Arsip Kategori: Timur dan Barat

Dari Yunani, Al-Kindi Hingga Einstein

Kita Seperti Kata

oleh Sulaiman Djaya (2015)

“Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan” (Al-Kindi –The First Philosophy)

Upaya untuk menyingkap misteri semesta atau jagat raya telah dilakukan oleh peradaban-peradaban Mesir, Babilonia, Persia, Yunani hingga sekarang ini –di mana dulu peradaban-peradaban Mesir, Babilonia, Persia, dan Yunani tersebut sangat menaruh perhatian pada ilmu perbintangan (astronomi) dan upaya untuk memecahkan misteri kosmik itu sendiri secara keseluruhan.

Kita tahu, jika kita pernah membaca filsafat Yunani, contohnya, salah-satu konsen (minat dan perhatian) para filsuf Yunani (di masa lampau) adalah pada persoalan “mencari tahu” “Ada yang primordial”, yang kemudian kita kategorikan sebagai filsafat alam Yunani.

Mazhab Milesia, contohnya, disibukkan dengan usaha mereka untuk menjelaskan (melakukan eksplanasi) tentang keteraturan dan ragam “Ada” atau struktur “Ada” –bukan “Ada” itu sendiri. Mereka berusaha menemukan ‘apakah substansi primer yang mendasari segala proses dan perbedaan perubahan bentuk di alam atau di semesta’.

Ada ragam atau variasi dalam mazhab tersebut. Thales, misalnya, mengatakan bahwa substansi primer alam atau “Ada” adalah air. Anaximenes berpendapat bahwa substansi primer itu adalah udara. Sedangkan Anaximandros berpendapat bahwa substansi primer itu adalah Apeiron atau “yang tak terbatas”.

Sementara itu, Pythagoras yang konsen dengan studi matematika dan astronomi, melakukan analisa ragam eksistensi dalam sistem prinsip-prinsip forma. Menurutnya prinsip forma inilah yang mendasari hakikat segala sesuatu dan segala proses di dunia. Pythagoras juga berpendirian bahwa realitas bisa dijelaskan dengan angka-angka dan bisa diukur secara matematik –yah dengan angka-angka tersebut.

Ia berpandangan alam dibangun berdasarkan harmoni serta mengatakan bahwa musik dan nada-nada adalah cerminan alam.

Murid dan penerusnya, yaitu Philolaus, bahkan mengatakan bahwa bumi berotasi pada porosnya –yang menyebabkan pergantian waktu siang dan malam. Dalam hal ini, Philolaus mempercayai bahwa semesta adalah sistem ruang-ruang. Mazhab Milesia memang disibukkan dengan usaha untuk menemukan “Ada yang primordial” yang mendasari gerak dan perubahan semesta, namun mereka mengabaikan masalah utama perubahan itu sendiri.

Di sini, Heraklitus kemudian menyatakan bahwa “alam adalah perubahan tanpa akhir”, di mana segala sesuatu datang dan pergi. Heraklitus masyhur dengan doktrin Panta Rhei-nya: “Segalanya berkembang, engkau tak mungkin berdiri dua kali di sungai yang sama dalam waktu yang sama”.

Heraklitus memang filsuf yang mengajarkan tentang perubahan yang terus menerus dalam alam, yang bisa ditangkap oleh akal dan pemahaman orang bijak, semacam filsuf atau ilmuwan. Hanya saja, pandangan Heraklitus kemudian mendapatkan penolakan di kalangan Mazhab Elea, di mana dua tokoh utamanya adalah Zeno dan Parmenides.

Parmenides sendiri hidup dalam dua pandangan antara doktrin Heraklitus mengenai perubahan yang terus-menerus dan doktrin Xenophanes tentang ide Satu Tuhan yang tidak berubah, dan kemudian Parmenides menyatakan bahwa yang mendasari alam adalah “Ada” yang abadi dan tidak berubah.

Ketegangan antara pandangan Heraklitus dan Mazhab Elea tersebut kemudian disintesiskan oleh Anaxagoras dengan ajaran pluralisme-nya. Ia menolak ajaran esensi kesatuan dari semua “Ada”, di mana menurutnya segala sesuatu adalah keragaman yang tak terbatas dalam jumlah dan jenisnya, yang kemudian kita kenal sebagai pluralisme kualitatif. Sebagai contoh: kayu, besi, rambut, darah, dan lain sebagainya tak mungkin direduksikan satu sama lainnya. Inilah yang disebut oleh Anaxagoras sebagai benih-benih eksistensi (seeds of existence), di mana segala sesuatu memiliki benih-benih eksistensinya sendiri –yang tak bisa direduksikan ke dalam jumlah. Dan ini pula-lah yang diklaim sebagai keadaan primordial “Ada” oleh Anaxagoras, yang di sisi lain ia sebut sebagai Nous (gerak atau pikiran) yang mengoperasikan aktivitas kosmik.

Hasrat untuk mengetahui misteri alam semesta itu pun terus berlanjut. Ratusan tahun sebelum Sir Isaac Newton mengemukakan hukum gerak dan sang jenius Albert Einstein mengemukakan Teori Relativitas, misalnya, Al-Kindi menyatakan: “Waktu, ruang, gerakan, dan benda, semuanya relatif dan tak absolut. Waktu hanya eksis dengan gerakan; benda dengan gerakan; gerakan dengan benda. Jika ada gerakan, di sana perlu benda; jika ada sebuah benda, di sana perlu gerakan” (Al-Falsafa Al-Ula).

Sementara itu, Nichomachus of Gerasa dalam Arithmetic-nya menyatakan: “Alam seakan diatur sesuai dengan angka oleh Sang Maha Pencipta –karena pola-polanya telah ditentukan. Seperti goresan-goresan awal sebuah lukisan –oleh dominasi angka yang telah ada sebelumnya di dalam ‘pikiran’ Tuhan Sang Pencipta alam” (Arithmetic I, 6).

Di abad ke-16 –yang lazim kita kenal sebagai Abad Inkuisisi di Eropa itu, Nicolaus Copernicus dengan berani mengemukakan teori dan pandangannya bahwa matahari tidak mengelilingi bumi sebagaimana yang dinyatakan Ptolomeus dan dipercayai Gereja, tapi bumi-lah yang justru mengelilingi matahari.

Kesimpulan Heliosentrisnya itu ia dapatkan berdasarkan observasi dan perhitungan matematis, hanya saja ia tidak menerbitkan karyanya kala itu karena khawatir inkuisisi Gereja akan menimpa dirinya.

Seabad kemudian setelah temuan Nicolaus Copernicus itu –tepatnya di abad 17, Galileo Galilei dengan teleskop ciptaannya mampu membuktikan teori dan pandangan Nicolaus Copernicus tersebut dengan lebih meyakinkan, bahwa bumi mengelilingi matahari, yang juga menyebabkan terjadinya siang-malam secara bergiliran selama 24 jam.

Karena kegigihan dan pembelaannya tersebut, Galileo Galilei dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Gereja. Sementara itu, seorang pendeta Dominikan yang juga membenarkan teori-nya Nicolaus Copernicus tersebut, yaitu Giordano Bruno (1548-1600) dibakar hidup-hidup di tiang pancang oleh Gereja di tahun 1600.

Di abad modern, apa yang pernah dilakukan Copernicus dan Galileo itu kemudian dilakukan juga oleh Edwin Hubble, di mana pada tahun 1929, Edwin Hubble menciptakan teleskop di abservatoriumnya di Mountwilson, California. Dan setelah selama berbulan-bulan melakukan pengamatan alias observasi, ia menemukan bahwa bintang-bintang dari hari ke hari semakin menunjukkan spektrum merah.

Dalam hal ini, menurut Hukum Fisika, jika benda semakin menjauhi titik pengamatan, maka akan menunjukkan spektrum merah, sedangkan benda yang mendekati titik pengamatan menunjukkan spektrum biru.

Penemuan ini sangat penting, karena hal itu menunjukkan alias membuktikan bahwa benda-benda luar angkasa kian hari semakin saling menjauhi satu sama lainnya. Singkatnya, alam semesta semakin meluas dan mengembang, dan hal ini menggugurkan pandangan yang menyatakan bahwa alam semesta atau jagat raya statis atau tetap sebagaimana yang dikemukakan Immanuel Kant.

Terkait hal ini, Stephen Hawking pernah menyatakan: “Pada awal-mula jagat-raya, segala sesuatu saling berdekatan –sehingga pada saat itu sangat banyak ketidakpastian, serta ada sejumlah keadaan yang mungkin ditempuh jagat-raya. Setiap keadaan awal yang berbeda-beda ini pastilah telah berkembang menjadi sejumlah sejarah yang berbeda-beda untuk jagat-raya. Kebanyakan dari sejarah tadi, sejarah garis besar mempunyai kemiripan. Masing-masing terkait dengan sebuah jagat yang seragam dan mulus –dan terus memuai.

Persis dengan temuannya itulah, Edwin Hubble menyatakan: “Jagat-raya memuai!” Dan kala itulah Edwin Hubble kemudian melakukan perhitungan mundur (yang kemudian kesimpulannya persis dengan apa yang dikatakan Hawking di kemudian hari itu), yaitu jika dari hari ke hari benda-benda angkasa semakin menjauh berarti dahulunya benda-benda angkasa bermula dari sesuatu yang padu (satu) dan kemudian meledak dengan kecepatan yang luar biasa. Ledakan inilah yang kemudian kita kenal dengan nama “Big Bang” (Dentuman Akbar).

Tentu saja temuan ini sangat mengejutkan, karena menurut perhitungan yang cermat, para ilmuan umumnya dan fisikawan khususnya, menyimpulkan bahwa sesuatu yang padu (satu) itu haruslah bervolume nol –yang artinya jika suatu benda bervolume nol maka ia berawal dari ketiadaan.

Tapi Edwin Hubble bukanlah orang pertama yang menemukan hal tersebut, melainkan si jenius Albert Einstein, di mana melalui perhitungannya yang cermat, Albert Einstein telah memperhitungkan bahwa ruang angkasa tidak statis –melainkan terus meluas alias berkembang, di saat para ilmuwan umumnya dan fisikawan khususnya masih berpegang pada kepercayaan bahwa alam semesta bersifat statis (tidak berawal dan kekal).

Dan pendapat tentang alam semesta yang statis ini dikemukakan oleh para pendukung evolusionis-materialis (atheis). Singkatnya, Albert Einstein mematahkan pandangan kaum evolusionis materialis ketika teori dan pendapatnya dibenarkan oleh eksperimentasi Edwin Hubble.

Namun, apakah hal itu cukup bagi kemenangan Einstein? Jawabannya tentu saja belum –sebab jika jagat-raya atau alam semesta bermula dari ledakan, tentu ada sisa-sisa ledakannya, sebagaimana dinyatakan seorang fisikawan Amerika yang bernama George Gamov itu?

Nah, di tahun 1965, dua orang ilmuwan alias dua fisikawan, yaitu Arnold Pengias dan Robert Wilson, dalam observasi mereka menemukan sisa-sisa radiasi yang tersebar di ruang angkasa. Dan berkat penemuan mereka itu, mereka berdua pun memperoleh anugerah Nobel.

Dan tak hanya itu saja, karena di tahun 1989, NASA meluncurkan satelit ke luar angkasa untuk meneliti tentang gejala radiasi alam semesta. Saat itu, melalui sensor-sensor yang dipasang di satelit yang disebut sensorkobe, mereka menangkap adanya radiasi sisa-sisa ledakan besar yang menyebar di seluruh ruang angkasa.

Tak ayal, penemuan hasil observasi langsung ini menghebohkan dunia dan media massa. Atas temuan ini, Stephen Hawking menyebutnya sebagai penemuan terbesar dalam bidang astronomi di abad ini, bahkan mungkin sepanjang masa. Barangkali kita belum lupa dengan apa yang pernah dikatakan Karl Raimund Popper itu, bahwa salah-satu metode kerja sains adalah falsifikasi, di mana sebuah teori (atau temuan) akan gugur jika ada teori atau temuan lainnya yang menggugurkan atau membuktikan kekeliruannya.

Tuhan dan Religiusitas Einstein yang Sunyat

A sketch of German physicist Albert Einstein by his friend Josef Scharl is to be seen in public for the first time at an art sale in New York in January

(Gambar: Sketsa Albert Einstein karya Josef Scharl)

Di tahun 1927, para ahli fisika berkumpul di sebuah ruangan yang berada dalam sebuah gedung besar. Pagi itu, di luar gedung, salju turun ragu-ragu, awal musim dingin mulai datang, pelan dan lamban. Kebanyakan orang memilih berlindung di balik selimut, cuaca awal musim selalu disambut dengan kemalasan. Tapi tidak dengan para ahli fisika itu, mereka berdebat, berdiskusi, sementara salju turun lamban tapi pasti di luar ruangan (di luar gedung).

Mereka adalah Max Planck, Pauli, dan Heisenberg, yang sedang membahas tentang Albert Einstein, teoritikus fisika terbesar abad ini. Diskusi mereka menitik pada pokok soal, Einstein yang terlalu sering berbicara tentang Tuhan dalam setiap esai dan ceramahnya, seperti ketika Einstein menulis, “aku ingin membaca pikiran Tuhan”, “Tuhan tidak bermain dadu”, dan yang lainnya.

Lalu bagaimana para ilmuwan itu harus menyikapi kelakuan Einstein tersebut? Setelah perdebatan sengit, akhirnya Pauli menyatakan: “Kalau batas antar bidang-bidang pemikiran dan pengalaman kita semakin menajam, pada akhirnya kita akan masuk pada sebuah kesepian yang menakutkan dan kita harus ijinkan air mata menetes”.

Itulah sebabnya, sebagai ilmuwan (fisikawan), Einstein menolak konsepsi Tuhan yang antroposentris (Tuhan yang dibayangkan seumpama manusia). Einstein melihat ide Tuhan personal sebagai bentuk antropomorfisme (seperti contohnya Mujassimah Wahabi yang menganggap Tuhan punya tangan dan bertempat).

Pada intinya, seperti alam, Tuhan adalah misteri tak terlukiskan dengan bahasa manusia. Mengapa demikian? Karena ia pun tidak bisa melukiskan batas sepi kosmos, sehingga ia pun harus terpaksa berhenti pada E=MC2. Itupun tidak juga menuntaskan misteri kosmos. Kosmos dan Tuhan tetap misteri yang tak akan pernah terungkap tuntas.

Dalam hal ini, Imam Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah pernah berkhutbah: “Ia yang untuk menggambarkan-Nya tak ada batas telah diletakkan, tak ada pujian yang maujud, tak ada waktu ditetapkan, dan tak ada jangka waktu ditentukan. Ia mengadakan ciptaan dengan kodrat-Nya, menebarkan angin dengan rahmat-Nya, dan mengukuhkan bumi yang goyah dengan batu”.

Ilmuwan Muda Iran Kandidat Kuat Pengganti Einstein

Zahra Haghani

Siapa yang tak mengenal sosok Einstein? Pendobrak hegemoni Newton ini merupakan saintis paling termasyhur di era kontemporer. Dia berhasil mengubah arah kiblat sains modern yang awalnya mekanistik-reduksionistik, menjadi relatif karena dia mengakui adanya “faktor X” di luar teori-teori saintifik.

Einstein menggagas teori relativitas, serta berkontribusi pada perkembangan mekanika kuantum dan kosmologi. Dia mendapatkan penghargaan Nobel di bidang Fisika pada 1921 yang dilatarbelakangi penelitiannya tentang ‘efek foto listrik’ dan pengabdiannya terhadap Fisika Teoritis.

Sebagai seorang ilmuwan, Einstein memiliki kemampuan dalam melakukan prediksi yang akurat. Misalnya, pada 1916, dia berteori bahwa pulsar akan menarik orbitnya bintang kerdil putih (white dwarf) pada tingkat 7 mm per hari. Teori tersebut merupakan bagian dari teori relativitas umum. Pada saat itu, tidak ada cara untuk membuktikan apa yang ia katakan, tapi penemuan berikutnya menjawab keraguan para saintis di masa itu.

Pada tahun 2003 para ilmuwan menemukan sistem pulsar dari dua benda, yang pertama “beratnya” hampir sama dengan matahari, tetapi hanya sekitar 12 mil dan yang lainnya adalah kerdil putih yang lebih besar. Terdapat sesuatu yang lebih kecil, bintang neutron berputar 25 kali per detik, serta berputar lebih besar sekali setiap dua detik saat mengorbit bintang neutron setiap 2,5 jam. Hebatnya, Einstein sangat tepat dengan prediksi, dan keduanya memang semakin dekat bersama-sama pada tingkat 7 mm per hari.

Terlebih lagi, penelitian membuktikan bahwa teleskop Hubble telah berhasil menangkap gambar dari sebuah bintang yang meledak, cahaya yang terdistorsi oleh sekelompok galaksi. Gambar yang dihasilkan seperti “Einstein cross“, menunjukkan empat titik cahaya yang berasal dari supernova yang sama. Masing-masing dimulai pada titik yang sama, tapi perjalanan cahaya yang ditangkap Hubble dipengaruhi oleh materi gelap alam semesta.

Tulisan Ilmiah Einstein, “The Field Equations of Gravitation” telah berusia 100 tahun pada bulan Desember tahun ini, tapi ia tetap menjadi salah satu ilmuwan paling terkenal sepanjang masa. Pertanyaannya yang menggelitik adalah siapa yang akan menjadi Einstein berikutnya? Kini hadir alat yang bisa menemukan jawabannya.

Sparrho merupakan perusahaan yang menghasilkan alat penemuan ilmiah dengan teknologi canggih untuk mengungkap daftar orang-orang yang sedang menulis tentang subyek yang berhubungan dengan karya-karya Einstein.

Teknologi mutakhir ini dibangun oleh salah satu perusahaan yang bergerak di bidang sains. Sparrho dikembangkan ketika CEO Vivian Chan yang mendapatkan gelar PhD dalam biokimia di Universitas Cambridge. Dia bertemu dengan Steve, sesama saintis yang meneliti sesuatu yang terkait dengan karya Einstein dari makalah/penelitian ilmiah. Steve menyadarkan Chan bahwa tidak ada sumber daya yang menawarkan layanan seperti yang dia lakukan.

Atas dasar itu, dia jadi terinspirasi untuk membuat digital “Steve” yang akan memungkinkan siapa pun untuk mengakses makalah ilmiah (paper) dan informasi yang relevan. Bukan hanya makalah, tetapi sejumlah sumber lain, seperti mesin pencari, tak terbatas dalam lingkup.

Sparrho memeriksa lebih dari 18.000 sumber harian dan fitur sebanyak lebih dari 2,1 juta dokumen dalam database-nya, termasuk artikel terbaru, paten, video dan lainnya. Sparrho juga dapat dilatih untuk mendapatkan informasi terbaik untuk kebutuhan Anda, dan menghasilkan hal yang relevan.

Melalui kemitraan dengan The British Library, Sparrho memiliki akses ke metadata untuk semua isinya, kembali ke 1890-an. Yang memungkinkan perusahaan untuk mencari karya atau pekerjaan yang telah dilakukan Einstein dan menemukan orang-orang yang telah menulis makalah yang sama.

Setelah penelusuran yang panjang, Sparrho menemukan sebuah paper (makalah ilmiah) yang berjudul “Matter May Matter” karya Zahra Haghani. Subjek penelitiannya adalah Relativitas General dan Kosmologi Kuantum.

Perempuan Iran berusia 27 tahun tersebut melakukan penelitian yang melampaui dasar-dasar fisika. Berdasarkan analisa terhadap hasil penelitiannya, Sparrho memutuskan bahwa Zahra merupakan salah satu dari beberapa penulis yang secara statistik paling mirip dengan Einstein.

(Zainab/Forbes/Islam Indonesia)

Tidak Ada Waktu Kecuali Waktu Ini

Ihwal Waktu dan Masa Depan

Oleh Neale Donald Walsch

“Tidak ada waktu kecuali waktu ini. Tidak ada moment kecuali moment ini. Hanya ada “sekarang”. Waktu yang kita sadari ada sebenarnya adalah khayalan dan imajinasi kita, kontruksi dalam pikiran kita, yang dalam realitas tertinggi sebenarnya tidak ada. Segala yang pernah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi, semua terjadi saat ini juga”

Waktu bukanlah sesuatu yang berkelanjutan, itu hanyalah unsur relativitas yang hadir secara vertikal, bukan horizontal. Jadi bukan batas waktu yang terentang dari beberapa titik batas hingga beberapa titik batas di alam semesta ini, melainkan sesuatu yang “atas dan bawah”. Kita bisa membayangkan sebuah gelendong yang mewakili saat abadi dari sekarang, di mana setiap lembaran kertas berada satu di atas yang lainnya. Inilah unsur unsur waktu. Setiap unsur terpisah dan berjarak, namun masing-masing berada serempak bersama yang lain. Semua kertas itu serempak berada pada gelendong tadi. Sebanyak yang akan ada, sebanyak yang pernah ada.

Kitalah yang sebenarnya bergerak, bukan waktu. Waktu tidak punya gerakan, yang ada adalah sebuah momentum. Ilmu pengetahuan telah membuktikan hal ini secara matematis. Jika kita bergerak cukup jauh dan cukup cepat, kita akan tertarik kembali ke Bumi dan mengawasi diri kita sendiri sedang tinggal landas. Ini memperlihatkan bahwa waktu bukan gerakan, namun kutub yang melaluinya kita bergerak. Suatu saat kita akan menyadari bahwa Bumi tidak hanya berputar, tapi juga terbang. Kita akan melihat bahwa bumi bergerak melalui ruang angkasa mengelilingi matahari.

Jadi kita lihat bukanlah waktu yang melewati, namun benda-bendalah yang melewatinya dan bergerak di dalamnya, medan statis yang kita sebut ruang. Waktu adalah cara kita menghitung gerakan-gerakan itu. Para ilmuwan memahami hubungan ini dan karenanya sering mengkaitkannya dengan kesinambungan ruang-waktu.

Einstein dan rekan-rekannya menyadari bahwa waktu adalah kontruksi mental, sebuah konsep relasional. “Waktu” adalah apa yang relatif terhadap ruang di antara benda, jadi seandainya alam semesta ini melebar, maka bumi membutuhkan waktu yang “lebih lama” untuk berputar mengelilingi matahari, karena lebih banyak ruang yang ditempuhnya.

Einstein juga berteori bahwa seandainya bukan “waktu” yang bergerak, melainkan dirinyalah yang sedang bergerak melewati ruang pada tingkat tertentu, maka ia cuma tinggal mengubah jumlah ruang diantara benda, atau mengubah tingkat kecepatan yang dengannya ia bergerak melewati ruang dari benda yang satu ke benda yang lain, untuk mengubah waktu. Teori umum relativitas ini meluaskan pemahaman abad modern tentang adanya korelasi ruang dan waktu.

Kita selalu berada di tempat kesinambungan ruang-waktu dimana kita secara sadar tidak menyadari peristiwa itu. Kita tidak tahu itu telah terjadi dan kita tidak ingat masa depan kita. Inilah sifat alpa yang merupakan rahasia waktu, dan justru inilah yang membuatnya mungkin bagi kita untuk “memainkan” permainan kehidupan yang besar ini.

Manusia adalah makhluk ilahi, yang sanggup memiliki lebih dari satu pengalaman pada “waktu” yang sama, dan mampu membagi diri kedalam diri yang berbeda selagi kita memilihnya. Kita dapat menjalani kehidupan yang sama berkali-kali, dalam cara yang berbeda-beda. Dan kita juga bisa menjalani kehidupan pada “waktu” yang berbeda pada kesinambungan itu. Jadi selagi kita menjadi diri kita, di sini, pada saat ini, kita juga bisa, pernah menjadi beberapa diri kita yang lain dalam “waktu-waktu” dan “tempat-tempat” yang lain (Paralell Universe).

Manusia adalah suatu makhluk proporsi ilahi yang tidak terbatas. Sebagian diri kita memilih mengenal diri kita sendiri sebagaimana identitas yang kita alami saat ini. Namun sama sekali bukan batasan dari jati diri kita, walaupun kita mengiranya demikian.

Kita sedang menggunakan semua kehidupan, seluruhnya dari begitu banyak kehidupan, untuk menjadi dan memutuskan siapa diri kita yang sesungguhnya, untuk memilih sekaligus menciptakan siapa diri kita sesungguhnya, untuk mengalami dan memenuhi gagasan yang sekarang tentang diri kita.

Kita telah menarik orang, peristiwa dan situasi kehidupan kepada kita sebagai sarana yang dengannya kita membentuk versi teragung dan visi terbesar yang pernah kita miliki tentang diri kita. Proses penciptaan ini berlanjut dan berlanjut terus, tak pernah berkesudahan, dan berlapis lapis. Semuanya itu sedang terjadi “sekarang juga” dan pada banyak tahap.

Dalam realitas yang linear itu kita hanya melihat pengalaman sebagai masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Kita membayangkan bahwa kita hanya memiliki satu kehidupan, atau boleh jadi banyak kehidupan, namun pastilah hanya satu saja pada satu saat. Tapi bagaimana seandainya “waktu” itu tidak ada? Maka kita akan menjalani “semua kehidupan” itu sekaligus. Dan memang demikianlah adanya. Kita sedang menjalani kehidupan ini, kehidupan yang baru kita wujudkan sekarang ini, dalam masa lalu kita, masa sekarang, masa depan kita, semuanya sekaligus.

Agak sulit bagi kita untuk memainkan permainan kehidupan ini seandainya kita memiliki kesadaran penuh tentang apa yang sedang terjadi secara keseluruhan, bahkan seandainya bisa, maka permainan itu sudah berakhir. Prosesnya bergantung pada proses yang sedang dirampungkannya, seperti apa adanya, termasuk kurangnya seluruh kesadaran kita itu pada tahap ini.

Jadi sebaiknya kita syukuri proses ini dan terima sebagai karunia terbesar dari Sang Pencipta Terbaik. Rangkulah proses itu, dan bergeraklah melewatinya disertai rasa damai serta kebijaksanaan dan kegembiraan. Gunakan proses itu, lalu ubahlah dari sesuatu yang kita pikul menjadi seauatu yang kita lakukan, sebagai sarana pencipta pengalaman yang paling mengagumkan dari Seluruh Waktu, yaitu pemenuhan Diri Ilahi kita.

Putuskan siapa diri kita, kita ingin menjadi siapa, dan lakukan segalanya sebatas kemampuan kita untuk menjadi orang seperti itu. Gunakan waktu sebagai kerangka, dalam pemahaman kita yang terbatas itu, yang diatasnya kita menempatkan konstruksi ide-ide kita yang paling besar. Setiap orang sedang menciptakan segala sesuatu yang sedang dialami saat ini, lihatlah kesempurnaan dari setiap proses. Semuanya itu mengandung kebenaran tunggal: HANYA ADA SATU KITA!

Russell Versus Muthahhari

Iraq 1984 by Steve McCurr

Hak cipta ©Sulaiman Djaya (2015)

Dalam kancah filsafat, sains dan ilmu pengetahuan, demikian Thomas Nagel dalam bukunya yang berjudul The View from Nowhere, ada sebuah pertanyaan yang sangat urgen dan mendasar, yaitu bagaimana mengkombinasikan perspektif personal yang sifatnya partikular dalam sebuah dunia dengan pandangan objektif di dunia yang sama. Dan memang, masalah tersebut senantiasa hadir dalam kancah sains, filsafat dan ilmu pengetahuan, karena berkenaan dengan manusia sebagai subjek yang “mencari tahu” itu sendiri dan “apa yang ingin diketahui”. Belum lagi soal-soal lain yang berkenaan dengan itu semua.

Terkait dengan persoalan yang tak jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan Thomas Nagel tersebut, adalah cukup menarik untuk melakukan komparasi sekaligus konfrontasi antara dua filsuf, yaitu Bertrand Russell dan Murtadha Muthahhari, mengenai agama dan sains serta masalah-masalah yang hadir dan terkait dengan sendirinya berkenaan dengan persoalan tersebut.

Bertrand Russell dan Murtadha Mutahhari, meski saling bertolak-belakang satu sama lain dalam hal kepercayaan, paradigma, dan lanskap epistemologis intelektual mereka, sama-sama memiliki konsen yang intens dalam masalah interaksi, hubungan, dan dialektika agama dan ilmu (pengetahuan sekuler). Tak terkecuali menyangkut isu-isu atau materi-materi bahasan pelik seputar teisme adan ateisme – di mana dalam masalah ini, mereka akan terlihat nyata dan jelas saling bertolak belakang dan bertentangan satu sama lain.

Russell, di satu sisi, adalah seorang filsuf dan pemikir bebas yang mendaku diri sebagai seorang agnostik (menunda keputusan apakah Tuhan ada atau tidak ada) –yang kadangkala pendapat dan kritik-kritiknya terhadap agama acapkali tidak jauh berbeda dengan kritik yang dilancarkan kaum ateis terhadap agama. Sedangkan Muthahhari, di sisi lainnya, adalah seorang faqih, ‘ulama, sekaligus filsuf yang menjadikan Islam (Syi’ah)-nya sebagai basis dan dasar bagi tulisan-tulisan dan pemikiran-pemikiran intelektualnya, sembari dengan gigih senantiasa berusaha membuktikan bahwa Islam adalah dasar dan khazanah intelektual dan pemikiran itu sendiri, yang dengan demikian, baginya tak ada pertentangan antara Islam dan intelektualisme atau antara Islam dan pengetahuan:

“Ilmu pengetahuan memberikan kepada kita cahaya dan kekuatan. Agama memberi kita cinta, harapan dan kehangatan. Ilmu pe¬ngetahuan membantu menciptakan peralatan dan mempercepat laju kemajuan. Agama menetapkan maksud upaya manusia dan sekaligus mengarahkan upaya tersebut. Ilmu pengetahuan membawa revolusi lahiriah (material). Agama membawa revolusi batiniah (spiritual). Ilmu pengetahuan menjadikan dunia ini dunia manusia. Agama menjadikan kehidupan sebagai kehidupan manusia”.

Sebaliknya, Russell yang lebih menjadikan sains dan empirisisme-nya sebagai dasar paradigma intelektualnya, tak segan-segan bersikap enteng dan tanpa beban ketika “mengkritisi” dogma religius, sebagaimana diakui sendiri dalam otobiografinya: “Ketika saya menemukan dalam Autobiography Mill kalimat ‘ayah saya mengajari saya bahwa pertanyaan siapa yang menciptakan saya?’ tidak bisa dijawab karena pertanyaan itu segera memunculkan pertanyaan berikutnya ‘siapa yang menciptakan Tuhan’?” –di mana bagi kaum agamawan, retorika Mill yang kembali diungkapkan Russell tersebut juga ‘rancu’ karena mengandaikan “Sang Pencipta” ada “yang menciptakan”, yang secara logika tak dapat diterima.

Kita tahu, berbeda dengan Muthahhari yang memahami khazanah Islam (Syi’ah-nya) sebagai mata air dan khazanah ilmu dan hikmah intelektual dan tulisan-tulisannya, Russell (yang dengan basis pengetahuan dan tradisi Kristianisme) lingkungan dan keluarganya, seringkali lantang menyatakan bahwa dalam sejarah ummat manusia, utamanya sejarah Eropa dan Barat, acapkali agama “menghalangi” jalan kemajuan sains dan ilmu pengetahuan: “Konflik antara sains dan agama, yang mulai meruncing pada abad 16, dalam berbagai bentuknya, berlanjut sampai jaman kita saat ini.”

Namun, berbeda dengan Russell, Muthahhari, ketika melihat hubungan, interaksi, atau dialektika antara agama (Islam) dan sains ini, memandangnya dengan paradigma harmonis dan saling melengkapi, bukan saling bertentangan sebagaimana Russell memandangnya: “Hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama dapat dibahas dari dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama adalah kita lihat apakah ada sebuah agama yang konsepsinya melahirkan keimanan dan sekaligus rasional, atau semua gagasan yang ilmiah itu bertentangan dengan agama, tidak memberikan harapan dan tidak melahirkan optimisme.

Sudut pandang kedua yang menjadi landasan dalam membahas hubungan antara agama dan ilmu pengetahuan adalah pertanyaan tentang bagaimana keduanya ini berpengaruh pada manusia. Apakah ilmu pengetahuan membawa kita ke satu hal, dan agama membawa kita kepada sesuatu yang bertentangan dengan satu hal itu? Apakah ilmu pengetahuan mau membentuk (karakter) kita dengan satu cara dan agama dengan cara lain? Atau apakah agama dan ilmu pengetahuan saling mengisi, ikut berperan dalam menciptakan keharmonisan kita semua? Baiklah, kita lihat sumbangan ilmu pengetahuan untuk kita dan sumbangan agama untuk kita….

Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama memberikan kekuatan kepada manusia. Namun, kekuatan yang diberikan oleh agama adalah berkesinambungan, sedangkan kekuatan yang diberikan oleh ilmu pengetahuan terputus-putus. Ilmu pengetahuan itu indah, begitu pula agama. Ilmu pengetahuan memperindah akal dan pikiran. Agama memperindah jiwa dan perasaan. Ilmu pengetahuan dan agama sama-sama membuat manusia merasa nyaman. Ilmu pengetahuan melindungi manusia terhadap penyakit, banjir, gempa bumi dan badai. Agama melindungi manusia terhadap keresahan, kesepian, rasa tidak aman dan pikiran picik. Ilmu pengetahuan mengharmoniskan dunia dengan manusia, agama menyelaraskan manusia dengan dirinya….

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa akibat dari memisahkan antara ilmu pengetahuan dan agama, telah terjadi kerugian yang tak dapat ditutup. Agama harus dipahami dengan memperhatikan ilmu pengetahuan, sehingga tidak terjadi pembauran agama dengan mitos. Agama tanpa ilmu pengetahuan berakhir dengan kemandekan dan prasangka buta, dan tak dapat mencapai tujuan. Kalau tak ada ilmu pengetahuan, agama menjadi alat bagi orang-orang pandai yang munafik. Kasus kaum Khawarij pada zamah awal Islam dapat kita lihat sebagai satu contoh kemungkinan ini. Contoh lainnya yang beragam bentuknya telah kita lihat, yaitu pada periode-periode selanjutnya, dan masih kita saksikan.

Ilmu pengetahuan tanpa agama adalah seperti sebilah pedang tajam di tangan pemabuk yang kejam. Juga ibarat lampu di tangan pencuri, yang digunakan untuk membantu si pencuri mencuri barang yang berharga di tengah malam. Itulah sebabnya sama sekali tak ada bedanya antara watak dan perilaku orang tak beriman dewasa ini yang berilmu pengetahuan dan orang tak beriman pada masa dahulu yang tidak berilmu pengetahuan. Lantas, apa bedanya antara Churchill, Johnson, Nixon dan Stalin dewasa ini dengan Fir’aun, Jenghis Khan dan Attila pada zaman dahulu?

Dapatlah dikatakan bahwa karena ilmu pengetahuan adalah cahaya dan juga kekuatan, maka penerapannya pada dunia mate¬rial ini tidaklah khusus. Ilmu pengetahuan mencerahkan dunia spiritual kita juga, dan konsekuensinya memberikan kekuatan bagi kita untuk mengubah dunia spiritual kita. Karena itu, ilmu pengetahuan dapat membentuk dunia dan manusia juga. Ilmu pengetahuan dapat menunaikan tugasnya sendiri, yaitu mem¬bentuk dunia dan juga tugas agama, yaitu membentuk manusia. Jawabannya adalah bahwa semua ini memang benar, namun masalah pokoknya adalah bahwa ilmu pengetahuan adalah alat yang penggunaannya tergantung kepada kehendak manusia. Apa saja yang dilakukan oleh manusia, dengan bantuan ilmu pengetahuan dia dapat melakukannya dengan lebih baik. Itulah sebabnya kami katakan bahwa ilmu pengetahuan membantu kita mencapai tujuan dan melintasi jalan yang kita pilih”.

Jika Muthahhari menilai agama secara positif dan memandangnya sebagai entitas konstitutif dalam masyarakat, menyehatkan masyarakat dan membangun peradaban, sebaliknya dari perspektif yang berseberangan dan bertolak-belakang, Russell senantiasa melihat agama secara kritis dan tak jarang melontarkan pernyataan-pernyataan sinis terkait agama dan kaum agamawan, bahkan tak segan-segan memandang agama sebagai “penyakit” dalam masyarakat dan peradaban ummat manusia: “Pandangan saya akan agama sama dengan Lucretius,” demikian tulis Russell, “saya menganggap agama sebagai penyakit yang timbul dari rasa takut dan sebagai sumber penderitaan yang tak terungkapkan bagi umat manusia”.

Yang haruslah kita pahami dalam konteks pandangan dan kritik Russell terhadap agama yang acapkali agak sinis adalah bahwa Russell senantiasa melihat dan mendekati agama sebagai seorang filsuf, lebih tepatnya sebagai seorang pemikir bebas yang memang dekat ke watak kaum ateis, kritikus sosial, dan tentu saja sebagai individu –yang acapkali kecewa dengan agama institusional yang seringkali terpolitisasi oleh politik dan kekuasaan. Sesekali Russell pun tak sungkan-sungkan melontarkan sindirian anti-agama, misalnya saat ia mengungkapkan bahwa ‘ketika ia akan dibawa ke hadapan Tahta Langit (Tuhan), ia akan menegur Penciptanya karena tidak menyediakan cukup bukti akan eksistensi-Nya’.

Meskipun demikian bagi kita para pembaca, demi menghindari tuduhan yang terlampau terburu-buru terhadap Russell dan demi menghindari simplifikasi tanpa dasar, kita sepertinya harus juga mengetahui bahwa seringkali pandangan Russell terhadap agama bersikap mendua dan fluktuatif, semisal pandangannya yang memuji agama (religiusitas personal), di mana ia acapkali juga menaruh hormat kepada agama, tepatnya sikap keberagamaan, yang mengembangkan simpati dan kasih-sayang: “Saya menganggap beberapa bentuk agama personal sangat dibutuhkan dan merasa banyak orang tidak puas karena tidak memilikinya”.

Singkat kata, agama yang dikritik dan diserang Russell adalah agama yang, misalnya, gandrung mengobarkan kebencian, permusuhan, perang, dan yang sejenisnya –yang menurutnya bersumber dari dogmatisme keagamaan yang seringkali bercampur dengan kepentingan politik dan kekuasaan institusional agama itu sendiri, hingga ia dengan cukup ekstrem menyatakan: “Kasih-sayang terhadap manusia bagi saya adalah dasar untuk melepaskan diri dari kesia-siaan mencari Tuhan”.

Hanya saja, ekstremisme Russell tersebut-lah yang justru dikritik oleh Muthahhari, di mana Russell seakan-akan tidak bisa memisahkan antara ‘agama’ itu sendiri dan perilaku para penganut agama bersangkutan, yang memang acapkali “memolitisasi” agamanya dan “menaklukkan” dan “memanipulasi” agama untuk kepentingan diri sendiri, golongan, atau kelompok yang acapkali “menggunakan” agama atau “mengatasnamakan” agama demi kekuasaan dan ambisi politik, contohnya. Dengan kata lain, Russell mereduksi fenomena perilaku para penganut agama dan “menyamaratakan” atau main pukul rata dalam melihat dan memandang agama secara kritis dan sinis.

Harus diakui, memang banyak sekali pernyataan-pernyataan dan tulisan-tulisan Russell yang sangat keras mengkritik agama, misalnya:

“Mudah-mudahan kita sepakat (sependapat) untuk sementara bahwa agama adalah kepercayaan dengan banyak dogma yang mengarahkan perilaku manusia dan tidak didasarkan atas –atau bertentangan dengan- bukti yang riil.”

Beberapa komentator memandang kritik-kritik Russell terhadap agama tak jauh berbeda dengan serangan dan kritik Freud. Sementara itu, dalam konteks jaman kita saat ini, ada banyak contoh kritik dan serangan Russell terhadap agama mirip (atau malah pengembangan dari argumen dan retorika Russell sendiri) dengan retorika dan argumen kaum ateis militan mutakhir, semisal Richard Dawkins, Sam Harris, Daniel Dennet dan yang lainnya, yang ironisnya menempatkan diri di garis kaum fundamentalist, tanpa mereka sadari.

Sebagai seorang intelektual dan filsuf yang mendaku diri agnostik, sejumlah pandangan dan pernyataan Russell memang sama dengan pandangan dan khazanah kaum materialis, yang persis di sini dan dalam hal inilah, Muthahhari menyindir Russell, sementara beberapa komentator tulisan-tulisan Russell menilai klaim agnostisisme Russell mirip dengan pengakuan ateisme yang tidak eksplisit, untuk tidak menyebutnya sebagai pendakuan atau klaim yang malu-malu.

Pandangannya yang berciri materialis contohnya adalah pernyataan Russell yang berbunyi: “Sesungguhnya manusia itu lahir oleh berbagai faktor yang tidak direncanakan sebelumnya, dan tidak pula mempunyai tujuan tertentu. Prinsip manusia adalah pertumbuhan dan perkembangan, termasuk emosinya seperti cita-cita, rasa takut, cinta dan keyakinan, itu semua hanyalah gejala-gejala interaksi biologis dari berbagai partikel”.

Pandangan Russell tersebut digaungkan kembali oleh Richard Dawkins, sang biologist mutakhir yang kerap dijuluki sebagai juru-bicara kaum ateis militan saat ini. Russell sendiri memang mangaku sebagai pembaca The Origin of Species-nya Charles Darwin, dan menaruh hormat pada tulisan-tulisan Darwin: “Di rumah, saya diajarkan dasar-dasar Unitarianisme…..dalam sebagian besar masalah yang dibicarakan suasananya liberal……Darwinisme diajarkan sebagai materi khusus,” demikian tulisnya dalam otobiografinya yang berkisah tentang keluarganya yang Kristen puritan, sementara Russell sendiri, sebagaimana yang ia nyatakan, cenderung menjadi seorang yang berpikir bebas.

Bagi kita saat ini, contoh pandangan materialis Russell tersebut, kembali mendapatkan suaranya dalam pandangan dan tulisan-tulisan Richard Dawkins. Kita tahu, misalnya, Richard Dawkins pun tak jarang melakukan reduksi dan generalisasi. Dawkins misalnya menyatakan bahwa teori evolusi mempengaruhi seluruh aspek kehidupan manusia. Salah-satu buku Richard Dawkins yang populer, dan yang dijadikan sebagai media mempublikasi pandangan evolusionis materialisnya adalah The Selfish Gene yang kira-kira semacam pemaparan argumentasi tentang sifat selfish (mementingkan diri sendiri) yang merupakan kodrat gen yang natural alias alami.

Buku Dawkins tersebut, tak diragukan lagi, merupakan Darwinisme mutakhir jaman kita saat ini. Dalam buku tersebut, contohnya, Dawkins menyatakan bahwa prilaku mementingkan diri sendiri (selfish) dan prilaku baik (altruism) memiliki akar dalam biologi, lebih tepatnya dalam gen. Sifat-sifat tersebut, demikian menurut Dawkins, akan sangat mempengaruhi relasi (hubungan) antar makhluk hidup dan selanjutnya tentu saja berpengaruh dalam skala kehidupan sosial yang lebih luas, semisal dalam ekonomi dan politik. Contoh dari sifat mementingkan diri sendiri antara lain prilaku menolak membagi sumber-daya yang berharga seperti makanan, daerah atau pasangan, yang mencapai titik ekstrim pada kanibalisme atau mengorbankan orang lain untuk kepentingan sendiri. Sedangkan sifat altruisme, misalnya, tampak pada lebah yang mengorbankan nyawanya demi membela sarangnya, karena sesudah menyengat musuh, lebah akan mati.

Masih menurut Dawkins, adanya sifat-sifat di atas dapat diterangkan dengan hukum dasar yang disebut “gene selfishness”, atau sifat mementingkan diri sendiri gen. Sifat mementingkan diri sendiri timbul karena evolusi bekerja melalui seleksi alam. Hal ini berarti hanya yang paling fit yang akan dapat bertahan hidup. Namun apa yang menjadi dasar seleksi? Untuk menjelaskan hal ini sang penulis buku tersebut (Richard Dawkins) mengajak kembali ke asal mula terciptanya kehidupan di bumi. Bumi memiliki bahan mentah kimia yang melimpah, antara lain air, karbondioksida, metana, amonia, dan energi, namun melalui seleksi alam akhirnya tercipta sejumlah molekul yang lebih kompleks dan lebih stabil dibandingkan lainnya, dalam bentuk sup yang berisi asam amino, yaitu blok pembangun protein.

Dan sekarang kita kembali kepada pandangan dan pernyataan Russell yang berciri materialis, seperti yang telah disebutkan, di mana dalam menanggapi pandangan Russell tersebut, Muthahhari menyindirnya sembari membandingkan pandangan tersebut dengan tulisan dan pandangan Albert Eisntein. Muthahhari menulis:

“Dengan ucapannya (tersebut), Russell mengingkari wujudnya kekuatan intelegensi yang mengatur alam semesta dengan bijaksana, meskipun kadang-kadang dia juga mensifati dirinya sebagai termasuk golongan yang ragu-ragu (skeptis) dan agnostik. Pada sisi lain kita melihat Einstein –ilmuwan jenius abad 20- mengatakan pendapat yang menentang opini Russell dengan menyatakan, ‘Anda tidak akan menemukan di antara pikiran-pikiran para ilmuwan tanpa perasaan keberagamaan….Rasa keberagamaan itulah yang menuai keta’juban terhadap harmoninya hukum semesta, yang melahirkan superioritas intelektual atas rasa keberagamaan tersebut, dan tanpanya seluruh sistematika berpikir dan bertindak manusia akan menjadi sia-sia. Perasaan ini adalah penuntun yang mendasar bagi kehidupannya (kehidupan ilmuwan). Selanjutnya akan membebaskannya dari belenggu hawa nafsu egonya. Suatu hal yang niscaya bahwa perasaan keberagamaan itu erat kaitannya dengan mereka yang memiliki kegeniusan beragama pada setiap tingkat usia’. Bisakah kita berkata bahwa Russell lebih familiar dengan konsep sains modern sementara Einstein tidak?”

Dapat dikatakan, sejumlah pandangan dan tulisan Russell yang mengkritik agama, segaris dengan tulisan-tulisan dan pandangan-pandangan kaum materialis-ateis modern, meskipun Russell jarang menggunakan kepercayaan ateistik-nya sendiri untuk mengkritik agama, dan lebih sering melakukannya atas nama sains dan filsafat. Walau pun kerap-kali terdengar dan terasa, memang, bahwa beberapa tulisan dan pandangannya yang mengkritik agama bercitarasa ateistik dan materialistik. Barangkali hal itu karena sebuah resiko ketika ia berusaha mengupayakan suatu pandangan tentang agama yang sejalan dengan akal dan sains.

Meskipun demikian, kita harus berhati-hati untuk tidak menyamakan Russell dengan kaum ateis-materialis saat ini. Sebab bagaimana pun, sebagai seorang filsuf dan ahli polemis, Bertrand Russell acapkali lebih mampu bersikap rendah-hati, tidak memabi-buta, dan di atas segalanya, kita akan menjumpai bahwa dalam beberapa hal, pandangan Russell, seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bersifat mendua dan fluktuatif sejauh menyangkut agama. Ia bahkan mengaku, sebagai sebuah seruan moral, masih memegang beberapa perintah Injil, seperti: “Janganlah engkau mengikuti orang-orang dalam bertindak jahat”, yang seperti didakunya, adalah motto pribadinya dalam kiprah sosial-politiknya.

Terlepas apakah berkaitan atau tidak berkaitan dengan sejumlah tulisan dan pandangan Russell yang berciri materialis di mana Muthahhari sempat menyindirinya itu, Muthahhari menulis bahasan khusus dan tersendiri dalam rangka mengkritisi aliran materialisme dan kaum materialis ini. Tilikan Muthahhari terkait materialisme tersebut, juga berkenaan dengan maraknya gerakan tersebut di Barat (khususnya Eropa) yang menggiringnya pada suatu telaah dan tesis di mana menurutnya gerakan materialisme dalam banyak hal lahir dan berkembang dalam situasi dan kondisi sosial-politik-historis dan teologis di Barat itu sendiri.

Menurut Muthahhari, suburnya paham dan gerakan materialisme di Barat tak dapat dilepaskan dari “kekurangan” doktrin Gereja Kristen dan kuatnya paham antropomorfisme Tuhan dalam doktrin Kristen dan Gereja Barat. Kita pun maphum, bahwa dalam sejarahnya, agama Kristen telah tercampur dengan paham dan budaya Yunani ketika diterima di Eropa (Barat). Muthahhari menulis:

“Gereja menggambarkan sosok Tuhan serupa dengan manusia dan mengajukannya kepada manusia dalam rupa antropomorfis. Di bawah Gereja (Barat)-lah mereka dibesarkan dengan mengkonsepsikan Tuhan sama dengan manusia dan bentuk fisik lainnya. Kemudian dengan kemajuan sains, mereka menjumpai gagasan itu tidak konsisten dengan kaidah-kaidah ilmiah yang objektif dan rasionalitas”.

Singkat kata, sedari awal, doktrin Gereja telah menempatkan dan memposisikan dirinya bertentangan dengan rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan sains, dan anehnya hal ini pula yang banyak disoroti pula oleh Russell ketika mengkritik agama dan Gereja, yang juga menurut Russell, banyak bertentangan dengan sains dan ilmu pengetahuan. Mari kita simak apa yang ditulis dan dikemukakan oleh Russell ketika ia menyingkap kiprah Gereja Eropa di masa silam yang berseberangan dengan rasionalitas, ilmu pengetahuan, dan sains modern, hingga menghukum (menginkuisisi) banyak ilmuwan dan pendetanya yang sejalan dengan sains modern:

“Mereka (Gereja) berpendapat bahwa bumi adalah pusat alam semesta, dikelilingi oleh lapisan benda-benda angkasa, semua yang berada di luarnya adalah kerajaan dan singgasana Tuhan beserta malaikat-malaikatNya…..

Dan Calvin berkata: ‘Siapa yang akan berusaha menempatkan otoritas Copernicus di atas Roh Kudus?’ Tetapi pada umumnya Copernicus tidak banyak diperhatikan. Ia tidak memberi dasar yang kuat akan teorinya, dan karenanya boleh mengabaikannya.

Karya Galileo-lah yang menyebabkan Gereja Katolik mengumumkan Teori Copernicus sesat, pertama pada 1616 dan kemudian pada 1633. Serangan pada teori ini sangat keras. Jesuit Inchofer, salah-satu pemimpinnya, berkata pada 1631: ‘Pendapat bahwa Bumi bergerak adalah kesesatan yang paling menjengkelkan, paling jahat, paling keji; tidak bergeraknya Bumi adalah tiga kali sakral; argumen menentang keabadian jiwa, eksistensi Tuhan, dan inkarnasi, bisa lebih ditoleransi daripada argumen yang ingin membuktikan bahwa Bumi bergerak’.

Kita pun maphum, sebagaimana dikeluhkan oleh Russell tersebut, di abad ke-16 –yang lazim kita kenal sebagai Abad Inkuisisi di Eropa itu, Nicolaus Copernicus dengan berani mengemukakan teori dan pandangannya bahwa matahari tidak mengelilingi bumi sebagaimana yang dinyatakan Ptolomeus dan dipercayai Gereja, tapi bumi-lah yang justru mengelilingi matahari. Kesimpulan Heliosentrisnya itu ia dapatkan berdasarkan observasi dan perhitungan matematis, hanya saja ia tidak menerbitkan karyanya kala itu karena khawatir inkuisisi Gereja akan menimpa dirinya.

Seabad kemudian setelah temuan Nicolaus Copernicus itu –tepatnya di abad 17, Galileo Galilei dengan teleskop ciptaannya mampu membuktikan teori dan pandangan Nicolaus Copernicus tersebut dengan lebih meyakinkan, bahwa bumi mengelilingi matahari, yang juga menyebabkan terjadinya siang-malam secara bergiliran selama 24 jam. Karena kegigihan dan pembelaannya tersebut, Galileo dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh Gereja. Sementara itu, seorang pendeta Dominikan yang juga membenarkan teori-nya Nicolaus Copernicus tersebut, yaitu Giordano Bruno (1548-1600) dibakar hidup-hidup di tiang pancang oleh Gereja di tahun 1600.

Terkait ketidakselarasan antara doktrin Gereja dan ilmu pengetahuan atau sains modern ini, yang meski berbeda tilikannya tapi masih searah dengan Russell, Muthahhari bahkan memandang beberapa ayat dalam Genesis (Kitab Kejadian) itu sendiri sudah menunjukkan sebagai ayat-ayat yang tidak selaras dengan ilmu pengetahuan dan akal. Muthahhari menulis:

“Di dunia Kristiani, sayangnya, bagian-bagian tertentu dari Perjanjian Lama mengajukan gagasan, bahwa terjadi kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan agama. Dasar dari gagasan ini—yang sangat merugikan ilmu pengetahuan dan agama—adalah Kitab Kejadian, Perjanjian Lama.

Dalam meriwayatkan “Kisah Adam dan Pohon Terlarang”. Kitab Kejadian, Bab II, ayat 16-17 mengatakan:

Dan Tuhan Allah memberikan perintah kepada lelaki itu, dengan mengatakan, “Dari setiap pohon di surga, engkau boleh leluasa makan (buahnya). Namun untuk pohon pengetahuan tentang baik dan buruk, engkau tidak boleh makan (buahnya). Karena kalau engkau makan (buah) dari pohon itu, engkau pasti akan mati.”

Dalam Bab II, ayat 1-7 dikatakan:

Kini naganya lebih canggih ketimbang binatang buas sawah yang diciptakan Tuhan Allah. Dan dia berkata kepada wanita itu, “Ya, Tuhan telah berfirman, engkau tak boleh makan dari setiap pohon di surga?” Dan wanita itu berkata kepada sang naga, “Kita boleh makan buah dari pohon-pohon di surga. Namun untuk buah dari pohon yang ada di tengah-tengah surga, Tuhan telah ber¬firman, engkau tidak boleh makan buah itu, juga tak boleh menyentuhnya, agar engkau tidak mati.” Dan sang naga berkata kepada sang wanita, “Tentu saja engkau dilarang, karena Tuhan tahu bahwa begitu engkau makan (buah itu), maka kedua matamu akan terbuka, dan engkau pun akan seperti dewa, tahu mana yang baik dan mana yang buruk.” Dan ketika sang wanita tahu bahwa pohon itu baik untuk makanan, dan bahwa pohon itu menyedapkan pandangan matanya, dan sebuah pohon yang dibutuhkan untuk membuat orang jadi arif, wanita itu pun memetik buah dari pohon itu, kemudian memakannya, dan juga memberikan kepada suaminya, dan sang suami pun memakannya. Dan mata mereka pun terbuka, dan mereka mendapati diri mereka telanjang. Lalu mereka menjahit daun-daun ara untuk pakaian mereka.

Dalam ayat 22-23 dalam Bab yang sama dikatakan:

Dan Tuhan Allah berfirman, “Lihatlah, lelaki itu menjadi seperti Kami, tahu yang baik dan yang buruk. Dan kini, jangan sampai dia mengulurkan tangannya, lalu memetik (buah) dari pohon kehidupan, kemudian makan (buah itu), dan hidup abadi.”

Menurut konsepsi tentang manusia, Tuhan, ilmu pengetahuan dan kedurhakaan ini, Tuhan tidak mau kalau manusia sampai tahu yang baik dan yang buruk. Pohon Terlarang adalah pohon pengetahuan. Manusia baru dapat memiliki pengetahuan kalau dia menentang perintah Tuhan (tidak menaati ajaran agama dan para nabi). Namun karena alasan itulah manusia terusir dari surga Tuhan.

Menurut konsepsi ini, semua isyarat buruk merupakan isyarat ilmu pengetahuan, dan nalar merupakan iblis sang pemberi isyarat. Sebaliknya, dari Al-Qur’an Suci kita menjadi mengetahui bahwa Allah mengajarkan semua nama (realitas) kepada Adam, dan kemudian menyuruh para malaikat untuk sujud kepada Adam. Iblis mendapat kutukan karena tak mau sujud kepada khalifah Allah (Adam) yang mengetahui realitas. Hadis-hadis Nabi (saw) menyebutkan bahwa Pohon Terlarang adalah pohon keserakahan, kekikiran dan hal-hal seperti itu, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan sisi hewani Adam, bukan berhubungan dengan sisi manusiawi Adam. Iblis selalu mengisyaratkan hal-hal yang bertentangan dengan akal dan hal-hal yang dapat memenuhi hasrat rendah (hawa nafsu). Yang mencerminkan iblis di dalam diri manusia adalah hasrat seksual, bukan akal. Beda dengan semua ini, yang kita temukan dalam Kitab Kejadian sungguh-sungguh sangat mengherankan”.

Pustaka:

[1]Basil Willey, The Eighteen Century Background, Beacon Press 1964
[2]Bertrand Russell, Education and Social Order (Pendidikan dan Tatanan Sosial, Yayasan Obor Indonesia 1993)
[3]Louis Greenspan and Stefan Anderson, Russell On Religion (Bertuhan Tanpa Agama, penerjemah: Imam Baehaqi, Resist Book 2008)
[4]Murtadha Muthahhari, The Causes Responsible for Materialist Tendencies in the West (Kritik Islam Terhadap Materialisme, penerjemah: Mujahid Husayn, Al-Huda 2001)
[5]Murtadha Muthahhari, Man and Universe (Falsafah Agama & Kemanusiaan, penerjemah: Arif Maulawi, RausyanFikr 2013)
[6]Thomas Nagel, The View from Nowhere, Oxford University Press 1986
[7] http://syiatulislam.blogspot.com/2015/01/kodrat-alami-mementingkan-diri-menurut.html (Diunduh pada 13 Maret 2015)
[8] http://suarakatak.blogspot.com/2015/02/sains-dan-agama-bertentangan-atau.html (Diunduh pada 12 Maret 2015
[9] http://teraserwin.blogspot.com/2014/10/ilmu-pengetahuan-dan-agama.html (Diunduh pada 12 Maret 2015)
[10] http://savitriart.blogspot.com/2014/12/syahid-muthahhari-ulama-yang-filsuf-dan.html (Diunduh pada 12 Maret 2015)

The Ever Expanding Universe in Modern Cosmology

Albert Einstein

©David R. Gilson

Pada awalnya…

Pada tahun 1916, Albert Einstein mempublikasikan teori Relativitas Umum (RU)-nya yang terkenal. Teori ini memberi dunia sebuah cara yang benar-benar baru dalam memandang alam semesta. Einstein mempostulatkan bahwa ruang dan waktu adalah ordinat dalam sistem ko-ordinat yang sama. Lebih jauh ia mengatakan bahwa ruang-waktu ini melengkung dengan kehadiran materi.

Einstein mendasarkan geometri untuk ruang-waktu-nya pada struktur geometris ruang-waktu milik Riemann. Riemann adalah orang pertama yang mengatakan di depan umum bahwa ada kemungkinan alam semesta terbatas dan tak terbatas dengan memperlakukan ruang sebagai manifold 3 di permukaan sebuah hypersphere (ini di tahun 1857, kuliah tersebut diterbitkan dengan penghargaan anumerta pada 1868).

Einstein giat untuk menjaga teorinya cocok dengan observasi-observasi pada waktu itu. Pada 1917, galaksi Bimasakti (galaksi kita!) teramati sebagai alam semesta utuh (dengan serangkaian instrumen pada masa itu) yang tidak mengembang atau menyusut. Karena teori Einstein (dan bahkan teori-teori Newton memprediksikan hal yang sama, jika ditinjau ulang) memprediksikan alam semesta dinamis, sementara pemikiran bahwa kita hidup di alam semesta statis begitu kuat, Einstein merevisi RU untuk memasukkan sebuah Konstanta Kosmologis untuk memperoleh alam semesta statis namun relativistis, dan ini sangat mahsyur sewaktu ia belakangan menyebutnya sebagai kesalahan terbesar dalam karirnya.

Namun teori-teori yang lebih baru menghidupkan kembali konstanta ini untuk memperkenalkan gaya anti-gravitasi jarak jauh (long range) guna menjelaskan perluasan jarak jauh di alam semesta.

Pada 1919, Relativitas Umum telah diterima secara umum sebagai kerangka untuk model alam semesta kita. Sir Arthur Eddington memimpin sebuah ekspedisi ke Kutub Utara untuk mengobservasi posisi bintang-bintang tertentu selama gerhana matahari. Relativitas Umum memprediksikan bahwa bintang-bintang ini akan terlihat di mana mereka seharusnya, karena gravitasi (atau lengkungan ruang-waktu) di sekeliling matahari akan membelokkan lintasan cahaya dari bintang-bintang ini.

Observasi Eddington cocok dengan prediksi Einstein. Dengan keberhasilan ini dan prediksi perihelion (titik tertentu [di orbit] yang paling dekat dengan matahari-penj) planet Merkurius, Relativitas Umum dipeluk oleh semua orang dan jalur kosmologi modern telah diletakkan, meski ada keyakinan akan alam semesta statis.

Begitu saja…
Pada waktu itu, fisikawan-matematikawan-meteorolog Rusia, Alexander Aleksandrovich Freidmann, sepertinya merupakan satu-satunya orang yang menerima Relativitas Umum begitu saja, bahwa kita memang hidup di alam semesta yang dinamis dan berubah. Freidmann melandaskan modelnya pada dua asumsi sederhana.

Pertama, bahwa alam semesta terlihat sama dari semua arah. Kedua, bahwa asumsi pertama akan benar dari titik lain di alam semesta. Ini jelas tidak benar pada skala planet atau bahkan tata surya dan galaksi, tapi landasannya diperoleh dari menatap skala-skala sangat besar, karena alam semesta memang memiliki homogenitas skala besar (sebagaimana ditemukan kemudian oleh dua peneliti Bell Laboratory!). Freidmann hanya menemukan satu model alam semesta yang bekerja untuk asumsi-asumsinya.

Menurut model ini, alam semesta berawal dari volume nol dan densitas tak terhingga dan mengembang sejak permulaan masa/waktu. Selama perluasan, gravitasi akan selalu menarik apapun di alam semesta, dan akhirnya ia akan menang. Setelah mengembang selama masa tertentu, alam semesta akan mulai menyusut dan mundur ke kondisi awalnya dengan volume nol dan densitas tak terhingga.

Inilah yang diistilahkan sebagai closed universe (alam semesta tertutup). Pada 1922, Freidmann mempublikasikan karyanya, yang mencakup sebuah prediksi yang kemudian ditemukan secara terpisah oleh observasi Edwin Hubble di tahun 1929. Kendati demikian dan kendati model-model alam semesta selanjutnya didasarkan pada model dan asumsi Freidmann, karyanya sebagian besar tetap tidak diketahui di dunia barat selama 13 tahun berikutnya. Kita akan kembali membahas ini nanti.

Penerjemah: SeSa Media

Dari Biografi Einstein

Perempuan Membaca

“Saya bukan jenius, saya hanya selalu ingin tahu,” demikian ujar Einstein tentang betapa bakat dan kecerdasan saja tidak cukup tanpa motivasi yang kuat, kerja keras, dan ketekunan, dan hal itu diucapkan oleh seseorang yang di masa kanak dan remajanya terbilang sebagai seorang pemberontak, dan tentu saja seorang yang kritis.

Dan seringkali, sikap kritis seorang anak dianggap sebagai kenakalan dan sifat memberontak yang membahayakan. Anggapan tersebut juga menimpa Einstein kala remaja, persis ketika di usia 16 tahun, Einstein dikeluarkan dari sekolah oleh gurunya karena dikhawatirkan sikap “nakal”-nya itu akan mempengaruhi teman-temannya. Sementara itu, sebagai seorang ilmuwan dan khususnya fisikawan, Einstein tergolong orang yang sangat menghargai seni –utamanya musik, dan kebetulan ia bisa memainkan biola dengan baik.

Bila dalam kacamata pandangan pendidikannya Bertrand Russell, Einstein tergolong individu yang memiliki bakat tidak puas dengan status quo, dan karenanya berwatak “tidak patuh” secara institusional, dan karena itulah ia dikeluarkan dari sekolahnya, sebab ia tergolong bukan “warga negara” yang baik (patuh) pada status quo. Namun, demikian Bertrand Russell, orang-orang seperti inilah yang kelak menjadi para pioneer, penemu, dan pencipta dunia baru.

Namun tentu saja, bukan berarti orang-orang seperti itu tidak pandai untuk menjalin persahabatan atau menjadi seorang leader. Sifat-sifat pioneer tersebut justru yang kemudian membuat mereka menjadi pemimpin dalam bidang dan disiplin mereka masing-masing –setidak-tidaknya dalam kategori sebagai orang-orang yang mandiri dan inovatif. Orang seperti ini juga acapkali memiliki watak tekun dan konsisten menekuni bidang yang dipilih dan dicintainya.

Dalam buku biografi yang ditulisnya, Walter Isaacson (yang juga menulis biografi Steve Jobs) itu menyatakan bahwa masa muda Einstein penuh pemberontakan terhadap aturan. Ia bahkan menjadi panutan suci bagi anak-anak sekolah yang bermasalah di mana saja. Ada hal-hal menarik yang dinarasikan buku yang ditulis oleh Isaacson tersebut, yang antaranya adalah:

“Berbeda dengan ilmuwan lain yang ketika meninggal jenazahnya mendapat perlakuan sangat istimewa, Einstein menginginkan hal lain yang sederhana. Ia meminta mayatnya dikremasi secara sederhana di Trenton, saat sore hari pada hari meninggalnya. Maka sesuai permintaannya, ia pun dikremasi. Sebelum sebagian besar orang di seluruh dunia sempat mendengar kabar kematian tersebut.

Hanya 12 orang yang hadir di krematoriumnya, termasuk anak dan beberapa orang keluarga dekat. Beberapa baris karya Goethe dibacakan saat abu Einstein ditebar ke Sungai Delaware. New York Times memuat sembilan artikel ditambah tajuk rencana tentang kematian Einstein keesokan harinya. Einstein bersikeras abunya disebarkan sehingga tempat peristirahatan terakhirnya tidak menjadi tempat pemujaan yang tidak wajar.

Namun, ada satu bagian tubuhnya yang tidak dikremasi. Yaitu, otak. Antara lucu dan mengerikan, otak Einstein ternyata telah mengembara ke sana kemari selama lebih dari empat dekade. Berjam-jam setelah kematian Einstein, otopsi rutin dilakukan oleh ahli patologi Rumah Sakit Princeton, Thomas Harvey. Ia mengeluarkan dan memeriksa setiap organ penting, lalu menggunakan gergaji listrik untuk memotong tengkorak dan mengeluarkan otaknya.

Ketika menjahit kembali tubuh Einstein, dia memutuskan, tanpa meminta izin, untuk mengawetkan otak Einstein dan menyimpannya. Hans Albert (anak laki-laki Einstein) menelepon rumah sakit untuk menyatakan keberatannya atas disimpannya otak tersebut. Tetapi Harvey bersikeras mungkin ada nilai ilmiah jika meneliti otak tersebut. Katanya Einstein pasti ingin hal itu dilakukan. Tak lama kemudian, Harvey diserbu oleh mereka yang menginginkan otak Einstein atau bagian otak tersebut. Termasuk pejabat departemen patologi Angkatan Bersenjata A.S. Namun Harvey menolak. Melindungi otak tersebut telah menjadi sebuah misi.

Bertahun-tahun kemudian, Harvey terus membawa potongan-potongan otak Einstein kemanapun ia pergi. Di antara puluhan orang yang diberi potongan otak Einstein oleh Harvey, hanya 3 yang menerbitkan penelitian ilmiah penting. Baik tim pertama, kedua dan ketiga menemukan beberapa perbedaan otak Einstein dibanding manusia normal. Seperti sel saraf otak Einstein yang membutuhkan lebih banyak energi dibanding otak manusia pada umumnya. Salah satu bagian otak Einstein, korteks serebri, juga ditemukan lebih tipis dibandingkan lima sampel otak lain.

Di salah satu bagian otak lainnya, otak Einstein juga ditemukan lebih lebar sekitar 15% dari manusia normal. Akan tetapi memahami imajinasi dan naluri Einstein tidak bisa didapatkan dengan meneliti pola jaringan penghubung dan alur otaknya. Pertanyaan yang relevan adalah bagaimana pikirannya bekerja, bukan otaknya. Seperti yang sering dikatakan Einstein mengenai pencapaiannya: ‘I have no special talents. I am only passionately curious’.”

Pertanyaannya adalah: Apa yang membuat Einstein menjadi demikian istimewa? Salah-satu jawabannya adalah karena penemuan teori relativitas umumnya telah meruntuhkan hegemoni fisika klasik yang dibangun oleh Isaac Newton. Hanya saja anehnya, meski ia masyhur karena Teori Relativitasnya, Einstein justru mendapatkan nobel fisika pada tahun 1921 melalui karyanya di bidang efek fotoelektrik.

Dalam buku biografi yang ditulisnya itu, Walter Isaacson, yang seperti telah kita ketahui juga penulis buku biografi Steve Jobs, mampu menuliskan kisah hidup dan perjuangan Einstein sebagai manusia biasa dan ilmuwan dengan gaya tutur atau narasi yang sederhana, hingga buku tersebut dapat juga dibaca atau diakses oleh mereka yang tidak akrab dengan dunia sains umumnya dan khususnya fisika. Meskipun begitu, membaca buku yang tebalnya hampir 600 halaman ini, setidak-tidaknya pembaca harus mengetahui informasi tentang dasar-dasar matematis dan pemahaman dasar tentang teori relativitas khusus, juga sedikit fisika dasar (baik klasik maupun modern).

Buku yang ditulis Walter Isaacson ini juga menceritakan ihwal sejumlah pemberitaan, gosip, hipotesis, dan “kabar burung” yang beredar di kehidupan kita yang ternyata tidak benar. Misalnya kabar burung atau gosip yang menyatakan bahwa Einstein sebenarnya tidak pandai matematika, yang ternyata hal tersebut dibantah oleh gurunya sendiri, di mana menurut penuturan gurunya itu, Einstein bukan tidak pandai matematika, tapi kurang terlalu ‘yakin’ bahwa dengan kemampuan matematisnya ia akan mencapai jawaban atas ‘skenario’ fisika yang dirancang dalam pemikirannya. Sebab, sebagaimana jamak dalam dunia eksak, skenario tersebut perlu pembuktian dan bahasa pembuktian terbaik dalam ranah eksakta untuk berbagai fenomena alam, tak dapat dipungkiri, adalah matematika –semisal dengan menggunakan geometri.

Sebagaimana pengakuannya yang dinyatakannya sendiri: I have no special talents. I am only passionately curious, bila kita merujuk pada sejumlah kategori atau ciri para jenius sebagaimana yang dipaparkan Isaacson, sekurang-kurangnya ada sejumlah kualitas utama yang menjadi ciri kejeniusan Einstein, yaitu passion atau cenderung perfeksionis, simple, dan berani ‘menantang’ para jenius sebelumnya.

Sebagaimana kita tahu, Albert Einstein hadir berabad-abad setelah Sir Isaac Newton, sang ilmuwan yang didapuk sebagai bapak fisika modern, itu wafat. Kala itu, sebelum Einstein membuktikan sebaliknya, sejumlah besar ilmuan umumnya dan fisikawan khususnya, masih percaya kepada teori-nya Isaac Newton bahwa waktu akan berjalan sama setiap detiknya, terlepas dari bagaimana cara kita mengamatinya. Namun kemudian, Albert Einstein datang dengan pemikiran dan temuannya, yaitu teori relativitas, sebuah temuan yang membuatnya masyhur hingga saat ini. Dengan teorinya itu, Einstein menyatakan bahwa waktu itu relatif, tergantung tempat dimana kita berada. Kemampuan Albert Einstein untuk berpikir beda dan menantang jenius lainnya inilah –yang menurut Isaacson, yang telah menjadikan Albert Einstein sebagai seorang jenius.

Tetapi tentu saja, berpikir beda dan menantang para jenius saja tidak cukup –tanpa ketekunan dan pembuktian. Salam!

hak cipta © Sulaiman Djaya

Albert Einstein by Walter Isaacson