalam Program Riset Kelompok Konsultasi Riset Pertanian Internasional (CGIAR) mengenai “Hutan, Pohon, dan Agroforestri : Penghidupan, Bentang Alam, dan Tata Kelola”, kami menerima tantangan itu.

Mengingat peran kami sebagai bagian dari konsorsium global yang terlibat dalam penelitian untuk masa depan berketahanan pangan, kami bertanya kepada diri sendiri apakah pendekatan bentang alam benar-benar merupakan cara baru dalam memandang dunia, atau itu mencerminkan pepatah “kaisar yang tidak mengenakan pakaian”, dongeng Hans Christian Andersen.

Apakah “pendekatan bentang alam” dibangun di atas pengalaman masa lalu? Apakah itu kunci dalam memadukan konservasi dan kompromi pembangunan? Atau, itu hanya label modis, pengemasan ulang atas ide-ide lama, pengalih perhatian komunitas ilmiah atas kurangnya pencapaian kita dalam menghadapi begitu banyak masalah global — pada dasarnya, sekadar tren lainnya?

Perkembangan Istilah

Pendekatan bentang alam bukanlah hal baru, tetapi di masa lalu telah berlabuh dalam teori konservasi dan teori manajemen berbasis ekologis. Sekitar 20 tahun yang lalu, pendekatan ekosistem (EsA) diperkenalkan sebagai strategi terpadu untuk mengelola tanah, air, dan sumber daya hidup yang mempromosikan konservasi dan keberlanjutan dengan cara yang adil.

Istilah “bentang alam” sebagai konsep teoretis pertama kali diperkenalkan pada Conferences of the Parties (COP), kemudian pada Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) pada 1995 sebagai kerangka utama aksi untuk menyebarkan tiga tujuan CBD : konservasi, pemanfaatan berkelanjutan, dan pembagian keuntungan.

EsA menandai pergeseran paradigma dalam pengelolaan sumber daya di mana alam tidak lagi dilihat sebagai kumpulan sumber daya untuk dimanipulasi dan dipanen semaunya oleh manusia, tetapi sebagai sistem yang kompleks yang memerlukan tanggung jawab keanekaragaman hayati untuk menjamin keberlanjutannya bagi generasi mendatang.

Ini adalah untuk pertama kalinya pandangan holistik terhadap kehidupan di planet ini menjadi populer – mengarah kepada gerakan menjauh dari perlindungan lahan area-tunggal terhadap perencanaan tata guna lahan terpadu.

Pada 2003, sebuah tinjauan kritis ESA (Hartje et al.) menunjukkan bahwa keberhasilannya akan tergantung terutama pada penerimaan internasional dan kapasitas untuk mengintegrasikan mandat institusional.

Menarik bahwa laporan hanya menyebut pemain internasional memiliki kaitan dengan pengelolaan keanekaragaman hayati sebagai kontributor penting untuk proses ini, bukan mereka yang memiliki mandat dalam produksi pangan berkelanjutan dan pengentasan kemiskinan.

Memperluas pendekatan ekosistem dari organisasi yang bermandatkan-konservasi ke organisasi yang bermandatkan-pembangunan bagi kami merupakan kontribusi nyata pendekatan bentang alam.

Istilah “bentang alam” menyiratkan hubungan manusia dengan alam merupakan bagian integral dan tak terpisahkan, sedangkan istilah “ekosistem” masih sering dikaitkan dengan alam murni.

“Pendekatan bentang alam” menyoroti kompleksitas sistem pengelolaan lahan dan kebutuhan akan indikator praktis (mata pencaharian, pendapatan , produktivitas, keberlanjutan) untuk mengukur interaksi lingkungan manusia di seluruh sektor dan skala.

Kebutuhan akan integrasi eksplisit atas agenda konservasi dan pembangunan merupakan respons langsung terhadap temuan laporan MDG terbaru yang saat ini mekanisme dan kerangka kerjanya tidak memadai untuk menjamin kelestarian lingkungan. Kami percaya bahwa pendekatan bentang alam lebih jauh dari sekadar tren manajemen baru. Jika diterapkan dengan baik, ia menawarkan solusi untuk masalah membandel.

Einstein dan Gurunya

Albert Einstein

Professor: “Saya akan buktikan kepada kalian semua, jika Tuhan itu ada, maka Dia adalah kejahatan. Apakah Tuhan menciptakan semua yang ada? Jika Tuhan menciptakan segala yang ada, maka Dia juga mencipta kejahatan –yang artinya Tuhan adalah kejahatan”. Einstein (yang ketika itu masih SD): “Maaf, professor, apakah dingin itu ada?” Professor: Tentu, pertanyaan macam apa itu? Tentu dingin itu ada, bukankah kalian pernah merasa kedinginan?” Einstein: “Maaf, professor, sebenarnya dingin itu tidak ada, sebab menurut hukum fisika, apa yang kita anggap sebagai rasa dingin adalah karena ketiadaan rasa hangat. Apakah gelap itu ada, professor?” Professor: “Tentu saja ada!” Einstein: “Anda keliru, professor! Gelap itu tidak ada, gelap menjadi ada karena ketiadaan cahaya. Tuhan tidak menciptakan kejahatan, professor! Kejahatan lahir dari manusia-manusia yang tidak memiliki rasa cinta dari Tuhan”.

Islam dalam Kancah Global

Missil Ashura Iran

(Foto: Misil Asyura Republik Islam Iran)

Radar Banten, 10 September 2014

“Seperti dilansir sejumlah artikel dan laman-laman sains, dan sebagaimana disampaikan juga oleh Behrouz Kamalvandi (Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia), Iran bahkan telah sanggup memulai dan mengembangkan tekhnologi yang hanya dapat dilakukan segelintir Negara, yaitu tekhnologi air berat (heavy water) yang membuat Barat kaget dan terkejut”

Betapapun harus diakui bahwa isu Islam dalam kancah global sudah sering ditulis, dan karena itu tulisan ini hanya ingin menyoroti satu hal saja: sejauh mana masyarakat muslim sanggup “mengintegrasikan” ideologi Islam-nya dengan tuntutan kemajuan dan kompetisi global yang begitu cepat berubah, bahkan acapkali tak terduga, terutama sekali dalam pencapaian sains dan inovasi. Terus-terang, penulis termasuk orang yang mengagumi Iran sebagai Negara Islam yang menurut penulis telah membuktikan diri mereka bahwa dengan menjadi “muslim” tidak harus identik dengan ketertinggalan dalam bidang sains. Iran bahkan telah mematahkan stigma Barat bahwa agama tidak sejalan dengan kemajuan dan sains. Iran mampu membalikkan hal tersebut ketika mereka sanggup menjadikan Islam sebagai sumber dan inspirasi saintifik mereka. Apalagi prestasi Iran ini justru diraih ketika Negara itu mengalami embargo Barat dan Amerika berkali-kali hingga saat ini.

Seperti dilansir sejumlah artikel dan laman-laman sains, dan sebagaimana disampaikan juga oleh Behrouz Kamalvandi (Dubes Republik Islam Iran untuk Indonesia), Iran bahkan telah sanggup memulai dan mengembangkan tekhnologi yang hanya dapat dilakukan segelintir Negara, yaitu tekhnologi air berat (heavy water) yang membuat Barat kaget dan terkejut. Air Berat, sebagaimana disampaikan Behrouz Kamalvandi itu, jika dilihat dengan mata telanjang nyaris sama dengan air-air yang lain. Tapi perlu diketahui, demikian tegas Kamalvandi, Allah Swt menciptakan sesuatu di dalam air yang kini disebut Deuterium, yang jika dinaikkan dan dikayakan maka akan menggantikan fungsi uranium, sehingga dengannya akan memenuhi kebutuhan energi dan pengobatan, semisal mengobati kanker (Lihat Majalah Syi’ar Edisi Maulid 1429 H/Maret 2008, hal. 77).

Inovasi Militer

Iran juga tak hanya mengukir prestasi dalam tekhnologi nuklir, dan juga tekhnologi air berat seperti yang telah disebutkan, untuk kepentingan damai dan domestik mereka, tapi juga berhasil menciptakan perangkat-perangkat keras dan lunak militer mereka. Rupa-rupanya capaian Iran tersebut tak lepas dari ketekunan mereka dalam riset, selain alih tekhnologi dari Rusia. Dalam bidang militer ini, mereka misalnya telah mampu menciptakan missile (rudal), drone, dan satelit. Selain tentu saja, menciptakan robot-robot canggih dalam bidang kesehatan dan bidang-bidang sains dan tekhnologi lainnya. Memang pula harus diakui bahwa bangsa Persia sejak dulu telah melahirkan saintis-saintis dan filsuf-filsuf muslim, yang menurut sejumlah sejarawan saintis-saintis dan filsuf-filsuf muslim Persia mencapai 70% dari keseluruhan dunia Islam di jaman-jaman keemasan peradaban Islam. Tapi sepertinya hal itu bukan variable yang ajeg bagi Iran saat ini, sebab menurut beberapa analis pencapaian Iran tersebut tak lepas dari kemandirian politik dan ekonomi mereka yang berani berhadapan dengan Amerika dan Barat, hingga harus menanggung embargo berkali-kali itu.

Ada banyak analis dan pengamat yang mengakui bahwa pintu pertama kemandirian dan rasa percaya diri Iran tersebut dimulai dengan Revolusi Islam Iran tahun 1979, yang di mata para analis tersebut, Iran adalah gambaran “muslim yang percaya diri dengan ideologi Islam-nya, di mana Islam mengajarkan untuk mempraktekkan keadilan dan ikhtiar untuk merubah nasib dengan kekuatan dan kepercayaan diri ummatnya. Dan secara politik, Iran adalah cerminan bangsa yang membuktikan keberhasilan “Demokrasi Islam”.

Dalam catatan jurnalistik dan kesan pribadinya, misalnya, Dr. Alexander Prokhanov menyatakan, “Keadilan adalah asas utama filsafat keagamaan dan sistem kenegaraan Islam. Keadilan inilah yang melahirkan satu bentuk demokrasi di Iran. Pemilihan umum adalah salah satu aturan di Iran yang mengikat dan tidak bisa diubah. Pemilu ini meliputi pemilihan anggota parlemen, presiden maupun untuk memilih pemimpin spiritual. Ayatullah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran adalah sosok pemimpin yang memegang kekuasaan spiritual di Iran. Dia tidak datang dari langit, tapi dipilih lewat mekanisme pemilihan di lingkungan rohaniawan. Pemerintahan Iran tidak mengenal keputusan individu. Kebijakan yang diputuskan diambil lewat musyawarah dan koordinasi yang ketat antara berbagai pusat kekuasaan. Koordinasi secara kontinyu terkait kepentingan Iran inilah yang membuat iklim politik di negara ini terkendali, serasi dan tidak ekstrim.”

Soft Power

Namun demikian, meski Iran juga memprioritaskan kemajuan tekhnologi sipil dan militernya, sebagaimana dikemukakan Dina Y. Sulaeman, secara diplomatik dan politik Iran mendasarkan dirinya pada pilihan untuk mengedepankan “soft power” dalam kancah hubungan politik globalnya. Dengan mengutip langsung apa yang dikatakan Dina Y. Sulaeman, “secara ringkas bisa dikatakan bahwa subtansi soft power adalah sikap persuasif dan kemampuan meyakinkan pihak lain, di mana hal demikian berbeda dengan hard power yang menggunakan kekerasan dan pemaksaan dalam upayanya menundukkan pihak lawan. Karena itulah, dalam pilihan soft power ini, mentalitas menjadi kekuatan utama dan investasi terbesar yang dibangun Iran adalah membangun mental ini, bukan membangun kekuatan militer. Pemerintah Iran berusaha untuk menumbuhkan nilai-nilai bersama, antara lain nilai tentang kesediaan untuk berkorban dan bekerja sama dalam mencapai kepentingan nasional”.

Agama Selaras Dengan Kemajuan

Dan seperti yang berusaha dimaksudkan tulisan ini bahwa Iran adalah contoh sebuah masyarakat dan bangsa yang berhasil mementahkan stigma bahwa agama tidak selaras dengan sains, adalah menarik sebagaimana dikatakan Dr. Alexander Prokhanov bahwa kebanggaan masyarakat Iran sebagai muslim justru membuat mereka kreatif dan inovatif. Prokhanov menyatakan: “Di Iran energi manusia tidak disalurkan untuk aktivitas gila atau pemuasan hawa nafsu, tapi digunakan untuk meraih kematangan spiritual, mengembangkan kreativitas dan menyesuaikan kehidupan duniawi dengan kehidupan ilahi yang tak berbatas.”

Apa yang dinyatakan Prokhanov tersebut memang tidak jauh berbeda dengan pernyataan Behrouz Kamalvandi beberapa tahun silam, “Janganlah dibayangkan bahwa kita akan menyelesaikan masalah dunia ini langsung pada hal yang global tanpa dimulai dari dalam diri kita sendiri. Kalau kita berhasil menundukkan hawa-nafsu kita, atau menang atas kebatilan di dalam diri kita, barulah kita akan berhasil untuk menyelesaikan problem dan pertentangan antara hak dan batil di luar diri kita. Begitu pula problem perpecahan yang terjadi di tengah masyarakat harus menjadi fokus kita. Apa yang kita saksikan sesungguhnya tidak lepas dari hegemoni sebagian kelompok yang ingin menancapkan kukunya pada semua sendi kehidupan global. Inti kemenangan Revolusi adalah iman dan takwa kepada Allah Swt. Kalau kemajuan di Iran hanya diukur dari kemajuan material, maka Barat justru lebih maju daripada Iran, dan kita akan kembali jatuh dalam keputusasaan. Kita merasa bahwa kita masih kecil dan tidak punya apa-apa. Kita harus melihat segala kemajuan ini dari sisi mukjizat Allah Swt. Apa yang kami dapatkan sekarang ini dengan berbagai latar-belakang yang kami miliki, juga dengan berbagai kondisi dunia yang ada pada saat ini, adalah mukjizat dan tangan-tangan Allah yang selalu membantu kami. Di situlah kita akan merasa bahwa diri kita mampu dan memiliki kepercayaan diri.” Semoga bangsa kita pun demikian.

Sulaiman Djaya

Semesta Para Ilmuwan

Albert Einstein Speaks About al Qur'an

Sains adalah aktivitas pemecahan masalah yang dilakukan oleh manusia yang dimotivasi oleh rasa ingin tahu tentang dunia sekitar mereka dan keinginan untuk memahami alam tersebut; serta keinginan untuk memanipulasi alam dalam rangka memuaskan keinginan atau kebutuhannya. Misalnya dalam bidang pertanian diinginkan hasil panen yang melimpah dan berkualitas baik, sehingga berkembanglah ilmu untuk melakukan seleksi dan persilangan untuk didapatkan bibit yang baik, metode pengolahan tanah yang optimal, perawatan tanaman supaya tidak diganggu hama dan penyakit, sampai kepada pengolahan pasca panen. Objek penelitian bagi saintis tidak hanya mencakup tanaman atau makhluk hidup seperti halnya dalam pertanian, namun juga berbagai gejala geologis, ruang angkasa, materi dan perubahannya, singkatnya apapun yang terdapat di alam ini. Perkembangan sains yang sangat pesat di abad ke-20 telah menjadikan ruang lingkup riset sains termasuk juga bahan sintetis (seperti plastik dan komposit), maupun berbagai hasil rekayasa manusia (mobil, komputer, bio-tekhnologi).

Dalam hal inilah akan menjadi menarik untuk diketahui apa yang sebenarnya dilakukan oleh para ilmuwan menurut mereka sendiri. Secara tradisional terdapat dua pandangan utama yaitu realis dan instrumentalis; masing-masing pandangan mempunyai kelebihan dan kekurangannya, dan adopsi pandangan ini ternyata tidak hanya terjadi di kalangan ilmuwan saja, namun juga ada pada guru dan siswa. Oleh karena itu dikenalkan pandangan yang bisa merangkum keduanya serta diharapkan berguna khususnya bagi siswa dan guru yang disebut realis kritikal.

Perspektif Ilmuwan Realis

Bagi seorang ilmuwan yang berpandangan realis, tujuan sains adalah untuk menjelaskan dunia sekitar kita sebagai mana adanya, dan untuk menemukan dan menjelaskan bagaimana mereka bekerja dan berinteraksi. Motivasi utama biasanya adalah rasa ingin tahu. Salah satu tujuan sains adalah untuk menjelaskan dunia yang teramati terutama oleh indera, untuk mengklasifikasi dan menyimpulkan pengamatan dan menghasilkan pola-pola, aturan-aturan dan hukum-hukum alam. Tetapi sains bergerak lebih jauh lagi, ia juga mengamati segala sesuatu yang tidak dapat diinderai secara langsung. Sains membuat klaim teoritis tentang keberadaan benda yang bahkan tidak akan pernah terlihat (seperti: elektron, gen dan lubang hitam alias black hole) dan pembuatan postulatnya (teori sementara) akan hal tersebut dalam usaha pencarian untuk dapat menjelaskan keberadaannya.

Ilmuwan realis menganggap sains untuk mencoba menjelaskan alam nyata seperti apa adanya, sekompleks dan serumit apapun hal tersebut. Dalam melakukan hal itu, sains membuat berbagai kemajuan ke arah pemahaman yang makin baik, walaupun hal itu tidak akan mencapai pemahaman yang sangat utuh. Seorang ilmuwan akan terus bercerita pada anda bahwa setiap suatu pertanyaan dapat dijawab atau satu masalah terpecahkan, pertanyaan atau masalah tambahan akan muncul dan akan selalu ada hal lain yang harus dilakukan –seperti yang disitir oleh Carl Sagan (1997): “Sains ialah proses yang berlanjut, yang tidak akan pernah berakhir. Tidak ada kebenaran pokok yang tunggal harus dicapai dan sesudah itu semua ilmuwan boleh pensiun. Dan karena demikian keadaannya, dunia jauh lebih menarik, baik untuk ilmuwan maupun untuk jutaan manusia di berbagai negara yang bukan ilmuwan profesional, tetapi sangat tertarik dengan metode dan penemuan sains”.

Pengetahuan yang didapatkan dari kegiatan sains merupakan nilai bagi dirinya sendiri. Yaitu, suatu hasil yang ada untuk pemenuhan rasa ingin tahu manusia, namun hal itu juga membuat kita bisa mengubah dan memanipulasi dunia untuk akhirnya dapat digunakan untuk merubah kualitas hidup manusia, misalnya pada berbagai produk konsumen yang meningkatkan standard hidup dalam hal kesehatan. Ilmuwan realis berpandangan bahwa sains adalah hal yang mempelajari alam nyata dan pengetahuan yang diperoleh melaluinya.

Tantangan berikutnya bagi ilmuwan adalah setelah mencoba untuk menemukan realitas, adalah dengan menjelaskannya pada komunitas ilmuwan maupun publik awam terutama untuk hal yang tidak dapat dilihat dan diindera secara langsung. Untuk menginformasikan hasil kerjanya ilmuwan harus terlibat dalam dunia komunikasi yang serba terbatas. Pola komunikasi yang umum digunakan pun hanya melibatkan kata-kata, persamaan matematika dan berbagai diagram, yang biasanya hanya mudah dipahami oleh kalangan terbatas saja. Selain itu pola komunikasi yang digunakan juga sangat berjarak dan kenyataannya tidak berhubungan secara tepat dengan dunia nyata yang dijelaskannya seperti yang diinginkan. Sehingga bisa dikatakan ilmuwan realis hanya memfokuskan pada aspek tertentu saja yang dianggap penting pada waktu dan kesempatan khusus. Saat berbagai riset terus berkembang, gambaran ini akan terus diperluas untuk memenuhi berbagai kepentingan yang berbeda.

Ketika seorang ilmuwan realis percaya bahwa tujuan dari sains adalah untuk menjelaskan dengan tingkat keterwakilan yang makin mendekati dengan dunia nyata, namun hal ini tidak berarti bahwa pada suatu waktu tertentu, suatu teori atau suatu proses telah terlihat mendekati kenyataan yang ada. Seorang realis hanya akan menguji pengetahuan berdasar klaim kebenarannya saja. Ketika seorang ilmuwan mengklaim suatu pengetahuan misalnya, pernyataannya haruslah merupakan suatu status pengetahuan yang sifatnya sementara saja. Yang terjadi berikutnya adalah apakah hal tersebut dapat terus bertahan terhadap berbagai kritik yang dialamatkan serta dapat memuaskan dalam menjelaskan realitas secara memuaskan oleh komunitas ilmuwan yang menilainya. Pengujian terhadap klaim ini biasanya membutuhkan waktu, terkadang dalam kurun yang cukup lama. Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa ada berbagai klaim dalam sains bahkan tidak mampu bertahan terhadap berbagai kritik dalam waktu yang sangat singkat setelah diumumkan. Ketika kegiatan sains bertujuan untuk menampilkan pengetahuan yang akurat tentang dunia nyata –seorang ilmuwan realis harus membuat penilaian apakah hal tersebut memang dapat diterima atau tidak.

Perspektif Ilmuwan Instrumentalis

Suatu kenyataan bahwa seorang ilmuwan yang menganut pandangan realis mempunyai pilihan dalam menyatakan berbagai pengetahuan berbagai gejala alam khususnya tentang hal dan proses yang tidak teramati secara langsung tentunya dapat membuat kebingungan, dan untuk sebagian orang, hal ini akan lebih masuk akal untuk menganut pandangan lainnya, yaitu perspektif instrumentalis atau empiris.Seperti halnya seorang ilmuwan realis, ilmuwan yang berpandangan instrumentalis juga bertujuan untuk menjelaskan dunia yang teramati, untuk mengklasifikasi dan menyimpulkan pengamatan, mendapatkan pola-pola, aturan-aturan dan hukum-hukum yang berlaku di alam ini. Namun dalam hal penjelasan teoritis yang berhubungan dengan hal dan proses yang tidak teramati, mereka melihatnya secara berbeda; mereka menggunakan hal dan proses itu hanya sebagai alat (instrument) yang berguna untuk membuat pengamatan bisa berkaitan.

Dalam hal ini penjelasan yang mereka berikan, sumbangan bisa jadi sangat berharga, dan sains dapat terus bergerak maju dengan memperluas dan memperbaiki berbagai kaitan ini. Sehingga setiap klaim teoritis (walaupun hal itu sudah menjadi baku sekalipun) dilihat sebagai fiksi atau model yang berguna yang membuat kita bisa menghubungkannya dengan pengamatan untuk memperkirakan hasil secara tepat. Karena tidak mungkin untuk menyatakan apakah klaim pengetahuan secara jelas berhubungan dengan kenyataan atau tidak, seperti halnya menjelaskan bahwa proses argumentasi kritik dalam sains membawa ke arah pengetahuan yang lebih baik tentang kenyataan yang ada, sehingga akan lebih masuk akal bagi seorang ilmuwan instrumentalis untuk tidak menyia-nyiakan waktu untuk berpikir pada berbagai pertanyaan seperti itu. Memberikan instrument teoritis sebagai model-model dimana meningkatnya kompleksitas yang disesuaikan dengan perilaku di alam nyata, dan membuat kita lebih mampu untuk memanipulasi keadaan itu dengan perkiraan hasil yang dapat diduga, itulah yang memang mereka inginkan.

Pandangan ini lebih sederhana dibanding pandangan ilmuwan realis dan menghindari beberapa kesulitan yang berhubungan dengan pendangan tersebut. Namun, hal ini tidak berarti memberikan seluruh motivasi yang diinginkan para ilmuwan, bukan pula hal ini sesuai dengan sejarah perkembangan sains. Terdapat anggapan bahwa semua ilmuwan berpandangan sebagai seorang realis, seperti yang diperlihatkan oleh tulisannya: motivasi utama mereka muncul dari keinginan untuk memahami dunia nyata. Selanjutnya, sejarah sains menunjukkan bahwa terkadang ketika satu kelompok ilmuwan mempunyai pemahanan teoritis yang memungkinkan mereka memperkirakan suatu gejala dengan tepat, namun akan selalu terdapat ketidakpuasan di dalamnya.

Perspektif Realis Kritikal

Salah satu contoh debat yang terkenal dalam perkembangan teori atom adalah antara Einstein dan Bohr-Heisenberg. Einstein menganggap bahwa Tuhan tidak sedang bermain dadu (pandangan realis), sedangan Bohr dan Heisenberg sebaliknya dengan mengemukakan azas ketidakpastian dalam hal penentuan posisi dan kecepatan electron (pandangan instrumentalis). Kedua pandangan yang kontras ini tentunya memerlukan pandangan alternatif. Hal yang menarik sehubungan dengan pengajaran sains di sekolah, rata-rata guru dan murid lebih condong kepada pandangan ilmuwan realis ini. Mereka bahkan menganggap berbagai fakta ilmiah yang diminiaturkan dalam bentuk model misalnya adalah bentuk realitas yang harus dipercayai. Sedikit yang memiliki perspektif instrumentalis yang menganggap alam nyata cukup dapat dijelaskan dengan model ilmiah imajiner. Perspektif realis-kritikal berusaha untuk menjembatani kedua pandangan dimana guru dan murid bisa mengadopsinya sesuai dengan pokok bahasan sains yang dibahas secara lebih tepat.

Pandangan realis-kritikal mengakui bahwa saintis biasanya bertujuan untuk mendapat penjelasan yang benar tentang dunia nyata dan juga penjelasan yang benar tentang kejadian yang teramati. Namun, karena mereka tidak dapat mengetahui secara pasti bahwa penemuan dan penjelasannya memang benar, mereka bisa menganggapnya sebagai wakil dari realitas yang juga merupakan subjek untuk penelitian yang kritis dan diuji serta mungkin juga ditolak. Pada kesempatan lain, penjelasan yang benar tentang alam nyata memang tidak dapat ditemukan, karenanya kebutuhan suatu instrument untuk memperkirakan dibutuhkan. Sehingga bagi penganut perspektif realis-kritikal, bisa menjadi realis terhadap berbagai teori (apa yang dipercaya sebagai benar, atau dianggap benar untuk saat tertentu), ataupun menjadi instrumentalis pada teori lainnya (teori yang dianggap berguna, tapi tidak dianggap sebagai hal yang benar).

Secara praktis, dalam pengajaran sains, bagi perspektif realis-kritikal tidak menjadi masalah bila seorang guru tetap menggunakan teori yang telah terbukti salah atau sudah diperbaiki dalam kapasitas instrumentalis dibandingkan bila memakai penjelasan realis yang berlaku pada saat ini. Contoh mengenai perkembangan model atom menunjukkan bahwa pandangan instrumentalis masih dianggap relevan sebagai pengantar bagi siswa tentang kompleksitas atom; ataupun memakai pandangan instrumentalis saat menjelaskan cahaya dengan menekankan pada salah satu pendekatan saja baik sebagai gelombang atau sebagai partikel.