Arsip Tag: Ibn Sina

Avicenna: Pujangga, Filsuf & Ilmuwan

Avicenna

Terlahir di keluarga Muslim Syi’ah di masa era Keemasan Islam Persia, Ibn Sina tumbuh menjadi anak yang cerdas dan suka membaca ragam buku tentang ragam disiplin ilmu dan segala macam pengetahuan. Minatnya pada pengetahuan tumbuh alami dan membentuknya sebagai ilmuwan dan filsuf multi-disipliner.

Ibn Sina (980-1037) dikenal sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia. Ia juga seorang penulis yang produktif di mana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, ia adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran.

Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun Fi Al-Thib atau Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad. Nama lengkapnya adalah Abū ‘Alī Al-Husayn bin ‘Abdullāh bin Sīnā (Persia ابوعلى سينا Abu Ali Sina atau dalam tulisan Arab: أبو علي الحسين بن عبد الله بن سينا). Ibnu Sina lahir tahun 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan (yang kala itu masuk kawasan administrative Persia), dan meninggal pada Juni 1037 di Hamadan, Persia (Iran). Ia pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran.

Pada jaman ia hidup, ilmuwan-ilmuwan muslim banyak menerjemahkan teks ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan India. Teks Yunani dari jaman Plato, sesudahnya hingga jaman Aristoteles secara intensif banyak diterjemahkan dan dikembangkan lebih maju oleh para ilmuwan Islam. Pengembangan ini terutama dilakukan oleh perguruan yang didirikan oleh Al-Kindi. Pengembangan ilmu pengetahuan di masa ini meliputi matematika, astronomi, aljabar, trigonometri, dan ilmu pengobatan.

Pada jaman Dinasti Samayid di bagian timur Persia wilayah Khurasan dan Dinasti Buyid di bagian barat Iran memberi suasana yang mendukung bagi perkembangan keilmuan dan budaya. Di jaman Dinasti Samaniyah, Bukhara dan Baghdad menjadi pusat budaya dan ilmu pengetahuan dunia Islam.

Ilmu-ilmu lain seperti studi tentang Al-Qur’an dan Hadist berkembang dengan suasana perkembangan ilmiah. Ilmu lainya seperti ilmu filsafat, Ilmu Fikih, Ilmu Kalam sangat berkembang dengan pesat. Pada masa itu Al-Razi dan Al-Farabi menyumbangkan ilmu pengetahuan dalam bidang ilmu pengobatan dan filsafat. Pada masa itu Ibnu Sina memiliki akses untuk belajar di perpustakaan besar di wilayah Balkh, Khwarezmia, Gorgan, Kota Ray, Kota Isfahan dan Hamedan.

Selain fasilitas perpustakaan besar yang memiliki banyak koleksi buku, pada masa itu hidup pula beberapa ilmuwan muslim seperti Abu Raihan Al-Biruni seorang astronom terkenal, Aruzi Samarqandi, Abu Nashr Mansur seorang matematikawan terkenal, Abu Al-Khayr Khammar seorang fisikawan dan ilmuwan terkenal lainnya.

Dalam hal ini, Syeikh Ar-Rais Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina (Avicenna), yang berasal dari keluarga bermadzhab Syi’ah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.

Dengan demikian, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara, yaitu Nuh bin Mansur yang memerintah antara tahun 366 hingga 387 Hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.

Berkat hal itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Ibnu Sina mengenai perpustakan itu mengatakan:

“Semua buku yang aku inginkan ada di situ. Bahkan aku menemukan banyak buku yang kebanyakan orang bahkan tak pernah mengetahui namanya. Aku sendiri pun belum pernah melihatnya dan tidak akan pernah melihatnya lagi. Karena itu aku dengan giat membaca kitab-kitab itu dan semaksimal mungkin dan memanfaatkannya. Ketika usiaku menginjak 18 tahun, aku telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu”

Ibnu Sina memang menguasai berbagai ilmu seperti hikmah, mantiq (logika), dan matematika dengan berbagai cabangnya. Sementara itu, kesibukannya di pentas politik di istana Mansur, Raja Dinasti Samanid, juga kedudukannya sebagai menteri di pemerintahan Abu Tahir Syamsud Daulah Deilami dan konflik politik yang terjadi akibat perebutan kekuasaan antara kelompok bangsawan, tidak mengurangi aktivitas keilmuan Ibnu Sina. Bahkan safari panjangnya ke berbagai penjuru dunia dan penahanannya selama beberapa bulan di penjara Tajul Mulk, penguasa Hamedan, tak menghalanginya untuk melahirkan ratusan jilid karya ilmiah dan risalah.

Ketika berada di istana dan hidup tenang serta dapat dengan mudah memperoleh buku yang diinginkan, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis kitab Qanun dalam ilmu kedokteran atau menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama kitab Al-Syifa’. Namun ketika harus bepergian, ia menulis buku-buku kecil yang disebut dengan Risalah. Saat berada di dalam penjara, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, atau menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.

Diantara buku-buku dan risalah yang ditulis oleh Ibnu Sina, yaitu kitab Al-Syifa’ dalam filsafat dan Al-Qanun dalam ilmu kedokteran kemudian dikenal sepanjang masa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq (logika), matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq Al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq Islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab Al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.

Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaidah-kaidah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 Masehi.

Ibn Sîna tumbuh di dalam keluarga kaya dan terpandang karena ayahnya menjadi wali di Afsyanat sebelum kemudian hijrah ke Bukhara. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga penganut Islam Syi’ah yang intelektual. Ayah dan saudara-saudaranya dikenal sebagai Muslim Syi’ah. Ia juga hidup di dalam sebuah lingkungan bilingual (dua bahasa). Bahasa ibu-nya adalah bahasa Persia sedang bahasa pendidikannya adalah bahasa Arab.

Di Bukhara, Ibn Sîna mulai menerima pendidikan. Oleh ayahnya, ia diberi pelajaran privat dengan memanggil seorang tutor (pengajar khusus yang dibayar oleh keluarga-keluarga bangsawan) ke rumahnya. Tampaknya pendidikan yang disediakan untuk Ibn Sîna oleh ayahnya berskala sangat luas, mencakup kajian keagamaan Islam dan mata kajian sekuler dari Arab, Yunani, dan tradisi India. Ia memulai pendidikannya dengan belajar menghafal Al-Qur’an dan sastra dan bahasa Arab, termasuk dasar-dasar keagamaan lainnya seperti fiqih. Ia mempelajari fiqh kepada Abu Muhammad Isma’îl ibn Al-Husainî Al-Zâhid. Diperkirakan, Ibn Sîna telah merampungkan pelajaran bahasa, sastra dan dasar-dasar keagamaan sebelum usia sepuluh tahun.

Selanjutnya, ia mempelajari ilmu-ilmu ‘aqliyat kepada teman ayahnya yang Ahli filsafat yaitu ‘Ali Abu Abd-Allâh Al-Natilî. Melalui Al-Natilî, awalnya Ibn Sîna berkenalan dengan logika, geometri, dan astronomi, serta filsafat Yunani. Dalam beberapa tahun berikutnya ia telah mempelajari logika Aristoteles melalui Organon, geometri-nya Euclid dengan mengkaji Elements, dan juga astronominya dan kosmologi Ptolomy dari Almagest, dan segera bisa melampaui pengetahuan gurunya di dalam ilmu-ilmu tersebut.

Sejak usia 14 atau 15 tahun Ibn Sîna meneruskan pendidikannya secara otodidak. Ia membaca teks dan uraian di dalam ilmu-ilmu alam, metafisika, dan ilmu kedokteran. Ia mempelajari kedokteran sampai mahir sehingga suatu ketika pada usia enambelas tahun ia telah mampu mengajar dan mempraktikkannya.

Dalam satu setengah tahun kemudian, sampai usia enam belas tahun, ia melengkapi pengetahuannya dengan mereview dan menguasai seluruh cabang filsafat: logika, matematika, ilmu-ilmu alam (fisika), dan metafisika. Pada usia enam belas tahun ini, Ibn Sîna telah secara aktif terlibat di dalam seminar-seminar resmi dan seminar-seminar kedokteran, di mana para dokter (tabib) pada masanya datang kepadanya dan memintanya memberi penjelasan.

Di dalam memahami metafisika Aristoteles ia banyak terbantu oleh uraian Al-Farabî (wafat 950 Hijriah) “Maqâlat Fi Aghrâd Mâ Ba’da Al-Thabî’at” yang menjelaskan tentang hal tersebut. Tampaknya ia sangat mengalami kesulitan untuk memahami metafisika Aristoteles sebelum membaca uraian Al-Farabî tersebut. Dikisahkan ia telah membaca metafisika Aristoteles empat puluh kali tanpa mengerti, sampai akhirnya memahami maksudnya dari tulisan Al-Farabî. Setelah membaca dan memahami buku tersebut, Ibn Sîna kemudian tidak sekedar memiliki kesiapan untuk memahami metafisika Aristoteles, tetapi bahkan kemudian dia memberikan kontribusinya yang mendalam dan distingtif di dalam keberanian mendefinisikannya.

Ketika usia Ibn Sîna mencapai 21 tahun, ayahnya meninggal dunia. Sepeninggal ayahnya dan di tengah kondisi kehancuran Daulah Samaniyah, Ibn Sîna meninggalkan Bukhara menuju kota Kurkanj di Khawarizm. Di sana, ia disambut oleh wazir Abu Al-Husein Al-Sahlî di istananya yang menyenangi filsafat serta orang yang mencurahkan pemikirannya untuk filsafat. Ibn Sîna kemudian diperkenalkan kepada Amir ‘Ali bin Ma´mûn, penguasa Kurkanj di bawah khalifah Ma´mûn bin Ma´mûn, yang memperkenankannya tinggal di istananya.

Di istana Amir Ali inilah, Ibn Sîna tinggal selama sepuluh tahun sampai 1012 M/402 H. Di Kurkanj ini pula, Ibn Sîna menunjukkan keterlibatannya pada kelompok ilmiah bersama dengan tokoh-tokoh lainnya seperti Al-Birûnî (362-448 Hijriah), Abû Sahl Al-Masîhî (wafat 401 Hijriah), Ahli fisika Abî Al-Khair Ibn Al-Hasan Ibn Al-Khammâr, dan ahli matematika Abi Nasr Ibn Al-’Arrâq. yang juga sama-sama berada di istana.

Pada masa tersebut, bintang Sultan Mahmûd Ghaznâwî di Ghazna sedang bersinar cemerlang. Sultan Mahmûd menginginkan sinar kemenangannya semakin meluas. Ia ingin agar istananya menjadi yang paling agung. Karenanya ia kemudian menarik para ulama, filsuf, penyair, dan ahli hikmah ke istananya dengan segala cara. Ketika ia mendengar kelompok Kurkanj, Sultan Mahmûd berkirim surat pada sultan Ma´mûn, yang dibawa utusannya dan berisi permintaan agar mengirimkan seluruh tokoh tersebut ke istananya.

Sesampainya utusan Sultan Mahmûd sampai di Khawarizm, Amir menunjukkan surat kepada para ulama yang namanya tercantum di dalam surat tersebut. Sementara tiga orang –Al-Birûni, Al-’Arrâq, dan Khammâr– menyatakan ketertarikannya dan akhirnya berangkat ke Ghazna, Ibn Sîna dan Al-Masîhî dengan bantuan Ma´mûn memilih melarikan diri ke selatan. Al-Masîhî tewas di dalam perjalanan di dalam sebuah badai di gurun pasir. Sementara Ibn Sîna dengan susah payah bisa tiba di Baward, lalu menuju Thus dan Naishapur. Akhirnya, ia sampai ke Jurjan yang ketika itu dikuasai oleh Syams Al-Ma’âli Qabûs bin Wasymâkir yang menyambutnya dengan baik. Kejadian ini berlangsung masih di tahun 402 Hijriah (1012 Masehi).

Sejak itu Ibn Sîna tinggal di Jurjan dan di sana –dalam usia tiga puluh dua tahun– ia bertemu dengan Abd Al-Wâhid Abu ‘Ubaid Al-Juzjâni yang kemudian menjadi murid, mendampingi perjalanan selanjutnya dan sekaligus menuliskan napak tilas kehidupannya. Di sana ia juga bertemu dengan Abû Muhammad Al-Syirâzi yang menyediakan satu rumah bagi Ibn Sîna, di samping rumahnya sendiri, yang digunakan sebagai pusat pengajaran. Di mana kemudian ia menulis karangan untuk Al-Syirâzi berjudul Kitâb Al-Irsyâd Al-Kulliyat dan Al-Mabda’ wa Al-Ma’âd. Di Jurjan juga, pada tahun 402 Hijriah (1012 Masehi), Ibn Sîna memulai penulisan naskah besar kedokteran karangannya, Al-Qânûn fi Al-Thibb (Canon of Medicine).

Ketika Sultan Qabus terbunuh dan keadaan politik di Jurjan bergolak, Ibn Sîna –dengan diiringi oleh Al-Juzjâni– berturut-turut pindah ke Ray, Quzwain, kemudian ke Hamadan (semua kota tersebut masuk kawasan Iran).

Di Rayy, kota terkaya di Persia (kini Iran) utara masa itu, Ibn Sîna mengobati pangeran yang terserang melankolia dan depresi, Majd Al-Dawlat (387-420 Hijriah) di istana kerajaan. Majd Al-Dawlat adalah penguasa Buwaihi yang sangat lemah di dalam memerintah. Di dalam menjalankan roda pemerintahan ia “diatur” oleh ibunya, Ratu Dawâjir.

Ketika Sultan Mahmûd Ghaznâwi mengirimkan surat tantangan, Ratu Dawâjir masih dapat membalasnya melalui sebuah surat balasan. Tetapi ketika ibunya meninggal di tahun 1028 Masehi, Majd Al-Dawlat tidak lagi mampu mengontrol tentaranya dan bahkan mengundang Mahmûd Ghaznâwi, yang kemudian justru menjadikannya tawanan. Dalam kondisi demikian, Ibn Sîna tidak menunggu lama lebih lagi, kemudian ia melarikan diri ke Quzwain.

Dari Quzwain inilah kemudian Ibnu Sina pindah ke Hamadan. Di Hamadan, ia dipanggil untuk mengobati penyakit kolik yang diderita Amir Syams Al-Dawlat (387-412 Hijriah), kepala pemerintahan dari dinasti Buwaihi saudaranya Majd Al-Dawlat. Di sana ia tinggal empat puluh hari untuk mengobati Amir sampai sang Amir sembuh dari sakitnya. Ia tiba di sana di akhir tahun 405 Hijriah (1015 Masehi). Karena kesembuhannya, Ibn Sîna sangat dihormati sang Amir. Sampai-sampai Ibn Sîna diberi kehormatan menjadi “menteri pertama“ dan salah satu sahabatnya. Jabatan menteri tersebut dipegang oleh Ibn Sîna tidak kurang dari lima tahun.

Tampaknya Ibn Sîna bersikap sangat tegas di dalam menyikapi tentara dan pegawai yang korup. Angkatan bersenjata kemudian melakukan demonstrasi ke rumahnya, memfitnah lalu menahan dan menangkapnya. Ia ditangkap dan diminta kepada Amir agar dijatuhi hukuman mati. Amir menolak tuntutan mereka, tetapi untuk memuaskan tuntutan mereka, Amir akhirnya memperlakukan hukuman buang. Ibn Sîna terpaksa bersembunyi di rumah Abî Sa’îd bin Dakhduk selama empat puluh hari. Tak lama setelah itu, Amir Syams Al-Dawlat sakit kembali, dan Ibn Sîna kembali diminta mengobati. Amir kemudian mengembalikan Ibn Sîna menjadi menterinya lagi.

Di saat Syam Al-Dawlah meningal dunia dan Samâ’ Al-Dawlat (memerintah 412-414 Hijriah) menggantikan ayahnya serta memilih Tâj Al-Mulk menjadi Wazir, Ibn Sîna menulis surat permintaan suaka politik kepada Alâ’ Al-Dawlat, Amir kota Isfahan yang terkenal indah. Kejadian tersebut diketahui oleh Tâj Al-Mulk, yang menyebabkannya ditangkap dan ditahan di benteng Fardajan di wilayah Jarrah sekitar 55 mil di luar kota Hamadan. Ketika itu, harapan untuk keluar dari penjara tampaknya dipandangnya sangat tipis, sampai ia menulis syair:

“Aku masuk dengan pasti sebagaimana telah engkau saksikan,
sementara ketidak-pastian menyertai dalam hal kapan keluar”

Namun, di benteng tersebut, ia justru berhasil menyelesaikan penulisan kitab Al-Hidâyat, dan kisah allegoriknya Hayy Ibn Yaqzân.

Ketika kemudian terjadi peperangan antara Samâ’ Al-Dawlat –Amir Hamadan– dengan Alâ’ Al-Dawlat– sang Amir Isfahan, Ibn Sîna kemudian dilepas oleh Alâ’ Al-Dawlat setelah ia terpenjara selama empat bulan lamanya. Sekeluarnya Ibn Sîna dari penjara. Ia kemudian minta perlindungan ke Isfahan. Di sana, ia disambut dengan hangat. Ibn Sîna tinggal di Isfahan selama tiga belas tahun. Di Isfahan, Ibn Sîna hidup terhormat. Ia hadir di majlis Amir pada setiap malam Jum’at, bertukar pikiran dengan para ulama di hadapan Amir, bahkan menemani Amir ke medan-medan peperangan.

Dalam suatu peperangan menemani Alâ’ al-Dawlat ini, Ibn Sîna terserang penyakit kolik sampai ususnya luka. Penyakit yang menyerangnya tersebut tampaknya parah. Dalam satu hari, Ibn Sîna mengalami nyeri perut sampai delapan kali, sehingga ketika penyakitnya bertambah parah, ia terpaksa kembali ke Isfahan untuk menyembuhkan dirinya. Tak lama kemudian, ia sudah kembali lagi menemani Alâ’ al-Dawlat. Hanya saja ia tidak memelihara diri dan bahkan banyak membahayakan dirinyasampai penyakitnya kambuh kembali dan ia jatuh tersungkur, walaupun akhirnya berhasil sembuh.

Di dalam perjalanannya menemani Amir ke Hamadan, penyakitnya kambuh di jalan. Ia akhirnya menganggap pengobatan tak akan mampu lagi menyembuhkan penyakitnya. Ia kemudian menghentikan pengobatan dan berpasrah pada takdir. Ia berkata:

“Sesuatu yang mengatur badanku kini
tidak lagi dapat mengaturku.
Sekarang tak ada gunanya lagi pengobatan”

Ibn Sîna kemudian mandi, bertaubat, menyedekahkan miliknya, dan memerdekakan budak-budaknya. Ia kemudian meninggal tahun 428 Hijriah (1037 Masehi) dan dimakamkan di Hamadan.

Apabila kita cermati, maka perjalanan hidup Ibn Sîna dari segi produktivitas keilmuannya, dapat dibagi menjadi dua fase: Fase pembentukan (Al-Tahsîl) dan fase produktif (Al-Intâj Al-’Ilmî). Fase pertama, yaitu fase belajarnya dimulai usia lima tahun sampai sepuluh tahun belajar dasar-dasar Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, serta ilmu perbintangan, serta masa-masa belajar sesudahnya. Pada masa ini, Ibn Sîna mengalami masa yang lebih didominasi oleh masa belajarnya yang lebih banyak melakukan penyerapan, di mana aktivitas Ibn Sîna lebih banyak reseptif dan retentif.

Sedangkan fase kedua, yaitu fase produktif yang dimulai pada usia dua puluh satu tahun, Ibn Sîna mulai melakukan aktivitas produktif. Setelah masa tersebut, ia secara aktif menghasilkan karya-karya secara produktif dan sintetis. Menyumbangkan teori dan khazanah yang gemilang bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia.

(Dirangkum dari ragam sumber dari pihak Iran dan Barat)

Alam dan Tuhan di Mata Ibnu Sina

Alam Sebagai Terapi Terbaik

Radar Banten, 26 Agustus 2014

“Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya. Barangsiapa mengatakan “dalam apa Ia berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa Ia bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa Ia berada” maka ia beranggapan bahwa Ia tidak berada di atas sesuatu lainnya. Ia Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Ia ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. Ia bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. Ia berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Ia berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. Ia melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. Ia hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya Ia mungkin bersekutu atau yang mungkin Ia akan kehilangan karena ketiadaannya” (Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah. Lihat Khutbah Pertama dalam Nahjul Balaghah)

Tuhan dan Alam

Membahas tentang Tuhan dalam pemikiran filosof muslim berarti membahas tentang metafisika, yang dalam hal ini Ibnu Sina memandang metafisika merupakan pengetahuan tentang segala yang ada sebagai “adanya” dan sejauh yang dapat diketahui manusia. Berkaitan dengan metafisika inilah Ibnu Sina membicarakan sifat wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain. Esensi, dalam paham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah), Ibnu Sina berargumentasi dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, yang mengingatkan kita kepada filsafatnya Al-Farabi, yang bahkan terkesan tidak ada tambahan sama sekali. Berikut penjelasannya.

Wajib al-wujud, yaitu esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya. Lebih jauh Ibnu Sina membagi Wajib al-Wujud ke dalam dua pembagian, yaitu: 1) Wajib al-wujud bi dzatihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan olah zatnya sendiri. Dalam hal ini esensi itu tidak bisa diceraikan dengan wujud, karena keduanya adalah satu dan wujudnya tidak didahului oleh ketiadaan (ma’dum), ia akan tetap ada selamanya. Wajib bi dzatihi ini biasanya disebut oleh Ibnu Sina dengan Al-Wajib saja, yaitu Allah Yang Maha Esa, Yang Hak dan ia adalah Aqlul-Mahdh (akal murni) yang tidak berkaitan denan materi apa pun. 2) Wajib al-wujud bi ghairihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan oleh yang lain. Misalnya: Adanya basah disebabkan oleh adanya air, kebakaran disebabkan oleh api, adanya 7 karena ada 5+2 atau 6+1, atau 2+5, dan sebagainya.

Tentang sifat-sifat Allah, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina pun menyucikan Allah dari segala sifat yang dikaitkan dengan esensinya, karena Allah Maha Esa dan Maha Sempurna. Ia adalah tunggal, tidak terdiri dari bagian-bagian. Jika sifat Allah dipisahkan dari zatnya, tentu akan membawa zat Allah menjadi pluralitas (ta’addud al-qudama’).

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal di alam dan ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimaksudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial di alam ini secara tidak langsung, yakni melalui zatnya sebagai sebab adanya alam. Dengan istilah lain, pengetahuan Allah tentang yang parsial melalui sebab akibatyang terakhir kepada sebab pertama, yakni zat Allah. Dari pendapatnya ini Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah yang maha sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia. Meski, dalam soal ini, pandangan Ibn Sina memancing kritik dan kontroversi dari ummat Islam atau dari para pemikir Islam lainnya yang mempercayai pengetahuan Allah mencakup yang parsial (furu’) juga yang global (ijmal).

Sebagai perbandingan, barangkali kita juga perlu menyimak pandangan filsuf muslim kontemporer, yang dalam hal ini teosofi-nya Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari: “Dalam hubungannya dengan konsepsi Ilahiah tentang dunia, dalam ilmu ketuhanan dibahas beberapa masalah tentang hubungan antara Allah dan dunia, seperti apakah dunia ini, sementara atau abadi, dari manakah asal segala sesuatu yang ada ini. Juga dibahas masalah-masalah lain seperti itu. Namun, kalau melihat keseimbangan segenap eksistensi, maka dapat dikatakan di sini bahwa masalah-masalah kearifan dan keadilan ilahi saling berkaitan erat. Kalau merujuk kepada masalah keadilan Ilahi, maka dapat dikatakan bahwa sistem dunia yang ada ini merupakan sistem yang paling arif dan adil. Dasar sistem ini bukan saja pengetahuan, kesadaran dan kehendak. Sistem ini juga merupakan sistem yang paling baik dan sehat. Tak mungkin ada sistem lain yang lebih baik daripada sistem ini. Dunia yang ada ini merupakan yang paling sempurna” (Lihat Ayatullah Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, Mizan 2009).

Filsafat Ibn Sina Tentang Manusia

Terdapat tiga objek kajian yang dibahas Ibnu Sina menyangkut manusia, yaitu: wujud manusia, jiwa manusia, akal pada manusia dan ruh manusia. Dalam menjelaskan tentang wujud manusia ini Ibnu Sina menggunakan Filsafat Wujudiah-nya untuk menjelaskan dari mana wujud manusia itu ada, yaitu pada teori Mumkin al-Wujud, yang penjelasannya adalah: Mumkin al-Wujud adalah Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan kata lain, jika ia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka ia tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada.

Selanjutnya, dalam menjelaskan tentang awal mula proses muculnya ruh, maka kita akan melihat pada teori emanasi Ibnu Sina, di mana proses munculnya ruh diawali dengan adanya Akal X yang dayanya sudah sangat lemah berpikir tentang Allah sebagai Wajib wujud li dzatihi menghasilkan pemikiran ke 10 yang berpikir tentang Wajib wujud li ghairihi menghasilkan jiwa ke 10 dan berpikirnya tentang dirinya sendiri sebagai Mumkinul wujud li dzatihi menghasilkan berbagi unsur dasar dari bumi dan juga ruh manusia. Dan jiwa ke 10 itulah yang menggerakkan roh. Menurut Ibnu Sina jika manusia telah meninggal maka hanya raganya saja yang tidak aktif, tetapi rohnya akan tetap hidup, dan roh yang abadi itu akan mengalami sikasa dan kesenangan. Pandangannya soal ini juga tak luput dari kritik dan kontroversi secara teologis dan filosofis.

Alam Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina, yang lagi-lagi sebagaimana juga al Farabi, menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana terjadinya yang banyak yang bersifat materi (alam) dari Yang Esa, jauh dari arti banyak, jauh dari materi, Mahasempurna, dan tidak berkehendak apapun (Allah). Untuk memecahkan masalah ini, ia juga mengemukakan penciptaan secara emanasi. Soal kerumitan ini kemudian akan dijelaskan dalam tasawuf filsafatnya Ibn Arabi, tentang tajalliyat. Namun di sini penting dikatakan bahwa filsafat emanasi ini bukan renungan Ibnu Sina atau juga al- Farabi, tetapi berasal dari “ramuan Plotinus” yang menyatakan bahwa alam ini pancaran dari Yang Esa (The One). Kemudian, filsafat Plotinus yang berprinsip bahwa dari hanya yang satu yang melimpah. Filsafat Plotinus ini kemudian diaktualisasikan oleh Ibnu Sina dan juga Al- Farabi, bahwa Allah menciptakan alam secara emanasi. Dengan demikian, walaupun prinsip Ibnu Sina dan Plotinus sama, namun hasil dan tujuannya berbeda. Oleh karena itu, dapat dikatakan Yang Esa-nya Plotinus sebagai penyebab yang pasif bergeser menjadi Allah pencipta yang aktif dalam filsafat Ibn Sina dan al Farabi. Ia menciptakan alam dari materi yang sudah ada secara pancaran.

Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah (bukan dari tiada) sebagai akal langsung memikirkan terhadap zatnya yang menjadi objek pemikirannya, maka memancarlah akal pertama. Dari akal pertama ini memancarlah Akal kedua, Jiwa pertama dan langit pertama. Demikianlah seterusnya sampai akal kesepuluh yang sudah lemah dayanya dan tida dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan Jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar keempat unsur pokok: air, udara, api, dan tanah. Hanya saja, berbeda dengan Al-Farabi, bagi Ibnu Sina Akal pertama mempunyai dua sifat: Sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mumkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya. Dengan demikian, Ibnu Sina membagi objek pemikiran akal-akal menjadi tiga: Allah (Wajib al-wujud li-zatihi), dirinya akal-akal (wajib al-wujud li ghairihi) sebagai pancaran dari Allah, dan dirinya akal-akal (mumkin al-wujud) ditinjau dari hakikatnya.

Selanjutnya adalah akal-akal dan planet-planet dalam emanasi dipancarkan Allah secara hierarkis. Keadaan ini bisa terjadi karena ta’aqul Allah tentang zat-Nya sebagai sumber energi yang maha dahsyat. Ta’aqqul Allah tentang zatnya adalah ilmu Allah tentang dirinya dan ilmu itu adalah daya (al-qudrat) yang mencitakan segalanya. Agar sesuatu itu tercipta, cukup sesuatu itu diketahui Allah. Dari hasil ta’aqqul Allah terhadap zat-nya (energi) itulah diantaranya menjadi akal-akal, jiwa-jiwa, dan yang lainnya memadat menjadi planet-planet. Dan berbeda dengan pendahulunya, yaitu Al-Farabi, bagi Ibnu Sina masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak langsung menggerakkan planet yang bersifat materi. Akal-akal adalah para malaikat, Akal pertama adalah Malaikat Tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi dan isinya.

Namun, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi ini untuk mentauhidkan Allah semutlak-mutlaknya. Oleh karena itu, Allah tidak bisa menciptakan alam yang banyak jumlah unsurnya ini secara langsung. Jika Allah berhubungan langsung dengan alam yang plural ini tentu dalam pemikiran Allah terdapat hal yang plural. Hal ini merusak citra tauhid. Seperti telah disebutkan bahwa perbedaan yang mendasar antara Plotinus dengan Ibnu Sina (juga al-Farabi) ialah: bagi Plotinus alam ini hanya terpancar dari yang satu (Tuhan), yang mengesankan Allah tidak pencipta dan tidak aktif. Hal ini ditangkap dari metafora yang ia gunakan bagaikan mentari memancarkan sinarnya. Sementara itu, dalam Islam, emanasi ini dalam rangka menjelaskan cara Allah menciptakan alam. Karena alam adalah ciptaan Allah, dalam agama Islam termasuk ajaran pokok atau qath’i al-dalalah. Dengan kata lain, kekhalikan Allah ini mesti diimani sepenuhnya. Orang yang mengingkari dapat membawa pada kekafiran. Atas dasar itulah, maka ibarat mentari dengan sinarnya merupakan ibarat yang menyesatkan.

Sejalan dengan filsafat emanasi inilah, alam ini qadim karena diciptakan oleh Allah sejak zaman Azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antaraqadimnya Allah dan alam. Perbedaan tersebut terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadan alam tidak didahului oleh zaman, maka alam qadim dari segi zaman. Adapun dari segi esensi, sebagai hasil ciptaanAllah secara pancaran, alam ini baru. Sementara itu, Allah adalah taqaddum zaty. Ia sebab semua yang ada dan Ia pencipta alam. Akhir kata, meski tak luput dari protes dan kontroversi, filsafat Ibn Sina adalah jejak dan warisan yang sangat berharga bagi kita dari sebuah jaman ketika dunia Islam berusaha melakukan rasionalisasi teologis, sekaligus berikhtiar dalam kecimpung filosofis agar agama “tidak mati” dalam roda sejarah dan laju peradaban ummat manusia.

Sulaiman Djaya