Tuhan dan Religiusitas Einstein yang Sunyat

A sketch of German physicist Albert Einstein by his friend Josef Scharl is to be seen in public for the first time at an art sale in New York in January

(Gambar: Sketsa Albert Einstein karya Josef Scharl)

Di tahun 1927, para ahli fisika berkumpul di sebuah ruangan yang berada dalam sebuah gedung besar. Pagi itu, di luar gedung, salju turun ragu-ragu, awal musim dingin mulai datang, pelan dan lamban. Kebanyakan orang memilih berlindung di balik selimut, cuaca awal musim selalu disambut dengan kemalasan. Tapi tidak dengan para ahli fisika itu, mereka berdebat, berdiskusi, sementara salju turun lamban tapi pasti di luar ruangan (di luar gedung).

Mereka adalah Max Planck, Pauli, dan Heisenberg, yang sedang membahas tentang Albert Einstein, teoritikus fisika terbesar abad ini. Diskusi mereka menitik pada pokok soal, Einstein yang terlalu sering berbicara tentang Tuhan dalam setiap esai dan ceramahnya, seperti ketika Einstein menulis, “aku ingin membaca pikiran Tuhan”, “Tuhan tidak bermain dadu”, dan yang lainnya.

Lalu bagaimana para ilmuwan itu harus menyikapi kelakuan Einstein tersebut? Setelah perdebatan sengit, akhirnya Pauli menyatakan: “Kalau batas antar bidang-bidang pemikiran dan pengalaman kita semakin menajam, pada akhirnya kita akan masuk pada sebuah kesepian yang menakutkan dan kita harus ijinkan air mata menetes”.

Itulah sebabnya, sebagai ilmuwan (fisikawan), Einstein menolak konsepsi Tuhan yang antroposentris (Tuhan yang dibayangkan seumpama manusia). Einstein melihat ide Tuhan personal sebagai bentuk antropomorfisme (seperti contohnya Mujassimah Wahabi yang menganggap Tuhan punya tangan dan bertempat).

Pada intinya, seperti alam, Tuhan adalah misteri tak terlukiskan dengan bahasa manusia. Mengapa demikian? Karena ia pun tidak bisa melukiskan batas sepi kosmos, sehingga ia pun harus terpaksa berhenti pada E=MC2. Itupun tidak juga menuntaskan misteri kosmos. Kosmos dan Tuhan tetap misteri yang tak akan pernah terungkap tuntas.

Dalam hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkhutbah: “Ia yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. Ia mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu”.

Teosofi Sains Nahjul Balagah

Aktivitas Ramadan Muslim Syi'ah Iran

Radar Banten, 27 Juni 2015

Nahjul Balaghah merupakan sebuah kitab yang merangkum hikmah, surat, pidato, dan nasehat-nasehat Imam Ali (as) yang disusun dan dikodifikasi oleh Sayid Syarif Radhi yang juga didasarkan pada sejumlah dokumen dan kodifikasi lainnya (data dan dokumen sebelumnya) yang mutawattir dan sahih, teruji dan otentik. Sedangkan dari segi isi dan materi, salah satu bagian utama Nahjul Balaghah membahas tentang ketuhanan (tauhid dan teologi) serta metafisika. Menurut sejumlah ulama dan pakar, sekitar empat puluh kali kajian ini diulas dalam ceramah, surat, dan kata mutiara Nahjul Balaghah. Dan kendatipun sebagiannya hanya berupa kalimat pendek, ringkas, atau singkat saja, namun umumnya sampai mencapai beberapa baris, dan bahkan, sekian halaman.

Memanglah haruslah diakui, meski mengandung ulasan kosmologi dan sains, ulasan yang menyangkut tauhid (teologi dan teosofi) dalam Nahjul Balaghah terhitung bagian yang sangat menakjubkan dan yang paling dominan, di mana dalam konteks yang demikian, tidak berlebihan jika menurut sejumlah ulama dan pakar, pembahasan ini dikatakan atau dinyatakan setara dengan mukjizat. Tentunya hal itu dapat diterima jika situasi dan kondisi atau konteks kajian-kajian itu diperhatikan dan dicermati dengan sungguh-sungguh oleh kita.

Begitu pula, haruslah dimaklumi oleh kita, diskursus Nahjul Balaghah tentang ketuhanan dan metafisika itu sendiri sangat beragam, di luar soal-soal sains dan kosmologi yang menjadi minat tulisan singkat ini. Dalam kaitannya dengan isu dan materi bahasan seputar tauhid dan metafisika (serta kosmologi yang pada akhirnya berkaitan dengan isu-isu saintifik) dalam Nahjul Balaghah tersebut, ada yang berbentuk telaah ciptaan dan hikmah Ilahi, seperti sistem universal langit dan bumi, dan terkadang meneliti eksistensi tertentu (secara spesifik namun pada saat bersamaan sesungguhnya bernilai universal atau menyeluruh), seperti tentang kelelawar, merak, atau semut, dan memperhatikan manajemen serta tujuan dari penciptaannya.

Dalam hal ini, akan bisa lebih dimengerti oleh kita jika kita mengambil satu contoh keterangan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib (as) tentang semut dalam ceramah ke-177 beliau berikut ini (yang mana contoh ini dapat dikatakan salah-satu contoh kandungan Nahjul Balaghah yang relevan dari segi wacana dan perspektif saintifik):

“Apakah mereka tidak meneliti ciptaan-Nya yang kecil? Bagaimanakah Dia kuatkan ciptaannya dan tegakkan susunannya. Dia bekali pendengaran dan penglihatan, Dia isi tulang dan lapisi dengan kulit? Pikirkanlah semut dengan posturnya yang amat kecil dan bentuknya yang lembut. Begitu kecilnya sehingga hampir tak terlihat oleh mata dan tak tercerna oleh pemikiran. Bagaimana ia berjalan di atas bumi dan berusaha mengumpulkan rejeki? Ia angkut biji-bijian ke dalam lubang dan disimpannya di sarangnya. Dia kumpulkan makanan itu di musim panas untuk perbekalan di musim dingin nanti, dan di musim dingin dia sudah dapat memperkirakan saat keluar dan bebas. Dengan demikian rejeki makhluk kecil ini sudah terjamin secara rapih dan teratur. Allah Maha Pemberi tidak akan pernah melupakannya walau dia terletak di bawah batu yang keras. Apabila kalian teliti dan pikirkan jalur keluar dan masuknya makanan, struktur perut, telinga, dan mata yang terletak di kepalanya, niscaya kalian akan sangat terheran-heran oleh ciptaan ini”.

Seperti dapat kita cermati, keterangan yang dinyatakan Imam Ali bin Abi Thalib (as) tentang semut tersebut pada dasarnya mengandung hikmah bagi kita untuk merenungi, mempelajari, dan meneliti makhluk hidup dan alam (semesta) itu sendiri sebagai entitas atau segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Dan demikian juga, salah-satu isi dan materi yang sangat penting dalam Nahjul Balaghah adalah seputar kosmologi (termasuk yang terkait dengan bahasan yang menjadi konsen ilmu fisika dan astronomi), semisal tentang ‘Penciptaan’, di mana dalam salah-satu khutbahnya itu, Imam Ali bin Abi Thalib (as) menerangkan tentang bagaimana Allah (swt) menciptakan dunia (semesta):

“Ia memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. Ia memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, memberikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.

Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, Ia mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. Ia memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.

Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian Ia memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian Ia menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.”

Itulah beberapa contoh kandungan sains yang ada dalam Nahjul Balaghah, sebuah kitab yang merupakan kumpulan hikmah, ilmu, nasehat, dan pidato Imam Ali bin Abi Thalib (as), di mana di dalamnya terkandung hikmah yang relevan dengan isu dan materi saintifik (yang masih tetap aktual hingga saat ini) yang dapat disajikan oleh tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Sulaiman Djaya

Alqur’an dan Teori Relativitas

Milad Tower, Tehran, Iran

(Foto: Milad Tower, Tehran, Iran)

Sumber: Radar Banten, 24 Juli 2015

Bahwa Al-Qur’an mengandung ayat-ayat sains itu sudah dibuktikan oleh banyak ilmuwan, baik di Barat maupun di kalangan kaum muslimin sendiri, seperti telah dibuktikan oleh Profesor Abdus Salam, yang hingga saat ini merupakan satu-satunya ilmuwan muslim yang mendapat hadiah Nobel berkat teori electroweak-nya itu. Namun, dengan tulisan ini, adalah cukup menarik untuk memberi informasi singkat mengenai relevansi sejumlah ayat Al-Qur’an dengan teori relativitas ruang-waktu, yang mulanya sudah dicetuskan oleh Al-Kindi, ketika filsuf muslim itu dalam Al-Falsafa Al-Ula (Filsafat Pertama)-nya, menyatakan: “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan”.

Kita tahu bahwa Teori Relativitas Einstein ada dua macam, yaitu teori relativitas khusus dan teori relativitas umum. Berdasarkan teori relativitas khusus menunjukan bahwa kecepatan membuat waktu bersifat relatif. Namun, barangkali Anda bertanya: ‘Bagaimana penjelasannya secara ringkas dan tepat? Jawabannya adalah bahwa bila suatu benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya, maka waktu akan mengalami pemoloran atau melambatnya waktu, fenomena ini disebut dengan delatasi waktu, sedangkan teori relativitas umum mempostulatkan bahwa gravitasi membuat waktu menjadi relatif. Singkatnya, waktu akan berjalan lebih lambat di daerah yang gravitasinya lebih besar, dan inti dari kedua teori ini adalah waktu yang bersifat relatif.

Dalam hal yang demikian itu, sebagai contohnya, apabila ada manusia yang bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya atau berjalan di daerah yang gravitasinya lebih besar dari gravitasi bumi, misalnya matahari (dan ini sekedar pengandaian saja), maka waktu akan berjalan lambat, dan begitu pula fungsi biologi dan anatomi tubuhnya serta semua pergerakan yang terkait dengan atom-atom penyusun tubuhnya. Percobaan yang dilakukan di British Nasional Institute of Physics telah menguatkan fakta tersebut, penelitinya John Laverty, mencocokkan dua jam yang menunjukan waktu yang sama (dua jam tersebut memiliki tingkat ketelitian yang optimal, perkiraan kesalahan kira-kira tidak lebih dari 1 detik dalam 300.000 tahun). Salah satu jam ini disimpan dalam Laboratorium di London, dan jam yang lainnya dibawa dalam penerbangan pulang pergi antara London dan Cina.

Demikian pula, kita tahu juga bahwa semakin tinggi suatu pesawat maka pengaruh gravitasi bumi semakin kecil, sehingga berdasarkan teori relativitas umum waktu akan berjalan lebih cepat di atas pesawat. Tepat dalam hal inilah, perbedaan gravitasi antara orang yang terbang di udara dengan orang yang berada di atas permukaan bumi tidaklah begitu mencolok walaupun tetap ada perbedaan itu sangat kecil sekali sehingga perbedaan ini hanya dapat dilihat dengan alat yang memiliki tingkat ketelitian yang sangat tinggi.

Ternyata dari penelitian sejumlah ilmuwan dan komunitas para fisikawan, didapatkan bahwa jam yang berada di atas pesawat berjalan lebih cepat satu per lima puluh lima miliar detik, yang mana biarpun hasilnya sangat kecil tetap saja ada perbedaan kecepatan jam. Ini menunjukan bahwa waktu memang bersifat relatif. Cobalah sekarang kita menengok kitab suci kita Al-Qur’an: “Para malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan, dalam sehari setara dengan lima puluh ribu tahun” (QS. Al-Ma’arij 70:4).

Karena itulah, jika bumi kita jadikan sebagai acuan, relativitas terjadi barangkali karena tempat yang tinggi karena ada istilah naik pada ayat di atas, juga bisa terjadi karena kecepatan para malaikat dan Jibril yang mendekati kecepatan cahaya, karena malaikat dan jibril bahan dasarnya atau diciptakan dari cahaya. Sehingga waktu mengalami pemoloran (pelambatan atau delatasi), dimana satu hari molor menjadi lima puluh ribu tahun di bumi. Atau ayat berikut ini: “Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (QS. Al-Sajdah 32:5).

Ayat tersebut juga menunjukan pemoloran (pelambatan) waktu, yang disebabkan perbedaan ketinggian karena ada istilah naik, sehingga waktu langit berbeda dengan waktu bumi. Dalam Al-Qur’an disebutkan juga bahwa orang yang telah meninggal jika dibangkitkan kembali akan berpikir bahwa waktu mereka di dunia sangatlah singkat. Nah, persis dengan memahami teori relativitas, pertanyaan yang membingungkan tentang waktu yang satu hari setara dengan seribu tahun atau bahkan lima puluh ribu tahun dapat diterima akal dengan sebaik-baiknya.

“Dan ingatlah pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari, (pada waktu) mereka saling berkenalan, sesungguhnya orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah, dan mereka tidak mendapat petunjuk” (QS. Yunus 10:5). Dan Allah berfirman, ”berapakah tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi? Mereka menjawab “kami tinggal di bumi sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada mereka yang menghitung” (QS. Al-Mu’minun 23:113).

Akan tetapi, barangkali perlu juga merenungkan waktu secara puitis dan spekulatif. Sebagaimana dapat kita bisa bayangkan, berdasarkan penegasan al-Qur’an yang suci yang sebelumnya telah disebutkan itu, satu hari di suatu kawasan di angkasa sana, yang kita belum tahu di mana itu, sama dengan lima-puluh ribu tahun di bumi, di planet biru-hijau di mana kita hidup, berada, mengalami rasa-senang, kesedihan, jatuh cinta, putus-asa, atau marah. Sementara itu, di bumi sendiri, pengalaman dan pemahaman kita akan waktu tergantung pada aspek fisik dan psikis (bathin) kita. Misalnya, waktu terasa berjalan lambat (lama) ketika kita menderita dan terasa berjalan cepat ketika kita sedang mengalami kesenangan.

Penerimaan dan pengalaman kita tentang waktu, contohnya, tidak sama ketika kita sedang sakit dan ketika sedang bersama kekasih yang dirindu dan dicinta. Ada waktu mekanis yang sifatnya birokratis dan tak lebih sebuah alat ukur yang terbuat dari mesin, dan ada waktu psikis (bathin) yang dialami secara unik dan berbeda oleh masing-masing kita sesuai konteks dan pengalaman kita sendiri yang sifatnya subjektif dan individual.

Sulaiman Djaya