Arsip Tag: Imam Ali bin Abi Thalib (as)

Sains Imam Ali bin Abi Thalib as

Sains Imam Ali bin Abi Thalib as

Suatu hari, di masjid Kufah, seseorang bertanya pada Imam Ali bin Abi Thalib as, “Berapa jarak antara aku dengan (sambil menunjuk matahari) matahari?”

Di sini perlu diuraikan kerumitan dari pertanyaan tersebut.

Orang tersebut orang Arab. Dan, dalam bahasa Arab angka dan hitungan terbatas sampai 1000. Hitungan tidak melebihi 1000. Jawaban atas pertanyaan orang tersebut adalah jutaan (jarak).

Hal ini bagaikan tantangan untuk Imam Ali bin Abi Thalib as untuk menjawabnya secara meyakinkan tanpa membingungkan si penanya.

Imam Ali bin Abi Thalib as menjawab, “Jika kuda Arab mulai berlari dari sini dan terus berlari selama 500 tahun, maka ia (kuda) akan mencapai matahari.”

Pria tersebut yakin dan berjalan pergi. Tetapi bagi kita sekarang untuk merenungkan apa yang Imam Ali bin Abi Thalib as katakan. Hal ini menunjukkan dan membuktikan kejeniusan Imam Ali bin Abi Thalib as.

Imam Ali bin Abi Thalib as berkata “Jika kuda Arab …”, diketahui kecepatan rata-rata kuda Arab adalah 22 mph (mil per-jam).

Jika kuda berlari sehari penuh (24 jam) dia akan mencapai jarak sekitar 520 mil. Inilah jarak tempuh yang dicapai kuda tersebut dalam 24 jam (satu hari).

Untuk menghitung jarak yang ditempuh oleh kuda dalam satu bulan kita kalikan 520 dengan 29,5 (mengambil rata-rata jumlah bulan di kallender Arab. Dengan asumsi bahwa 6 bulan adalah 29 hari dan 6 bulan yang lainnya 30 hari). Ini memberi kita di sekitar 15.500. Kuda akan mencapai 15.500 mil dalam satu bulan (30 hari).

Untuk mendapatkan jarak yang ia tempuh dalam satu tahun kita kalikan dengan 12. Karena ada 12 bulan dalam setahun. Hasilnya 186000. Kemudian kalikan 186000 dengan 500 oleh karena kuda harus berlari selama 500 tahun. Hasilnya 93.400.000 mil.

Sekarang jika anda bertanya pada seorang astronom tentang jarak matahari dari bumi dia akan memberitahu bahwa jaraknya tidak pernah konstan. Orbit bumi oval. Kadang-kadang lebih dekat ke matahari dan pada kesempatan lain menjauh dari matahari. Ketika bumi terdekat dengan matahari jaraknya adalah 91.000.000 mil dan jarak ketika terjauh dari matahari adalah 94.800.000 mil. Jika kita ambil nilai rata-rata dari dua jarak itu maka hasilnya 93.000.000 mil.

Diterjemahkan dari teks Bahasa Ingris ke Bahasa Indonesia oleh A.B. Wibowo (https://www.facebook.com/bowiepresto?fref=ufi&pnref=story)

Iklan

Teosofi Sains Nahjul Balagah

Aktivitas Ramadan Muslim Syi'ah Iran

Radar Banten, 27 Juni 2015

Nahjul Balaghah merupakan sebuah kitab yang merangkum hikmah, surat, pidato, dan nasehat-nasehat Imam Ali (as) yang disusun dan dikodifikasi oleh Sayid Syarif Radhi yang juga didasarkan pada sejumlah dokumen dan kodifikasi lainnya (data dan dokumen sebelumnya) yang mutawattir dan sahih, teruji dan otentik. Sedangkan dari segi isi dan materi, salah satu bagian utama Nahjul Balaghah membahas tentang ketuhanan (tauhid dan teologi) serta metafisika. Menurut sejumlah ulama dan pakar, sekitar empat puluh kali kajian ini diulas dalam ceramah, surat, dan kata mutiara Nahjul Balaghah. Dan kendatipun sebagiannya hanya berupa kalimat pendek, ringkas, atau singkat saja, namun umumnya sampai mencapai beberapa baris, dan bahkan, sekian halaman.

Memanglah haruslah diakui, meski mengandung ulasan kosmologi dan sains, ulasan yang menyangkut tauhid (teologi dan teosofi) dalam Nahjul Balaghah terhitung bagian yang sangat menakjubkan dan yang paling dominan, di mana dalam konteks yang demikian, tidak berlebihan jika menurut sejumlah ulama dan pakar, pembahasan ini dikatakan atau dinyatakan setara dengan mukjizat. Tentunya hal itu dapat diterima jika situasi dan kondisi atau konteks kajian-kajian itu diperhatikan dan dicermati dengan sungguh-sungguh oleh kita.

Begitu pula, haruslah dimaklumi oleh kita, diskursus Nahjul Balaghah tentang ketuhanan dan metafisika itu sendiri sangat beragam, di luar soal-soal sains dan kosmologi yang menjadi minat tulisan singkat ini. Dalam kaitannya dengan isu dan materi bahasan seputar tauhid dan metafisika (serta kosmologi yang pada akhirnya berkaitan dengan isu-isu saintifik) dalam Nahjul Balaghah tersebut, ada yang berbentuk telaah ciptaan dan hikmah Ilahi, seperti sistem universal langit dan bumi, dan terkadang meneliti eksistensi tertentu (secara spesifik namun pada saat bersamaan sesungguhnya bernilai universal atau menyeluruh), seperti tentang kelelawar, merak, atau semut, dan memperhatikan manajemen serta tujuan dari penciptaannya.

Dalam hal ini, akan bisa lebih dimengerti oleh kita jika kita mengambil satu contoh keterangan Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib (as) tentang semut dalam ceramah ke-177 beliau berikut ini (yang mana contoh ini dapat dikatakan salah-satu contoh kandungan Nahjul Balaghah yang relevan dari segi wacana dan perspektif saintifik):

“Apakah mereka tidak meneliti ciptaan-Nya yang kecil? Bagaimanakah Dia kuatkan ciptaannya dan tegakkan susunannya. Dia bekali pendengaran dan penglihatan, Dia isi tulang dan lapisi dengan kulit? Pikirkanlah semut dengan posturnya yang amat kecil dan bentuknya yang lembut. Begitu kecilnya sehingga hampir tak terlihat oleh mata dan tak tercerna oleh pemikiran. Bagaimana ia berjalan di atas bumi dan berusaha mengumpulkan rejeki? Ia angkut biji-bijian ke dalam lubang dan disimpannya di sarangnya. Dia kumpulkan makanan itu di musim panas untuk perbekalan di musim dingin nanti, dan di musim dingin dia sudah dapat memperkirakan saat keluar dan bebas. Dengan demikian rejeki makhluk kecil ini sudah terjamin secara rapih dan teratur. Allah Maha Pemberi tidak akan pernah melupakannya walau dia terletak di bawah batu yang keras. Apabila kalian teliti dan pikirkan jalur keluar dan masuknya makanan, struktur perut, telinga, dan mata yang terletak di kepalanya, niscaya kalian akan sangat terheran-heran oleh ciptaan ini”.

Seperti dapat kita cermati, keterangan yang dinyatakan Imam Ali bin Abi Thalib (as) tentang semut tersebut pada dasarnya mengandung hikmah bagi kita untuk merenungi, mempelajari, dan meneliti makhluk hidup dan alam (semesta) itu sendiri sebagai entitas atau segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan yang Maha Kuasa. Dan demikian juga, salah-satu isi dan materi yang sangat penting dalam Nahjul Balaghah adalah seputar kosmologi (termasuk yang terkait dengan bahasan yang menjadi konsen ilmu fisika dan astronomi), semisal tentang ‘Penciptaan’, di mana dalam salah-satu khutbahnya itu, Imam Ali bin Abi Thalib (as) menerangkan tentang bagaimana Allah (swt) menciptakan dunia (semesta):

“Ia memulai penciptaan dan memulainya secara paling awal, tanpa mengalami pemikiran, tanpa menggunakan suatu eksperimen, tanpa melakukan suatu gerakan, dan tanpa mengalami kerisauan. Ia memberikan waktunya pada segala sesuatu, mengumpulkan variasi-variasinya, memberikan kepadanya sifat-sifatnya, dan menetapkan corak wajahnya dengan mengetahuinya sebelum menciptakannya, menyadari sepenuhnya batas-batasnya dan kesudahannya, dan menilai kecenderungan dan kerumitannya.

Ketika Yang Mahakuasa menciptakan lowongan-lowongan atmosfer, mengembangkan ruang angkasa dan lapisan-lapisan angin, Ia mengalirkan ke dalamnya air yang ombak-ombaknya membadai dan yang gelombang-gelombangnya saling melompati. Ia memuatnya pada angin yang kencang dan badai yang mematahkan, memerintahkannya untuk mencurahkannya kembali (sebagai hujan), memberikan kepada angin kendali atas kekuatan hujan, dan memperkenalkannya dengan batasan-batasannya. Angin meniup di bawahnya sementara air mengalir dengan garang atasnya.

Kemudian Yang Mahakuasa menciptakan angin dan membuat gerakannya mandul, mengekalkan posisinya, mengintensifkan gerakannya dan menyebarkannya menjauh dan meluas. Kemudian Ia memerintahkan angin itu membangkitkan air yang dalam dan mengintensifkan gelombang laut. Maka angin mengocoknya sebagaimana mengocok dadih dan mendorongnya dengan sengit ke angkasa dengan melemparkan posisi depannya di belakang, dan yang berdiam pada yang terus mengalir, sampai permukaannya terangkat dan permukaannya penuh dengan buih. Kemudian Yang Mahakuasa mengangkat buih ke angin yang terbuka dan cakrawala yang luas dan membuat darinya ketujuh langit dan menjadikan yang lebih rendah sebagai gelombang yang berdiam dan yang di atas sebagai atap yang melindungi dan suatu bangunan tinggi tanpa tiang untuk menopang atau paku untuk menyatukannya. Kemudian Ia menghiasinya dengan bintang-bintang dan cahaya meteor dan menggantungkan padanya matahari dan bulan yang bercahaya di bawah langit yang beredar, langit yang bergerak dan cakrawala yang berputar.”

Itulah beberapa contoh kandungan sains yang ada dalam Nahjul Balaghah, sebuah kitab yang merupakan kumpulan hikmah, ilmu, nasehat, dan pidato Imam Ali bin Abi Thalib (as), di mana di dalamnya terkandung hikmah yang relevan dengan isu dan materi saintifik (yang masih tetap aktual hingga saat ini) yang dapat disajikan oleh tulisan singkat ini. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Sulaiman Djaya

Alam dan Tuhan di Mata Ibnu Sina

Alam Sebagai Terapi Terbaik

Radar Banten, 26 Agustus 2014

“Pangkal agama ialah makrifat tentang Dia, kesempurnaan makrifat (pengetahuan) tentang Dia ialah membenarkan-Nya, kesempurnaan pembenaran-Nya ialah mempercayai Keesaan-Nya, kesempurnaan iman akan Keesaan-Nya ialah memandang Dia Suci, dan kesempurnaan Kesucian-Nya ialah menolak sifat-sifat-Nya, karena setiap sifat merupakan bukti bahwa (sifat) itu berbeda dengan apa yang kepadanya hal itu disifatkan, dan setiap sesuatu yang kepadanya sesuatu disifatkan berbeda dengan sifat itu. Maka barangsiapa melekatkan suatu sifat kepada Allah (berarti) ia mengakui keserupaan-Nya, dan barangsiapa mengakui keserupaan-Nya maka ia memandang-Nya dua, dan barangsiapa memandang-Nya dua, mengakui bagian-bagian bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui bagian-bagian bagi-Nya (berarti) tidak mengenal-Nya, dan barangsiapa tidak mengenal-Nya maka ia menunjuk-Nya, dan barangsiapa menunjuk-Nya (berarti) ia mengakui batas-batas bagi-Nya, dan barangsiapa mengakui batas-batas bagi-Nya (berarti) ia mengatakan jumlah-Nya. Barangsiapa mengatakan “dalam apa Ia berada”, (berarti) ia berpendapat bahwa Ia bertempat, dan barangsiapa mengatakan “di atas apa Ia berada” maka ia beranggapan bahwa Ia tidak berada di atas sesuatu lainnya. Ia Maujud tetapi tidak melalui fenomena muncul menjadi ada. Ia ada tetapi bukan dari sesuatu yang tak ada. Ia bersama segala sesuatu tetapi tidak dalam kedekatan fisik. Ia berbeda dari segala sesuatu tetapi bukan dalam keterpisahan fisik. Ia berbuat tetapi tanpa konotasi gerakan dan alat. Ia melihat sekalipun tak ada dari ciptaan-Nya yang dilihat. Ia hanya Satu, sedemikian rupa sehingga tak ada sesuatu yang dengannya Ia mungkin bersekutu atau yang mungkin Ia akan kehilangan karena ketiadaannya” (Khutbah Imam Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah. Lihat Khutbah Pertama dalam Nahjul Balaghah)

Tuhan dan Alam

Membahas tentang Tuhan dalam pemikiran filosof muslim berarti membahas tentang metafisika, yang dalam hal ini Ibnu Sina memandang metafisika merupakan pengetahuan tentang segala yang ada sebagai “adanya” dan sejauh yang dapat diketahui manusia. Berkaitan dengan metafisika inilah Ibnu Sina membicarakan sifat wujudiah sebagai yang terpenting dan mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain. Esensi, dalam paham Ibnu Sina terdapat dalam akal, sedangkan wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap esensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, esensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari esensi. Dalam membuktikan adanya Tuhan (isbat wujud Allah), Ibnu Sina berargumentasi dengan dalil wajib al-wujud dan mumkin al-wujud, yang mengingatkan kita kepada filsafatnya Al-Farabi, yang bahkan terkesan tidak ada tambahan sama sekali. Berikut penjelasannya.

Wajib al-wujud, yaitu esensi yang tidak dapat tidak mesti mempunyai wujud. Di sini esensi tidak bisa dipisahkan dari wujud, keduanya adalah sama dan satu. Esensi ini tidak dimulai dari tidak ada, kemudian berwujud, tetapi ia wajib dan mesti berwujud selama-lamanya. Lebih jauh Ibnu Sina membagi Wajib al-Wujud ke dalam dua pembagian, yaitu: 1) Wajib al-wujud bi dzatihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan olah zatnya sendiri. Dalam hal ini esensi itu tidak bisa diceraikan dengan wujud, karena keduanya adalah satu dan wujudnya tidak didahului oleh ketiadaan (ma’dum), ia akan tetap ada selamanya. Wajib bi dzatihi ini biasanya disebut oleh Ibnu Sina dengan Al-Wajib saja, yaitu Allah Yang Maha Esa, Yang Hak dan ia adalah Aqlul-Mahdh (akal murni) yang tidak berkaitan denan materi apa pun. 2) Wajib al-wujud bi ghairihi, yakni sesuatu yang kepastian wujudnya disebabkan oleh yang lain. Misalnya: Adanya basah disebabkan oleh adanya air, kebakaran disebabkan oleh api, adanya 7 karena ada 5+2 atau 6+1, atau 2+5, dan sebagainya.

Tentang sifat-sifat Allah, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina pun menyucikan Allah dari segala sifat yang dikaitkan dengan esensinya, karena Allah Maha Esa dan Maha Sempurna. Ia adalah tunggal, tidak terdiri dari bagian-bagian. Jika sifat Allah dipisahkan dari zatnya, tentu akan membawa zat Allah menjadi pluralitas (ta’addud al-qudama’).

Sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga berpendapat bahwa ilmu Allah hanya mengetahui yang universal di alam dan ia tidak mengetahui yang parsial. Ungkapan terakhir ini dimaksudkan Ibnu Sina bahwa Allah mengetahui yang parsial di alam ini secara tidak langsung, yakni melalui zatnya sebagai sebab adanya alam. Dengan istilah lain, pengetahuan Allah tentang yang parsial melalui sebab akibatyang terakhir kepada sebab pertama, yakni zat Allah. Dari pendapatnya ini Ibnu Sina berusaha mengesakan Allah semutlak-mutlaknya dan ia juga memelihara kesempurnaan Allah. Jika tidak demikian, tentu ilmu Allah yang maha sempurna akan sama dengan sifat ilmu manusia, bertambahnya ilmu membawa perubahan pada esensi manusia. Meski, dalam soal ini, pandangan Ibn Sina memancing kritik dan kontroversi dari ummat Islam atau dari para pemikir Islam lainnya yang mempercayai pengetahuan Allah mencakup yang parsial (furu’) juga yang global (ijmal).

Sebagai perbandingan, barangkali kita juga perlu menyimak pandangan filsuf muslim kontemporer, yang dalam hal ini teosofi-nya Syahid Ayatullah Murtadha Muthahhari: “Dalam hubungannya dengan konsepsi Ilahiah tentang dunia, dalam ilmu ketuhanan dibahas beberapa masalah tentang hubungan antara Allah dan dunia, seperti apakah dunia ini, sementara atau abadi, dari manakah asal segala sesuatu yang ada ini. Juga dibahas masalah-masalah lain seperti itu. Namun, kalau melihat keseimbangan segenap eksistensi, maka dapat dikatakan di sini bahwa masalah-masalah kearifan dan keadilan ilahi saling berkaitan erat. Kalau merujuk kepada masalah keadilan Ilahi, maka dapat dikatakan bahwa sistem dunia yang ada ini merupakan sistem yang paling arif dan adil. Dasar sistem ini bukan saja pengetahuan, kesadaran dan kehendak. Sistem ini juga merupakan sistem yang paling baik dan sehat. Tak mungkin ada sistem lain yang lebih baik daripada sistem ini. Dunia yang ada ini merupakan yang paling sempurna” (Lihat Ayatullah Murtadha Muthahhari, Keadilan Ilahi, Mizan 2009).

Filsafat Ibn Sina Tentang Manusia

Terdapat tiga objek kajian yang dibahas Ibnu Sina menyangkut manusia, yaitu: wujud manusia, jiwa manusia, akal pada manusia dan ruh manusia. Dalam menjelaskan tentang wujud manusia ini Ibnu Sina menggunakan Filsafat Wujudiah-nya untuk menjelaskan dari mana wujud manusia itu ada, yaitu pada teori Mumkin al-Wujud, yang penjelasannya adalah: Mumkin al-Wujud adalah Esensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak berwujud. Dengan kata lain, jika ia diandaikan tidak ada atau diandaikan ada, maka ia tidaklah mustahil, yakni boleh ada dan boleh tidak ada.

Selanjutnya, dalam menjelaskan tentang awal mula proses muculnya ruh, maka kita akan melihat pada teori emanasi Ibnu Sina, di mana proses munculnya ruh diawali dengan adanya Akal X yang dayanya sudah sangat lemah berpikir tentang Allah sebagai Wajib wujud li dzatihi menghasilkan pemikiran ke 10 yang berpikir tentang Wajib wujud li ghairihi menghasilkan jiwa ke 10 dan berpikirnya tentang dirinya sendiri sebagai Mumkinul wujud li dzatihi menghasilkan berbagi unsur dasar dari bumi dan juga ruh manusia. Dan jiwa ke 10 itulah yang menggerakkan roh. Menurut Ibnu Sina jika manusia telah meninggal maka hanya raganya saja yang tidak aktif, tetapi rohnya akan tetap hidup, dan roh yang abadi itu akan mengalami sikasa dan kesenangan. Pandangannya soal ini juga tak luput dari kritik dan kontroversi secara teologis dan filosofis.

Alam Menurut Ibnu Sina

Ibnu Sina, yang lagi-lagi sebagaimana juga al Farabi, menemui kesulitan dalam menjelaskan bagaimana terjadinya yang banyak yang bersifat materi (alam) dari Yang Esa, jauh dari arti banyak, jauh dari materi, Mahasempurna, dan tidak berkehendak apapun (Allah). Untuk memecahkan masalah ini, ia juga mengemukakan penciptaan secara emanasi. Soal kerumitan ini kemudian akan dijelaskan dalam tasawuf filsafatnya Ibn Arabi, tentang tajalliyat. Namun di sini penting dikatakan bahwa filsafat emanasi ini bukan renungan Ibnu Sina atau juga al- Farabi, tetapi berasal dari “ramuan Plotinus” yang menyatakan bahwa alam ini pancaran dari Yang Esa (The One). Kemudian, filsafat Plotinus yang berprinsip bahwa dari hanya yang satu yang melimpah. Filsafat Plotinus ini kemudian diaktualisasikan oleh Ibnu Sina dan juga Al- Farabi, bahwa Allah menciptakan alam secara emanasi. Dengan demikian, walaupun prinsip Ibnu Sina dan Plotinus sama, namun hasil dan tujuannya berbeda. Oleh karena itu, dapat dikatakan Yang Esa-nya Plotinus sebagai penyebab yang pasif bergeser menjadi Allah pencipta yang aktif dalam filsafat Ibn Sina dan al Farabi. Ia menciptakan alam dari materi yang sudah ada secara pancaran.

Adapun proses terjadinya pancaran tersebut ialah ketika Allah (bukan dari tiada) sebagai akal langsung memikirkan terhadap zatnya yang menjadi objek pemikirannya, maka memancarlah akal pertama. Dari akal pertama ini memancarlah Akal kedua, Jiwa pertama dan langit pertama. Demikianlah seterusnya sampai akal kesepuluh yang sudah lemah dayanya dan tida dapat menghasilkan akal sejenisnya, dan hanya menghasilkan Jiwa kesepuluh, bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar keempat unsur pokok: air, udara, api, dan tanah. Hanya saja, berbeda dengan Al-Farabi, bagi Ibnu Sina Akal pertama mempunyai dua sifat: Sifat wajib wujudnya sebagai pancaran dari Allah dan sifat mumkin wujudnya jika ditinjau dari hakikat dirinya. Dengan demikian, Ibnu Sina membagi objek pemikiran akal-akal menjadi tiga: Allah (Wajib al-wujud li-zatihi), dirinya akal-akal (wajib al-wujud li ghairihi) sebagai pancaran dari Allah, dan dirinya akal-akal (mumkin al-wujud) ditinjau dari hakikatnya.

Selanjutnya adalah akal-akal dan planet-planet dalam emanasi dipancarkan Allah secara hierarkis. Keadaan ini bisa terjadi karena ta’aqul Allah tentang zat-Nya sebagai sumber energi yang maha dahsyat. Ta’aqqul Allah tentang zatnya adalah ilmu Allah tentang dirinya dan ilmu itu adalah daya (al-qudrat) yang mencitakan segalanya. Agar sesuatu itu tercipta, cukup sesuatu itu diketahui Allah. Dari hasil ta’aqqul Allah terhadap zat-nya (energi) itulah diantaranya menjadi akal-akal, jiwa-jiwa, dan yang lainnya memadat menjadi planet-planet. Dan berbeda dengan pendahulunya, yaitu Al-Farabi, bagi Ibnu Sina masing-masing jiwa berfungsi sebagai penggerak satu planet, karena akal (immateri) tidak langsung menggerakkan planet yang bersifat materi. Akal-akal adalah para malaikat, Akal pertama adalah Malaikat Tertinggi dan Akal Kesepuluh adalah malaikat Jibril yang bertugas mengatur bumi dan isinya.

Namun, sebagaimana Al-Farabi, Ibnu Sina juga memajukan emanasi ini untuk mentauhidkan Allah semutlak-mutlaknya. Oleh karena itu, Allah tidak bisa menciptakan alam yang banyak jumlah unsurnya ini secara langsung. Jika Allah berhubungan langsung dengan alam yang plural ini tentu dalam pemikiran Allah terdapat hal yang plural. Hal ini merusak citra tauhid. Seperti telah disebutkan bahwa perbedaan yang mendasar antara Plotinus dengan Ibnu Sina (juga al-Farabi) ialah: bagi Plotinus alam ini hanya terpancar dari yang satu (Tuhan), yang mengesankan Allah tidak pencipta dan tidak aktif. Hal ini ditangkap dari metafora yang ia gunakan bagaikan mentari memancarkan sinarnya. Sementara itu, dalam Islam, emanasi ini dalam rangka menjelaskan cara Allah menciptakan alam. Karena alam adalah ciptaan Allah, dalam agama Islam termasuk ajaran pokok atau qath’i al-dalalah. Dengan kata lain, kekhalikan Allah ini mesti diimani sepenuhnya. Orang yang mengingkari dapat membawa pada kekafiran. Atas dasar itulah, maka ibarat mentari dengan sinarnya merupakan ibarat yang menyesatkan.

Sejalan dengan filsafat emanasi inilah, alam ini qadim karena diciptakan oleh Allah sejak zaman Azali. Akan tetapi, tentu saja Ibnu Sina membedakan antaraqadimnya Allah dan alam. Perbedaan tersebut terletak pada sebab membuat alam terwujud. Keberadan alam tidak didahului oleh zaman, maka alam qadim dari segi zaman. Adapun dari segi esensi, sebagai hasil ciptaanAllah secara pancaran, alam ini baru. Sementara itu, Allah adalah taqaddum zaty. Ia sebab semua yang ada dan Ia pencipta alam. Akhir kata, meski tak luput dari protes dan kontroversi, filsafat Ibn Sina adalah jejak dan warisan yang sangat berharga bagi kita dari sebuah jaman ketika dunia Islam berusaha melakukan rasionalisasi teologis, sekaligus berikhtiar dalam kecimpung filosofis agar agama “tidak mati” dalam roda sejarah dan laju peradaban ummat manusia.

Sulaiman Djaya

Tuhan, Sains, dan al Qur’an

Imam Ali Bin Abi Thalib as

Radar Banten, 22 Agustus 2014

Siapa sangka, banyak ayat-ayat al Qur’an yang ternyata dibenarkan oleh sains, yang tak ragu lagi, telah mengakhiri era “permusuhan” antara Sains dan Agama, atau antara Sains dan Wahyu, contohnya ayat Al Qur’an dalam Surah Al Anbiya: “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya” (Al Qur’an Surah Al-Anbiya: 30). Kita juga sudah maphum bahwa ada ayat-ayat suci yang diwahyukan, yaitu al Qur’an, dan ada ayat-ayat kauniyah (wujud alam semesta dan hidup kita sendiri) yang menjadi ayat atau tanda alias dalil dan hujjah yang dapat kita pikirkan, kita jadikan tamsil dan ibrah. Sebagaimana dapat kita komparasikan dalam khazanah tafsir dan linguistic, kata “kaafir” dalam ayat al Qur’an itu juga bermakna sebuah penyebutan bagi orang-orang yang “tertutup”.

Berakhirnya Pertentangan

Dan memang, ada suatu zaman ketika sains menjadi musuh keyakinan agama –dan zaman itu sayangnya sudah berlalu! Fisika dan kosmologi modern (sains mengenai awal-mula dan perkembangan alam semesta) kini menyediakan bukti objektif kuat tentang eksistensi Tuhan, mengkonfirmasikan atribut utama Tuhan, dan menunjukkan bagaimana Tuhan menciptakan eksistensi fisik dari ‘kenihilan/ketiadaan’. Pengetahuan ini berasal dari analisis kritis atas teori ‘Big Bang’, Teori Relativitas Khusus Einstein, dan penelitian yang tengah dilakukan dalam Fisika Quantum. Konsep dibalik pengetahuan ilmiah esoterik ini sekarang dapat disampaikan sedemikian rupa, sehingga dipahami setiap orang yang berpendidikan modern.

Berdasarkan itu, pertama, kita sekarang tahu berdasarkan teori-teori kosmologi yang diterima luas bahwa alam semesta fisik yang kita lihat hari ini diciptakan dari ketiadaan (artinya tanpa waktu, tanpa ruang, dan tanpa materi). Kedua, kita juga tahu bahwa permulaan penciptaan alam semesta terjadi melalui cahaya yang menjelma pada singularitas (satu titik tanpa dimensi). Ketiga, kita tahu bahwa materi alam semesta fisik dilahirkan oleh photon-photon (paket-paket kecil energi cahaya) yang ketika bertubrukan satu sama lain membentuk proton, neutron, dan elektron dalam jumlah tak terhingga, yang dalam beragam kombinasi menyusun segala sesuatu di dunia fisik kita. Keempat, pada esensinya kita sekarang bisa mengatakan secara tepat bahwa semua materi alam semesta fisik, termasuk diri kita, sebenarnya adalah cahaya yang melambat.

Kelima, kita jadi tahu bahwa ruang yang memuat alam semesta fisik kita sedang mengembang/meluas. Konsep ini begitu asing bagi pikiran manusia, hingga sebelum Albert Einstein mengembangkan Teori Relativitas Umum-nya di awal abad 20, tak pernah terpikir oleh pemikir-pemikir besar dunia, namun telah dinyatakan dalam Al-Quran lebih dari 1400 tahun lalu saat Allah mengatakan pada kita, “Aku memperluas alam semesta dengan kekuasaan-Ku.” Bahkan Einstein begitu terheran oleh temuannya sendiri sehingga dia memalsukan datanya untuk menunjukkan alam semesta yang tidak mengembang, karena dia cukup paham bahwa alam semesta yang mengembang mengimplikasikan suatu momen penciptaan alam semesta di masa sangat lampau. Belakangan Einstein dikabarkan memeluk Islam Syi’ah sebelum akhir hayatnya setelah berkorespondensi dengan ‘Ulama Syi’ah Islam dan membaca ihwal Isra Mi’raj Nabi Muhammad dan menelaah perkataan-perkataan intelektualnya Imam Ali Bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.

Keenam, Teori Relativitas Khusus Einstein (yang sebenarnya dia sebut sebagai Teorema Absolutisme, sebab dia menyadari dirinya telah menemukan satu hal yang absolut di alam semesta relatif) adalah tentang sifat-sifat istimewa cahaya. Ketujuh, Teori Relativitas Khusus memungkinkan pandangan objektif pertama kita mengenai sesuatu yang eksis di luar dunia materil. Dengan demikian, kita boleh jadi telah menemukan sesuatu saat kita memperoleh pandangan pertama kita di luar dunia materil, tapi yang kita temukan sungguh luar biasa. Kita ketahui Teori Relativitas Khusus Einstein menunjukkan kepada kita bahwa eksistensi non-materil di luar dunia fisik hanya terdiri dari absolut-absolut, dan beberapa dari absolut itu luar biasa mirip dengan pandangan setiap agama sebagai atribut-atribut utama Tuhan.

Untuk dapat menerangkan dan menjelaskannya kepada kita semua, ada baiknya kita paparkan sejumlah contoh berikut. Contoh Satu: Ketika kecepatan cahaya (300.000 km/detik) tercapai, maka waktu melambat, dan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Artinya, bagi photon cahaya yang berjalan pada kecepatan cahaya, waktu tidak berlalu. Oleh sebab itu, photon berada di luar waktu, dan “kekal”. Contoh Dua: Karena waktu tidak berlalu bagi photon cahaya, dan bahwa photon bisa diamati di berbagai tempat di ruang, maka photon cahaya berada di tempat berbeda-beda tersebut secara serempak pada saat yang sama, dan oleh sebab itu “ada di mana-mana”. Contoh Tiga: Karena setiap bit materi di alam semesta fisik terlahir oleh energi cahaya, dan bahwa energi cahaya secara konstan menopang dan mengarahkan aktivitas setiap bit materi dalam eksistensi fisik, maka tak ada kekuatan selain kekuatan cahaya, energi cahaya adalah satu-satunya kekuatan yang eksis, dan oleh sebab itu “mahakuasa”. Contoh Empat: Karena semua pengetahuan yang eksis, yang pernah eksis, atau yang akan eksis, disimpan oleh energi cahaya dan ditransmisikan melalui energi cahaya, maka tak ada pengetahuan selain yang terkandung pada cahaya, dan oleh sebab itu “mahatahu”.

Cahaya dan Wujud Fisik

Selain itu, dan ini penting direnungkan dan dipahami oleh kita, cahaya sebetulnya tidak eksis dalam eksistensi fisik walaupun kita dapat melihatnya. Begitu Anda mendekati kecepatan cahaya, salah satu dari tiga dimensi (panjang, tinggi, atau tebal), yang sejajar dengan arah gerakan, secara progresif menjadi berkurang, dan pada kecepatan cahaya, dimensi tersebut menjadi nol. Untuk menentukan volume, kita mengalikan tinggi x lebar x panjang, tapi bila salah satu dari tiga dimensi itu bernilai nol, maka volume pun nol, dan berarti tidak eksis di alam semesta materil. Cahaya tidak menempati volume ruang dan oleh sebab itu tidak eksis di alam semesta fisik. Dan, meski segala sesuatu di alam semesta fisik memiliki massa lebih besar dari nol, yang menjadi ciri khas eksistensi di dunia materil, cahaya tidak punya massa sama sekali. Ketika Anda mendekati kecepatan cahaya, massa bertambah; pada kecepatan cahaya, massa adalah tak terhingga. Tak peduli sekecil apapun jumlah massa saat Anda memulai, massa tersebut bertambah menjadi tak terhingga pada kecepatan cahaya. Karena photon berjalan pada kecepatan cahaya dan tidak mencapai massa tak terhingga, artinya ia punya massa nol saat memulai, dan oleh sebab itu cahaya sebetulnya tidak eksis di dunia materil.

Dalam eksistensi fisik, segala sesuatu adalah relatif; eksistensi absolut atau non-eksistensi dari kualitas tertentu tidak dan tidak bisa diekspresikan, segala sesuatu eksis di antara dua ekstrim continuum tersebut dari ekspresi absolut ke non-ekspresi absolut. Meskipun demikian, kita menemukan bahwa di luar eksistensi materil, semua kualitas eksis dalam status tak terhingga atau tidak eksis sama sekali, tidak ada yang di antaranya. Nilai penting dari temuan ini adalah bahwa semua itu merobohkan pendapat bahwa alam semesta fisik eksis sebagai sejumlah partikel material tetap yang digerak-gerakkan oleh satu set hukum fisik tetap. Pemahaman keliru atas eksistensi fisik inilah yang membentuk dasar filsafat materialisme ilmiah. Filsafat materialisme-lah, terutama materialisme sekuler, yang membolehkan keyakinan kepada Tuhan ditantang kuat oleh kaum atheis (kafir) dalam beberapa ratus tahun belakangan, kurang lebih sejak masa Sir Isaac Newton.

Tidak lagi mungkin secara intelektual ataupun masuk akal secara logika, dipandang dari sudut temuan fisika dan kosmologi modern, untuk mempertahankan pandangan atheis (bahwa Tuhan itu tidak ada). Satu-satunya kesimpulan yang masuk akal secara logika dan jujur secara intelektual yang dapat ditarik dari temuan sains modern adalah bahwa Tuhan memang ada, bahwa atribut-atribut Tuhan adalah absolut, dan bahwa Tuhan memang menciptakan alam semesta fisik (termasuk kehidupan manusia). Kita kini berada di awal titik transisi dari pandangan materialistik sekuler menuju pandangan spiritual berpusatkan Tuhan dan kerendahan hati sebagai manusia, entah sebagai agamawan atau ilmuwan.

Sains dan Mistik

Sebagai tambahan, ada hal menarik yang ternyata memberi kita perspektif baru yang segar yang dipaparkan Peter Russell, sang ilmuwan dan matematikawan, yang dalam pengakuannya itu menyatakan inspirasi sainsnya justru ketika berkenalan dengan tasawuf. Peter Russel menulis bahwa puisi-puisi dan renungan para sufi ternyata mengajak kita untuk merenungi ayat-ayat kauniyah dan diri kita sendiri, seperti ketika Peter Russell menyitir kata-katanya Ibn Arabi, “Jika engkau mengenali diri engkau sendiri, engkau akan mengetahui Tuhan”. Menurutnya, renungan dan refleksi puitik Ibn Arabi itu mengajak kita untuk memikirkan dan merenungi diri kita sendiri sekaligus semesta dan hidup di sekeliling kita.

Dan sebagai penutup, tak ada salahnya kita merenungkan ilustrasi berikut, ‘Seorang astronot dan seorang ahli bedah otak pernah berdiskusi tentang agama, ahli bedah itu seorang Kristen dan seorang astronot tersebut adalah orang yang tidak beragama. Sang astronot pun berkata: “Saya pergi keluar angkasa berkali-kali tapi tidak pernah melihat Tuhan dan Malaikat”. Mendengar perkataan seperti itu sang ahli bedah otak pun berkata: “Dan aku mengoperasi banyak otak cemerlang, namun aku tidak pernah menemukan satu pikiran pun.” Dari perkataan sang ahli bedah otak itu menunjukkan bahwa bukan berarti pikiran itu tidak ada walaupun setiap waktu manusia menggunakan pikirannya, meski tak pernah sekali pun kita melihat wujud dari pikiran itu sendiri, pikiran bukanlah materi yang terlihat. Andaikata pikiran adalah materi, maka pikiran itu bisa dipecah-pecah menjadi bagian-bagian yang paling kecil seperti layaknya benda atau zat. Pisau yang bagaimana yang dapat memecah pikiran kita? Tidak ada tentunya. Begitu juga dengan perkataan sang astronot itu tidak membuktikan kalau Tuhan dan Malaikat tidak ada melainkan tidak terlihat karena bukan materi. Sejauh apapun Astronot menjelajahi ruang angkasa, pasti tidak akan pernah menemukan malaikat apalagi Tuhan’.

Setidak-tidaknya, ilustrasi di atas sesuai dengan bunyi ayat al Qur’an, “Dan tatkala Musa datang untuk pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman kepadanya, berkatalah Musa, Yaa Tuhanku, tampakkanlah kepadaku agar aku melihat kepada Engkau, Tuhan berfirman, kamu sekali-kali tidak sanggup melihatKu, tapi lihatlah ke bukit itu maka jika ia tetap di tempatnya niscaya kamu dapat melihatKu. Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikanNya gunung itu hancur luluh dan Musa-pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali dia berkata: Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman” (al Qur’an Surah al A’raaf: 143).

Sulaiman Djaya